
...•||•...
...✨HAPPY READING✨...
...Sorry for typo...
...•||•...
Hari ini adalah hari bahagia bagi keluarga Glen maupun keluarga April. Setelah melakukan persiapan yang sangat menyibukkan bagi kedua belah pihak, akhirnya hari-hari yang ditunggu-tunggu datang juga.
"Riasan kamu kenapa tipis banget? Kayak ke kondangan. Kalau nikah kan riasannya harus kental." Ibu April datang sambil menilai riasan April yang terlihat tipis natural.
"Nanti pas cium-ciuman biar gak jorok bu." April menjawab sekenanya sambil memperbaiki letak bunga di tangannya.
"Mesum mulu otak kamu ya." Ibu April menyentil kening sang putri, membuatnya meringis.
"Ya udah, cepetan udah pada ditungguin tuh." April digandeng ibunya dari ruang rias.
"Ibu harap, kamu bahagia. Jangan bersikap labil kayak anak-anak lagi, kamu udah punya anak. Oke?"
"Iya Bu, makasih banyak karena udah rawat dan jaga April selama ini. April sayang sama ayah sama ibu." April mencuri cium di pipi ibunya. Hal itu membuat ibu April tersenyum tipis penuh haru.
...><...
April dapat melihat Glen dengan tuxedo putih miliknya di depan sana.
"Suami kamu cakep ya nak, jadi jangan lagi buang-buang kesempatan, nanti direbut orang baru tau rasa." Ayah April menuntun putrinya mendekati Glen.
"Ayah paling ganteng sedunia, dan soal pernikahan April, April bakal jaga pernikahan ini. Makasih banyak yah, semoga ayah dan ibu panjang umur sehat selalu." April tersenyum, dibalas senyumannya hangat dari ayahnya.
Akhirnya tangan April digenggam Glen, mereka saling melempar senyum tipis. Mengikuti upacara pernikahan dengan senyum manis di bibir keduanya.
Akhirnya keduanya berciuman, menandakan mereka sudah menjadi sepasang suami istri, 'dua' itu sudah menjadi 'satu'.
...><...
"Mami." April memutar mata malas saat mendengar panggilan itu lagi.
Saat ini, April dan Glen sedang istirahat di salah satu hotel mewah di pusat kota. Anak-anak sudah dibawa pulang oleh keluarga Glen dan April. Untuk persiapan resepsi jam tujuh malam. Yang akan diadakan di lobi hotel itu.
Jadi? Siapa yang memanggil mami tadi?
"Mami..."
"Glen aku bukan mami kamu ya! Lagian, kenapa kamu tiba-tiba ubah panggilan gitu?" April mendelik sambil membersihkan riasan wajahnya.
"Aku gak ubah panggilan apa-apa kok." Glen mengelak sambil mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi kembang tadi.
"Terserahlah, aku mau mandi dulu." April beranjak dan langsung melesat ke kamar mandi.
"Aku kan cuma mau bilang mau minum, mami. Gak peka benget, diambilin minum kek, baru mandi." Glen menggerutu sambil memesan makanan dan minuman dari layanan hotel.
Duapuluh lima menit kemudian, April keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan kaos kebesaran.
__ADS_1
"Kenapa belum pakai baju?" April mengagetkan Glen yang sedang asik memainkan handphone sambil meminum teh hangat.
Glen masih belum berpakaian, dia hanya menggunakan handuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Glen terkikik, sambil meletakkan ponselnya.
"Because we are going to make a baby girl for our children." Glen tersenyum tipis dan mencium pipi April yang memerah.
"Let's go.." Glen mengangkat tubuh mungil April, dan meletakkannya di atas ranjang.
"Kamu mau kan?" Glen bertanya lagi sambil menatap April lekat.
"Ma-mau." April menjawab dengan wajah merona malu. Glen terkekeh sambil mencium bibir April, melu*atnya sekilas.
Ting-nong
Saat akan melepaskan kaos April, Glen mendengar bel. Glen menghirup nafas, untuk menetralkan emosinya.
"Tunggu sebentar ya." Glen mencium kening April dan mengeratkan ikatan handuknya sebelum beranjak mendekati pintu.
"Makanannya pak." Glen mengangguk dan mengambil makanan itu. Tanpa capek berbasa-basi dengan sang pengantar makanan, Glen memutar tubuh kemudian menutup pintu dengan tergesa-gesa sekaligus kesal.
"Eh, ternyata kita belum makan ya?" April mendekat sambil duduk di sofa.
"Gak main dulu?" Glen menatap April penuh harap.
