Horror Disturbing

Horror Disturbing
Konsekuensi Atau Takdir?


__ADS_3

Hani masih memikirkan tentang kematian Dimas ia bertanya-tanya apa mungkin Dimas mengakhiri hidupnya sendiri di penjara.


Mengetahui informasi bahwa Dia ditemukan tak bernyawa keesokan harinya didalam penjara tergeletak terbujur kaku.


Siang ini Hani istirahat makan siang bersama teman kerjanya berjumlah tiga orang dari bagian yang berbeda.


Mereka asyik mengobrol sembari sesekali melahap bekal maupun makanan yang dibelinya di Kantin.


"Kamu kenapa Han, mukamu kok ditekuk gitu?" tanya salah satu temannya bernama Clara.


"Iya nih, senyum dong. Baru juga kita tertawa bersama barusan," timpal Hari.


"Kalau ada masalah cerita aja sama kita, aku siap menjadi pendengar," ucap Yuli ikut nimbrung usai menelan bakso yang dilahapnya.


Menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya Hani menceritakan apa yang dipikirkannya kepada teman-temannya itu.


Menceritakannya sedikit tidak terlalu detail tapi sepertinya di tangkap oleh mereka dengan baik.


"Begitu ya, jadi kamu kepikiran tentang kasus pembunuhan kelima mahasiswa jurusan kedokteran, sama... yang diduga sebagai pelaku. Menurut aku sih keenamnya mati secara tidak wajar!" ucap Clara berpendapat.


"Iya kah, kamu berpikir seperti itu. Coba jelaskan?" tanya Hani.


"Aku kan di bagian informasi, jadi aku mengetahui tentang latar belakang berita-berita yang akan perusahaan tempat kerja kita terbitkan. Tahu tidak, keenamnya mati mengenaskan!" sahut Clara serius diakhir ucapannya suaranya dibuat kecil.


"Hiikk aku jadi takut, aku ngga mau denger ah, tutup telinga," sahut Hari benar-benar menutupi kedua telinganya dengan Earphone yang sebelumnya bertengger di disekitar lehernya.


Mereka bertiga lanjut berbincang mengenai kasus pembunuhan keenam mahasiswa kedokteran secara aneh.


Untuk saat ini polisi masih mendalami kasus tersebut, karena setelah diselidiki ada keterkaitannya dengan makhluk tak kasat mata.


Apalagi keenamnya diketahui telah melakukan aksi tidak terpuji dan sangat buruk kepada seorang gadis sekolah menengah atas kelas 11 beberapa hari yang lalu.


Itulah mengapa polisi mengarahkannya pada seorang yang ingin balas dendam terhadap kematian gadis sekolah itu, yang telah membunuh kelimanya.


Sedangkan Dimas dikira melakukan bunuh diri.


Hingga sore hari berita terbaru mengenai kasus pembunuhan itu ramai diperbincangkan oleh para khalayak dan ramai dibahas pada semua platform pesan chat, selain itu laman laman khusus.


Stefan mengatakan sesuatu kepada Hani saat berpapasan dengannya ketika dia hendak pulang kerja.


"Kerja kerasmu membuahkan hasil, dan hal itu mengurangi jumlah berita yang harus kamu beritakan!" ucap Stefan menatap Hani yang kini seakan malas mendengarnya.


"Iya, terimakasih. Aku mau pulang dulu."


Hendak berbalik Hani ditahan oleh Stefan.

__ADS_1


"Kenapa beberapa hari ini kamu terasa seperti menghindari diriku?"


"Enggak tuh, kamu aja yang..." belum selesai menyahut perkataan Hani di potong oleh Stefan.


"Intuisiku tidak pernah meleset, jadi aku menebak jika suamimu melarang dirimu untuk terlalu dekat denganku."


Hani terdiam dari raut wajahnya mengartikan jika apa yang dikatakan Stefan barusan memang benar.


Hani menghela nafas kemudian berbicara "Iya, suamiku melarang diriku untuk tidak terlalu dekat denganmu, puas! Kalau gitu aku pergi dulu."


Hani kemudian pergi meninggalkan Stefan begitu saja, sementara dari kejauhan perilaku Hani tersebut memancing amarah seseorang dan membuatnya merasa sangat jengkel.


Dari wajahnya dia begitu membenci Hani, siapakah dia?


Sore ini Hani pulang diantar oleh seorang supir seperti biasa.


