HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 29 •|Sakit itu|•


__ADS_3

...•||•...


...HAPPY READING...


...#APRIL#...


...•||•...


GILA


Aku memang sudah gila. Aku sekarang sudah sah menjadi istri dari seorang Glendale. Pria tampan pujaan ku semenjak kuliah itu, tapi tak tau kalau sekarang, apakah aku masih memujanya.


Kenapa aku bilang gila? Karena, bagaimanapun aku menyetujui pernikahan ini karena suatu hal. Aku ingin membalaskan sedikit rasa sakit ku.


Yah, aku memang adalah perempuan bodoh. Aku masih terlilit oleh rasa sakit itu.


Disaat Glen hanya kuliah dengan enaknya, makan tanpa memikirkan uang makan. Tidur tanpa mengalami mimpi buruk. Sedangkan aku... Aku harus berhemat, sempat macet untuk kuliah, aku harus mendengar omongan-omongan menyakitkan masyarakat. Aku juga membuat malu keluarga ku.


Aku ingin membuat Glen merasakan sedikit saja hal menyakitkan itu, seperti membuat dia malu? Walaupun banyak orang yang pasti akan menyayangkan kelakuan ku ini, tapi tak apa. Aku hanya ingin membuat Glen sedikit jera saja.


"Mama, Iyel takut." Gabriel menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku saat ini sedang memainkan handphone di ruang tamu, sembari menemani anak-anak yang tengah bermain robot-robot. Gabrian dan Aldo fokus pada robot-robot mereka, sedangkan Gabriel memainkan robot kecilnya di atas kursi tempat ku duduk.


Aku menatap Gabriel dengan alis naik.


"Takut? Gabriel takut karena apa sayang?" Aku mendekati Gabriel yang mulai mundur, seakan menghindari ku.


"Senyum mama kayak senyum mak lampil." Ucapnya lagi, aku terkejut dan meraba wajahku.


"Mama kok senyum jahat gitu? Halusnya senyum odol dong." Ucap Gabriel dan menampilkan senyuman lebarnya.


Sial, aku malah tersenyum jahat tadi, karena membayangkan pembalasan apa yang akan kulakukan pada ayah ketiga bocil ini.


"Oh, ngngak sayang, tadi mama tiba-tiba kepikiran aja, sama tokoh jahat sinetron, makanya mama iseng niru-niru ekspresinya." Jawabku penuh kebohongan.


"Tokoh itu apa ma, iseng nilu-nilu juga apa?" Gabriel langsung melompat ke pangkuanku. Huft, nyesel aku berbohong tadi, pasti akan lanjut lagi pertanyaan si bocil satu ini.


"Nah, tokoh itu kayak orang-orang yang memerankan suatu kejadian, baik itu di kehidupan nyata, ataupun maya. Contohnya film, dimana ada orang yang memerankan sebuah tokoh, yaitu yang baik, yang jahat, dan ada juga tokoh pembantunya."


"Kalau iseng niru-niru itu, mama cuma coba niruin ekspresi tokoh jahat tadi."


Gabriel mengerjapkan matanya saat aku sudah selesai menjelaskan.


"Maya itu siapa?" Gabriel kembali bertanya dengan wajah polosnya.


Kannn... ampun dah, kenapa hamba harus mendapatkan cobaan seperti ini Tuhan. Aku menangis dalam hati, tapi tak urung aku juga berterimakasih kepada Tuhan, karena anak ku orangnya kepo'an, pasti kalau besar jadi anak yang pintar.


"Kehidupan maya sayang, bukan Maya orang. Kehidupan di dunia maya itu, contohnya Gabriel jadi orang jahat nih, tapi main-main doang, bukan berarti Gabriel jahat. Terus diposting deh, videonya ke Instagram, nanti ada yang nonton. Nah, itu kehidupan maya, kalau Gabriel nyatanya baik, trus pintar, itu kehidupan nyata."


"Instaglam itu apa?" Aku tersenyum sambil mencubit hidungnya. Kembali aku menjelaskan, tak usah lagi aku menceritakan pertanyaan-pertanyaannya disini, bisa habis duapuluh bab nanti.


...><...

__ADS_1


Aku melihat jam di atas nakas, sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Glen belum pulang juga. Padahal aku sudah siap dengan gaun tidur tipis berwarna merah muda.


Kalian tau, setelah acara resepsi kami langsung pulang ke rumah. Hingga keesokan harinya, Glen memborong kami sekeluarga untuk menempati rumah yang dia sudah beli sejak lama katanya. Yang rencananya akan dia tempati dengan anak-anak dan istrinya kelak.


Hingga Kamilah yang menempatinya sekarang. Awalnya mama Annie protes, tak mau berjauhan dengan cucu-cucunya. Tapi, dengan alasan mandiri, dan jarak rumah ini dekat dengan kantor, jadilah dengan berat hati, mama Annie mengijinkan.


Keluarga ku juga sudah pulang, bertepatan dengan kami yang pindah. Mereka menjanjikan akan berkunjung dua kali dalam setahun.


Aku akan memulai pembalasan ku malam ini. Dengan membuatnya tersesat. Ngomong-ngomong, setelah menikah kami belum pernah bercocok tanam, taman-taman ubi!!


