Horror Disturbing

Horror Disturbing
Kehidupan Didalam Dinding Part 1


__ADS_3

Suasana udara yang dingin menusuk kedalam tulang rusuk Hani, ketika berjalan mendekati halaman rumah besar didepannya.


Meski di temani seorang bodyguard entah kenapa jantungnya berdegup kencang dan muncul sepintas perasaan tidak enak didalam dirinya.


"Demi pulang dan bertemu dengan suamiku lagi aku harus bekerja keras, gadis tangguh sepertiku mana mungkin takut pada hal beginian!" ucap Hani dalam hati memantapkan diri.


Tok..tok..tok..


Hani mengetuk pintu bergaya kuno tersebut dari dekat sudah dipastikan jika rumah ini model era 80 an.


Si empunya belum membuka pintu dan menyahut sama sekali dari dalam hingga si bodyguard mengetuk pintu kembali.


Tak lama si empunya rumah membuka pintu terlihat pria kisaran umur 27-30 memakai kacamata dengan gaya rambut lugu sembari memegang buku di samping Dadanya.


Hani menatapnya dengan senyuman ramah sebagai awalan untuk mendapatkan kesan baik agar di permudah saat wawancara.


Pengalaman bekerja di Perusahaan berita membuatnya paham cara menarik perhatian para investor salah satunya dengan menampilkan kesan baik di awal pembukaan.


"Nona pasti yang akan mewawancarai saya, mari masuk!" ucap si empunya rumah singkat dengan senyum setengah. Persilahkan Hani dan bodyguard itu untuk masuk.


Hani merasakan hawa kehadiran seperti halnya disekitar dirinya didekati oleh makhluk tak kasat mata yang padahal rumah ini ia ketahui hanya di huni oleh seorang komposer.


Memasuki rumah ini kesan pertama yang Hani dapatkan begitu horor, ketika melihat suasana didalamnya. Meskipun dirinya berusaha menyangkal namun tetap saja hati tidak bisa dibohongi.


Lampu yang redup ikut memperkuat suasana mencekam di rumah ini sampai-sampai Hani berpikir ada orang yang bersedia tinggal disini.


Menurutnya jika alasan biaya tidak mungkin, tapi bagi orang sepertinya yang senang membeli barang diskon mungkin pria ini tinggal disini karena harga sewanya murah.


Menurut informasi dari catatan yang Stefan berikan kepadanya rumah ini sering berganti-ganti pemilik, namun kabar itu hanya angin lalu saja. Kebenaran pun belum terbukti benar.


"Silahkan anda sekalian duduk, saya akan menyiapkan cemilan dan minumannya," ucap ramah si empunya yang mana membuat Hani tidak bisa menolak. Senyuman pria itu serasa magnet perintah tanpa penolakan.


Bodyguard itu lalu duduk paling pertama setelah beberapa saat mengejek sekitaran meja ini, dilanjutkan Hani yang duduk dalam keadaan terpaksa entah mengapa?


Mengamati didalam rumah ini lebih tepatnya ruangan tengah Hani melihat dinding rumah ini yang begitu tebal tidak pada umumnya saat dilihat dari sisi lain.

__ADS_1


Sebuah lubang kecil pada dinding mengalihkan atensinya untuk melihatnya dengan seksama hingga ia melihat seperti ada bola mata yang memperhatikan dirinya.


Dalam hatinya Hani merasa tidak nyaman setelah melihat mata itu dan berpaling ingin dirinya berteriak barusan hanya saja akan menggangu si empunya dan menodai citra dirinya, pikir Hani.


"Apa ada masalah nona, bisa saya bantu?" ucap bodyguard itu menanyakan keadaan Hani yang terlihat menundukkan kepala dan sempat memalingkan wajah begitu cepat.


Menuliskan pada sebuah kertas catatan lalu di robek Hani memberikannya kepada bodyguard itu.


"Kita sedang diawasi, sepertinya kita harus berhati-hati pada tempat ini, aku ingin kamu meminta ijin kepada pria tadi untuk pergi ke kamar kecil sembari mengejek rumah ini. Meskipun itu tidak sopan, tapi aku mempunyai firasat buruk padanya maupun rumah ini!!"


Paham dengan perkataan Hani pada secarik kertas tersebut bodyguard itu pun bergegas pergi melaksanakan perintah bos-nya.


Demi antispasi sebelum pergi ia sempat memberikan Hani alat kejut listrik kecil dengan beberapa tombol.


