HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 20 •|Dia anakku|•


__ADS_3

...•|•...


...HAPPY READING ...


...#Author#...


...•|•...


April menghela nafas, sudah hampir semua kantor polisi dia kunjungi dan berikan laporan. Tapi, sampai sekarang belum ada kepastian tentang Gabriel.


Saat ini April tengah duduk di depan minimarket, dia membeli minyak goreng tadi. Karena kelelahan, dia menyempatkan untuk duduk sebentar. Gabrian sudah tidur, dan sedang menelungkup di dalam kain gendongannya.


April menatap kendaraan yang berlalu lalang. Matanya terhenti pada sebuah mobil. April terpaku, bukan karena mobil itu terlihat mewah, tapi terpaku karena menatap seorang laki-laki yang turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam minimarket. Tak lama setelah itu, pria tadi keluar dari minimarket dengan beberapa kantong kresek di tangannya.


Pria itu seakan tersadar, dan matanya bertemu tatap dengan April.


"Glen?" April berucap pelan, suaranya terdengar lirih. Pria itu membuka pintu mobil dan memasukkan kantong kresek itu ke dalam. April dapat melihat sepasang tangan mungil hendak menggapai Glen, tapi Glen berbincang sebentar sebelum menutup pintu. Hingga April tak dapat melihat siapa saja di dalam mobil tadi.


"Kita bertemu lagi April!" Glen menatap lekat wajah April yang berkeringat itu. Glen tadi langsung mendekati April dan mendudukkan dirinya di samping ibu beranak tiga itu. April tak menyahut, otaknya masih berkeliaran memikirkan siapa pemilik tangan tadi, kenapa tangan itu menarik baju Glen, sebelum akhirnya hilang di telan pintu akibat di tutup Glen.


"I-itu siapa?" Meskipun April tau, harapannya bersama Glen sangat kecil, tapi hati ya masih berharap di akhir cerita Glen akan menjadi ayah dari anak-anaknya.


"Siapa?" Glen melihat sekitar dan tak mendapati siapapun disana.


"I-itu!" April menunjuk mobil hitam Glen, membuat pandangan Glen beralih pada mobil.


"Ehem... Dia... Dia... Anakku!" Glen akhirnya menjawab, meski ada keraguan dalam nada suaranya.


April menelan ludah, secepat itukah? Secepat itukah Glen memantapkan hati kepada orang lain, dan langsung memiliki anak? Apakah penantiannya selama ini akan menjadi kisah buntu?


"O-oh, kalau begitu aku pergi dulu!" April mengeratkan pelukannya pada tubuh Gabrian. Gabrian kelelahan akibat menangis tadi, dia ingin dibelikan mainan mobil-mobilan yang sangat mahal, padahal April tak punya uang, jadilah April tak menyanggupi permintaan anaknya itu.


"Hm, kenapa hati ini masih terjerat akan nama mu?" Glen bergumam sambil menatap punggung April dengan tatapan sendu.


...><...


Glen mengangkat tubuh Dylan, membawanya masuk ke rumah. Dylan tertidur saat di mobil tadi, mungkin karena bosan menunggu kedatangan papanya.


"Eh, cucu oppung kenapa?" Annie merebut tubuh Dylan dari pelukan Glen. (Oppung adalah kata panggilan dari cucu ke kakek-neneknya *bagi orang Batak)


"Ketiduran tadi ma, mending mama bawa Dylan ke kamarnya. Glen mau ambil belanjaan dari mobil." Annie mengangguk dan bergegas menuju kamar Glen.

__ADS_1


Sesaat kemudian, Glen masuk dengan beberapa kantong kresek di tangannya.


"Udah mulai cari mama Dylan?" Giedo yang sedari tadi memang duduk di sofa bersuara.


"Eh?!" Glen terkejut dan menolehkan kepalanya kearah suara.


"U-udah pa." Glen tersenyum kikuk, tangannya tergerak menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Tapi, tadi papa tanya David, katanya dia belum ada perintah dari kamu?" Giedo menatap anaknya sinis."


"Makanya, kuliah itu bukan bercocok tanam, lagian kamu bukan jurusan pertanian atau biologi." Giedo memutar mata dan kembali fokus ke arah tv yang menayangkan tayangan penanaman saham.


"Glen serius pa, Glen cuma sekali tidur sama cewek pas kuliah. Itupun karena Glen mabuk, dan ditiduri sama tuh cewek, Glen korban!" Glen memutar bola mata. Papanya masih tak percaya Glen yang mengatakan tak pernah bergonta-ganti perempuan.


