Horror Disturbing

Horror Disturbing
Mempercayainya Atau Malah Meragukannya


__ADS_3

Masih terbayang-bayang dalam Memori ingatannya dua hari ini Hani dibuat tidak nafsu makan, karena terbayang selalu sesuatu yang membuatnya merasa ngeri dan jijik.


Meskipun Stefan membelikan Hani makanan penggugah selera bagi seorang wanita seperti bakso, seblak, dan dadar gulung. Tapi masih saja, nafsu makan Hani tidak ada perubahan.


Berhubung Stefan memiliki pekerjaan sebagai dokter ia bisa memberikan saran kepada Hani dan obat yang sesuai untuk dikonsumsinya beberapa hari kedepan.


Setelah sarapan pagi yang hanya beberapa suap Hani telan, ia lalu terduduk melamun di sofa kemungkinan ia sedang memikirkan sesuatu yang menganggu pikirannya, atau mungkin sedang mengusir pikiran itu.


Hari ini Stefan cuti dari pekerjaannya sebagai CEO yang sebelumnya sangat padat beberapa sebelumnya. Sekalian saja menemani Hani dan menjadi teman gobrol nya. Pasalnya Hani ia liburkan sementara waktu dari Perusahaan, karena keadaannya sekarang ini.


Dari ruang lain Stefan melihat wajah lesu Hani seperti orang yang sedang sakit padahal kemarin saat ia cek suhu badan Hani, dia dalam kondisi baik-baik saja pada hasil pemeriksaan.


"Bagaimana kalau kita main game, kebetulan aku mempunyai PlayStation 5 yang belum pernah aku buka!" ucap Stefan mencoba menghibur Hani.


Hani hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


Setelah menyuruh seseorang untuk mengambilkan PlayStation kini pembantu baru tersebut mulai memasangkan kabel dan mengatur PlayStation agar terhubung pada TV.


Stefan lalu memberikan Stik PlayStation kepada Hani seusai ia memiliki game tertentu pada daftar game.


Keduanya lalu bermain bersama hingga satu jam Hani dibuat bersemangat untuk mengalahkan Stefan dalam beberapa game yang mereka mainkan.


"Ronde pertama, ready! Go!"


Permainan bergulat dua player melawan satu sama lain yang menampilkan grafis menawan dan terasa lebih hidup atau realistis.


"You Win!"


"Ye... aku menang lagi, kamu kalah Stefan. Jadi buatkan aku masakan yang enak!" titah Hani dibuat bak seorang Ratu dengan kaki menyilang di atas sofa sementara Stefan memilih duduk dibawah.


Padahal kesepakatan menang tersebut adalah akal akalan Stefan agar Hani mau makan lagi setelah puas mengalahkannya. Sebenarnya Stefan sengaja kalah pada setiap permainan, dan hal itu tidak disadari oleh Hani.


Stefan begitu pintar dalam berakting tanpa memperlihatkan celah kepura-puraan nya.

__ADS_1


"Oke, akan aku buatkan. Kesepakatan tetaplah kesepakatan, dan aku kalah."


"Bagus kalau kamu menyadari, tuan dingin. Cepatlah aku nggak sabar mau makan!" ucap Hani dengan ekspresi layaknya seorang bos padahal yang di suruh adalah bosnya sendiri di tempat kerjanya.


"Hihihi... ternyata Stefan menurut sekali saat aku jahilin, entah kenapa aku jadi salut padanya yang tidak mempedulikan jabatannya pada orang sepertiku?" ucap Hani dalam Hati.


Salah satu penasehat yang melihat mereka berdua dan Hani yang memperlakukan Stefan dengan tidak semestinya membuat penasehat itu garuk-garuk kepala, dan berucap dalam hatinya.


"Apa ini mimpi? Oh tuhan tolong bangunkan diriku..."


Stefan melenggang pergi setelahnya, sementara Hani berganti memainkan game yang menggunakan VR.


Saat ini Hani seolah-olah sedang menebas sesuatu yang muncul didepannya menggunakan Console pedang dan ditelinga terpasang earphone khusus PlayStation.


Musik yang mengasyikkan membuat Hani terlena hingga bersemangat dalam bermain dan lama kelamaan gerakannya jadi lihai sambil mengayunkan Console pedang tersebut.


Dirinya pun menari-nari sesuai irama lagu.


