
...-o0o-...
...HAPPY READING ...
...#Author#...
...-o0o-...
Aldo yang pernah bertemu Glen mulai sering menanyakan papanya. Kadang, April kewalahan melihat tingkah Aldo yang keras kepala minta diambilkan papa.
"Papa kerja!" Dan selalu itulah jawaban April, setiap Aldo menanyakan papa Glennya. Setelah beberapa kali ditanyakan dan selalu mendapat jawaban yang sama. Aldo akhirnya menyerah dan tak pernah lagi menanyakan tentang papa dan papa.
April mendapat sebuah pekerjaan di salah satu perusahaan, sebagai karyawan biasa tak lebih. Hal itu terjadi karena, April hanya lulusan S1, sedangkan banyak pekerja yang lulusan S2 bahkan S3. April sudah sangat bersyukur akan kerjaannya itu, karena gajinya juga sudah lebih layak daripada gaji kecil-kecilan yang dia dapat selama ini.
April sudah mulai bekerja sejak seminggu yang lalu. Dia merasa masuknya dia ke perusahaan ini, sangat lancar, karena hanya butuh ikut test dan interview, setelah tiga hari dia langsung dinyatakan lolos. April masuk kerja jam delapan pagi, dan pulang jam empat sore. Sangat enak bukan pekerjaannya itu?
April akan selalu menitipkan anak-anaknya di panti asuhan. Setelah pulang kerja, dia akan membawa makanan untuk anak-anak panti, dan membawa pulang anak-anaknya. Untung saja penjaga pantai sangat baik hati, hingga mau mengurus anak-anak April.
Seperti sore ini, April melangkahkan kakinya dengan riang mendekati panti yang atapnya sudah nampak. Dengan tangannya menggenggam sebuah kantong plastik besar berisi makanan dan juga mainan.
"Ibu!!" April berseru saat dia sudah melihat bu Sasa yang sedang merapikan baju Aldo. Gabriel dan Gabrian sedang merangkak kesana-kemari, membuat April tersenyum tenang. Anak-anaknya sangat mudah akrab dengan anak-anak lain yang tinggal di panti ini.
"Eh, muka Aldo kok merah?" April mendekat dan mengangkat tubuh kecil putra sulungnya itu.
"Antem" Ucap Aldo santai sambil matanya menatap kesana-kemari.
"Kok bisa? Kenapa Aldo berantem, kan mama udah larang Aldo berantem, nanti masuk neraka!" April mengusap kening putranya yang tengah mengeluarkan keringat.
"Gakpapa nak, dia tadi gak sengaja tarik-tarikan sama anak yang lain, karena rebutan mainan" Sanggah Bu Sasa dengan lembut.
"Huft, maaf ya Bu, ibu jadi kerepotan gini. April janji, gaji pertama April bakal April kasih buat bantu-bantu ibu"
__ADS_1
"Gak usah nak, kamu bawa makanan tiap hari aja udah sangat membantu. Tiap bulan ibu juga dapet bantuan dari pihak penopang dana" April menghela nafas, dia sangat berhutang budi pada bu Sasa.
...*...
...*...
April sudah menjalani pekerjaan sebagai karyawan selama dua tahun tiga bulan. Aldo sudah masuk PAUD. Si kembar sudah lancar bicara, meski belum bisa mengucapkan r dengan baik, kadang L menjadi R, dan kadang R menjadi L, membuat April sedikit pusing. Si kembar juga sudah lancar berjalan dan sudah belajar naik sepeda mini. Jangan lupa, April sudah naik jabatan menjadi manajer.
Kalian tau? Satu tahun yang lalu, April pulang kampung. Seluruh keluarganya sangat-sangat kecewa dengan April. Mereka tak menyangka akan mendapatkan tiga cucu sekaligus tanpa ada kabar dari April.
April sudah menjelaskan kronologi yang dialaminya. Tapi, dia tidak menyebutkan siapa pria yang menjadi cinta terlarangnya itu, keluarga April pun tak ada yang curiga satupun pada Glen yang pernah menyandang status pacar April.
Meski keluarga April awalnya kecewa, tetapi melihat tingkah menggemaskan ketiga putranya itu, langsung membuat keluarga besar itu bahagia dan melupakan fakta, bahwa April adalah single parents, yang harus extra kerja keras menghidupi ketiga bocil itu.
