HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 11 •|Keluarga Julio|•


__ADS_3

...-o0o-...


...HAPPY READING...


... #Author#...


...-o0o-...


April tersenyum kikuk sambil menggendong tubuh mungil si tarik ulur alias Gabrian. Saat ini dia sedang duduk diam di atas sofa mewah milik orangtua Julio.


"Aldo mana?" Tiba-tiba Alan selaku kakak laki-laki Julio bertanya. Alan dan Aldo sangat lengket, keduanya seperti saudara kembar, sebab terlihat mirip dan kompak.


Alan adalah seorang dosen yang sudah memasuki umur 28 tahun, wajahnya tampan, bahkan dapat April simpulkan bahwa Alan lebih tampan dari Julio, meski Julio juga sangat tampan. Alan mengajar di universitas April dan Julio, tetapi di fakultas kedokteran. Alan sangat ramah dan selalu suka saat menjahili Aldo.


"Bareng Julio kak, tadi kebelakang nemuin om" April menjawab dengan senyum tipis yang terlihat kaku.


"Ohhh..." Alan mengangguk ringan sambil mulai memainkan handphonenya.


"Gue udah tau-" Alan bersuara sambil memberi jeda pada kalimatnya.


"-Kalau lo sama Julio sembunyiin sesuatu. Dan kalau lo nanya pendapat gue, sebagai kakak Julio, gue kecewa sih, apalagi nanti kalau orangtua gue tau" April tercekat, dia tak menyangka akan seperti itu. Benarkah Alan tau hal itu?


"Tapi gue gak habis pikir aja, apa alasan kalian lakuin hal yang mungkin saja membuat banyak orang kecewa" April diam, dia bersumpah dia tak akan mengucapkan apa-apa. Karena dia tak mau hal itu terjadi.


'Ya Tuhan, apakah jalan yang ku ambil sudah benar?' April menundukkan kepalanya, dia merasa sangat bodoh.


.......


"Gue punya tawaran menarik, ini akan menjadi jalan terbaik buat lo" Julio menaik turunkan alisnya.


"Apaan?" April masih menyahuti Julio dengan sinis. Kantong kecil yang masih digenggamannya dia tatap dengan alis berkerut.


"Gue tau, lo mau mundur dari kuliah kan? Gue juga tau, kalau lo punya tiga tanggungan. Jadi, gue akan bantu lo dengan satu syarat-" Julio masih membasahi bibir, sedikit mengambil jeda.


"Syarat?? Apaan? Lagian juga, gue gak mau dibantu siapapun, dan keputusan gue udah bulat" April masih tak mau mendengar keseriusan Julio.


"Lo gak mau kan, keluarga lo kecewa sama lo, mereka mikirnya itu lo kuliah disini, bukan malah memproduksi anak. Bayangin nanti, kalau lo pulang kampung, lo bawa tiga bocah, dan orangtua lo akhirnya tau kalau lo gak lanjut kuliah, apa yang harus lo lakuin untuk menebus rasa kecewa mereka" Julio Manarik nafas sambil terus melanjutkan kata-katanya.


"Makanya, gue mau bantu lo. Ini juga baik buat lo, lagian lebih untungan lo daripada gue di kesepakatan ini" Julio menatap ke samping, dan tatapannya tertuju pada tangan April yang bergetar hebat.

__ADS_1


"Buka kantongnya" Suruh Julio dengan wajah serius.


April mulai membuka kantong kecil tadi, dan menemukan sebuah cincin.


"Gue kasih cincin karena gue mau lamar lo. Gue gak buat di dalam kotak karena, ini bukan lamaran kayak biasanya, karena lamaran ini juga karena unsur simpati, sekaligus hubungan untung-rugi, walaupun sebenarnya gue gak rugi"


"Gue gak mau" April tetap kekeuh dan akan mengembalikan kantong di tangannya.


"Gue akan sebarin hubungan lo sama Glen ke anak kampus sama keluarga lo di kampung, masih gak mau?" Julio tak main-main, wajahnya sangat serius.


'Mau ini orang apasih?' April memutar bola mata.


"Gue akan bantu lo sampai lulus kuliah, lo juga gak akan malu nantinya, gue mau jadi ayah sambung buat anak-anak lo. Dan gue akan ngaku ke orang-orang kalau anak itu anak gue!" April terdiam, dia merasa sangat beruntung disini, meski ada kejanggalan di hatinya. Tapi apa motif Julio mau melakukan hal itu?


