HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 2 •|Jadian|•


__ADS_3

...•||•...


...HAPPY READING...


...#APRIL#...


...•||•...


Setelah pertemuan itu, kami mulai sering bertemu, entah itu sengaja atau tidak. Pria tampan itu, selalu melemparkan senyum pada ku, walau pun banyak orang yang menatap aneh kepadanya.


Glen bahkan pernah dengan sengaja mengikuti kelas ku. Aku berusaha menyangkal, mungkin saja dia mengulangi matkul ini, karena nilainya tidak bagus.


"April" Dia berlari, mendekatiku yang sedang berjalan hendak pulang. Karena kelas sudah selesai.


Inilah salah satu keistimewaan nya, jika aku mendengar nama April, pasti aku sudah tau kalau dia yang memanggil. Sebab, disini hanya dia yang memanggil ku dengan nama itu, sedangkan yang lain hanya menggunakan nama Lia.


"Kenapa kak?" Aku berusaha menormalkan suara ku, supaya tidak terlihat gugup.


"K-kamu, mau pulang? Mau aku antar?" Aku diam, apa telinga ku salah, disini aku terkejut akan dua hal. Pertama, dia menggunakan kata 'aku-kamu' bukan 'lo-gue' kayak biasanya , yang kedua dia mengajak ku pulang? Oh my God...


"Mmm, gak usah kak. Aku bisa naik angkot ke kost, kalau ke pintu universitas, aku bisa naik bus kampus" Memang, universitas kami sangat luas, jadi di sediakan bus bagi yang tidak berkendaraan ke kampus.


"Ribet elah, mending sama a-ku aja" Dia masih terlihat aneh saat menggunakan'aku-kamu', sangat lucu.


"Kalau gak ngerepotin, ya boleh kak. Makasih sebelumnya" Senyum langsung terbit di bibir tipis merahnya. Membuat aku ikut-ikutan tersenyum.


...*...


...*...


Kami sampai di depan kost, dan aku lihat raut wajahnya yang terlihat berubah.


"Kenapa kak?" Aku bertanya, sebab bingung saat melihat wajahnya yang menatap lekat bangunan kost bertingkat itu.


"Ka-kamu, tinggal disini?" Dia menaikkan alis, sembari menatap ku, penuh dengan tanya.


"Iya, kenapa" Dia hanya menggeleng, dan tersenyum.


"Ya udah, aku pulang dulu. Kamu baik-baik di kost" setelah itu, dia pergi dengan motor hitamnya. Membuat aku menatapnya heran, penasaran dengan apa yang dia pikirkan.


'Apa dia jijik dengan kost ku?' batin ku, aku sungguh sangat heran.

__ADS_1


...*...


...*...


Sejak saat itu, aku dan kak Glend menjadi sangat dekat. Dia sering mengajakku jalan-jalan, meski sering menolak, tetapi dengan segala bujuk rayuannya, aku luluh, dan mau-mau saja ikut dengannya.


Kak Glend itu baik, sangat baik, kata teman-teman sekelas ku, dia itu terlihat cuek dan bodi amat dengan sekitar, tapi berbeda dengan pendapat ku. Menurut ku, kak Glend itu humoris, dan sangat care ke pada ku, atau sekitarnya.


Satu bulan lebih kami dekat, dia pernah mengajakku menonton, dia selalu menemaniku saat mengerjakan tugas, dia bahkan pernah membawakan makanan ke kost ku.


Pernah sekali, aku sakit. Dia terlihat sedih, dan setiap satu kali satu jam, dia menelepon ku, mengirimkan pesan, dan banyak lagi. Aku bahkan berpikir, kami sudah seperti orang yang berpacaran.


Dua bulan kami dekat, dia sudah bercerita tentang keluarganya. Sebenarnya namanya adalah Glendale Ramosdo Wairde. Ayahnya, berasal dari California, Giedo Wairde. Ibunya, Annie Gultom, orang Indonesia, tepatnya Batak. Pantesan aku merasa familiar dengan nama Ramosdo.


Aku terkejut, ternyata benar dia blasteran. Pantesan dia tinggi seperti itu, Glend bilang dia 181 cm.


"Aku heran dengan orangtuaku, mereka sudah tua tapi masih sok muda, sok tebar-tebar romantis lah" Aku tertawa saat dia menceritakan tentang orangtuanya. Saat ini, kami duduk di kursi pasar malam, padahal sekarang sudah sangat malam.


Dia memakan permen, sedangkan aku sedang memakan roti.


