Horror Disturbing

Horror Disturbing
Seseorang Yang Digerogoti Oleh Bakteri Misterius


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Hani kembali menjalani rutinitas harian seperti biasa setelah dua hari menjalani terapi psikologis lantaran dirinya sering mengalami kecemasan.


Dokter bilang hal itu disebabkan oleh shock yang tertahan saat melihat sesuatu terlampau menyeramkan, menjijikkan, dan sebagainya.


Setelah melewati hari-hari berat Hani kian menunjukkan semangatnya dalam bekerja maupun dalam menjalani kehidupannya di kota Tragedy.


Dirinya bahkan sampai sekarang belum menemukan informasi terkait mengenai kota tragedy lagi, terakhir mengetahuinya dari Bi Sari seorang pembantu yang dipekerjakan oleh Stefan.


"Kamu terlihat ceria sekali hari ini Han, apa ada cowo yang membuatmu berbunga-bunga huh?" tanya Kessy menggoda Hani.


Kessy bertugas sebagai penanda tangan berkas berita yang Hani tulis, entah itu dalam media cetak maupun online.


"Aku ngga punya cowo!"


"Hmm, berarti ada yang mengajakmu berpacaran kalau begitu."


"Kessy! Aku serius..."


"Iya, iya... aku percaya deh sama kamu, lagian aku cuma bercanda aja. Tapi anggapan aku bisa dianggap kemungkinan lho.."


"Humph, pergi sana. Aku mau serius bekerja!"


"Hu... nanti aku bales kamu saat makan siang Han!" ucap Kessy sebelum pergi meninggalkan ruangan tempat Hani bekerja.


Kini berganti Pak Kruyu yang datang menemui Hani dikala sedang sibuk bekerja.


"Mau apa lagi kamu, pergi sana. Aku lagi sibuk tahu!"


Hening tidak ada jawaban sampai Hani menoleh kebelakang, nyatanya yang tengah berdiri menatapnya bukan Kessy, melainkan Pak Kruyu.


"Ma-maaf pak, saya tidak tahu ternyata bapak yang datang. Maaf pak... saya benar-benar tidak bermaksud menyinggung bapak!" ucap Hani merasa bersalah sembari menundukkan wajahnya.


"Hmm, tidak apa-apa. Saya tahu kamu tidak sengaja melakukannya. Abaikan kesalahanmu, saya memiliki rekomendasi berita yang bisa kamu tulis, bersumber dari kerabat saya mengatakan bahwasanya dia memiliki retakan pada tubuhnya yang aneh!" jelas pak Kruyu dipahami oleh Hani sembari mengangguk.


"Agar tidak membuang waktu, kamu baca saja informasi ini lebih lanjut, sudah saya cetak secara rinci dalam berkas ini. Saya harap kamu dapat mendeskripsikan apa yang dialami oleh kerabat saya itu dengan baik melalui berita dalam sebuah wawancara."


"Baik pak, akan saya kerjakan dengan baik dan cepat."

__ADS_1


Terjun langsung kelapangan, Hani bersama dengan sopirnya menuju ke kediaman alamat yang diberikan oleh pak Kruyu. Yang katanya alamat kerabatnya.


Hani membuka berkas mengenai informasi hal yang dialami oleh kerabat bosnya.


Menggambarkan kondisi pada tubuh seseorang terdapat beberapa retakan seukuran jari manusia dewasa di seluruh bagian tubuhnya.


Parahnya lagi sampai menembus sangat dalam dan melebar hingga kebagian vital.


Di bagian perut, yang semula retakan itu hanya seukuran pensil bertambah dalam dan lebar dari waktu ke waktu.


Hani kemudian menutup berkas tersebut, lebih memilih untuk melihatnya langsung di TKP.


Membutuhkan waktu lima belas menit perjalanan menuju alamat yang dituju, akhirnya sampai di tempat tujuan dengan lancar tanpa hambatan.


Di sebuah rumah bergaya klasik kini Hani mewawancarai seseorang yang mengalami perubahan aneh pada dirinya.


"Apa anda sudah mengetahui diagnosis penyakit atau kondisi tertentu dari dokter?" tanya Hani sembari bersiap menulis poin penting dari jawaban narasumber.


Bernama Teren seorang pekerja kantoran kini memilih cuti lantaran kondisi tubuhnya tidak memungkinkan dirinya untuk melanjutkan bekerja.


Berlanjut bertanya hingga Hani mendapatkan beberapa poin penting dari Teren.