Di perjalanan ia banyak melamun sehingga supir yang melihat Hani merasa tidak enak jika dirinya tidak berbicara maupun menanyainya.


"Non, seperti non sedang melamun memikirkan sesuatu. Maaf jika saya lancang ingin tahu."


"Gapapa kok, aku juga lagi nggak mood hari ini. Kamu aku bebaskan dari hukuman!"


"Berarti..."


"Hahaha aku hanya bercanda, tolong kita keluar dari kota ini. Aku mau memastikan sesuatu, tapi sebelum itu...stsst," ucap Hani mendekati sopir itu sembari berbisik.


"Kalau gitu aku minta nomor Wii chat punyamu!"


Di perbatasan kota Tragedy setelah melewati jembatan Casanova Hani mengingatkan kepada sopirnya terlebih dahulu.


Sopir itupun manggut-manggut menandakan dirinya ingat apa yang dikatakan Hani sebelumnya.


Blush...


Setelah mobil yang di tumpangi Hani melewati jembatan itu dirinya sudah tidak ada didalam mobil yang langsung membuat sopir itu gemetaran dan khawatir.


Namun setelah ia ingat perkataan noda mudahnya iapun jadi tidak terlalu khawatir.


Sopir itu mengambil sebuah handphone miliknya yang diletakkan pada sesuatu yang menggantung di langit mobil.


Sebelumnya mem-videokan detik-detik Hani menghilang, iapun memutar ulang video itu memperlihatkan jelas bahwa nona mudanya menghilang entah kemana.


"Aahh!!!"


Brak!

__ADS_1


Dharr!!


Detik terakhir dalam video itu memperlihatkan sosok makhluk menyeramkan secara tiba-tiba hingga membuat sopir Hani tersebut sangat terkejut dan membuat hilang kendali dalam mengemudi.


Alhasil dirinya tewas setelah mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan dan terpelanting sangat brutal hingga terlindas truk tronton muatan besi besar.


Sementara di tempat yang belum pernah Hani singgahi ia kebingungan mengapa bisa sampai disini, meskipun ia tahu hal ini adalah akibat dari dirinya yang mencoba memastikan perkataan Stefan.


Dirinya akan berpindah secara acak apabila melewati batas kota Tragedy maupun meninggalkannya.


Dan waktu itu Stefan lupa mengatakan kepada Hani jika melakukan hal itu biasanya akan ada konsekuensi yang akan dialaminya.


Dan konsekuensi itu sendiri dialami oleh sopir sekaligus bodyguard lantaran Hani melakukannya bersama dirinya.


"Kok nggak diangkat sih, aku takut disini sendirian. Lagian ini dimana sih, sepi banget?"


Dirinya sekarang ini berada di daerah hutan namun tidak terlalu dalam masih di area terdapat jalan setapak.


Tapi karena sudah sore hari dan langit mulai temaram Hani menjadi agak takut dan was-was saat berjalan.


Melihat papan kayu bertuliskan "selamat di tempat wisata air terjun pelangi" iapun menjadi lega.


Karena dirinya sempat mendengar tentang tempat wisata ini dari temannya.


Sembari berjalan mengikuti jalan setapak dengan langkah dipercepat Hani menunggu balasan dari sopirnya itu.


"Ya, apa ini dari Nona muda yang memiliki seorang supir bernama William?"


"Iya betul, ada apa ya Pak, kenapa bapak yang mengangkat telepon sopir saya?"


"Jadi begini saya akan menjelaskan perihal sopir nona yang mengalami kecelakaan parah!"


Hani tidak bersuara, disana dirinya dibuat mematung. Melihat langit yang perlahan-lahan semakin gelap membuatnya tersadarkan kembali.


"Kon-disi su-pir saya gi-mana pak?" kali ini Hani menjawabnya dengan terbata-bata.


"Saya tidak sanggup mengatakannya, tapi jika nona muda memaksa saya akan..."


Kresekkss...


"Halo nona, maaf saya tidak bisa menjemput nona dimana pun nona berada sekarang. Dan mungkin ini terakhir saya berbicara kepada nona. Saya mengalami kecelakaan yang cukup parah hingga bagian... ah maaf, saya tidak berani mengatakannya."


"Tidak apa, katakan saja William?"


"Huh... karena nona memaksa saya akan mengatakannya. Tubuh bagian bawah saya hancur sehingga saya tidak bisa menginjak pedal gas mobil lagi..."

__ADS_1


Tut...tut...


Hani mematikan sepihak panggilan tersebut.


__ADS_2