
"Apa maksudmu aku sudah mendekati kesadaran!" tanya Hani yang bingung terhadap perkataan Stefan barusan ada yang janggal menurutnya.
Barusan Stefan mengatakan hal itu dengan ekspresi serius itu artinya perkataannya mendekati dengan kebenaran. Sembilan puluh persen Hani mempercayainya.
Sepuluh persennya lagi Hani anggap sebagai kebohongan.
"Sepertinya tidak bisa aku jelaskan, karena ingatan mengenai penjelasan itu sudah terhapus dengan sendirinya di dalam ingatanku, sebaiknya kamu istirahat saja, besok kita akan mengunjungi kediaman seseorang!" sahut Stefan kemudian beranjak dan hendak meninggalkan Hani namun sempat tertahan.
"Aku belum selesai bicara denganmu, kalau pak Kruyu bagaimana kamu menjelaskannya dan semua yang aku alami selama ini. Please beri aku penjelasan, kalau kamu terus menghindar aku pasti..." belum selesai berbicara perkataan Hani di potong oleh Stefan.
"Baik, baik aku akan jelaskan seingat ku saja. Tidak ada pengulangan setelahnya. Jadi, kamu ini sebenarnya... argh!! Sial! Lagi-lagi hal ini terjadi padaku!"
Tiba-tiba saja Stefan menyentuh kepalanya lantaran merasakan rasa sakit amat sangat sakit membuatnya harus bergegas menuju kamarnya.
Diikuti oleh Hani kemudian Stefan meminum obat pereda yang sebelumnya Hani lihat.
"Jadi obat itu bukan punyaku, tapi... punya Stefan!" Hani mengucapkannya sembari berspekulasi dalam pikirannya. Dia berbicara di dalam hati.
"Hmmm, tidak apa-apa, aku akan mendengarkannya dengan baik."
"Kepribadian, hanya itu yang bisa aku ingat dari apa yang akan aku katakan sebelumnya. Tunggu, kesadaran, dua kata ini mungkin saja adalah kunci mengapa dirimu bisa berada di sini. Lalu mengenai pak Kruyu itu memang benar, kamu bekerja dengannya sekarang ini. Dan aku memang sudah mati, tapi entah kenapa aku merasa diriku masih hidup. Bukannya itu aneh?" jelas Stefan panjang lebar diakhir ucapannya membuat Hani mengerutkan dahi.
Kemudian Hani mencatat dua kata tadi dalam catatan ponselnya yang nanti akan di salin pada buku catatannya.
Kata "kepribadian" dan "kesadaran" jika kedua kata ini bisa menjadi kunci mengapa Hani bisa berada di tempat ini maupun menjelaskan kejanggalan yang dialaminya, mungkin saja ada cara sederhana guna keluar dari tempat ini.
"Ya udah, kesampingkan itu terlebih dahulu. Kepalaku bisa meledak jika memikirkannya terlalu berlebihan dan terus memaksa menemukan jawaban. Yang penting kamu jujur kan, tadi?" tegas Hani.
"Ya, aku jujur."
"Bagus, sekarang aku bersemangat untuk menyelesaikan syarat keluar dari tempat ini sembari mencari informasi mengenai dirimu maupun alasan aku bisa berada disini!" ucap Hani antusias dengan semangat yang membara, itulah yang dilihat Stefan sekarang.
__ADS_1
"Hei, kamu terlalu bersemangat. Jika suatu saat nanti tidak sesuai maka kamu akan sangat kecewa, lebih baik pelan-pelan saja!" ujar Stefan.
"Humph, kamu ga asik, merusak suasana!" balas Hani seraya memalingkan wajahnya sekaligus menyilangkan kedua lengannya di dada.
"Aku hanya mengingatkan," ucap Stefan.
•••
Esoknya, mereka berdua pergi menuju kediaman seseorang di akhir pekan.
Dalam perjalanan Hani bertanya-tanya pada Stefan dan menegaskan bahwa Stefan memang masih hidup, hanya saja mengapa pak Kruyu seakan tidak mengetahuinya. Begitupun dengan tunangan Stefan, Melissa.
Walaupun aneh, tapi Hani tidak terlalu sering memikirkan hal itu supaya tidak membebani pikirannya.
Kali ini Hani berusaha untuk berubah lebih kuat dari sebelumnya, entah itu fisik maupun mentalnya, karena hal tersebut memang diperlukan. Serta bijaksana kepada dirinya.
