
"Tenang, aku akan membereskan kejadian ini. Yang sepertinya kita akan dituduh maupun dijadikan tersangka pembunuhan!" ucap Alexander yang membuat Hani sangat khawatir.
"A-aku tidak mau masuk penjara..."
"Tidak, tidak aku tidak akan membiarkan kita berdua menjadi tersangka maupun masuk penjara. Aku memiliki seribu satu cara agar kita aman dari berbagai tuduhan, jadi kamu percayakan saja segalanya padaku."
"Hmm, aku percaya sama kamu," sahut Hani masih dalam pelukan Alexander yang menenangkan itu.
Alasan Alexander mengatakan jika dirinya maupun Hani dapat dituduh sebagai pembunuh pria paruh baya ini dikarenakan sidik jari mereka yang tertinggal.
Sebelumnya mereka berdua telah mengeluarkan pria paruh baya itu dari dalam tindihan lemari.
Beberapa menit kemudian, mobil ambulan sudah tiba di depan rumah pria paruh baya itu. Petugas ambulan lalu turun dari mobil dan bergegas memasuki rumah sederhana itu.
Menggotong jasad pria paruh baya itu setelah memasukkan kedalam kantong jenazah.
Sementara Hani dalam perjalanan pulang menuju tempat tinggalnya dan masih memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi seakan-akan diakibatkan oleh kesalahannya.
Meskipun Alexander sudah berusaha menenangkan Hani tapi nyatanya, belum sepenuhnya membuat Hani lega.
Dirinya diam tak berbicara dengan tatapan kosong melihat luar jendela dalam perjalanannya.
"Oh ya, aku dulu pernah membunuh seseorang!" ucapan Alexander membuat Hani tersentak dari lamunannya dan spontan langsung saja melihat ke arah Alexander yang sedang mengemudi.
"K-kamu per...nah membunuh!?"
"Yah aku serius, tapi nona muda tidak usah khawatir, saya bukan seorang penjahat. Alasan saya membunuh karena spontan demi menyelamatkan ibu saya yang sedang dipukuli habis-habisan oleh ayah saya!"
Penasaran, sekaligus ingin mengetahui lebih lanjut cerita masa lalu Alexander ia masih menatapnya dengan sendu.
Membuat Alexander melanjutkan ceritanya.
"Saya ini anak pertama dari dua bersaudara, memiliki dua orang tua yang menurut saya sendiri ya... tidak harmonis. Entah sejak kapan kedua orang tua saya terpicu oleh h*srat setan, sehingga mereka selalu bertengkar sampai sekarang ini. Yang mungkin saja ada sebab akibat, dan saya tidak mengetahuinya..."
Mendengar cerita masa lalu Alexander membuat Hani penasaran, seketika merubah perasaan yang sebelumnya khawatir malah mengasihani Alexander yang mengalami nasib malang semasa kecilnya.
Memang obat bagi orang yang sedang gundah gulana jika merasa dirinya sangat bersalah adalah cerita seseorang dengan masalah lebih besar darinya.
Atau hal buruk lebih buruk darinya.
Hani sebenarnya keluar karena ada waktu senggang dalam pekerjaannya. Tapi, ia sudah diberitahu akan sebuah rapat dengan agenda "pembahasan perkembangan perusahaan" di mulai jam 14.00 diikuti oleh Hani sebagai salah satu orang penting disana.
__ADS_1
Sayangnya sudah pukul 13.50 Stefan belum melihat batang hidungnya membuatnya harus turun tangan lagi pada masalah yang sedang Hani hadapi.
Di waktu singkat itu Stefan bertindak dari balik layar.
Sampai di tempat tinggalnya Hani menyarankan agar Alexander tinggal dulu sebentar, namun dia menolak karena urusan mengenai hal yang terjadi tadi.
Terlihat meyakinkan membuat Hani tidak bisa sedikit memaksanya lagi.
Guna menghilangkan pikiran negatif maupun bersalah berkepanjangan, Hani langsung saja mandi dengan guyuran shower.
Dia lupa jika dirinya memiliki urusan penting menyangkut perusahaan tempat kerjanya.
Sore itu.
Stefan memasuki kamar tempat tidur Hani terlihat dia tertidur pulas dengan selimut menutupi badannya sampai pundak.
"Dia ini, tidak menempati janji."
