
...•||•...
...HAPPY READING...
...•||•...
April tersenyum sambil memeluk hangat perempuan yang sangat disayanginya, siapa lagi kalau bukan ibunya yang baru sampai lima menit yang lalu, tak lupa dengan keluarga April yang lainnya.
April berpindah dan memeluk ayahnya dengan erat juga. April terisak pelan, sambil menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan hangat sang ayah.
"Kamu baik-baik aja nak?" Ibu April bertanya sambil mengelus tangan April.
April hanya mengangguk, dan menatap keluarganya sendu. April akhirnya bisa bertemu lagi dengan mereka.
"Kabar kakak sehat?" Adik perempuan dan adik laki-laki April mendekat, dan memeluk April bersamaan.
"Sehat, kabar kalian gimana?" Kedua adiknya menganggukkan kepala pertanda sehat.
"Oh iya, ini libur kenaikan kelas ya? Ayo, yang dapat juara kelas siapa? Nanti kakak kasih hadiah." April mengalihkan pembicaraan, supaya adik-adiknya tak lagi menanyakan hal-hal tentang.
"Kakak kan tau, kita berdua mana pernah dapat juara kelas." Adik perempuan April mencebikkan bibir.
"Eh, aku juara 5 ya........ dari bawah maksudnya.." April dan adik perempuannya itu tertawa, sedikit kesal karena hampir percaya.
...><...
"Jadi, laki-laki yang jadi ayah anak-anak adalah Glen?" Ayah April menatap seluruh manusia disana penuh tanya.
"I-iya om!" Glen menjawab dengan takut, dia terduduk kaku di depan calon mertuanya.
"Syukurlah." Semua terkejut mendengar suara ayah April. Mereka pikir akan ada drama pukul-memukul dulu.
"Karena, apapun alasannya. Kamu sudah mau bertanggungjawab, dan menjadi yang pertama dan terakhir untuk anak saya." Seluruh manusia mengangguk, dan mengacungi jempol untuk sikap bijak ayah April.
"Glen minta maaf om, kalau pun om ingin memukul saya, Glen gakpapa!" Glen buka suara, saat merasa kurang puas karena belum mendapatkan bogeman kesayangannya.
"Hm, apa kalau saya mukul kamu, bunuh kamu akan membuat anak saya kembali seperti semula? Jika memang bisa, saya gak akan melakukannya, kapan lagi saya bisa bersama cucu-cucu tampan saya ini." Ayah April memeluk Aldo dengan penuh kasih sayang.
"Hehehe, geli kakek." Aldo cekikikan, sambil menahan kakeknya yang sedang menduselkan kepalanya ke perut buncit Aldo.
"Jadi, saya direstui nikah sama April, om - tante?" Glen menatap kedua orangtua April dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Kita sudah merestui nak, tapi jangan lagi ulangi kesalahan kamu ya." Ibu April yang menjawab, membuat keluarga Glen bernafas lega.
Semua tersenyum haru, dan mulai mengobrol, membicarakan perihal pernikahan April dan Glen.
Kedua adik April masih memiliki libur sekolah selama dua minggu tiga hari, jadi mereka tak perlu pulang hingga pernikahan April selesai digelar.
...><...
Hari ini, April dan Glen akan fitting baju pengantin, tak lupa membeli cincin. Disusul foto prewedding besok.
Anak-anak diajak jalan-jalan oleh adik-adik April. Mereka naik mobil Glen, diantarkan oleh sopir keluarga Glen.
Glen dan April memasuki butik terkenal di pusat kota.
"Wah, tuan Glen dan nona April ya?" Seorang wanita dengan dress merah muda keluar dari dalam ruangan.
"I-iya Bu, panggil April saja." April tersenyum tipis.
"Saya Esther, salah satu karyawan disini." Mereka akhirnya mulai berjalan-jalan mengelilingi butik, tepatnya kumpulan gaun pengantin.
Glen sudah pergi dengan salah satu karyawan laki-laki ke tempat pakaian untuk pengantin pria.