Pertama, tubuhnya terasa seperti termakan oleh semut sebagai gambaran dirinya merasakan sakit setiap waktu. Akibat digerogoti oleh bakteri misterius yang bersarang dalam tubuhnya.


Kedua, kondisi tubuhnya semakin memburuk terlihat dari retakan semakin dalam dan semakin lebar begitu dicek keesokan harinya.


Parahnya lagi mempengaruhi kesehatan korban dari bakteri tersebut seperti merasakan denyutan dan detak, ketika salah satu retakan seukuran bola kasti tidak beraturan diketahui ada semacam gumpalan menyatu dengan kulit bagian dalam.


Ketiga, bakteri itu kebal dan belum ditemukan penangkalnya hingga musnah. Teren bahkan mengaku sudah mengalami hal tersebut sekitar tiga bulan lamanya.


"Maaf saya tidak bisa melanjutkan sesi wawancara lagi, tubuh saya sepertinya merasakan sakit seperti yang telah saya sebutkan tadi!" ujar Teren ekspresinya begitu menggambarkan apa yang tengah dirinya rasakan.


Kesakitan bercampur rasa perih menjadi satu bagaikan keabadian.


"Kalau begitu makasih untuk waktunya..." ucap Hani dengan senyum diakhir ucapannya.


"Sa-saya mau tanya, sebenarnya nona mendapatkan kabar saya mengalami hal seperti ini dari siapa?" tanya Teren yang membuat Hani heran lantaran perkataannya yang mengejutkan.

__ADS_1


Bagaimana bisa pak Kruyu tidak mengabari kedatangan Hani yang mengunjungi kerabatnya tanpa memberitahukan perihal penting tersebut.


Yang untungnya Teren dari awal tidak sungkan untuk di wawancarai.


"Itu... saya dari..."


Belum usai menyelesaikan perkataannya. Teren memotong ucapan Hani yang masih di tengah jalan.


"Lupakan saja, lagian saya dengan senang hati nona wawancarai. Jika luang, besok nona bisa datang kemari untuk melihat kondisi saya guna menambah bahan berita tentang bakteri misterius itu, ah.. sepertinya judul yang tepat adalah 'seseorang yang digerogoti oleh bakteri' maaf saya jadi melebarkan perkataan."


Hani memperhatikan dengan seksama ekspresi, gerak gerik, dan ucapan Teren. Kesimpulannya dia sedang mengalihkan rasa sakit pada suatu hal, dan itu merujuk pada pembicaraannya yang terpaksa barusan.


Dengan melebarkan perkataannya.


•••


Keesokan harinya, Hani kembali mengunjungi kediaman Teren. Dia sebenarnya memiliki seorang pembantu guna mengurusnya disaat-saat sulit yang dia alami selama ini.


Seorang dokter Hani sapa saat berpapasan dengannya saat dirinya hendak berjalan menuju rumah Teren.


Setelah mengetuk pintu dan dijinkan masuk oleh pembantu seorang wanita paruh baya Hani kemudian langsung memasuki kamar Teren.


Kali ini wajahnya lebih pucat dibandingkan kemarin dan retakan di telinganya menuju ujung kepala berjarak dua inci lebarnya saat di pastikan kemarin, kini semakin melebar.


"Tu-tuan, anda... apa merasakan rasa sakit sekarang?" tanya Hani.


"Hmm, tapi entah kenapa sekarang ini rasa sakit itu berkurang. Terimakasih banyak. Maaf karena harus membuat nona melihat keadaan saya yang memperihatinkan ini!" sahut Teren menatap lekat Hani.


Hani menjawabnya dengan anggukan. Lalu membuka mulut.


"Kenapa tuan tidak berada di rumah sakit saja, bukannya keadaan tuan akan lebih terjamin jika berada disana, dan dapat menanggulangi akibat buruk dari yang tuan alami sekarang?" tanya Hani.


"Saya sebenarnya pobia berada di rumah sakit, sudah dua bulan saya berada di sana dan saya sangat tersiksa oleh pobia itu. Menyebabkan kondisi mental saya agak terganggu dan sempat membuat saya terpuruk berlama-lama disana, itulah mengapa dokter menyarankan agar saya diperiksa di tempat kediaman saya!"


Berusaha untuk menahan kesedihan hanya saja air mata yang terbendung tak mampu lagi Hani tahan.


Bulir air mata pun keluar dari pelupuk matanya yang berkaca-kaca. Menyiratkan jelas kesedihan dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2