
...-o0o-...
...HAPPY READING ...
...#Author#...
...-o0o-...
Glend merasa khawatir, dia mengusap tangannya yang bergetar.
"Aku harap, mama baik-baik aja" Gumamnya berkali-kali.
Glen sudah sampai di sebuah rumah sakit besar di kota itu. Glen langsung masuk dan menuju ruangan ibunya yang telah di beritahukan papanya.
"Mama!!" Glen masuk tanpa mengetuk, dan langsung mengalihkan pandangan saat matanya malah melihat pemandangan dimana papanya sedang berciuman mesra dengan sang mama.
"Glen!!! Kebiasaan!!" Giedo mendelik sambil merapikan kerah bajunya.
"Papa sih, gak tau tempat!" Glen menyahut tak mau disalahkan. Annie hanya geleng-geleng kepala.
"Sayang, sini duduk di samping mama!" Annie menepuk ranjang sebelah kanannya yang kosong. Ranjang itu sangat besar, Glend rasa bisa muat empat orang sekaligus.
"Mama baik-baik aja?" Glen membingkai wajah ibunya dengan kedua tangan dan menatap Annie dengan mata berkaca-kaca.
"Mama baik-baik aja" Annie tersenyum lembut meski sorot matanya terlihat sedih.
"Mama kenapa sampai bisa pingsan di trotoar? Mama sakit apa sebenarnya?" Glen merasa ada yang aneh, dia merasa ibunya tak baik-baik saja.
"Ini semua salah kamu Glend!!! Andaikan Glen tetap bareng April, pasti mama gak bakal begini" Annie mengalihkan pandangan, matanya sudah panas ingin mengeluarkan cairan hangat itu.
"Mak-maksudnya ma?" Glen bingung kenapa jadi membawa nama mantan segala pikirnya, dia juga merasakan sesak yang entah datang darimana.
"April akan menikah!!!" Annie menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sungguh dia merasa sesak, Annie sangat-sangat ingin memiliki menantu seperti April, atau lebih tepatnya Annie sangat ingin April menjadi menantunya. Tapi apa? Apa yang dia tau semalam, membuat keinginannya mungkin tak akan terpenuhi lagi.
"Me-menikah?" Glen tergagap saking terkejutnya. Benarkah April akan menikah? Aprilnya akan menikah???
"Iya"
.......
"Eh jeng, dua minggu lagi jangan lupa ya! Datang ke rumah kami, mau ada acara lamaran" Annie mengalihkan pandangan. Dia menatap wajah Evi yang menjadi teman arisannya.
"Siapa yang mau lamaran jeng?" Sahut Nining, dengan raut penasaran.
__ADS_1
"Julio, dia udah kenalin calonnya sama keluarga kami satu bulan yang lalu. Meskipun-" Evi menghela nafas, dan tersenyum tipis.
"Udah ada cucu dulu" Evi terkekeh sambil mengusap sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.
"Jadi, Julio sama calonnya nyetak dulu jeng" Semuanya pada penasaran, karena tak menyangka salah satu idola mereka yang sering dijodoh-jodohkan dengan anak-anak perempuan mereka berlaku seperti itu.
"Hm, itu sih yang Julio bilang. Tapi, ketiga cucu kami menggemaskan, jadi baik keluarga dan papanya Julio, pada antusias sama ketiga anaknya"
Semua teman arisan Annie tercengang. Bahkan Annie yang awalnya asik menyesap teh hangatnya menoleh, dan antusias mendengar kata cucu.
"Langsung tiga?" Kali ini Annie mengeluarkan suara, dia sangat-sangat ingin menggendong cucu. Tapi apa daya, putranya masih muda dan fokus pada pendidikannya.
"Hooh, ganteng semua lagi. Apalagi Gabriel gemes banget, Gabrian kembarannya juga gak kalah ganteng, Dan si sulung Aldo beuh gantengnya kebangetan" Evi mulai berbinar, meski pada awalnya dia sedikit kecewa dengan sang putra.
"Laki-laki semua. Bagi foto dong jeng" semuanya malah fokus pada pembicaraan Evi. Mereka berebut mendekati Evi saat si empu mulai mengeluarkan ponsel.