Flashback on
"Jangan lupa ada rapat penting jam dua, dan dirimu harus hadir. Kalau tidak akan ada konsekuensi dariku!"
Flashback off
Stefan masih menatap lekat wajah Hani yang nampak tanpa penjagaan di waktu tidurnya ini. Seperti kucing kecil sehabis kenyang makan menurutnya.
"Jadi aku harus pikirkan hukuman apa yang akan aku berikan kepadanya hmm?"
Di sebuah rumah kediaman pria paruh baya entah kenapa Hani sendirian berada disana dirinya nampak kebingungan melihat sekitarannya.
Begitu menjijikkan, saat ia menatap dinding dilihat dengan jelas mengeluarkan darah segar hingga mengalir deras tanpa henti.
Melihat dibawah kaki basah Hani pun mengalihkan pandangannya, dan alangkah terkejutnya dirinya mengetahui ia tengah menginjak gumpalan darah.
Ingin kabur sayangnya ia tidak bisa lantaran kaki sangat sulit untuk digerakkan.
Brak!
Pintu kamar terbuka memperlihatkan pria paruh baya itu dengan wajah penuh pecahan vas bunga serta darah kental yang terlihat menghiasai wajahnya.
Bukan hanya wajahnya saja yang menyeramkan tapi badannya pun penuh akan noda serta luka-luka.
__ADS_1
Kini pria paruh baya itu mendekati Hani dengan sorot mata tajam dan satu tangan diketahui menggenggam serpihan vas bunga.
Mengetahui dirinya terancam Hani berusaha untuk lari maupun pergi dari tempat ini, namun sama seperti sebelumnya dirinya susah untuk digerakkan.
Seakan darah yang diinjak olehnya adalah lem yang sangat kuat di dunia tidak bisa membuat orang yang terperangkap lepas dengan mudah.
Dikala pria itu semakin dekat dia kemudian mengangkat tangannya dan mengarahkan serpihan vas bunga ke arah Hani.
"Ah!!!! Huh... huh..."
Hani berteriak lalu terbangun dari tidurnya sembari mengangkat tubuhnya untuk bangun. Nafasnya pun tersengal.
"Mimpi buruk lagi, bukannya dirimu bisa memanipulasi mimpi melalui lucid dream. Apa dirimu sedang mengalami tekanan?" tanya Stefan di akhir ucapannya yang membuat Hani terkejut.
Hani menduga jika Stefan mengetahui dirinya yang telah berkunjung ke rumah seseorang bersama dengan seorang bodyguard guna mencari keberadaan dari perkataan Bi Asri.
Maupun alasan kota ini sering terjadi hal-hal supranatural dan lainnya yang sangat menggangu bagi sebagian orang, atau saja tanpa disadari semua orang di kota ini.
Mengingat jika Alexander sudah berjanji tidak akan menceritakan masalah hari ini kepada Stefan notabenenya sebagai bosnya, membuat Hani merasa tenang saat mengingatnya.
Alexander sangat berani berjanji dan bersumpah kepada Hani saat itu.
"Ini, minum dulu agar dirimu tidak kekurangan cairan dalam tubuh yang bisa mempengaruhi pikiran dan menyebabkan hal negatif lainnya!"
Hani kemudian mengambil segelas air putih dari genggaman tangan Stefan lalu meminumnya sampai tandas.
Gleg...gleg...gleg...
"Haa.. makasih untuk air putihnya. Oh ya, maaf aku lupa sama rapat perusahaan. Sebenarnya diriku sedang..."
Belum usai menyelesaikan alasannya perkataan Hani terpotong.
"Pergi ke tempat seorang pria paruh baya bersama seorang bodyguard bukan, dan dirimu mengalami kejadian tidak terduga, lebih tepatnya yang dialami oleh pria paruh baya itu!"
Hani terdiam, karena ucapan Stefan barusan sudah men-skak Matt dirinya dan tidak ada alasan logis lagi guna membantah ucapan Stefan.
Seketika alasan yang sudah Hani persiapan sebelumnya berserta alasan cadangan dan simulasi jawaban untuk memperkuat alasannya sirna dalam sekejap.
Membuatnya terpaksa harus mengakui apa yang sudah dilakukan hari ini dan tidak berbohong demi kebaikannya.
"Ya... aku pergi kesana bersama dengan seorang bodyguard, lalu kenapa kamu bisa tahu?"
__ADS_1