
...-o0o-...
...HAPPY READING ...
...#Author#...
...-o0o-...
"Mama ikut!" Gabriel membujuk April, supaya dia ikut ke pasar untuk belanja. Entahlah, anak itu sangat cengeng dan manja akhir-akhir ini.
Saat ini, April tengah bersiap untuk belanja bahan-bahan keperluan dapur ke pasar. Dan, dia tak juga beranjak karena Gabriel yang berusaha keras untuk ikut belanja. Padahal, hari-hari sebelumnya anak-anaknya itu selalu tinggal di rumah jika April pergi belanja.
"Di rumah aja ya nak!" April masih berusaha menolak, karena tangannya merasakan tubuh Gabriel yang hangat, April rasa Gabriel akan demam. April akan membeli obat penurun panas nanti.
"Hiks, Yel mau ikut" Gabriel hampir mengeluarkan air mata. Dengan cepat April mengusap lembut pipi anaknya, dan mengiyakan saja permintaannya itu, toh juga mereka hanya sebentar saja di pasar nanti.
April menggandeng tangan kecil Gabriel. Mereka sudah sampai di pasar tradisional yang sudah mulai ramai.
"Gabriel jangan lepasin tangan mama ya!" April berucap lembut, sambil matanya memandang jualan yang perlu dia beli.
Gabriel yang kurang fokus tak mendengar ucapan mamanya. Dia asik menatap ayam warna-warni yang sedang berdiam diri di dalam jeruji besi kecil.
"Ini sekilo berapa mbak?" April yang hendak membeli sayur, tak sadar melepaskan tangan Gabriel. Membuat Gabriel yang merasa bebas, langsung berlari mendekati ayam warna-warni yang sangat lucu itu.
"Wah..." Gabriel masih asik memandang, tak sadar kaki mungilnya juga mengikuti si penjual ayam warna-warni yang berjalan kesana-kemari menawarkan jualannya.
April yang sudah selesai membeli sayur langsung terkesiap. Dia tak melihat keberadaan Gabriel disana.
"Gabriel? Sayang? Dimana kamu?" April berlarian, dan melihat sekitar. Matanya mengamati beberapa anak yang lewat, tapi tak juga menemukan Gabriel.
April mengusap peluh, matanya menelisik kondisi pasar yang sudah mulai sepi.
"Hiks, nak... jangan buat mama khawatir" April mulai menangis pelan, dia sudah sangat lelah mencari Gabriel hingga sore.
Gabriel yang melihat si penjual berhenti ikut berhenti. Matanya masih melihat ayam warna-warni itu.
"Eh? Anak siapa ini?" Penjual ayam itu baru sadar, saat matanya melihat Gabriel yang berjongkok di dekat kandang ayamnya.
"Hey, dimana orangtuamu? Mau membeli ayam ya?" Penjual itu mendekat dan ikut berjongkok.
__ADS_1
"Wah..." Gabriel masih berwah ria. Matanya sangat antusias menatap ayam itu, sebab seumur hidupnya belum pernah dia melihat ayam warna-warni.
"Huft, nah ambil saja satu secara gratis. Pergilah, mungkin ibumu sudah mencari mu" Gabriel menatap tangannya yang sudah terisi seekor ayam kecil berwarna hijau.
"Makasih paman!" Gabriel tertawa riang dan memutar badan, seketika disaat itu juga pusing menerpanya. Di depannya tak ada lagi keramaian manusia, hanya satu dua orang yang berlalu lalang merapikan barang dagangannya, sebab hari sudah sore.
Gabriel menuntun kakinya, berjalan tak tentu arah. Mata bulatnya sudah berkaca-kaca, akan segera menumpahkan air mata.
"Mama,,, hiks... Yel takut!" Gabriel memeluk ayam kecil itu, dan memandang sekitar.
Gabriel sampai di jalan raya, yang ramai akan kendaraan. Tubuhnya semakin gemetaran, dia mau mamanya, dia mau pulang.
"Hiks... mama... hiks!" Gabriel terisak, terus melangkah mendekati jalan raya. Dia masih ingat, tadi mereka naik ke dalam mobil untuk kesini, berarti Gabriel hanya butuh mencari mobil untuk mengantarnya pulang.
Mata bulat Gabriel menatap sebuah mobil merah, benar tadi pagi mereka menaiki mobil merah juga. Dengan segera, Gabriel mendekati mobil merah yang ada di seberang. Tak memperhatikan kondisi jalan yang ramai.
