
"Begitulah ceritanya."
Selesai bercerita Bima sekarang ini menghirup udara panjang terlihat dirinya yang sedang menahan diri untuk tetap tegar.
Hani maupun bodyguard suruhan itu nampak memahami apa yang dirasakan oleh Bima dilihat dari raut wajahnya.
Menahan agar tetap kuat menyembunyikan perasaan sedih bahkan seperti orang mencegah air matanya keluar.
"Begitu ya, lalu yang menjadi misteri adalah pengemis tua itu yang tidak ditemukan lagi saat penyelidikan kepolisian!" ucap bodyguard suruhan.
"Setelah ayahku meninggal entah kenapa polisi langsung bergerak untuk menemukan pengemis itu, padahal menurutku dia tidak bersalah sama sekali," sahut Bima.
Hani lalu teringat pada perkataan Stefan tentang kematian pak Nabe yang meninggalkan tanda tanya dan misteri.
Flashback on
"Begitulah, karena ada kejanggalan pada kematian beliau yang masih menjadi teka-teki sampai sekarang. Jika kamu bisa menemukannya maka akan jadi nilai tambah, dan kamu tidak usah khawatir jika menyebarkan berita ini akan dianggap melanggar hak privasi orang lain."
Flashback off
Cuma yang Hani pikirkan adalah misteri kematiannya saja, menurutnya yang menjadi misteri adalah penyelidikan pengemis belum membuahkan hasil sama sekali.
Sedangkan kematian pak Nabe sendiri sudah jelas karena bunuh diri.
"Tunggu, bukannya ada kejanggalan selama sore menjelang malam dan malamnya sebelum pak Nabe meninggal?" ucap Hani dalam hati menyadari ada yang janggal pada kematian pak Nabe.
Sebelum pulang dari kediaman pak Nabe Hani memutuskan untuk bertemu dengan Nia adiknya Bima, namun dirinya mendapati perlakuan tidak baik.
"Keluar! Keluar!!!!"
•••
Malamnya Hani disibukkan dengan pekerjaan menumpuk guna memenuhi standar suatu berita untuk diedarkan pada khalayak umum.
Melalui berbagai tahap dan proses ia lakukan dengan sabar sembari menunggu Stefan pulang.
"Sepertinya kamu sudah selesai mewawancarai anak pak Nabe hari ini, serta memiliki hasil wawancara?" ucap Stefan mengagetkannya yang tidak disangka terdengar dari belakang saat Hani berkutat di depan monitor.
Hani langsung menghentikan sementara pekerjaannya untuk menyahut Bos tempat kerjanya. Bahkan dirinya bekerja seperti ini, karena paksaan ingin keluar dari kota Tragedy.
__ADS_1
"Sudah dan berjalan dengan baik, meskipun ada masalah kecil. Silahkan dilihat hasilnya, terus kamu jangan sampai lupa pada janjimu!" ucap Hani menekan kata diakhir ucapannya.
Stefan membaca keseluruhan hasil wawancara Hani tersebut dengan dengan teliti tidak ingin ada yang terlewati maupun kesalahan dan sebagainya.
"Ya, memenuhi standar diedarkan setelah di revisi sedikit. Untuk janji itu selamat kamu berhak mendapatkannya, dimulai hari esok."
Stefan melenggang pergi setelah berbicara dengan tenang tanpa ekspresi. Meskipun tampak berwibawa dan berkharisma menurut para pekerja lain, tapi bagi Hani Stefan adalah CEO paling menyebalkan.
Agak lama berkutat didepan monitor hingga dirinya secara tak sadar sudah selesai mengerjakan semua pekerjaannya yang menumpuk.
"Setelah ini aku mau membersihkan diri dengan berendam, terus perawatan diri seperti biasa. Dan di waktu itu aku akan menelpon suamiku tercinta, aku sangat rindu padanya emm..."
Di kamar mandi Hani asyik menyanyikan lagu kesukaannya sambil berendam sembari merilekskan diri pada pekerjaannya yang melelahkan. Lebih-lebih di hari ini.
Selesai mandi ia pun langsung bergegas untuk melakukan perawatan terhadap dirinya menuju kamar pribadi pada Perusahaan, yang disediakan Stefan untuknya.
Selesai menaruh masker esensi pada wajah Hani lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan mulai menggunakan benda pipih untuk mencari nomor suaminya.
