
Setelah mengetahui kebenaran yang belum ia pastikan sama sekali Hani mencoba untuk mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai Stefan, bos atau CEO tempat kerjanya.
Melalui temannya yang kenal Stefan lebih dulu dibandingkan dengannya, apalagi bekerja di Perusahaan Writer Company yang sudah bertahun-tahun.
Hani berharap dapat menemukan jawaban yang memuaskan.
"Terus siapa yang mimpin kita sekarang?" tanya Hani nampak serius.
"Itu Pak Kruyu, dia adalah orang yang dipercayai oleh beliau sebagai orang yang akan mengurus Perusahaan ini kedepanya, mungkin selamanya.."
"Begitu ya, aku masih belum mengerti. Padahal aku sering bertemu dengan Stefan, maksudku... bos kita!" ucap Hani gelagapan di akhir ucapannya.
"Oh, berarti kamu sama seperti Melissa dong. Dia selalu saja menghayal tentang kekasihnya yang telah wafat. Itu, kekasihnya adalah bos perusahaan ini yang dulu."
Hani mencerna setiap kata yang sekiranya berlawanan dengan kenyataan yang dialaminya sekarang.
Menghubungkan setiap kata yang menurutnya ada kontradiksi menjadi sebuah catatan dalam pikirannya lalu merangkainya sedikit demi sedikit.
Bak potongan puzzle yang berserakan maupun hilang belum ditemukan. Kemudian ia satukan secara perlahan.
"Melissa beberapa waktu lalu mengangguku sekaligus memperingatkan, dia berkata bahwa aku jangan mendekati Stefan lagi. Jadi apa maksudnya dia...?" ungkap Hani berterus-terang.
"Ya, Melissa memang mengidap Skizofrenia. Hanya saja dia sangat kompeten dan pintar dalam bidang manajemen, itulah mengapa dia masih bertahan di perusahaan ini. Tapi... sebenarnya aku bingung Han, kamu tadi berkata sering bertemu dengan Stefan, apa benar begitu yang aku dengar barusan?"
"... aku cuma bercanda kok.. kamu jangan anggap aku serius, suer!"
"Ya deh... lagian kalau kamu memang melihat Stefan, kamu mungkin mengalami hal serupa seperti Melissa."
Pembicaraan mereka berdua berakhir ketika jam istirahat para karyawan selesai.
Hani masuk kedalam Perusahaan kemudian menaiki lift hingga sampailah ia di kantor tempat Stefan bekerja.
Ingin rasanya memastikan sesuatu yang baru saja ia ketahui dari temannya.
Tok..tok..tok..
Hani mengetuk pintu yang kemudian dirinya dibuat mematung ditempatnya, melihat seseorang bernama Pak Kruyu berjabatan CEO yang membuka pintu. Seharusnya Stefan, seperti biasanya.
"Kenapa bisa seperti ini, padahal beberapa minggu ini aku selalu bersama dengannya. Apa aku mengalaminya gangguan halusinasi gara-gara mengidap Skizofrenia?" ucap Hani dalam hati.
"Ada yang bisa saya bantu, sepertinya nona memiliki kepentingan mendadak dan ingin berbicara dengan saya. Itulah mengapa ketukan pintu Nona tadi lumayan keras dan terlalu terburu-buru?"
"... saya cuma... mau bertanya sama Bapak?"
"Boleh, tidak apa-apa. Silahkan Nona langsung to the point saja, karena saya memiliki waktu yang sedikit!"
"Begini, apa saya beberapa Minggu ini berkontribusi dengan perusahaan Bapak dengan berita-berita yang saya dapatkan?"
__ADS_1
"Tentu saja, kamu selalu menyajikan hal yang baru kepada para khalayak, itu adalah hasil kerja yang bagus, dan saya sangat mengapresiasinya. Hmm, memangnya ada apa kamu mengatakan hal itu Nona?"
"Umm, saya... "
Belum usai mengatakan alasan mengapa dirinya kemari perkataan Hani langsung saja dipotong oleh Pak Kruyu.
"Ehem, Bapak mengerti apa yang akan kamu katakan. Kamu pasti mau menanyakan tentang Stefan bukan?"
"Bagaimana Bapak bisa tahu?" tanya Hani dengan ekspresi terkejut mulutnya bahkan sempat menganga.
"Itu karena kamu selalu saja berbicara dengan Stefan saat di jam kerja maupun di luar perusahaan, sebenarnya saya selalu memperhatikan sikapmu itu Nona, membuat saya jadi berpikir jika keberadaan beliau memang benar-benar masih ada. Mungkin sebagai hantu atau arwah penasaran yang hanya dirimulah yang masih bisa melihatnya, maaf saya hanya menebaknya."