April pun hanya sesekali mengirimkan uang ke kampung. Selain karena menghidupi anaknya, April juga masih sering membantu-bantu di panti. April sudah mempekerjakan ART yang merangkap jadi baby sister.
"Mama gak sayang sama Gablierl?" Gabriel berteriak. Dan langsung lari ke dalam kamarnya dan kamar saudara-saudaranya. ART sudah pulang sejak setengah jam yang lalu. Sebab sang tuan rumah sudah ada di tempat.
"Gabriel kenapa Yan?" April menanyakan tingkah Gabriel kepada kembarannya yang asik memakan coklat yang dibawa April tadi.
"Gak au mo" (Gaktau ma) Ucap Gabrian dengan belepotan, karena mulut mungilnya sudah dipenuhi coklat.
April memijat pelipisnya, dan menatap Aldo yang asik menulis entah apa di buku tulis bersambungnya. Sembari menggenggam sebatang coklat juga tentunya.
"Aldo... adik kamu kenapa sayang?" April duduk di atas karpet dan mendongakkan kepalanya menatap Aldo yang ternyata menulis kata 'maaf' sangat banyak di buku itu.
"Katanya Gabriel di ganggu Sixten ma, Gabriel di katain gak punya mama, karena mama jarang main sama Gabriel-Gabrian. Jadi Gabriel marah deh.
April menghela nafas, sudah sering kali dia mendengar alasan itu. Dan selalu Sixten pelakunya, anak tetangga yang nakalnya minta ampun itu.
"Mama kan kerja nak, kalau mama gak kerja, kita mau makan apa?" April mengusap kepala Aldo dengan lembut penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Iya ma, Ado tau" Aldo mencium pipi ibunya dan melanjutkan tugasnya.
"Kenapa Aldo nulis kata 'maaf' banyak gitu?" April mengerutkan kening, masih bingung melihat Aldo yang masih asik menulis kata maaf.
"Miss Sere suruh Ado nulis kata maaf yang banyak mi, dua lembar. Soalnya Ado lempar muka Citra pake penghapus papan tulis, sampe muka Citra hitam semua!" Aldo cengengesan, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Nah, ini lagi nih!!! April hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat tingkah jahil putra sulungnya itu.
"Kenapa nakal banget sih!" April menjewer telinga Aldo, tak lupa ikut tertawa melihat satu gigi bawah Aldo yang ompong itu terlihat saat tertawa.
April akhirnya memasuki kamar, dan mulai membersihkan diri. Setelah mandi, dia kembali keluar kamar, mendapati Gabriel yang tak juga keluar kamar untuk makan malam.
April pun menghampiri sang anak keras kepala itu. Mengetuk pintu sebelum masuk, meski tak ada sahutan yang keluar dari dalam kamar.
"Yel gak makan?" April menatap putranya dengan penuh kasih sayang. Gabriel tidur tengkurap sambil memeluk bantal guling.
"Gak lapal" Sahutnya dengan suara ngambek yang imut khasnya.
"Ya udah, mama minta maaf... Gabriel jangan ngambek lagi dong!" April mengangkat tubuh Gabriel dan meletakkannya di atas pangkuannya.
"Yel mau papa!" April melotot, tak menyangka Gabriel akan mengungkit kata papa lagi, setelah dua bulan yang lalu mereka bertengkar hebat akibat April yang membentak Gabrian karena menanyakan dimana papanya dan Kenapa gak pulang untuk main dengan mereka!
"Udah mama bilang kan, kalau papa kerja! Nanti, kalau papa udah pulang, baru main sama Gabriel" April berusaha untuk tidak membentak, meski kata-katanya sudah terlihat adanya kekesalan.
"Kapan?" Gabriel bertanya dengan nada lesu, dia memeluk tubuh hangat mamanya erat.
"Nanti ada waktunya nak!" April membalas pelukan putranya, sebelum mereka beranjak ke dapur untuk makan malam.
...-o0o-...
...Yang nungguin konfliknya sabar ya... Episode berikutnya otw konflik... Jangan lupa vote... Kalau votenya banyak, pasti Author semangat nulisnya....
__ADS_1
...-o0o-...