Horror Disturbing

Horror Disturbing
Kadang Takdir Tidak Menginginkan Hal Seharusnya Terjadi


__ADS_3

"Ah... saya ternyata membuat anda sedih Nona, maafkan saya. Lebih baik nona keluar dulu dari kamar saya untuk menenangkan diri, nona bisa memilih untuk pergi atau melanjutkan tujuan nona datang kesini!" ucap Teren begitu tegar saat berbicara, yang padahal dia sebenarnya sedang sedih terlihat dari ekspresinya mengasihani dirinya sendiri.


"Ini Nona," seorang bodyguard yang ikut masuk dalam kamar Teren menyodorkan tisu kepada Hani. Lalu di ambilnya tisu tersebut oleh Hani dari tempatnya untuk mengusap bulir air mata diwajahnya.


Mencoba untuk menghela nafas panjang agar dirinya tenang setelah itu Hani membuka mulut.


"Saya akan pergi saja tuan, rasanya tidak enak saya mengganggu waktu istirahat tuan sekarang ini. Tuan lebih baik beristirahat secukupnya lalu makan yang teratur, dan jaga pola makan tuan serta hindari pikiran negatif yang muncul lantaran tuan mengganggap keadaan seperti ini derita tak berujung," jawab Hani sejurus kemudian setelah beberapa saat memenangkan diri menyahut perkataan Teren.


Memutuskan untuk pergi sekaligus membatalkan niat awal yaitu melengkapi informasi berkaitan dengan Teren dan kerabatnya.


Di satu sisi guna keperluan pekerjaan dalam menambahi bahan berita terbaru.


Dan Hani sempat menyarankan kepada Teren beberapa poin penting yang bisa dijadikan semangat dan hal utama agar Teren sembuh dari keadaannya.


"Begitu ya... ternyata kamu memilih untuk pergi, memang itu adalah pilihan terbaik. Karena bisa saja Nona terinfeksi oleh bakteri yang ada dalam tubuh saya!" sahut Teren sembari mengungkap kemungkinan yang mengerikan.


Ekspresi Hani berubah dari yang awalnya simpati jadi waspada dan mulai agak menjauh dari ranjang Teren, begitupun dengan seorang bodyguard yang ikut bersamanya kemari.


"Baiklah, saya pergi dulu tuan. Sekali lagi saya minta maaf karena telah memburu waktu berharga tuan, dan saya baru menyadarinya bahwa saat ini tidak menghubungi pihak tuan terlebih dahulu."


"Tidak apa-apa, saya memahami akan hal itu. Lagian Nona kemarin tidak meninggalkan nomer telpon kepada pengurus saya," timpal Teren masih sempat tersenyum simpul meskipun Hani tahu dia sedang menahan rasa sakit.


Pulang dari sana Hani menangis dalam perjalanan hingga tersedu-sedu. Sebenarnya dirinya agak ngeri melihat kondisi Teren semakin memburuk, di satu sisi ia merasa sangat sedih pada nasib yang dialami oleh Teren.


"Takdir seseorang memang berbeda-beda, adakalanya apa yang tidak diharapkan atau tidak disadari terjadi tanpa tanda, dan menimpa kepada siapa saja. Hanya bagi orang-orang yang mengerti akan cobaan dalam hidupnya menganggap hal yang dialaminya adalah suatu keberkahan di sisi lain. Tuan Teren menurut saya beliau sangat tangguh menghadapi kondisinya, mampu menahan apa yang dirasakannya dengan hal-hal yang dapat melupakan rasa sakitnya."


Dalam tangis sembari mengusap wajah dengan tisu lantaran air matanya membasahi wajah, Hani memahami apa yang dikatakan oleh bodyguardnya.

__ADS_1


"Putar balik!"


"Eh.. Nona muda ingin saya memutar balik dan kembali ke sana?" tanya bodyguard itu memastikan apa yang dia dengar barusan.


"Iya, ada hal yang harus aku pastikan. Dan hal itu bisa saja menjadi obat agar Teren semangat dalam menjalani kondisinya untuk kedepannya!" terang Hani serius dan yakin pada perkataannya itu, dan bodyguardnya pun percaya pada ucapan majikannya.


Langsung saja dia bersiap untuk memutar balik mobil menuju kediaman Teren kembali.