"Saya baru sadar Pak, jika selama ini saya mengidap skizofrenia sama seperti teman kerja saya. Maaf jika sebelumnya saya menganggu waktu bapak dan merepotkan bapak di waktu-waktu berharga!" ucap Hani merasa sangat bersalah.
Dirinya hanya terpaksa melakukan hal itu lantaran ada dorongan kuat dalam dirinya untuk bersikap semestinya jika melakukan kesalahan.
•••
Sepulangnya dari tempat kerja Hani langsung saja berjalan cepat menuju mobil yang telah di tunggu oleh sopirnya.
Langkahnya dipercepat guna menanyakan beberapa hal kepada Bodyguardnya itu. Seorang bodyguard baru.
Sudah masuk kedalam mobil dan mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, akhirnya Hani membuka mulut.
"Apa tuan muda sedang sibuk?"
"Tuan muda sedang sibuk Nona, katanya akan pulang malam!"
"Jam... 23.00!"
"Ya sudah, terimakasih."
"Sama-sama Nona."
Menyelidiki rumah yang ia tempati sekarang Hani menemukan sebuah obat yang baru kali ini ia temukan.
Setelah di search obat itu nyatanya dipergunakan untuk mengurangi halusinasi atau pereda seseorang mengidap penyakit tertentu.
"Apa aku ini sudah gila, kenapa jadi seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi padaku!?" decak Hani dengan ekspresi gelisah sembari menyentuh ujung kepalanya dengan kedua tangannya agak kasar.
Selanjutnya ia memasuki kamar Stefan dan duduk di sebuah kursi berhadapan langsung dengan layar monitor.
Menunggu hingga malam dan memaksa diri untuk terjaga hal itu Hani lakukan demi menunggu kedatangan Stefan.
"Hee!?"
Lampu tiba-tiba saja mati dikala jam menunjukkan pukul 23.00 membuat Hani seketika terganggu hingga beranjak bangun dari tempat duduknya.
__ADS_1
Bergegas menuju ke arah saklar yang terlihat on artinya memang sedang mati lampu.
Aneh, lampu terus menyala kemudian redup kembali secara berulang-ulang seakan tanpa henti perdetik nya.
Lalu dari kejauhan saat Hani melihat jendela ada sosok bayang-bayang menyerupai manusia, berdiri seakan mematung.
Sudah lima menit lebih sosok menyerupai manusia seperti itu.
Yang akhirnya Hani memberanikan diri untuk mendekatinya, sayangnya dalam berjalan Hani tidak pernah mencapai ujungnya. Begitulah menurut kenyataan yang ia alami sekarang ini.
Ada rasa kesal dalam hatinya, namun tetap Hani tahan dan coba untuk kuat sembari melangkahkan kaki menuju sosok itu.
"Apa aku berhalusinasi atau sedang mimpi sih, seingat ku aku belum tidur. Coba aku cek."
"Aww!"
"Ternyata aku tidak sedang bermimpi..."
Kembali mendekati sosok itu dalam gelap dan terang, Hani terus melakukannya.
Saat hampir sampai akhirnya ia mencapai tujuannya.
Anehnya sosok itu menghilang entah kemana tanpa disadari sebelumnya. Tentu saja membuat Hani garuk-garuk kepala.
"Untungnya aku udah kuat, jadi ngga takut lagi sekarang," gumam Hani.
Hus....
Hembusan nafas panjang terasa pada tengkuknya saat hendak berbalik.
Saat berbalik Hani tidak menemukan keberadaan seseorang.
Kemudian lampu menyala seperti semula.
Tok..tok..tok..
Kedatangan Stefan membuat Hani buru-buru menyambutnya dengan baik sembari menjalankan rencananya.
"Selamat malam tuan, apa ada yang bisa saya bantu malam-malam begini?" tanya Hani disertai senyuman hangat.
"Tumben sikapmu ramah, dan biasanya tidak ada sambutan ditengah malam begini, pasti ada sesuatu yang akan kamu omongkan!"
Merasa perkataan Stefan seolah mengetahui apa yang sedang ia lakukan Hani pun terpaksa berkata yang sejujurnya.
"Mari masuk dulu, aku mau bicarain hal penting sama kamu!"
Di sofa meraka berdua duduk sembari berbincang-bincang, Hani menceritakan apa yang ia alami hari ini kepada Stefan tanpa berbohong.
__ADS_1
Dan jawaban Stefan adalah.
"Selamat. Kamu semakin mendekati kesadaran!"