Drtt...
"Iya, dengan siapa ya?" tanya seseorang dari sebrang telpon sana. Suaranya terdengar seperti suara wanita.
"Asal kamu tahu ya, aku ini pacarnya mas Bram yang sudah lama berpacaran dengannya. Malahan... aku hamil anaknya mas Bram, jadi kamu mendingan mundur aja!"
"Udah berapa lama kamu sama mas Bram?"
"Lima bulan, memangnya kenapa kamu tanya-tanya hal itu, mau dibanding-bandingkan dengan dirimu ya?"
"Tch, kalau begitu beri ponselnya ke mas Bram aku mau bicara dengannya!"
"Terserah kamu aja, biar mas Bram jelaskan sendiri."
Hati Hani saat ini merasakan sakit yang amat sangat mengetahui kenyataan pahit yang harus ia terima jika suaminya berselingkuh dengan wanita lain dibelakangnya.
Bahkan selama dirinya belum terjebak di tempat ini suaminya sembunyi-sembunyi bersama dengan wanita lain. Melakukan hubungan terlarang dan dosa.
"Iya Han, sebelumnya..."
"Aku udah tahu kelakuanmu itu mas, kamu sudah mengkhianati janji dan pernikahan kita dengan berselingkuh di belakangku. Sampai wanita itu terang-terangan mengatakan jika dirinya hamil hiks..."
__ADS_1
"Maaf Han, aku minta maaf, semuanya hanya Kesalahpahaman saja. Aku bisa jelaskan padamu apa yang sebenarnya terjadi di hari itu, pertama aku bertemu dengan perempuan ini..."
Terdengar suara jengkel perempuan itu dari sebrang sana yang akhirnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak oleh Bram.
"Hahaha padahal aku berusaha menjadi istri yang baik di mata suamiku, tapi mengapa akhirnya akan begini. Cerita hidupku tertulis bahagia dan aku rancang sedemikian rupa hingga akhir hayat bersama dengan suamiku, sekarang ini sudah hancur berantakan!"
Hani mengepalkan erat kedua tangannya ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi pada dirinya begitu saja. Untuk saat ini dirinya masih belum bisa memastikan jika suaminya berselingkuh secara sukarela.
Maka Hani membusungkan dada dan percaya diri sekali untuk keluar dari tempat ini secepat mungkin. Memastikan dengan caranya sendiri untuk mencari tahu kebenaran tentang suaminya.
"Hah? Yang barusan hanya mimpi... tapi?"
Hani terbangun dari tidurnya saat dirinya masih didalam kamar mandi dalam keadaan masih berendam.
Sungguh sebuah mimpi yang sangat nyata yang pernah alami selama ini.
Dengan mata sembab dan mengeluarkan bulir air mata kini Hani menyekanya dirinya lalu dibuat terdiam dengan tatapan kosong beberapa saat.
Mencoba mengingat kembali mimpi yang ia alami barusan tapi memori mimpi itu perlahan-lahan terasa seperti sulit untuk diingat hingga Hani tidak mengingat gambaran jelas mimpinya barusan.
Tok..tok.. tok..
"Kenapa kau sangat lama sekali didalam, apa ada masalah yang kau alami?"
"Tch! Akan aku dobrak pintu ini jika kamu diam saja."
Peringatan terakhir itu seperti diabaikan begitu saja oleh Hani yang masih ada didalam sampai-sampai Stefan tanpa ragu mendobrak pintu kamar mandi tersebut dengan tendangannya.
Ditemukannya Hani dalam keadaan mata terpejam tengah berada di dalam bathtub masih dengan keadaan berendam, Stefan yang melihatnya pun langsung terjun untuk membawa Hani keluar dari dalam bathtub.
Setelah menyuruh seseorang untuk memakaikan pakaian kepada Hani dirinya lalu menelpon sang asistennya untuk menyiapkan mobil guna keperluan mendadak.
Hani pun dilarikan kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif sampai ia siuman.
"Tenang saja tuan muda, pacar tuan hanya shock saja kemudian pingsan. Mungkin terlalu lama berada didalam kamar mandi!"
"....."
Stefan hanya diam tidak terlalu mendengarkan omongan dokter di hadapannya, kelihatannya dirinya sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1