Sayangnya saat ia kembali, tak disangka Teren telah pergi tuk selama-lamanya. Dia menghembuskan nafas terakhir beberapa saat setelah tamu terhormatnya pergi meninggalkan kediamannya.


"Hiks...hiks..."


Hani menangis kembali tersedu-sedu melihat kabar tersebut dari Bibi pembantu.


Tak kuasa menahan tangisnya disebabkan oleh dirinya yang merasa tidak peka terhadap perilaku Teren sebelumnya.


Dan menganggap orang yang disukainya itu sebagai penyemangat maupun semangat hidupnya.


Anggapan itu juga diperkuat saat kunjungan Hani kemarin dan perkataan terakhir sebelum Hani pergi meninggalkan kediaman Teren, saat itu ekspresinya terlihat kontradiksi dengan pilihannya kepada Hani.


Dan terlihat raut sedih saat Hani memilih untuk pergi saja dari sana.


Bodyguard itupun turut membantu Bibi pembantu dalam memanggil pihak tertentu dalam keadaan darurat.


Tak lama kemudian pihak kepolisian datang sembari melakukan penyelidikan pada jasad Teren yang masih berada di atas ranjang tempat tidurnya.


Baru setelah itu pihak rumah sakit datang dan membawanya untuk di otopsi.

__ADS_1


Hani sempat ditanyai beberapa pertanyaan oleh penyidik maupun detektif yang ikut bersama pihak kepolisian dalam melakukan penyelidikan.


Karena bisa saja Teren mati karena beberapa spekulasi. Entah itu bunuh diri, meninggal karena keadaannya, atau seseorang yang sengaja membunuhnya.


Motif pun masih didalami lebih lanjut.


Untungnya karena alibi Hani kuat berserta bodyguardnya itu untuk sekarang ini mereka berdua aman.


Stefan kemudian datang menjemput Hani setelah mendengar kabar dari seorang bodyguard.


"Tenangkan dirimu dulu Han, ini kamu minum dulu. Jangan terlalu bersedih hanya karena takdir terlalu cepat mengantar seseorang pergi. Kamu mungkin merasa bersalah sekarang ini bukan, tapi apa kamu ingat bahwa dirimu telah melakukan hal yang membuatnya bahagia!" ucapan Stefan tersebut membuat Hani perlahan-lahan menghentikan tangisannya.


Selain karena makna perkataan Stefan, Hani juga bingung lantaran Stefan selalu mengetahui apa yang dialami dan dirasakan orang lain, terutama dirinya.


Di halaman depan di kediaman Teren Hani menengguk botol air minum yang disodorkan Stefan kepadanya, meminumnya hingga tandas lalu memperbaiki penampilannya akibat tangisan.


"Huh... aku sebenarnya merasa bersalah karena tidak peka terhadap perilaku Teren, dia itu jatuh cinta padaku di awal pertemuan, lalu... menurut kesimpulan diriku dia sangat besar menganggap ku sebagai harapan bagi dirinya untuk melawan maupun bertahan dari kondisi yang dia alami!" ucap Hani mengungkapkan isi hatinya.


"Ya... aku mengerti, hanya saja kamu terlalu percaya diri menyimpulkan jika Teren jatuh cinta padamu. Dan tentu saja masih ada informasi yang kurang dalam memperkuat anggapan itu, Teren mungkin saja menganggap mu sebagai orang yang dia kasihi sekaligus cintai, namun karena anggapan mu tadi masih kurang bukti. Ada kemungkinan bahwa Teren menganggap mu seperti orang yang dia kenal sebelumnya!"


"Tapi kamu juga tidak memiliki bukti pendukung, jadi sebutkan jangan bergumam!?" sahut Hani spontan berucap.


"Ini, baca surat ini. Aku menemukannya didalam tas selempang milikmu!" ungkap Stefan.


"Huh...?"


"Untuk Nona, saya sebenarnya menaruh harapan saat melihat Nona pertama kali dan surat ini saya buat karena ingin menyampaikan maksud yang tak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata secara lisan. Bahwasanya Nona lumayan mirip dengan mendiang istrinya saya, meskipun ada beberapa perbedaan mendasar dan saya menganggap Nona adalah semangat hidup dalam keadaan saya yang seperti ini. Saya harap dapat melihat Nona esok hari hingga saya tiada, saya merasa bahwa besok adalah terakhir kali saya melihat dunia lagi!"

__ADS_1


Membacanya, Hani kembali dibuat dalam kesedihan.


__ADS_2