Glen juga tak kenal perempuan yang ditidurinya waktu itu entah siapa dan dimana sekarang, pasti akan sulit menemukan ibu Dylan itu. Yah, setelah berpikir selama beberapa hari, Glen yakin bahwa perempuan waktu itulah ibu Dylan, siapa lagi?


"Pokoknya satu minggu lagi, papa harus denger kabar baik dari kamu." Glen memutar mata, sebelum akhirnya beranjak dari sana. Dia lelah, dia butuh tidur sambil memeluk Dylan dan menciumi wajah putranya itu.


...><...


April mengusap matanya yang terasa perih. Kehidupannya akhir-akhir ini sangat sulit, atasannya yang sudah mulai terlihat mengeluh dengan waktu cutinya yang banyak, dan laporannya yang selalu terlambat tak pas dengan deadline.


Aldo dan Gabrian bertatapan, terlihat mereka sedang bingung melihat kelakuan absurd ibunya yang beranjak sana sini sambil melantunkan lagu 'saya masih ting-ting.'


Aldo dan Gabrian terkekeh, keduanya ikut-ikutan bangkit dan menggoyangkan pantat kecilnya mengikuti suara April yang masih bernyanyi.


Akhirnya keluarga kecil itu menghabiskan malam dengan berjoget 'saya masih tingting.' Tanpa sadar seorang dari mereka tak ting-ting lagi.... zzz


...><...


"Saya harap kali ini kamu bekerja dengan baik April. Soalnya besok akan datang direktur baru kita sekaligus para pengawas, jadi jangan mengecewakan lagi, cepat kerjakan tugas-tugas mu." Pak Burhan selaku atasan April mulai mengeluarkan ceramahnya yang sebanyak dua puluh lembar itu *jika diketik.


"Baik pak, terimakasih sudah memberi saya kesempatan kedua!" April mengangguk hormat sebelum keluar dari ruangan yang terasa dingin dan kaku itu.


April akhirnya bisa bernafas lega setelah dia keluar dari ruangan tadi.


"Pak Burhan marah?" April mengalihkan pandangan dan bertemu tatap dengan seorang pria berkemeja biru tua.


"Eh, itu pak Burhan tidak marah kok, hanya memberi ceramah sedikit!" April menjawab dengan kikuk. Soalnya selama dia bekerja belum ada yang pernah menyapanya, hanya kepentingan-kepentingan perusahaan saja baru mereka berinteraksi.


"Oh, baiklah!" Pria itu bergeser dan mulai kembali berkutat dengan laptopnya.

__ADS_1


"Makan siang nanti, mau makan denganku?" April kembali terkejut. Apakah telinganya salah mendengar?


"Ha?" April hanya bisa mengangakan mulutnya.


"Hanya sebuah ajakan untuk teman saja." Pria tadi tersenyum kikuk, kemudian tangannya tergerak menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Oh... oke." April mengiyakan saja, dan mulai fokus pada pekerjaannya. Meski otaknya masih menanyakan ada dengan hari ini?


...><...


"Dylan, jangan lari-lari, oppung udah gak kuat nak!" Annie berteriak sambil mengatur nafasnya yang memburu.


"Gak usah dikejar, mending pijatin aku ih!" Giedo menarik tangan Annie dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Ya ampun, kenapa lagi aku harus mengurus dua bayi." Annie mendesah frustasi.


"Bayi kamu itu cuma aku, Dylan bayinya Glen, jadi biarin aja." Giedo mengerucutkan bibirnya, seperti bocah yang sedang kesal.


"Ya ampun, papa udah tua ya! Lagian Dylan cucu kita!" Annie mencubit perut sang suami, dan mencium pipinya singkat.


"Hihihi." Giedo hanya bisa terkikik, karena memang Giedo sangat suka jika Annie mencium pipinya seperti ini.


"Oppung, Dylan mau di endong! Opa kan udah esal!" Dylan hendak menggapai Annie, meminta di gendong.


"Heh, bocah... Kenapa Annie dipanggil oppung, tapi aku malah kau panggil opa? Heh?" Giedo mengeratkan pelukannya pada pinggang sang istri.


"Cuka-cuka Dylan lah." Dylan memeletkan lidahnya, hal itu membuat Giedo semakin kesal.


"Dasar, anak sama ayah sama-sama menyebalkan!" Giedo menggerutu, hal itu membuat Annie tersenyum tipis.


"Dan kamu adalah kakek dan ayah dari anak dan ayah itu." Giedo bertambah cemberut.


Akhirnya ketiga manusia itu saling berpangku-pangkuan, dengan Dylan dipangkuan Annie di tingkat paling atas.


...•|•...


...🏃🏃...


...Kaborr...


...•|•...

__ADS_1


__ADS_2