HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 7 •|Baby Aldo|•


__ADS_3

...-o0o-...


...HAPPY READING ...


...#Author#...


...-o0o-...


April menatap tubuh mungil yang masih terbaring lemah itu. Dia tak menyangka, akan mengambil keputusan seperti ini.


"Anak siapa dok?" April tak mengerti,,, sungguh...


"Loh, anak ibu yang masih satu tahun itu, jangan durhaka sama anak sendiri bu. Jadi itu anak siapa toh?" Dokter itu berkata sinis, tak menyangka pasiennya se jahat itu.


April diam, sedikit meringis melihat tatapan dokter itu.


"Antar saya ke tempat anak saya dok" Dokter itu perlahan mengubah raut wajah, dan menuntun April naik ke kursi roda.


Awalnya April sangat bingung, tapi dia memilih melihat anak yang di maksud itu dulu. Sebelum sekarang dia duduk di ruangan ini bersama bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu.


Hatinya tergerak untuk mengelus pipi chubby bayi itu. Dengan gerakan pelan, tangan April sudah mengelus pipi chubby bayi mungil itu.


"Cepat sembuh ya nak!" Dia mencium keningnya, entah kenapa dia merasa hatinya menghangat melihat bayi mungil itu. Jiwa ingin menjaganya semakin bertambah saat melihat bayi itu menggeliat kecil dalam tidurnya.


...*...


...*...


April telah di rawat di rumah sakit selama dua hari. Bayi mungil bermata coklat madu terang itu sudah sadar, mata bayi itu mengingatkan April kepada Glend, karena Glend juga memiliki iris mata seperti itu, meski bentuk wajah sangat berbeda jauh dari Glend, wajah bayi ini sangat imut, sedangkan Glend garis wajahnya tegas dan maskulin.


April menghabiskan uang tabungannya untuk membayar biaya rumah sakit, bahkan hanya tersisa sedikit, karena biaya perawatan bayi mungil itu juga mahal.


Keesokan harinya, keduanya sudah bisa pulang. Bayi kecil itu hanya bisa menatap wajah April dengan mengerjap-erjap.


Bayi mungil itu sudah bisa merangkak, dan mengucapkan kata 'mama' berkali-kali. Tapi, April bingung, kenapa anak itu mau dengannya. Tidakkah anak sebesar itu sudah tau mana ibunya, dan mana orang lain?


April akhirnya membawa bayi itu ke kost, dia juga sudah mulai memikirkan bagaimana caranya dia membiayai kehidupannya lagi. Bagaimana pula dia melanjutkan kuliah dengan satu anak dan dalam kondisi mengandung.


April takut, jika dia meminta uang lagi kepada orangtuanya yang di kampung, mereka akan kesulitan terlebih curiga dengannya, karena setahun terakhir ini, dia sudah jarang meminta-minta uang.


Akhirnya April mengambil keputusan, yaitu berhenti kuliah!! April membeli dua pasang baju untuk bayi mungil itu, karena dia tak punya uang yang banyak. April juga sudah mulai mencari pekerjaan.


...*...

__ADS_1


"Apa aku mengajukan cuti setahun aja? Nanti, semester berikutnya, aku bisa kembali masuk bukan?" April mulai berpikir keras, sayang juga dengan uang negara yang dia habiskan untuk kuliah beberapa semester ini.


Akhirnya, setelah perdebatan panjang. April pergi menghadap dekan fakultas, untuk mengajukan cuti. Sangat sulit emang, dekan menolak dan menyuruhnya menemui rektor, hingga dia bernegosiasi selama tiga hari. April mengatakan alasannya, dia mencari uang untuk pengobatan orangtuanya, hatinya selalu menggumamkan kata-kata maaf, sembari merapalkan doa supaya orangtuanya tetap sehat, begitu juga dengan keluarganya di kampung.


Akhirnya, rektor memberikan surat cuti setahun, mengingat April adalah salah satu siswa berprestasi. Dekan juga memberikan uang bantuan bulan ini, karena belum sempat di terima April.


...*...


...*...


April memulai kehidupan barunya dengan senang hati, dia juga sudah bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe dekat dengan kostnya.


April membawa baby Aldo ke kafe setiap hari. Banyak karyawan kafe yang sedikit risih dengannya, melihat April yang masih muda tapi membawa anak ke kafe.


Ngomong-ngomong, baby Aldo adalah nama yang di berikan April kepada bayi barunya itu. April selalu meletakkan baby Aldo di tempat istirahat karyawan jika dia sedang bekerja. Jika baby Aldo menangis, April langsung menggendong baby Aldo dengan kain jarit, lalu memberi susu formula.


