
...•||•...
...HAPPY READING...
...#AUTHOR#...
...•||•...
April terbangun saat mendengar suara gedoran pintu. Dengan tubuh yang terasa remuk redam, dia bangkit hendak membuka pintu.
"Eh, kamu masih belum pakai baju sayang." Glen bangkit dari tempat tidur, hanya memakai boxer.
"Sana, biar aku yang buka." April mengangguk saja, dan masuk ke walk in closet.
"Papa??" Glen mengelus dadanya karena terkejut, dia dapat melihat tiga bocil yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kenapa? Kalian kok kayak orang demo aja?" Glen mengusap mata, dia masih mengantuk.
"Itu, ada yang ribut di depan. Suaranya gini, ting-nong ting-nong." Gabrian berucap sambil menguap.
Glen akhirnya mengumpulkan kesadaran, dengan segera dia mengambil kaosnya untuk membuka pintu.
"Misi... Paket.." Glen mendekat, dan melihat ada sebuah mobil di depan rumah.
"Paketnya pak, atas nama Glendale Ramosdo?" Glen mengangguk dan menandatangani surat buktinya.
Dua kotak besar berukuran 1/1 meter diangkat dari mobil box, dan dimasukkan ke dalam rumah. Ada juga empat kotak yang paling besar, kira-kira berukuran 2/2 meter.
"Ini yang kirim, atas nama David ya?" Glen bertanya sambil menatap banyaknya kotak.
"Iya pak, bapak bisa baca di bukti pengirimannya."
Glen mengangguk akhirnya dia tau barang apa itu.
"Ini diletakkan dimana ya pak?" Salah satu pekerja bertanya sambil mengangkat kotak.
"Bapak bisa gak menempelkan foto-fotonya ke dinding, nanti saya bayar deh."
Para pekerja mengangguk dan mulai melakukan arahan Glen. Bingkai yang paling besar ditempelkan di dinding ruang tamu. Terhitung ada empat foto yang ditempelkan disana.
"Foto yang itu, ditempelin di atas ya pak. Di dalam kamar saya. Ayo mari."
Glen dan salah satu pekerja membawa sebuah foto ke atas. Diikuti dua pekerja lain.
"Nah, tempelkan disana pak." Glen dan salah satu pekerja mengangkat kasur, dan pekerja lain menempelkan foto di dinding, tepatnya di atas kepala kasur.
__ADS_1
"Terimakasih ya pak." Glen berucap saat semua foto sudah tertempel.
"Ini bayarannya." Glen memberikan beberapa lembar ratusan ribu rupiah.
Para kurir akhirnya pergi, meninggalkan Glen yang dikerumuni tiga bocil.
"Pa, misi paket itu apa?" Gabriel buka suara saat Glen memasuki rumah.
"Misi.... Pakettt..." Gabriel dan Aldo malah berjoget-joget karena teringat pernah mendengar lagu itu, di rumah tetangga dulu.
"Paket-paketan sayang. Udahlah, ayo masuk." Glen langsung menghentikan aksi itu. Lelah juga jika menjelaskan misi paket itu apa kepada Gabriel.
"Glen, i-itu?" April datang sambil membekap mulutnya. Matanya menatap bingkai foto yang terpajang di ruang tamu.
"Foto pernikahan kita! Suka gak?" Glen mendekat dan memeluk pinggang April.
"Bu-bukan, tapi-" April mengangkat telunjuk, dan menunjuk sebuah bingkai yang juga diletakkan sejajar dengan bingkai tadi.
"Itu foto kita pas aku wisuda, muka aku ganteng kan." Glen terkekeh kecil, sambil mengingat kenangan dulu.
"Ta-tapi, bukannya kita gak ada foto? Dan, foto kita kan cuma di handphone aku, itupun handphone aku udah rusak. Kamu bisa dapat foto itu darimana?"
Glen tersenyum, dan mulai bercerita.
"Aku suruh David buat bayar peretas, buat ambil foto kita itu. Untungnya handphone kamu yang rusak waktu itu belum kamu buang." Glen tersenyum hangat, ikut melihat foto yang terpajang di dinding. Glen menatap wajahnya yang terlihat datar di foto wisuda itu.
...><...
"Mama, foconya bayak banet!!" |fotonya banyak banget| Gabriel mengelilingi ruang tamu, diikuti Gabrian dan Aldo.
