Horror Disturbing

Horror Disturbing
Masuk Dalam Simulasi


__ADS_3

Karena Hani memaksa untuk melihat anjing yang ditangkap oleh manta tentara itu yang ia kira mungkin hanyalah anjing yang sedang terluka parah.


Maka dengan berat hati mantan tentara itu menunjukkan anjing yang dipegangnya kepada Hani maupun dua orang lainnya.


"Huh...!?" beberapa saat Hani termangu hingga dia pun menjerit ketakutan, namun Stefan dengan sigap menutup mulutnya.


"Humph..."


Air mata keluar dari pelupuk mata Hani bukan karena perasaan sedih mungkin karena dia merasa jijik melihat seekor anjing berkepala manusia.


Dan ternyata suara teriakan wanita itu berasal dari anjing yang diduga hasil eksperimen ini. Lantaran ada bekas disekitar lehernya.


Bekas jahitan yang hampir menyerupai kulit dipastikan oleh Gerry adalah bukti kuat eksperimen tidak manusiawi, maupun terhadap hewan.


"Hu... aku menyesal melihatnya..." ucap Hani sembari menutup wajahnya. Posisinya membelakangi mantan militer itu, karena tak ingin melihat terlalu lama hal disturbing yang dilihatnya.


"Ya ini salahmu, dia dari awal sudah memperingatkan kepadamu bahwa yang ditujukannya mengerikan untuk dilihat dan akan membuatmu shock, sekarang lihat mataku, fokus, aku akan membuatmu lupa pada kejadian tadi!" sahut Stefan berniat untuk menghipnotis Hani dengan sugesti.


Teringat pada pembuktian dirinya bukan seorang yang cengeng dan penakut membuat Hani menolak dengan tegas saran Stefan barusan.


"Enggak, aku nggak mau di hipnotis biar lupa sama kejadian tadi. Aku udah mendingan sekarang."


"Bagus, kita lanjutkan perjalanan. Untuk anjing itu sebaiknya anda bawa pergi ke tempat pendaratan kita!" titah Stefan kepada mantan militer itu. Tapi disangga oleh Gerry dengan saran dirinya bisa membuat kandang kuat dari alam secara cepat.


Stefan pun mengijinkannya dan mulailah Gerry bergerak mencari apa yang diperlukannya.


Dalam tujuh menit dia berhasil membuat kandang ukuran sedang guna mengurung anjing berkepala manusia itu.


Yang kini mulutnya sengaja di tutup dengan lakban agar tidak berteriak. Serta tubuhnya dibiarkan tanpa adanya ikatan.


Sudah mengambil gambar dan video mereka akhirnya pergi meninggalkan anjing itu yang berada di dalam kandang, yang sudah tertutupi oleh dedaunan seakan menyerupai kamuflase.


"Luar biasa sekali, anjing itu masih bisa hidup walaupun kepalanya di transplantasi kan dengan kepala manusia, atau bisa kita sebut sebaliknya," ucap Stefan suaranya agak diperkecil.


"Kenyataan pahit, saya sendiri bahkan tidak menyangka ada orang yang segila itu sampai-sampai melakukan eksperimen di luar nalar manusia biasa. Huh... malang sekali nasib gadis itu," sahut Gerry salah satu dari mereka yang berbadan kekar.


"Ah... sebenarnya saya mau mengatakan ini, hasil eksperimen itu tadi berbicara kepada saya mengatakan sebuah peringatan bahwa kita akan menjadi sepertinya!" ujar mantan militer itu yang membuat Hani tercengang dan bulu kuduknya dibuat merinding sekaligus jijik dalam membayangkan nasib buruknya.


"Um... setidaknya kita membawa senjata jika ada seseorang yang berniat buruk," timpal Hani berbicara agak pelan nampak gelisah.

__ADS_1


"Ya, kita memang membawa senjata," sahut Stefan.


Dari kejauhan mereka tidak mengetahui seseorang sedang mengintai menggunakan teropong.


Dia adalah seorang pria berperawakan tinggi mengenakan pakaian lusuh menyeringai saat mengamati orang yang sudah ia pastikan akan menuju bangunan terbengkalai itu.


Di satu sisi didalam sebuah penjara bawah tanah seorang pria yang mengenakan earphone di kepalanya menyeringai sembari mengasah pisau didekatnya.


"Ah...!!!"