"Ibu ingin desain yang seperti apa?" Esther mulai melihat gambar stok gaun yang tersisa.
Esther menunjukkan gambar beberapa gaun dengan model seperti yang diinginkan April. Setelah beberapa menit memilih gaun, akhirnya April mulai mencoba.
...><...
April dan Glen akhirnya sudah selesai memilih pakaian pengantin. Dan saat ini, mereka tengah memilih cincin yang cocok.
"Saya mau yang sederhana, tapi terlihat mewah." Sang pelayan toko menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Glen.
"Ini pak, dicoba dulu." April dan Glen mencoba cincin tersebut, dan memang pas dan sangat cocok.
"Ini bukan bekas kan? Aku tak mau memakai barang bekas untuk pernikahan ku, walaupun itu barang bekas orang terkemuka sekalipun." Glen bertanya dengan alis terangkat.
"Bu-bukan pak, itu masih produk baru." Glen dan April akhirnya memesan cincin itu, dan segera berlalu dari mall tersebut.
"Kita mampir makan siang dulu ya, aku udah lapar banget." April mengangguk singkat, dia juga sudah merasa lapar.
Setelah makan, mereka akhirnya pulang. Keduanya tampak tak seperti dulu lagi, dulu keduanya akan memiliki banyak topik untuk dibicarakan, sedangkan sekarang mereka hanya diam di sepanjang jalan.
__ADS_1
...><...
April dan Glen bersiap dengan pakaian masing-masing. Saat ini, mereka sedang ada hutan kota yang terawat dengan baik.
Mereka akan melakukan foto prewedding dengan konsep outdoor.
"Wajah kamu kok murung satu hari ini?" Glen membuka suara saat keduanya sedang duduk untuk persiapan pemotretan.
"Aku gakpapa." Sahut April dengan masih memperhatikan flatshoes yang dia pakai.
"Apa kamu gak ikhlas dengan pernikahan ini?" Glen menatap April dengan wajah khawatir.
"Aku gakpapa Glen, aku seneng kok nikah sama kamu." Glen mengangguk saja, sambil menatap ke depan.
"Aku harap, kita dapat menjalani pernikahan ini dengan semestinya." Ucapan Glen disusul suara salah satu pria.
"Pemotretan akan dimulai. Silahkan mendekat ke tempat yang sudah ditentukan."
April dan Glen akhirnya mengakhiri pembicaraan itu, dan mulai mendekati tempat pemotretan.
"Jadi, foto pertama dengan gaya seperti ini." Sang fotografer mulai memberikan aba-aba. April dan Glen menurut saja, terlihat tak ada senyum di wajah keduanya.
"Wah, ekspresi yang sangat bagus. Terlihat natural." Fotografer kembali memberi aba-aba.
"Tapi, tolong ya... wajahnya jangan murung-murung gitu, entar dikira orang kalian terpaksa nikah lagi." Celetukan fotografer itu membuat kedua pasangan yang hendak menikah itu trdiam dan tersenyum tipis.
"Untuk sesi kedua lebarkan senyum kalian. Oke?" April dan Glen hanya mengangguk dan tersenyum.
"Oke, foto terakhir kalian berjalan seperti hendak memasuki hutan. Yang dimana itu artinya kalian siap melangkah ke jenjang yang lebih baik yaitu pernikahan." April dan Glen mengambil posisi, keduanya saling memandang. Berjalan pelan, dan tak ada yang sadar keduanya saling melemparkan senyum tipis nan menenangkan.
"I love you." Ucap Glen sambil melebarkan senyumnya. April tak menjawab, dia hanya menatap Glen, mendalami mata itu.
"I love you so much, really love you..." Batin April, dia hanya tak siap untuk mengucapkan kalimat itu. Dia harus mulai menyusun rencana untuk keindahan alur pernikahan mereka.
...•||•...
...Salah satu foto prewedding mereka. ☟...
...-Eps selanjutnya, bakal nikah... Mau gak sama adegan bercocok tanamnya? 😂🙏-...
__ADS_1
...•||•...