Tak lama pria itu kembali sembari membawakan apa yang dia omongkan sebelumnya dan Hani mulai mewawancarai dirinya setelah pria ini memaksa harus segera di wawancarai.


"Apa anda mengalami hal-hal supranatural setiap hari?" tanya Hani dalam mode kerjanya, serius.


"Benar, saya mengalaminya setiap hari dan paling saya takutkan, ketika di malam hari. Terdengar suara obrolan seseorang dan suara anak kecil, kadang menangis dan juga tertawa. Lebih seramnya teriakan keras secara tiba-tiba!"


Sembari menulis Hani menalar kesaksian tersebut guna mengetahui informasi lain yang bisa ia dapatkan.


"Hmm, saya sering kehilangan makanan di dalam kulkas. Meskipun keesokan harinya saya lihat tidak ada jejak mencurigakan!"


"Menurut saya, ada kemungkinan seseorang yang memasuki rumah anda dan itu di malam!" ungkap Hani menurut pendapatnya.


"Justru itu."


Sontak Hani dibuat terkejut, namun ia menjaga ekspresi tampilannya sekarang ini yang tampak tenang-tenang saja menyikapinya.


"Bisa anda jelaskan?"


"Bayangan seseorang waktu saya lihat di dapur, setelah saya intip ternyata dia adalah seorang perempuan dengan gaun bergonta-ganti saat saya melihatnya."


"Tunggu, berarti kejadian tersebut bukan hanya sekali tapi..."

__ADS_1


"Beberapa kali saya alami, dan saat saya kejar perempuan itu dia menghilang pada jalan buntu terhalang tembok!"


Informasi Stefan waktu itu sedikit demi sedikit terjawab dan sesuai fakta yang orang ini bicarakan, hanya saja dia salah persepsi. Mengira jika gadis itu menembus tembok.


Dugaan Hani sendiri jika pria ini sengaja untuk melepaskan wanita itu agar dirinya bisa melihat lagi perempuan tersebut setiap malam, karena dirinya sempat menunjukkan senyum aneh sekilas.


Ting!


"Ah, sudah siap dihidangkan. Saya ijin meninggalkan obrolan dulu, karena bolu yang saya buat sudah matang."


Hani hanya menjawabnya dengan berdehem ia merasa jika pria ini sengaja untuk membuat sesi wawancara sangat lama. Walaupun belum terbukti tapi firasat Hani memberikan sinyal hal semacam itu.


Saat pria itu sudah tidak kelihatan lagi lantaran menuju ke dapur lalu bodyguard suruhan itu datang dengan raut wajah seperti halnya ada yang ingin segera ia sampaikan.


Kali ini Hani berganti cara berkomunikasi dengan bodyguard tersebut memakai ponsel pada sebuah aplikasi pesan chat bernama Wii chat.


"Rumah ini benar-benar aneh, karena tembok disini sangat tebal, saya sendiri bisa membuat ruangan didalamnya!"


"Lalu apa lagi yang kamu dapatkan dari waktu lama pergi tadi?"


"Itu... seorang gadis kecil sedang bermain-main. Namun ketika saya ikuti dia menghilang pada jalan buntu tertutupi oleh tembok."


"Apa kamu yakin melihat seorang gadis kecil dan tidak berbohong atau mengalami delusi?"


"Saya berani bersumpah jika saya akan hilang jika ucapan saya tidak benar atau berbohong!"


Selesai berkomunikasi lewat aplikasi pesan Hani merasa jika dirinya di bohongi oleh pria itu yang mengatakan bahwa dirinya sendirian berada di rumah besar ini.


Jdarrr!


Suara petir menggelegar pertanda akan turun hujan Hani lalu menyuruh bodyguardnya untuk mempersiapkan mobil.


Maka bodyguard itu langsung bergegas melenggang pergi dari posisi duduknya.


Tak lama ia pun kembali dengan wajah murung dan ditekuk seperti ada kabar kurang mengenakkan yang akan dia terangkan.

__ADS_1


"Maaf nona, ban mobil depan dan belakang dalam keadaan bocor. Serta saya lupa membawa ban cadangan di jok belakang!"


"Tch! Benar apa kata dugaan ku, pria itu benar-benar mencurigakan dan memiliki maksud lain untuk mengundang kami kemari, aku yakin itu. Dan Stefan pasti telah di tipu olehnya," ucap Hani dalam hati.


__ADS_2