"Gimana?" Julio terus memaksa April menerima lamaran anehnya.


'Aku memang butuh kuliah, aku juga gak kuat urus anak-anak seorang diri. Apa aku terima aja?' April berada di dalam kebimbangan.


"Gimana?" Julio kembali bertanya dengan wajah penuh harap.


"Huh, oke gue mau. Tapi, inget janji lo" Akhirnya dua hari setelah itu, April dikenalkan Julio dengan keluarganya. Awalnya ada banyak drama panjang, untuk tidak ada adegan jambak-jambakan.


Dan, meski hati April masih mengharapkan Glen, dia yakin hal itu tak terjadi. Menurutnya, keputusannya telah tepat. Rencana keluarga Julio, mereka akan menikah setelah April dan Julio selesai pendidikannya.


...*...


...*...


"Gue mau lo jujur sama keluarga, gue rasa orangtua kami pasti akan mencoba untuk ikhlas dan lo juga gak nambah-nambah dosa!" Alan berucap santai, dia tak berpikir bagaimana jika Alan ada diposisi April.


"Ba-baik kak, t-tapi apa boleh kasih aku waktu dulu?!" April ingin mencoba berpikir, bagaimana cara yang tepat menyampaikan hal itu.


"Waktu apa?" Evi yang baru saja pulang dari rumah tetangga menyahut, dia mendengar kata waktu tadi.


"Waktu buat tidurin Gabrian ma, Alan tadi minta gendong" Evi mengangguk saja mendengar sahutan putra sulungnya. Alan memang pintar merangkai kalimat yang masuk akal secepat itu.


"Jadi gini, mama mau ajak April ke butik besok. Pilih-pilih baju tunangan, sama nanti kita beli batik buat Julio sama anak-anak" Evi terlihat antusias, dia mulai membayangkan keestetikan foto pertunangan nanti apalagi ada anak-anak kecil itu.


"Besok April ada kelas ma" April tak bohong, memang setelah kesepakatan itu, dia kembali kuliah, tentunya Julio yang tanggung. Anak-anak dijaga baby sister kepercayaan Julio, lengkap dengan bodyguard. Orang-orang kampus juga tak menaruh rasa curiga kepada April, sebab Julio dan April sangat pandai menutupi hal-hal itu.

__ADS_1


Keluarga Julio juga tak curiga dengan banyaknya uang jajan Julio yang habis beberapa hari waktu ini. Mereka malah percaya-percaya saja saat Julio dengan santainya mengatakan dia mengeluarkan banyak uang untuk ketiga anaknya.


"Ya sudah, kalau kamu udah gak ada kelas, kabari mama ya, nanti kita ke butiknya"


April mengangguk seadanya. Dia tak terlalu berharap banyak akan hal itu.


"Julia bukannya mau pulang ya ma? Gak bosen apa dia di apartemen mulu, rugi besar dia gak liat tiga bocil itu" Alan memainkan ponselnya sembari berbicara.


"Gak tau, mama udah bujuk dia buat pulang, tapi gak mau orangnya!" Alan hanya mengangguk seadanya, berbeda dengan April yang tersenyum kikuk. Dia kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Julia adik kembaran Julio itu.


...*...


...*...


"Lo kenapa?" Julio saat ini asik merevisi skripsinya. Dia sudah mengajukan judul, dan akhirnya di accept juga.


"Gu-gue mau... ngomong!" April menelan ludah kasar. Dia akhir-akhir ini sudah sangat akrab dengan Julio, tapi kali ini dia sangat gugup.


"Lah, inikan lu udah ngomong" Julio dengan tampang polosnya menyahut, membuat jiwa-jiwa emak dalam diri April berkobar.


"Gue serius, gue mau kita jujur aja sama seluruh keluarga lo!" April meninggikan suaranya. Dia tak peduli wajah Julio yang berubah, bukan kar na nada tinggi itu, tapi karena kalimat yang diucapkan April.


"Lo!!!!!"


.......


...-o0o-...


...COMMENT LIKE VOTE...


...AND SHARE....


...SARANGHAE,MAAF KARENA...


...GAK BISA UPLOAD TEPAT WAKTU,...


...SOALNYA HARI INI JADWAL...


...KULIAH FULL👀🤝...

__ADS_1


...-o0o-...


.......


__ADS_2