"Foto kami gak ada ya ma?" Aldo buka suara saat matanya hanya menemukan foto April berdua dengan Glen.
"Iya ya? Kalian mau juga punya foto gitu?" Glen yang buka suara, saat laki-laki itu datang dengan secangkir kopi ditangannya.
Saat ini, keluarga kecil itu sedang cuti. Yaitu, Glen yang tak pergi ke kantor, dan Aldo yang izin tidak sekolah.
"Mau-mau pa!!" Ketiga anak kecil itu berteriak antusias, mau juga punya foto dipajang di dinding.
"Ya udah, kalian mandi, trus pake baju yang bagus, biar papa bawa ke tempat foto." April yang sedari tadi fokus mendengar mulai menatap Glen.
"Nga-" Baru saja April ingin buka suara, tapi sudah langsung diganggu ketiga manusia kecil itu.
"Ma, ayoo... Mandiin kami!" Mereka menyeret April ke kamar, dan menyuruh April memandikan ketiganya tak lupa mengambilkan baju.
...><...
__ADS_1
Saat ini, keluarga kecil itu sudah ada di pantai, tepatnya untuk mengambil banyak foto. Glen sudah menyewa fotografer handal, dan berbakat.
"Oke, Aldo sama mama. Papa gendong Gabriel sama Gabrian." Glen memberi arahan, membuat mereka mengatur posisi. Aldo digandeng April, dan twins Gaga digendong Glen.
Mereka sibuk berfoto ria, sambil bermain air.
"Foto di bawah pohon kelapa kayaknya bagus pak!" Si fotografer memberi saran, sambil menunjuk pohon kelapa di belakangnya.
Mereka akhirnya menyetujui, April dan Glen berdiri dengan tangan menahan tiga bocil yang dinaikkan ke batang pohon kelapa yang sedikit bengkok itu.
Mereka asik berfoto tak memperdulikan panasnya cahaya matahari. Mereka juga mengambil foto bernuansa sunset.
Sudah banyak foto yang diambil. Mereka akhirnya memutuskan menyewa hotel, untuk beristirahat.
...><...
"Glen, kamu cuti berapa lama?" April buka suara saat Glen duduk di sampingnya. Mereka sedang duduk santai di restoran hotel. Sedangkan anak-anak sudah tidur di kamar karena kelelahan bermain air.
"Kira-kira dua minggu, kalau nanti ada kesempatan aku mau ajak kamu bulan madu." Ucap Glen sambil meminum jus ditangannya.
"G-glen!!" Glen dan April menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang wanita sedang menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
"Ka-kamu disini?" Wanita itu mendekat dan memeluk Glen erat.
"A-aku nyari kamu dimana-mana, ternyata kamu disini. Hiks...hiks." Wanita itu terisak sambil memeluk Glen. Glen masih belum sadar, dia terdiam karena kaget.
"Eh mbak, apa-apaan ini?" April mendekat menarik tangan wanita tadi, dan mendorongnya menjauh dari Glen.
"Ka-kamu siapa?" Wanita itu bertanya sambil menatap April dengan mata sembabnya.
"Aku istrinya! Kamu yang siapa?" April berucap dengan galak, tak terima melihat wanita itu memeluk suaminya.
"Istri?" Wanita itu terlihat terkejut, sambil menatap Glen dan April bergantian.
"Glen, ini gak bener kan? Glen, aku juga ibu dari anak kamu, kamu kenapa malah nikah sama dia??" Wanita itu berteriak histeris, sambil memukul Glen brutal.
"Maksud kamu apa ha?" Akhirnya Glen tersadar dan menatap tajam wajah wanita itu.
"Ibu dari anak-anak saya cuma istri saya, kamu jangan mengada-ada." Glen berucap dengan nada berapi-api.
"Ha? Apa? Aku gak salah denger kan? Waktu di London kamu tidur sama aku, itu apa? Kamu anggap aku apa Glen?" Wanita itu menangis, sambil menutup wajahnya.
"Aku hamil waktu itu!!" Seketika bumi terasa berguncang hebat bagi April. Kepalanya mendadak pening dan pusing. Yang April ingat hanya Glen yang berteriak panik memanggil namanya.
...•||•...
__ADS_1
...Hahahaha... Kenapa ya? Sekali tembak langsung ada bocil?...
...•||•...