HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 33 •|Brandon - Jeny|•


__ADS_3

...•||•...


...HAPPY READING...


...#Author#...


...•||•...


"Aku kan udah bilang, dia putri ku. Kamu kok gak percaya?" Suara pria di seberang sana terdengar marah dan lelah.


"Ta-tapi, aku maunya sama Glen." Suara Jeny bergetar.


"Kita juga udah test DNA, dan 99 % Jennifer anakku." Laki-laki di seberang masih terdengar membujuk.


"Aku gak percaya, itu palingan cuma akal-akalan kamu. Lagian aku gak peduli, pokoknya aku maunya cuma Glen aja." Jeny tetap keras kepala, tak pernah terpikir jika sebenarnya apa mau dirinya.


"Ya udah, tapi ingat aku akan merebut putri ku dari mu, ingat itu."


Tut...


Panggilan terputus, perempuan itu menutup mulutnya, tak mau yang dia takutkan terjadi.


"Dia hanya bercanda." Gumamnya pelan, sambil meremas ujung dressnya gugup.


...><...


Jeny membuka pintu apartemennya, dan langsung tersentak kaget melihat wajah Brandon, ayah biologis Jennifer.


"Hay, baby." Brandon tersenyum tipis. Matanya menatap lekukan tubuh Jeny yang semakin menggoda.

__ADS_1


"Semakin seksi, dan membuat adik ku tegang." Gumam Brandon pelan, tapi masih bisa di dengar Jeny dengan baik.


"Apa yang kau inginkan?" Jeny mendorong pintu, berniat menutupnya tapi kekuatan dorongan Brandon membuat pintu terbuka lebar.


"Aku ingin menjemput anak dan tunangan ku yang kabur." Ucap Brandon tenang.


"Pergi b*jingan, aku tak mau pulang dengan mu. Aku tak mau menikah dengan mu, aku tak mencintaimu!!" Jeny berteriak histeris saat Brandon sudah menutup pintu dan berjalan mendekatinya.


"Terserah, tapi aku tidak peduli. Aku akan membawa tunangan nakal ku ini pulang, mengurungnya di kamar, mengikatnya dan memperk*sanya dengan keras." Brandon tersenyum miring, tangannya beralih menarik tangan Jeny.


"Aku bisa saja langsung pergi ke rumah pria itu, menunjukkan surat bukti DNA ini, dan buarr... Meledak, semua rencana mu hancur." Kekehannya terdengar menyebalkan di pendengaran Jeny.


"Adik ku sangat rindu rumahnya, apa kita bercinta dulu di apartemen pria bodoh ini, sebelum pergi?" Brandon berbisik tepat di depan telinga Jeny.


"Anak kita sudah tidur kan baby, aku tak mau membangunkan Jennifer saat ******* kerasmu keluar nanti." Lanjutnya sambil menjilati cuping telinga Jeny.


Tangan nakal pria itu sudah asik menjelajahi setiap inci bagian sensitif wanita itu.


"******* mu sangat indah baby, dan aku semakin tak kuat." Brandon segera melancarkan aksinya, tak peduli dengan berontakan Jeny. Untung saja Jennifer baru tertidur, jadi tak terganggu dengan percintaan panas ayah dan ibunya.


...><...


Glen tersenyum lega, tangannya yang hendak menekan pin apartemen langsung diurungkannya. Untung saja dia tadi berinisiatif untuk datang kesini. Dia ingin meminta Jeny memikirkan kembali ucapannya.


"Terimakasih Tuhan, akhirnya Engkau mengabulkan doa-doa hamba -Mu pendosa ini."  Glen mematikan rekaman suara, untung saja perbincangan mereka agak panjang tadi, hingga Glen sempat merekam ucapan penting itu.


Glen segera pulang, tak sabar untuk menunjukan apa yang dia temukan kepada istri tercinta.


"Kenapa?" April yang tiduran di atas sofa langsung merasa terganggu dengan keberadaan suaminya.

__ADS_1


"Aku ada berita bagus..." Glen mendudukkan tubuhnya di samping snag istri, mengangkat kepala April, untuk dia letakkan di atas pahanya.


"Dengar." Glen mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pada April.


April diam menyimak,wali belum sepenuhnya sadar, dia tetap tahu kalau ada suara perdebatan pria dan wanita.


"Eh?" April langsung bangun saat itu juga.


"Ja-jadi?" April mengucek mata sambil menatap Glen penuh harap.


"Yups, Jennifer bukan anak ku. Kau tahu kan, ular itu mencoba menipu kita." Ucap Glen menggebu-gebu.


"Ayo kesana, aku penasaran. Mungkin saja itu editan."


Glen menggeleng pelan, dia tak mau karena mungkin saja kedua manusia itu masih asik mencari kenikmatan dunia.


"Huft, aku tak akan percaya sebelum kesana." Ucapnya sambil kembali tiduran.


"Ya sudah, kita lakukan satu ronde dulu baru kesana, mungkin waktunya akan pas saat kita sampai." Glen berbinar, sambil menatap April penuh harap.


"Jangan harap kamu dapat jatah, sebelum semuanya benar-benar terbukti." April langsung beranjak dari sofa, untuk membersihkan diri sebelum pergi ke tempat perempuan itu.


"Kalau kamu masih mau adikmu masuk rumah, kau harus bersiap-siap untuk kesana!!" Teriakan April membuat Glen berdecak sebal, akhirnya dia menatap celananya yang sudah menggembung.


"Nasib-nasib." Ucapnya sambil mengelus pedangnya, berharap benda itu akan tertidur.


...•||•...


...Maaf kalau ada typo....

__ADS_1


...•||•...


__ADS_2