HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 21 •|Direktur baru|•


__ADS_3

...-o0o-...


...HAPPY READING...


...-o0o-...


"Hari ini kita akan kedatangan pengawas dari kantor pusat, mereka juga diikuti direktur baru kita nanti, karena direktur lama sudah pensiun. Jadi saya harap tidak ada yang membuat kesalahan!!"


"Baik pak!!!" Seluruh karyawan menjawab serempak ucapan pak Burhan tadi.


April dkk langsung bergegas, mempersiapkan diri untuk menyambut direktur baru dan para pengawas.


...><...


"Selamat siang... Saya Giedo selaku Presdir dari kantor pusat, saya disini ingin memperkenalkan direktur baru kalian, Glendale." Glen membungkuk dan tersenyum tipis sebagai salam kepada seluruh karyawan.


"Dia masih pemula, jadi saya harap kalian dapat membimbingnya dengan baik." Giedo kembali bersuara sebelum mengucapkan salam penutup dan langsung pulang untuk rapat penting dengan para pemegang saham di kantor pusat.


"Mohon bimbingannya." Glen berucap dengan tegas, sebelum beranjak untuk pengenalan lingkungan kantor dan pemilihan sekretaris atau asisten nanti.


...><...


Glen menatap tiga orang perempuan dan dua pria di depannya. Kelimanya adalah karyawan yang direkomendasikan untuk menjadi sekretaris ataupun asisten dari direktur baru itu.


"Hm, bagaimana kalau kita buat interview singkat, kalian semua keluar dulu, dan yang aku panggil boleh masuk!" Kelima karyawan tadi langsung menunduk hormat dan meninggalkan ruangan Glen saat pria itu mengucapkan kalimat panjang tadi.


Akhirnya interview yang rasanya seperti tahanan yang ditanyai polisi itu selesai setelah karyawan terakhir keluar dengan hembuskan nafas panjang.


"Huft, aku tak berharap bisa lolos." Keempat lainnya mengangguk mendengar celetukan pelan dari pria yang baru saja keluar.


"Terasa horor di dalam sana jika kita hanya berdua dengan pak direktur itu." Timpal seorang perempuan dari mereka. Mereka akhirnya meninggalkan tempat itu dengan sedikit rasa lega di dalam hati.


...><...


"Kenapa tidak ada yang becus dari kelima karyawan yang direkomendasikan itu?" Glen memijat pelipisnya pelan, sembari mengetuk-ngetuk meja dengan pulpennya.


"Mendingan aku tolak saja, dan mengerjakan semuanya sendiri sembari memantau kinerja karyawan lewat cctv baru aku mengangkat sekretaris nanti."


Glen menelepon pihak keamanan kantor dan menyuruhnya menyambungkan tayangan cctv di tempat kerja para karyawan ke ruangannya.


Pihak keamanan pun mulai bekerja, Glen memilih pulang karena hari ini masih perdana dia bekerja, jadi belum terlalu banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.

__ADS_1


"Papa!!!" Dylan melangkahkan kaki mungilnya ke arah Glen yang baru saja membuka pintu utama.


"Ya ampun, anak papa wangi banget!" Glen berlari menghindari pelukan anaknya.


"Dylan wangi, tapi papa gamau peyuk?" Wajah Dylan terlihat sedih, Dylan berhenti berlari dan menatap Glen dengan mata berkaca-kaca.


"Tenang boy, papa cuci tangan sama kaki dulu, nanti Dylan yang wangi dan bersih bisa kena kuman karena papa!" Glen menatap wajah Dylan dengan raut memohon, tak sampai hati menatap wajah Dylan yang tiba-tiba sedih itu.


"Oke!!" Dylan langsung berseru riang, kemudian menjaga jarak dari papanya. Dylan mengekor di belakang Glen yang menaiki tangga menuju lantai atas, Dylan seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


...><...


"Papa." Dylan menduselkan kepalanya ke ceruk leher Glen. Mereka sudah selesai makan malam, setelah sikat gigi dan bermain robot-robotan tadi, akhirnya keduanya duduk di atas tempat tidur, dengan Dylan memeluk Glen erat.


"Kenapa boy?" Glen mengusap kepala Dylan dengan sayang.


"Ken tadi tanya 'Dylan punya induk?' gitu. Tlus Dylan gak tau, Ken ketawain Dylan." Glen terdiam, dia juga bingung apa maksud dari Dylan.


"Induk? Ken? Siapa?" Dylan bertambah cemberut, karena kesal mulut kecilnya meniup-niupkan angin ke ceruk leher Glen, hal itu membuat pria kesepian itu bergetar, karena menahan sesuatu.


"Dylan, jangan boy... Cuma mama kamu yang bisa buat gitu." Glen akhirnya menjauhkan kepala Dylan, dan menyandarkan kepala anak itu ke dadanya.