"Makan dulu, biar ada energi." Glen akhirnya mengangguk pasrah, dan mulai menyantap makanan yang sudah dibuka dan disodorkan April.
Setelah selesai menyantap makanan, Glen langsung mendekati April, hendak mengangkat tubuh sang istri keatas kasur. Tapi, suara di luar kamar kembali terdengar.
"Ditunda dulu ya!" April tersenyum kaku, sambil beranjak dari sana. Dia harus segera memakai gaun dan memoleskan makeup tipis untuk wajahnya.
"Huft, harus main solo dengan cepet!!" Glen menunduk dan masuk ke dalam kamar mandi.
...><...
Resepsi diadakan dengan meriah. Banyak orang yang datang, dibandingkan dengan upacara pernikahan tadi.
April dan Glen memasang senyum yang paling ceria, sambil mengikuti berbagai acara resepsi.
"Selamat ya." April dan Glen melemparkan senyum, dan menggumamkan kata terimakasih sambil menyalami para tamu di atas panggung.
"Semoga langgeng."
"Semoga bisa buat banyak anak."
Banyak lagi ucapan-ucapan dari para tamu. April dan Glen hanya menanggapinya dengan senyum saja.
"Selamat." Suara serak dan penuh itu membuat April dan Glen mengangkat pandangan dan menatap wajah tampan dengan senyum tipis itu.
"Julio." Keduanya menggumamkan nama Julio dengan pelan.
"Semoga langgeng sampe kakek nenek. Congrats dude, don't make April sad again.." Julio tersenyum tipis, dan menyalami Glen. Glen mengangguk dan balas menyalami Julio.
__ADS_1
"Oh, sekalian kenalin ini Velin, pacar gue." Julio merangkul pundak perempuan dengan rambut sebahu disampingnya.
"Selamat ya, semoga sampe pelaminan." Glen dan April kompak berucap, hal itu membuat Julio dan Velin terkekeh.
...><...
April dan Glen sudah duduk tenang, karena para tamu sudah ada yang pulang, tapi ada juga yang masih bercengkrama dan sedang menikmati hidangan pesta.
"Capek banget." Glen memukul-mukul bahunya sambil menguap.
"Kayaknya malam ini kita gak bisa main." Glen menatap April dengan berkaca-kaca.
"Memangnya main itu harus sekarang? Nggak kan?" April memutar bola mata, sambil memijat kakinya.
"Huft, sini aku pijitin." Glen jongkok dan melepaskan flatshoes April, mulai memijit kaki April dengan lembut.
"Cielah so sweet banget sih..." April yang awalnya tersenyum sambil memperhatikan Glen, tersentak kaget.
"Berman?" April menatap penampilan Berman yang terlihat jauh berbeda dengan saat kuliah.
"Weishhh, masih inget ya lu pada, padahal kan gue tambah cakep." Berman menyisir rambutnya menggunakan jari.
"Gimana kabar lo?" Berman bersalam-salaman dengan sepasang mempelai itu. Glen terlihat diam, seakan berperang dengan otaknya.
"Baik banget, kabar lo gimana?" Glen mengangkat alis sambil merangkul bahu April posesif.
"Bad, tentang masalah pekerjaan." Berman terlihat memaksakan senyumnya.
"Gak bawa gandengan Lo?" Glen melirik kekanan dan kekiri.
Berman menggeleng sambil berucap.
"Gue sama dia." Berman menunjuk seorang anak laki-laki yang sedang asik mencomot makanan. Anak laki-laki itu terlihat masih SMP, dengan tubuh tinggi berisi.
"Keponakan." Ucap Berman lagi, ditanggapi anggukan oleh kedua pasangan itu.
"Bahagia selalu ya, dalam suatu hubungan itu, saling percaya dan kejujuran adalah dua hal yang paling utama. Apapun masalahnya, kalian harus menyelesaikannya dengan kepala dingin."
"Dan, saat marah jangan langsung mengambil keputusan!" Berman menepuk-nepuk pundak Glen, sebelum turun dari panggung.
"Dia masuk sekolah pesantren ya? Eh? Atau dia masuk sekolah pendeta kali ya?" Glen menggaruk tengkuknya bingung. Sama halnya dengan April.
"Kayaknya dia mau jadi biarawan." Sahut April, dan masih menatap punggung Berman.
"Dia kenapa?" Tanya keduanya dalam hati.
...•||•...
...🤸🤸🤸 ...
...Kangen gak sama tiga tuyul Glen-April...
...Glendale Ramosdo⬇️...
__ADS_1
...•||•...