"Nanti, kalau kita nikah. Kita juga boleh tebar-tebar romantis di depan mereka" Aku tersipu, jujur aku sangat malu, dan senang.


Tapi, pacaran saja kami belum. Kenapa langsung menikah?


Setelah dua bulan, aku semakin mengenalnya. Aku mulai menyukai sikapnya yang humoris itu, dia selalu membuat ku senyum.


Dia sudah menjadi penyemangat ku, aku memang tidak punya sahabat, hanya sebatas teman untuk saat ini. Karena, aku memang kurang sering berinteraksi dengan mereka. Sebab, setiap istirahat aku bersama kak Glend, pulang bersama kak Glend, semuanya kak Glend.


...*...


...*...


Hingga saat itu, dia meminta ku menemaninya latihan basket, karena akhir-akhir ini dia jarang latihan. Dan, aku menyimpulkan itu semua karena dia asik lengket dengan ku.


Dan yah, kami jadian. Aku sangat bahagia, akhirnya aku tidak di gantung. Untung aku tidak di goshting kayak anak-anak tik-tok itu. Bukannya aku sering main tik-tok, tapi aku tau karena di kelas bahasan itu sudah menjadi makanan sehari-hari.


Setelah jadian, kami lebih sering bersama. Kami sudah sangat dekat, dia bahkan sudah pernah mengenalkan ku kepada teman-temannya.


Kami memilih pacaran yang terkontrol, hanya pegangan tangan, pelukan, ciuman saja. Meski, aku agak risih dengan ciuman, tapi jika kak Glend mencium ku, aku merasa suka dan tenang.


Teman-teman kak Glend pernah juga menanyakan, kami sudah pernah melakukan 'itu', atau tidak. Dan kami hanya tersenyum, tak menanggapi.

__ADS_1


...*...


...*...


"Nanti, kamu mau gak aku bawa ke rumah?" Kak Glend membuka pembicaraan saat kami perjalanan pulang ke kost.


"Em, buat apa kak?" Aku mengencangkan pelukan, karena angin terasa kencang saat ini.


"Mama mau ketemu sama kamu" Aku diam, mendengar teriakannya.


"Ya udah, tapi aku mandi dulu ya kak, sekalian ganti baju" Akhirnya, kak Glend menungguku mandi dan berganti baju.


Setelah itu, kami pergi ke ke rumah kak Glend. Aku sangat gugup, aku belum pernah ketemu dengan orangtua kak Glen, aku juga belum pernah pergi ke rumah kak Glend.


Tak sampai 30 menit, kami sampai. Ada seorang wanita paruh baya yang menyambut kami di pintu utama.


"Cie anak mama" Glend menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sambil mencium pipi mamanya. Aku menjabat tangan mama kak Glend dengan sopan.


"Oh, ini namanya April?" mama kak Glen tersenyum, dan menggandeng tangan ku masuk ke dalam rumah. Aku celingak-celinguk mencari ayah kak Glen.


"Papa Glend lagi gak di rumah sayang, dia sibuk kerja" Mama kak Glend seakan tau apa yang kucari. Akhirnya kami masuk ke dalam rumah.


Ternyata mama Annie sangat baik dan ramah, sebelas dua belas dengan anaknya. Sepanjang berbincang dengan mama Annie, aku sering mendapati kak Glend menatap ku, dan setelah tertangkap basah menatap ku, dia akan mengalihkan pandangan dengan wajah memerah, tak lupa tangannya menggaruk tengkuknya.


Aku tersenyum melihat tingkat menggemaskan kak Glend. Dia seperti tokoh kartun kesukaan ku.


"Glend sering banget loh cerita tentang kamu, bahkan Glend pernah mengigau, manggil nama kamu" Aku tersenyum kikuk dengan wajah panas.


"Kalian ini jangan terlalu kaku gitu, udah pacaran juga. Padahal kemarin-kemarin, Glend sampai ngambek karena mama sama papa mesra-mesraan di depan dia, akhirnya dia bilang bakal balas dendam ke mama. Katanya, kalian juga akan buat mama itu karena romantis-romantis an trus"


Glend mendelik, sambil terus memakan keripik kentang dari toples.


"Tapi, satu harapan mama. Kalau ada masalah, bicarain baik-baik. Jangan langsung berantem, hubungan kalian harus sampai jadi kakek-nenek"


.......


...-0o0-...


...Like, Vote, Komen...


...-0o0-...

__ADS_1


.......


__ADS_2