"Induk itu kek Hohi cama mamanya, tlus Ken itu anak...anak ciapa ya? Dylan gak tau!" Dylan menggaruk kepalanya, bingung sebenarnya siapa Ken yang sering bermain bola di dekat halaman rumah Glen itu?


"Hohi itu ayam Ken, tiap hali main di sana." Dylan menunjuk pintu kamar, dengan maksud halaman depan rumah.


"Oh, ya udah Dylan tidur, besok kita beli esklim!" Glen langsung menjawab cepat, dengan sedikit bumbu janji untuk mengalihkan pikiran Dylan tentang pertanyaannya tadi.


"Eskim? Hole Dylan mo eskim!!" Dylan langsung menarik selimut memeluk tubuh Glen erat, Dylan tertidur dengan tubuh telungkup di atas Glen.


Glen akhirnya bernafas lega, Glen butuh waktu. Glen juga bersyukur Dylan tak terlalu mengerti tentang 'anak harus punya ayah dan ibu' jadi, Glen bisa memiliki waktu yang banyak untuk mencari ibu Dylan.


...><...


"Mama!!!" Aldo berlari saat dia melihat sosok ibunya sedang duduk di kursi tunggu taman kanak-kanak itu.


"Wah, anak mama ceria banget!" April langsung mengangkat tubuh putranya dan menggendongnya ala bridal style.


"Turunin, Aldo malu!!" April terdiam, dan mulai menurunkan Aldo.


"Aldo? Aldo udah bisa sebut nama Aldo dengan bagus?" April sedikit kaget, soalnya meskipun Aldo sudah tau mengucapkan huruf r dan l dengan baik, tapi tetap saja Aldo sangat susah mengucapkan namanya, dan selalu mengatakan Ado.

__ADS_1


"Udah dong." Aldo tersenyum bangga, dia sudah mulai merasa dewasa sekarang.


"Mama... Aldo juga punya berita bagus. Tadi pas istirahat, Aldo joget-joget di atas podium, trus karena guru-guru ke tawa, Aldo dikasih duit." Aldo mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya.


April terdiam, dia bingung sekaligus tercengang.


"Emangnya Aldo jogetnya kayak gimana?" April juga kepo, apa yang dijogetkam anaknya ini hingga bisa mendapatkan uang hampir seratus ribu.


"Saya masih ting-ting... Di jamin masih ting-ting, sama sekali belum berpengalaman!!" Aldo mulai bernyanyi dan berjoget, hal itu membuat beberapa orangtua murid tertawa.


"Kalau besar, cocoknya Aldo jadi biduan!" Celetuk April, April memukul kepala, sedikit menyesal mempraktekkan jogetan itu di depan anak-anaknya semalam.


"Biduan itu apa ma?" Aldo langsung menghentikan jogetannya, mendekati April dengan mata penuh tanya.


"Kalau cuma joget gitu, trus Aldo dapet duit, Aldo mau jadi biduan!!" Aldo berseru, hal itu membuat April semakin pusing, sekaligus malu melihat tingkah anak ajaibnya itu. Tidak mungkin kan Aldo jadi biduan? Karena hanya perempuan saja yang pernah menyandang kata itu.


"Udah-udah, ayo kita pulang pak biduan!" Aldo cengengesan, tangannya merangkul tangan April dan berjalan dengan wajah songongnya.


"Aldo biduan!!" Serunya lagi, April hanya bisa geleng-geleng kepala dan tertawa lepas, sebenarnya sudah sedari tadi dia ingin tertawa.


...><...


Glen bersiap ke kantor, Dylan sudah tak terlihat sejak Glen membuka mata tadi. Glen berpikir Dylan mungkin sudah bersama Annie.


"Oppung... Dylan mau ikut papa!!! Ya...ya...!!" Dylan masih bergelantungan di kaki Annie yang sibuk mengaduk adonan kue.


"Huft, Dylan gak boleh keluar sembarangan sayang, trus papa kan kerja, jadi buat apa Dylan ikut? Mending sama oppung aja di rumah." Dylan tetap menggeleng, kekeuh ingin ikut Glen.


"Pengen banget ya?" Akhirnya Glen buka suara, karena sudah sedari tadi dia melihat anaknya itu bergelantungan di kaki ibunya seperti anak monyet.


"Heem!!" Dylan melepaskan pelukannya dari kaki Annie, kemudian berlari ke arah papanya.


"Ya udah, kalau gitu Dylan sarapan dulu baru kita otw!" Dylan langsung tersenyum ceria, dan mendudukkan diri di kursi.


"Heboh bener!!" Dylan mengacuhkan ucapan Giedo, kedua manusia itu akan selalu berdebat setiap pagi, tapi berbeda dengan pagi ini, karena Dylan sangat ingin ikut papanya.


...>|<...


...Nanti Dylan ketemu gak ya sama mamanya?...


...Hehehehe... Jangan lupa like, komen dan votenya <3...

__ADS_1


...•|•...


__ADS_2