"Kau rupanya bersemangat sekali saat main game menggunakan VR ya!" ucap Stefan yang mana membuat Hani terkejut hingga membuatnya terpeleset.


Untungnya Stefan dengan sigap menangkap Hani saat dia jatuh kemudian melepaskan VR yang terpasang pada area kedua mata Hani.


Dalam momen itu Hani sempat dibuat tersipu malu serta wajahnya terlihat merah merona menatap wajah Stefan dari dekat.


"Astaga Hani... kuatkan dirimu... Dia memang tampan, tapi aku memiliki seorang suami tercinta," ucap Hani membatin.


Stefan lalu membantu Hani untuk bangkit dan terlihat dirinya tengah menggunakan celemek berwarna pink hingga membuat Hani terkekeh geli melihatnya.


"Oh, sepertinya kamu sudah baikan. Sekarang makan masakan yang aku buat sampai habis. Aku akan pergi sebentar!" ucap Stefan dingin sepertinya biasanya entah mengapa Hani merasakan sekejap beberapa kesenangan dalam dirinya hilang.


Setelah usai makan masakan Stefan yang lumayan enak untuk pemula sepertinya, kata Hani. Ia pun menerima sebuah panggilan dari orang suruhan yang beberapa waktu lalu ditugaskan untuk menyelidiki informasi berkaitan dengan Stefan, dalam arti mencari tahu identitas dirinya.


"Maaf nona, identitas Tuan muda sangat sulit untuk saya dapatkan. Bahkan sekarang ini saya ditangkap oleh beberapa bodyguard tuan muda!"

__ADS_1


Tut... Tut...


Panggilan diputuskan sepihak oleh orang suruhan Hani itu.


"Hmm, kamu ternyata diam-diam mencari identitas diriku. Sebenarnya apa yang ingin kamu tanya padaku?" ucap Stefan yang berada didekat Hani sudah berpenampilan menarik siap akan pergi.


"...aku... sebenarnya mau mencari tahu banyak hal tentangmu!" ucap Hani mengakui.


"Yah. Aku sudah tahu soal itu, jadi katakan saja sesuatu yang mengganjal di hatimu. Langsung terus terang saja!"


"Iyaa, kalau boleh aku mau memastikan apakah aku benar-benar bisa keluar dari tempat ini setelah menyelesaikan tugas menulis berita aneh dan supranatural dalam jumlah tertentu?"


"Tentu saja, apa kamu tidak percaya kepadaku dan ada keraguan hingga..."


"Em, aku cuma khawatir saja kalau kamu sedang mempermainkan diriku!"


Stefan terlihat menghela nafas panjang, sementara Hani agak malu untuk menatap wajah Stefan yang kini menatapnya penuh selidik.


"Aku buktikan suatu hal yang akan membuatmu percaya, kamu bisa memilih mencobanya atau tidak, itu terserah. Jadi saat dirimu keluar dari wilayah kota ini, dirimu akan secara acak berpindah tempat masih berada di wilayah kota ini!"


Saat Hani akan bertanya lagi tiba-tiba terdengar suara ponsel yang bernada dering irama lagu berasal dari ponsel milik Stefan, yang mana membuat Hani mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih detail lagi kepada Stefan.


Meski nafsu makannya kembali Hani kini dihadapan pada kenyataan yang belum seratus persen terjadi, namun dalam hati kecilnya mengatakan agar Hani percaya kepada Stefan. Mampu menolongnya keluar dari kota bernama "Tragedy" ini.


Dan semoga saja hal itu terjadi.


Mengenai berita tiga hari yang lalu Hani dibuat terkejut melihat lonjakan pembaca online pada situs berita Perusahaan tempat kerjanya yang naik drastis dalam kurun waktu tiga hari, setelah dipublikasikan berita tentang "seseorang yang berubah menjadi serangga" Telah diberi ijin oleh pihak terkait.


Saat ini Hani bersama dengan teman barunya yang akrab setelah beberapa kata berbicara, mereka kini sedang makan disebuah kantin Perusahaan dengan pelayanannya bak hotel bintang lima.


Bedanya harga makanan dan minuman disini sangat terjangkau dan pas dikantong.


"Han, main yuk kerumah ku, aku mau kita nonton Drakor bersama. Nobar gitu deh.."

__ADS_1


"Ayok. Nanti ya kalau aku ada waktu luang. Aku bakalan datang!"


"Hihi iya, aku kabarin kok."


__ADS_2