Horror Disturbing

Horror Disturbing
Apa Maksudnya Mengatakan Hal Itu?


__ADS_3

Mendengar suara gaduh begitu keras membuat Hani terkejut saat sedang asyik mengobrol dengan suaminya lewat telepon.


Seketika membuatnya bergegas pergi meninggalkan kamarnya untuk mengecek keadaan, apa yang sebenarnya terjadi.


Bagaimanapun suara barusan sangat membuatnya penasaran, di tambah dengan adanya perasaan tidak enak yang ia rasakan memperkuat dugaan ada sesuatu yang terjadi.


Masih di lantai dua Hani melihat seseorang dengan jubah yang menutupi wajah beserta masker sebagai pelengkap, lengkap sudah identitas pria itu dia disembunyikan.


Pemandangan tak enak pun turut memperburuk keadaan di bawah lantaran pria itu Hani simpulkan telah membunuh beberapa bodyguard, atau mungkin semuanya.


Mengingat para bodyguard hari ini dikumpulkan untuk membahas hal penting dengan bosnya, Stefan.


Sampai pria misterius itu bisa masuk kemari dengan pedang berlumuran darah dan cukup menggambarkan apa yang terjadi sebelumnya.


Memahami hal itu Hani langsung saja lari memasuki kamarnya, sementara pria itu langsung mengejarnya setelah tahu seseorang yang pergi.


Secepat mungkin Hani mencari pistol milik salah satu bodyguard yang didapatkan saat dia lengah. Sengaja Hani ambil saat itu untuk berjaga-jaga dan melindungi dirinya.


Dan kini dibutuhkan dalam kondisi menyulitkan untuk mengantisipasi hal buruk.


Pria itu lalu langsung saja memasuki kamar Hani, dan dia langsung saja dikejutkan dengan pistol yang mengarah padanya.


"Jatuhkan senjatamu!" perintah Hani kepada pria itu menatapnya dengan ekspresi serius benar-benar akan menembaknya jika tidak menuruti perintah.


Pria itu membalasnya dengan anggukan kecil lalu meninggikan posisi pedangnya kemudian menjatuhkan senjatanya.


Melihat pedang ditangan pria itu telah dijatuhkan Hani lengah, sehingga dalam sekejap dirinya di cengkram oleh pria itu dengan sangat kuat.


Pistol pun jatuh lantaran cengkraman mendadak tadi mengagetkan Hani.


"Hehe... mati kamu..."


"Lepaskan aku... uugh..."


Wajah Hani mulai membiru sementara dirinya yang sebelumnya meronta untuk dapat lepas dari cengkraman pria itu berhenti tak melakukan perlawanan lagi.


"Apa aku akan mati di tempat ini, ini sangat tidak adil. Aku sudah menyelesaikan beberapa tugas yang dapat membuatku keluar dari tempat ini, tapi semua itu sia-sia gara-gara pria misterius ini, sebenarnya siapa dia, dan apa untungnya dia membunuhku...?" ucap Hani dalam hati.


"Han! Aku tahu kamu dalam kondisi terdesak saat ini, tapi aku minta kamu tetap berjuang agar dirimu lolos dalam situasi menyulitkan, apapun itu. Karena aku tidak ingin kamu kehilangan dirimu..." ucap Bram dari sambungan telepon yang masih tersambung, mengetahui situasi yang Hani hadapi dan mengatakan kepadanya untuk tetap hidup dan jangan menyerah begitu saja.

__ADS_1


Seakan mendapatkan kekuatan yang tak disangka-sangka Hani dalam sekejap lolos dari cengkraman pria itu, setelah dirinya meludahi pria itu tepat mengenai matanya.


Cela dari idenya yang mendadak tadi ia manfaatkan dengan baik membuatnya dapat lolos dari kematian yang sebentar lagi menjemputnya.


Hanya saja rasa sakit pada lehernya masih Hani rasakan, nampak membekas begitu dalam. Wajahnya pun memerah dengan nafas tersengal.


Sayangnya pria itu sudah melindungi dirinya dengan senjata miliknya saat Hani hendak melakukan serangan guna melumpuhkannya.


"Pikirkan tentang hal-hal yang membuatmu tenang Han, kamu pasti masih mengingatnya!"


Swosh...


Swosh...


Dua ayunan pedang berhasil Hani hindari lalu ia mengambil pistol pada lantai, kemudian menekan pelatuk dan...