Begitulah kehidupan April berjalan, kerja di kafe mulai jam 5 pagi sampai jam 3 sore, lalu mengurus kost dan mencuci baju tetangga di waktu kosong.


Sudah satu bulan lebih dia melakukan kegiatannya. Setiap malam, dia akan merenung mengingat kebersamaannya dengan Glend, dia rindu pria itu, tapi dia yakin Glend tak mungkin merindukannya.


"Huaaaaa...." baby Aldo menangis kencang, saat April sibuk melamun di atas kursi kayu dekat dengan kasur yang di tempati baby Aldo.


"Kenapa sayang" April mengangkat tubuh mungil baby Aldo, dan membawanya ke dapur untuk membuatkan susu. Baby Aldo masih meminum susu dari dot, tak lupa baby Aldo juga masih memakan bubur bayi.


April tersenyum, ternyata ada juga rasa senang dan bahagia mengurus bayi mungil. Dia asik menatap wajah Aldo yang mulai terlelap, dan hanya tersisa seperempat susu di dalam dot.


April membaringkan baby Aldo di atas kasur, tak lupa menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut kecil berbahan halus.


"Selamat malam sayang. Mama sayang baby Aldo" April mencium kening putranya, dan langsung terlelap di samping baby Aldo.


...*...


...*...


Kandungan April sudah memasuki bulan ke-6, perutnya sudah membesar, padahal pas masih berumur 4,5 bulan perut itu masih terlihat sedikit buncit. April juga tidak pernah mengalami morning sickness, dan dia bersyukur akan hal itu. Semakin hari, baby Aldo semakin aktif dan manja. Baby Aldo sudah mulai bisa berjalan, dan sudah bagus dalam hal berdiri.


Baby Aldo sudah bisa mengucapkan beberapa kata, dan sudah mulai bisa membuat sang mama kewalahan.


Aldo yang sering berceloteh dengan tidak jelas, membuat karyawan kafe tempat April bekerja jadi gemas dan menyukainya. Baby Aldo menjadi idola disana, tak lupa mereka sering bermain-main dengan baby Aldo jika April sedang sibuk.


Lestari, karyawan baru itu menjadi teman paling akrab dengan April. Mereka memiliki waktu kerja yang sama. Sehingga keduanya mulai kompak dan akrab.


"Lia, nanti kita mampir ke mall mau gak? Gue dapet bonus gede tadi, jadi gue mau kasih hadiah sama baby Aldo" Lestari berucap dengan senang.

__ADS_1


"Em, gak usah Tar, mending lo beli keperluan lo aja, kalau baby Aldo masih belum butuh apa-apa" April merasa tak enak hati, sebab masih terhitung satu bulan Lestari bekerja di tempat itu.


"Gakpapa, sekali-kali juga" Akhirnya, sore itu April mau di bawa ke mall. Lestari membeli beberapa baju untuk baby Aldo, dan tak lupa dengan celananya.


"Makasih banyak ya" April sangat bersyukur bisa memiliki teman baik seperti Lestari, dia juga akan membantu perempuan itu jika susah nanti.


...*...


...*...


...*...


"Glend, baby!!!" suara perempuan menggema di koridor kampus. Hal itu membuat beberapa mahasiswa yang berlalu lalang menatap wajah perempuan itu sejenak, sebelum kembali fokus pada tujuan masing-masing.


"Hm?" Glend menghentikan langkahnya, dan menatap manik mata berwarna hijau itu.


"Makan bareng aku yuk" Glend memutar mata, dan kembali melanjutkan langkah.


"Glend!!! Ayo dong sayang, bentar aja" perempuan itu bergelayut manja di lengan Glend, membuat si empu menghembuskan nafas sebelum menghentikan langkahnya kembali.


"Alya... lo tau gak gue muak banget, gue muak liat muka lo. Awal lo b it ch" Glend menghempaskan tangan perempuan itu dengan kasar.


"Glend, kamu kok gitu sih!!" Perempuan itu ikut-ikutan meninggikan nada suaranya.


"Heh, ja la ng, lo gak usah sok-sokan deketin gue, gue jijik tau gak, gue muak liat muka lo" Alya berkaca-kaca, matanya sudah sangat panas. Glend tak menghiraukan perempuan itu, dan memilih pergi, dia ingin segera sampai di apartemen dan mendinginkan otaknya yang panas.


.......


...*...


...-o0o-...


...Cie, siapa yang rindu sama Glend?...


.......


...Maafkeun kalau masih ada typo...


...-o0o-...


...*...


.......

__ADS_1


__ADS_2