Aku merebahkan tubuhku, anak-anak sudah tidur, setelah makan malam tadi. Huft, tak pernah kubayangkan bisa hidup enak seperti ini, hanya mengurus anak-anak serta suamiku, dan mengurus rumah. Tanpa perlu bekerja di luar lagi.


Eh??? Bekerja, aku baru ingat, aku belum mengabari atasanku tentang perpanjangan cuti, atau mungkin aku resign saja?


Aku mencari handphone dan langsung menghubungi teman satu divisi ku, kak Bella namanya.


"Halo April?"


"Halo kak, aku mau nanya kerjaan ku gimana ya kak?"


Aku langsung to the point. Memang terkesan tidak sopan.


"Oh, tentang pekerjaan mu sudah ada yang ambil alih. Katanya kamu udah resign. Kok masih nanya gitu?"


Aku melorotkan mata, sejak kapan aku resign.


"Kamu gak ada kabarin kami apa-apa. Kamu ada masalah?"


Setelah mendengar balasannya, aku langsung mematikan sambungan telepon, bertepatan dengan Glen yang memasuki kamar.


Aku beranjak dari kasur, membantunya melepaskan dasi dan jas dari tubuhnya.


"Anak-anak udah pada tidur ya?" Glen buka suara, sambil memperhatikan gerak-gerik ku.


"Sudah, kamu udah makan?" Tanyaku, sambil meletakkan tas Glen ke atas sofa.


"Belum, tapi aku mau mandi dulu." Jawabnya, membuat aku mengangguk saja. Aku kembali mendekatinya dan bertanya.


"Katanya aku resign, itu kerjaan kamu ya?" Aku bertanya saat membuka sepatu kerjanya.


"Hm, aku mau kamu fokus jaga anak-anak, sama layanin aku. Di rumah aja." Suaranya terdengar lelah, aku mengangguk saja, tak mau membebani pikirannya.


Saat dia akan masuk ke kamar mandi, aku langsung mencekal tangannya.


"Pintunya jangan di kunci!" Aku berucap, sambil menatap ke segala arah, malu rasanya.


"Kenapa, mau ngintip ya?" Dia terkekeh, terdengar menyebalkan.


"Gakpapa, sana." Aku mendorongnya masuk ke kamar mandi. Dia malah langsung membuka pakaiannya tanpa menarik pintu, pintu dibiarkan terbuka lebar.


Aku geleng-geleng kepala, dan langsung memasuki walk in closet. Mengambil piyama tidurnya dan meletakkannya di atas kasur.

__ADS_1


Setelahnya, aku memasuki kamar mandi, dan melihatnya sedang berendam dengan mata tertutup.


Aku mendekat, dan jongkok di lantai, di belakang tubuhnya. Aku memijat bahunya, bergantian dengan kepalanya. Aku merasa kasihan melihat dia kelelahan seperti ini, dia sekarang sudah memiliki empat tanggungan.


"Makasih sayang." Glen menarik sebelah tanganku dan menciumnya.


"Enak banget ya punya istri. Pulang kerja ada yang sambut, disiapin baju, dipijitin, trus di ajak main gak nih?" Di terkekeh sambil membalikkan tubuh hingga menghadap ke arah ku.


"Love you." Glen langsung mencium bibirku. Tangannya mengangkat pinggang ku, hingga aku ikut masuk ke dalam bathtub.


"Satu ronde di kamar mandi?" Glen mengedipkan matanya nakal.


"Oke, tapi aku yang mimpin." Glen tersenyum senang, hingga dia langsung menarik gaun tidur tipis yang melekat di tubuhku.


"Eh, ternyata udah siap-siap ya!" Glen terkekeh saat menyadari aku yang hanya memakai gaun tipis transparan itu.


Aku tak mau basa-basi dan langsung memulai pertempuran kami. Sebab aku sudah melihat adiknya yang sudah te*ang itu.


Kami bertempur di kamar mandi kurang dari dua jam.


Setelah menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi, Glen kembali mengangkat tubuhku ke atas ranjang. Kami pun kembali bercocok tanam disana. Untunglah Glen hanya melakukannya satu ronde, mungkin dia sudah sangat kelelahan akibat bekerja.


"I love you..." Ucapnya saat pelepasan itu datang, dibarengi kecupan hangat di keningku.


"Love you too." Aku memeluknya erat, menyembunyikan wajahku di dalam ceruk lehernya.


"Adikku dikeluarin dulu sayang, nanti bangun lagi."


Aku tersipu malu, dan menghadiahinya cubitan mematikan di perut kotak-kotaknya.


"Awh, jangan goda aku lagi dong, besok kita bangun kesiangan." Glen terkekeh jahil, dia sangat menyebalkan, tapi aku cinta.


"Eh, kamu belum makan." Aku teringat dan hendak beranjak memanaskan makanan.


"Gak usah, aku udah makan kamu tadi. Kita tidur aja, aku capek." Aku kembali ditarik dan dipeluk dengan erat. Aku membalasnya tak kalah erat juga.


Tidak apa-apa kan jika aku membalaskan sakit ini, sambil menumbuhkan rasa cinta ini?


Atau ini salah?


.......


.......


...•||•...


...Ada saran gak buat visual April? Tapi, lebih cocok sih, kalau readers bayangin itu 'kita' sendiri 😂🤸...


...•||•...


.......

__ADS_1


.......


__ADS_2