Dor!


Dalam keadaan tidak menguntungkan Hani mengalami kesialan setelah tembakannya meleset diakibatkan ragu-ragu menembak pria itu sebelumnya.


Dan ketika pedang yang dipegang oleh pria itu dia ayunan kan hal tak disangka-sangka terlihat oleh mata kepala Hani.


Bukan aksi kedatangan Stefan seraya menghajar pria misterius itu yang membuat Hani terkejut maupun tertegun, melainkan kemunculan Stefan yang dapat menembus dinding.


"Dia... kenapa bisa muncul dari dinding...?" ucap Hani membatin.


Bruk!


Bugh!


Bugh!


Dua pukulan Stefan lancarkan kepada pria itu selagi menguncinya agar tidak memberinya kesempatan untuk melawan.


Setelah membuka masker dan tudung jubah yang menutupi wajah pria itu ternyata dia adalah Alexander, mantan bodyguard yang pernah Stefan pecat.


"Apa alasanmu melakukan hal ini?" ucap Stefan dengan wajah datar namun seakan mengintimidasi.


"Hehe.. bukannya kau seharusnya sudah tahu, apa mungkin ingatanmu tereset setengahnya lagi?" jawabnya malah bertanya kepada Stefan di akhir ucapan, sementara Hani terlihat mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan membunuhmu sekarang!" tandas Stefan.


Mata Hani terbuka lebar ketika Stefan berkata "membunuh" dan nada Itu terdengar serius bahwa dia akan bersungguh-sungguh membunuh pria itu.


"Tunggu! Kita lebih baik menyerahkannya kepada pihak berwajib, jika kita membunuhnya... sama saja kita dengannya!" ujar Hani mencegah Stefan jika saja akan membunuh seseorang. Sembari menyarankan kepadanya untuk menyerahkan pria itu kepada pihak berwajib dengan alasan terbilang logis.


"Benar apa yang dikatakan olehnya, kau sama saja sepertiku jika membunuh hehe..," timpal pria itu.


Stefan hanya dapat menahan kesal dibuatnya.


"Alex, kenapa kamu jadi penjahat seperti ini, bukannya kamu orang yang baik dan murah senyum? Apa selama ini kamu membohongiku, lalu kenapa kamu melakukan hal seperti ini?" tanya Hani masih bingung terhadap Alexander yang menurutnya berbeda kepribadian, saat terakhir kali ia bertemu dengannya.


"Oh, itu karena aku memang membohongiku mu sejak kita berkenalan untuk pertama kalinya. Alasannya tentu saja karena..." belum usai berbicara Stefan langsung menutup mulut Alexander agar dia tidak melanjutkan berbicara.


Saat Hani dibuat penasaran dan mendekati Alexander dari dekat dia sudah dalam keadaan pingsan.


"Dia sebenarnya memang penjahat kelas kakap, jadi untuk apa kamu menanyakan hal yang tidak diperlukan kepadanya. Tanyakan saja padaku, aku sudah mencari tahu identitasnya sejak lama!"


"Huh...? Terus apa motifnya?"


"Dia mengincar dirimu karena menyangka memiliki hubungan denganku. Selama ini Alexander menaruh dendam padaku, itulah mengapa dia melakukan aksi senekat tadi!"


Meskipun begitu Hani masih belum mempercayai Stefan sepenuhnya.


Ada perkataan Alexander yang masih menjadi tanda tanya seperti ingatan Stefan yang di reset entah apa penyebab dan maksudnya.


Lalu Stefan yang dapat menembus dinding semakin membuat Hani berpikir dengan keras.


Asumsi mengenai Stefan tersebut Hani arahkan pada hantu yang mana dapat menebus benda atau sesuatu. Sama halnya dengan Stefan, mungkin dia memang hantu.


Lalu pertanyaan muncul di benak Hani "apa mungkin Stefan arwah gentayangan" masih Hani pikirkan dalam diam.


Puk.


"Ahh!?"


"Kamu, padahal aku hanya menepuk pundakmu saja, tidak udah mend*s*h begitu!"


Mengecek ponsel yang sudah berakhir pada sambungan dengan suaminya, Hani lalu menuruni anak tangga guna melihat mayat para bodyguard yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


Mereka sebenarnya terbunuh dengan cara sadis beberapa diantaranya terpotong, terbelah, dan tertusuk.


__ADS_2