"Nih... Ini namanya Aldo, ini Gabriel dan ini namanya Gabrian" Mereka semua yang melihat berbinar. Ketiga bocah cilik itu sangat tampan dan menggemaskan.
"Aldo udah berapa tahun?" Salah seorang dari mereka bertanya, sangat-sangat antusias.
"Katanya sih, udah mau tiga tahun" Sungguh, Evi adalah salah satu manusia yang bisa diacungi jempol. Dia tak takut disindir oleh teman-teman arisannya.
"Ya ampun... Berarti pas masuk kuliah Julio udah mulai nyetak" Evi meringis, meski ada rasa ganjal di hatinya.
"Eh, ini anaknya?" Annie merasa familiar. Wajah salah satu dari dua bocah kecil itu sangat-sangat familiar. Meski keduanya terasa identik, tapi masih terasa juga perbedaan wajahnya.
"Yang ini namanya siapa?" Annie menunjuk salah satu bayi berbaju putih.
"Oh, ini namanya Gabriel. Matanya cantik banget kan jeng. Padahal Julio maupun ibu bayinya gak ada yang punya netra sebagus ini loh!" Evi berucap antusias. Annie mengeluarkan handphonenya. Dan membuka aplikasi galeri.
"Kok mirip banget ya sama anak saya pas kecil. Apa gara-gara saya pengen banget punya cucu, jadi saya ngerasa familiar liat anak kecil gini" Annie menunjukkan foto Glend sewaktu masih berumur satu tahun.
"Loh... Iya, mirip banget ya!" Evi bahkan sudah mengambil alih ponsel Annie dan membandingkan dengan wajah sang cucu.
Tanpa sadar, keduanya malah asik membuka-buka foto-foto hasil jepretan Evi.
"Loh!!!" Annie mengambil alih ponsel Evi saat matanya menangkap sosok familiar.
"Oh, itu namanya April. Calon Julio, mereka cocok banget kan" Evi tersenyum, tak sadar telah membuat senyum ceria Annie perlahan luntur.
Annie tersenyum tipis, dan mengembalikan handphone Evi, begitu juga sebaliknya. Annie perlahan duduk kembali di atas kursinya.
"Jeng, saya nitip uangnya aja ya. Tiba-tiba kepala saya pusing" Annie meletakkan amplop berisikan uang keatas meja.
__ADS_1
"Loh??!" Mereka serempak terkejut, meski tak menghalangi Annie untuk tetap pergi.
"Hati-hati ya, jangan lupa!" Evi menjadi penutup perbincangan terakhir Annie di tempat itu.
Annie berjalan lesu keluar restoran tadi. Dia melewati parkiran begitu saja, tak sadar dia punya supir yang menunggunya sejak tadi.
Annie menelusuri trotoar dengan banyak pertanyaan dibenaknya. Dia pun terduduk, mengusap dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
Annie pun pingsan, dan tak berselang lama, sang supir datang setelah tau dari teman Annie bahwa majikannya sudah pulang.
...*...
...*...
Glen terdiam mendengar cerita ibunya. Otaknya yang tiba-tiba lola pun dia abaikan.
"Trus, kenapa mama gak ada kabar beberapa hari ini?" Glen malah menanyakan hal lain, yang sebenarnya tak terlalu penting, karena dia sudah ada di dekat ibunya sekarang.
"Malah ngalihin topik" Annie memutar mata merajuk.
Giedo yang sedari tadi diam mengusap punggung istrinya sayang.
"Jangan ngambek mulu sayang. Entar cepat tua" Annie mendelik, meski memang sudah mulai tua, dia tak mau dikatai tua.
"Jangan dekat-dekat mama, mama ngambek" Annie malah merajuk bagai anak kecil. Sedangkan sang anak hanya geleng-geleng kepala, meski sangat banyak pertanyaan berseliweran di kepalanya.
'Apa April mertahanin anaknya dan Julio itu? Tapi, yang tiga tahun itu siapa?' Glend bergumam, dia mulai mengira-ngira bahwa sudah sejak lama Julio dan April berhubungan.
.......
...-o0o-...
...**Like...
...Btw, maaf ya buat Glen dan Glend itu,...
...mungkin byk salah kadang ada 'D' nya,...
...dan kadang gak. Jadi, jangan...
...bawa pusing🙂**...
...-o0o-...
__ADS_1
.......