Menurut penuturan dari si empunya kediaman itu dirinya mengaku memiliki adik laki-laki yang sering muntah-muntah.
Anehnya, muntahannya itu tidak normal bahkan semua makanan yang dimakannya hari ini sebagai contoh, keluar saat adiknya muntah secara mendadak.
"Jadi adiknya muntah secara berlebihan, itu sih... namanya penyakit dalam, mungkin saja," ucap Hani mengambil kesimpulan dari perkataan Stefan barusan.
"Tidak. Karena adiknya hampir setiap hari mengalami hal seperti itu, sekarang ini dia bahkan kurus kering dibuatnya. Sehingga rumahnya sering dikunjungi oleh orang-orang!"
"Heh.. sering dikunjungi, bukannya itu sama saja dengan kesengajaan. Misalnya, kakaknya itu memanfaatkan kesulitan yang dialami oleh adiknya untuk mencari uang, terus mengenai rumah sakit mungkin saja adalah dalih karena sebenarnya dia hanya mengarang cerita agar adiknya tidak sembuh dalam waktu dekat!" ucap Hani berspekulasi.
"Boleh juga perkataanmu," sahut Stefan dengan senyuman miring sembari melihat ke arah Hani disampingnya.
Sampai di tempat tujuan mereka lalu memasuki rumah model lama tersebut setelah dipersilahkan untuk masuk oleh si empunya rumah.
Sebelumnya mereka berdua harus berjalan kaki tidak langsung tepat dihalaman rumah si empunya, bahkan mobil Stefan tidak diparkiran disana. Melainkan di tempat lain.
__ADS_1
Si empunya sudah menunggu di titik pertemuan untuk menjemput mereka berdua.
"Selamat datang di kediaman saya yang sederhana ini, maaf hanya ini yang bisa saya sajikan!" ucap si empunya duduk di sofa yang terbilang sudah lapuk. Dia kemudian menaruh toples berisi jajanan kemudian minuman untuk mereka berdua, Hani maupun Stefan.
Hanya saja yang membuat Hani terkejut jam tangan milik pria paruh baya itu bernilai jutaan, kejelian barusan memperkuat dugaan Hani.
"Tidak apa-apa kok pak, segini saja sudah cukup bagi kami," sahut Hani ramah sembari menunjukkan senyumannya.
Kemudian pria paruh baya itu menjelaskan lebih lanjut mengenai adiknya dan disela pembicaraan Stefan ijin pergi ke kamar kecil.
Mengharuskan Hani berbincang berduaan dengan si empunya, maka Hani manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
"Kalau saya boleh tahu sudah berapa lama adik bapak mengalami muntah-muntah yang tidak normal itu, maaf jika pertanyaan saya sedikit..."
"Sekitar dua bulan lamanya dia mengalami hal menyulitkan itu saya juga sebenarnya merasa kasihan kepadanya!" ucapnya disertai Isak tangis.
"Kalau begitu bolehkah saya bertemu dengan adik bapak?" lanjut Hani.
"Boleh, boleh saya akan mempersiapkan terlebih dahulu!" jawabnya tergesa-gesa serta menunjukkan ekspresi gelagapan, sementara Hani menanggapinya dengan senyuman polos.
Pria itu lalu pergi meninggalkan ruang tamu.
"Hmm, makin jelas motifnya," ucap Hani dalam hati.
Stefan lalu datang kembali setelah ijin ke kamar kecil sebelumnya.
"Pria paruh baya tadi memang menyembunyikan sesuatu selama ini, dia menutupi fakta kehidupannya dengan rapi. Dari informasi mengenai dirinya, bahkan pria paruh baya itu tidak bekerja sama sekali, hanya mengandalkan uang sumbangan dari bantuan adiknya!" ujar Stefan dengan suara kecil.
"Hm, aku mengerti. Memang ada yang di sembunyikan olehnya. Dan kuncinya adalah adiknya!" balas Hani seakan memberi klue kepada Stefan.
Tak lama pria paruh baya itu kembali lalu mengajak mereka berdua untuk menuju ke kamar adiknya.
__ADS_1
Saat mereka berdua sampai di depan kamar adik si empunya, pemandangan memprihatinkan jelas mereka lihat dengan kedua mata.
Seorang wanita kurus kering hanya tinggal tulang berbalut daging tipis menatap keduanya dengan wajah menyiratkan berbagai ekspresi.