Sementara suara d*sah*n wanita terdengar dari kandang babi tak jauh dari pria itu.


Dua ekor babi berkepala manusia sedang melakukan hubungan int*m.


Kembali pada mereka yang kini sudah melihat bangunan terbengkalai itu nampak sunyi tanpa ada suara dari sana.


Hanya kicauan burung yang mengganggu mereka saat mengamati bangunan itu.


"Kita bergerak dengan hati-hati, sembari menjaga satu sama lain!" ujar mantan militer kepada semua orang.


Mereka lalu menyetujui dan bergerak persis seperti yang dikatakan olehnya hingga tepat berada di depan jendela yang berlubang.


Alasan mereka tidak melewati pintu utama agar tak membuat penghuni bangunan ini waspada dan bersembunyi. Lebih buruknya lagi mereka lari dan merencanakan hal jahat.


Jendela yang sudah lapuk serta terbuat dari kayu namun tampak mencurigakan membuat Robin menahan mereka, dia kemudian mengecek jendela itu dan...


Jelg!


Jendela itu ternyata berisi materi dari logam tajam yang turun dari atas dipicu oleh benang putih yang tipis saat tersentuh pada area jendela.


"Gawat, mereka sudah mengetahui kedatangan kita!" ujar Robin sembari melihat sekitaran dengan jeli.


"Kapan mereka mengetahuinya?" tanya Hani mulai panik.


"Semenjak diriku menangkap anjing hasil eksperimen itu, sepertinya ada dua kemungkinan, anjing itu dipasangi perekam suara yang langsung terhubung, atau bisa saja ada seseorang yang mengetahui kita dari jauh dan melaporkannya pada rekannya. Karena logam pipih tajam ini sepertinya baru dipasang, aku merasakan hawa kehangatan pada permukaannya!"


"Ada kemungkinan jumlah orang yang menghuni tempat ini lebih dari satu," timpal Stefan.


"Benar sekali tuan, dan sekarang kita harus berhati-hati untuk setiap langkah bila perlu."

__ADS_1


"Hmm."


Sementara itu di penjara bawah tanah dimana seorang pria masih mengasah pisau miliknya dia berkata.


"Heh... pintar juga mantan militer itu, sepertinya Prof, Valen menemukan subjek yang bagus untuk dijadikan eksperimen tahap selanjutnya!" ucapnya yang ternyata dapat melihat mereka berempat melalui layar monitor.


Mereka lalu masuk di pintu belakang dikarenakan Gerry melihat CCTV tersembunyi menuju bagian depan menuju pintu utama bangunan ini.


Sebaliknya di arah belakang sama sekali tidak ditemukannya kamera pengawas.


Mengingat Gerry adalah orang yang bertahun-tahun mendapati berbagai pengalaman dan pengetahuan di alam liar cukup membuat Stefan percaya.


Karena orang sepertinya memiliki mata se-jeli elang.


Memasuki bangunan dari pintu belakang rupanya jebakan berbahaya terus mereka dapati, yang untungnya diketahui oleh Robin seperti halnya membongkar trik sulap.


Dan keadaan didalam bangunan ini ternyata terawat bahkan mereka terkejut setelah Gerry mendapati poster bergambar isi ruangan kosong yang menipu mata.


Saat dilihat dari samping kanan maupun kiri akan memperlihatkan sudut dalam ruangan seakan-akan memang menggambarkan kondisi didalam yang sebenarnya.


Poster itu menggambarkan ruangan kosong yang sudah tak terurus.


"Penghuni bangunan ini ternyata bukan orang-orang gila sepenuhnya, tapi mereka memliki keahlian, kecerdasan, dan keterampilan yang berbeda-beda! Kurasa ada seorang ahli dalam anatomi tubuh, lalu pembuat jebakan bisa diasumsikan seorang militer juga, dan seseorang dengan keterampilan seni sastra!" ujar Hani berasumsi membuat ketiga pria di dekatnya terdiam namun memahami.


Krit..


Dor!


Bruk!


Hampir saja Hani tertembak yang untungnya sempat diselamatkan oleh Robin.


"Benang yang terhubung dengan rumit pada pistol dan rangkaiannya yang lain. Kita saat ini salah memasuki ruangan!" ucap Robin serius.


Pada sebuah lubang di dinding terlihat ada mata berkedip yang mengawasi mereka.


"Hihihi..."


Siapa dia?

__ADS_1


__ADS_2