"Brak" Tubuh Gabriel terhempas, ayam di pelukannya juga ikut terbang. Terlindas mobil yang lain (ayam yang malang maapin Jen '~'). Gabriel meringis, wajahnya basah akan air mata. Tubuhnya sangat sakit, dia ingin mamanya, memeluk mamanya saat ini.
"Mama" Itulah kata terakhir yang keluar dari mulutnya, sebelum mata bulatnya tertutup.
"Ya Tuhan" Suara lain mendekat, diikuti orang-orang yang datang berbondong-bondong.
"Bagaimana keadaannya dokter" Seorang laki-laki langsung menghambur kedekat dokter yang baru saja keluar dari ruang PICU.
"Keluarga pasien?" Dokter menatap kondisi laki-laki itu. Nampak sangat berantakan.
"Ya, saya ayahnya" Tanpa pikir panjang dia mengiyakan saja, karena tak mau orang ini bertele-tele.
"Baik pak, untung bapak langsung membawa anak anda kesini, jika tidak, mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan." Dokter itu mulai menjelaskan dengan raut serius.
"Maksud dokter apa?" Laki-laki itu menatap dokter dengan bingung.
"Ada cedera serius pada otaknya, hempasan yang kuat membuat tempurung kepala anak anda terbentur dengan sangat kuat ke aspal. Hingga risiko amnesia bisa terjadi pada anak anda. Biasanya amnesia muncul jika benturan yang terjadi pada kepala sangat kencang. Trauma kepala karena benturan bisa menyebabkan seseorang mengalami gegar otak."
"Amnesia? Gegar otak?" Pria itu membeo, tak menyangka akan serumit ini.
"Iya pak, untung saja tadi lukanya tak lebar, hingga darah tak masuk ke otak jadi tak perlu di operasi, hanya butuh perawatan saja. Tapi, karena benturan itu, kita harus berjaga-jaga jika anak anda akan mengalami hal serius. Intinya, usahakan untuk tak memaksa anak anda berpikir, jika anak anda sudah sadar jangan langsung menanyai dia" Pria itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Pusing sudah dirinya sekarang.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak, silahkan urus administrasinya. Untuk menjenguk, tunggu setelah enam jam"
__ADS_1
"Nama pasien?" pihak administrasi sedang mengisi formulir. Dan giliran pria tadi yang mengurus saat ini.
"Dylan!" Pria itu memilih mengarang saja, daripada tambah pusing jika malah diinterogasi karena tak tau apa-apa.
"Umur?"
Pria itu menjawab dengan asal. Dia ingin segera pergi dari sini.
"Nama wali atau orangtua?" Suster itu mengisi formulir dengan telaten.
"Glendale Ramosdo" Suster itu mengangkat kepala dan sedikit terkejut.
"Ah, pak Glend ya? Wah, tak nyangka bisa ketemu disini pak. Itu keponakannya ya?" Suster yang awalnya cuek tadi langsung bersikap centil.
"Anak" Glend memutar mata, kenapa tiba-tiba ular kobra itu menjadi ular sawah? Pikirnya.
Suster tadi terkesiap, dia tak tau sejak kapan anak pemilik rumah sakit itu menikah? Suster itu pun menunduk melanjutkan menulis isi formulir.
"KTP nya pak." Suster itu menatap Glen yang terlihat gugup.
"Saya tidak bawa, nanti saya suruh papa saya untuk antar!"
"Ah, tidak usah pak... Nanti merepotkan kalau begitu langsung saja, bayar uang administrasinya"
Glen tersenyum tipis, dan langsung membayar biaya administrasi. Padahal Glen bawa KTP, tapi tak mungkin dia berikan, saat statusnya tidak menikah disana. Bisa-bisa tercoreng nama keluarganya nanti.
April merasa tak tenang, dia belum menemukan Gabriel. Sudah dua hari ini dia cuti dan mencari anaknya di pasar, tapi tak juga ketemu.
Bagaimana ini, bagaimana jika anaknya tak ketemu lagi? April mengusap matanya yang bengkak, sebab dua hari dia menangis tak henti-hentinya.
April kembali pulang dengan rasa kecewa. Hari ini, dia juga tak menemukan tanda-tanda keberadaan putranya itu.
...-o0o-...
...MUEHEHEHEHEHE...
...Pusing gak? sama!...
...-o0o-...
__ADS_1