
...•||•...
...HAPPY READING...
...#AUTHOR#...
...•||•...
Saat ini, Glen dan April duduk di ruang tamu. Sedangkan anak-anak dibiarkan tertidur di kamar. Gabriel sangat cepat beradaptasi, dia sudah langsung akrab dengan Gabrian dan Aldo. Karena kedua bocah itu juga langsung melakukan temu kangen, tak terlalu pusing saat Gabriel terlihat lupa dengan keduanya. Keduanya malah berpikir kalau Gabriel lupa karena sudah lama tak bertemu mereka.
Gabriel sama sekali tak protes, saat dia tidur di atas tempat tidur beralaskan karpet dan ambal. Bocah itu seakan sudah terbiasa dengan hal itu.
Glen belum sempat pulang, dia masih mengenakan setelan kantornya, tapi hanya kemeja dan celana saja yang melekat pada tubuhnya, karena jas dan dasinya sudah diletakkan di dalam mobil.
"Jadi, Aldo itu siapa?" Glen membuka suara, mengisi keheningan malam ini.
April menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk memulai cerita yang lumayan panjang itu.
"Pas kamu ninggalin aku waktu itu, waktu kamu wisuda, aku nangis di sepanjang jalan pulang-"
"Maaf!" Belum sempat April melanjutkan ucapannya, Glen sudah memotong pembicaraan.
"It's okay, malah karena itu aku bisa ketemu Aldo." April tersenyum tulus, mengingat pertemuan awalnya dengan Aldo.
"Maksudnya?" Glen kembali buka suara, sedari tadi harusnya dia tak memotong cerita April.
"Nah, karena aku capek nangis, aku tiba-tiba pusing dan pingsan."
"APA? PINGSAN??" Glen malah berteriak, penyesalannya bertambah lima kali lipat sekarang.
"Huft, kamu niat gak sih dengerin ceritanya?" April mendelik sambil mengusap telinganya yang berdengung.
"Ehem, oke lanjut." Glen menggaruk pipinya canggung.
"Nah, pas aku buka mata, aku udah ada di rumah sakit. Dokter akhirnya datang dan jelasin kalau kondisi aku baik-baik aja, meski diperingati juga, untuk hati-hati karena kandungan aku waktu itu lemah."
"Le-" Baru saja Glen ingin buka suara, April sudah menatapnya tajam.
"Diam,,,, setelah itu dokter bilang, kalau anak aku yang satu tahun itu masih dirawat. Aku bingung dong, akhirnya aku bilang sama dokternya, kalau aku belum punya anak. Dokternya gak percaya, dan malah nuduh aku yang gak mau tanggung jawab. Setelah berpikir mateng, aku akhirnya pergi ke ruang rawat anak itu. Aku liat mukanya pucet, wajahnya yang ganteng itu keliatan lelah banget, akhirnya aku memutuskan, mulai waktu itu, anak itu adalah anakku."
Glen diam, sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak buat laporan anak hilang?"
April gelagapan, dia saja baru tau akan hal itu sekarang.
"Waktu itu, aku gak mikirin kesana, aku malah fokus ngerawat Aldo, dan kandungan aku."
"Oke, gakpapa... Tapi, kasian kan orangtua Aldo, gimana kalau mereka udah nyari Aldo susah-susah, eh kamu malah sembunyiin Aldo." April terdiam, otaknya menyetujui ucapan Glen. Tapi, dilain sisi, April ingin egois, ia tak ingin Aldo bertemu orangtuanya.
"Mama minum." Aldo datang, dengan muka bantalnya.
"Eh, iya sayang. Tunggu ya." April beranjak, berjalan ke dapur untuk membuatkan Aldo teh hangat.
"Papa!!" Aldo berlari dan naik ke pangkuan Glen. Glen terdiam, dia kurang nyaman dengan keberadaan Aldo.
"Jangan diganggu sayang, mending Aldo minum, trus balik tidur ke kamar." April menyodorkan gelas dan langsung diteguk Aldo dengan rakus.
"Siap ma, tapi papa gak akan pulang kan?" Aldo menatap Glen dengan penuh harapan.
"Iya, makanya cepet tidur!" April mengangkat tubuh Aldo, dan membawanya ke kamar.
...><...
"Darimana kamu tau kalau gak jadi?"
"Kan kamu kasih aku kesempatan kedua, masa aku jadi suami kedua kan gak mungkin. Pastinya gak jadi dong." Glen melipat tangan di depan dada. Sombong...
April berdecih, kemudian mengambil posisi duduk di samping Glen.
"Iya, karena aku merasa gak pantas, sama Julio yang perfect. Julio itu, ganteng, baik, perhatian, punya banyak uang... Intinya lebih-lebih dari segalanya!!" Glen menggerakkan tangannya membuat lingkaran besar.
"Kalau aku gimana?" Glen bertanya dengan wajah cemberut. Glen tak suka saat April memuji Julio sejelas itu.
"Kalau kamu itu, plin-plan, gak mau mengalah, agak egois, gak pengertian, ceroboh... Banyak lagi deh!" Glen diam, matanya masih menatap wajah April yang asik mengingat apa saja ciri khas Glen.
Glen menunduk, dia jadi merasa tak pantas mendapatkan kesempatan itu.
"Tapi, meskipun kekurangan kamu sebanyak itu, toh hatiku lebih memilih cowok dengan banyak kekurangan ini." Glen mengangkat kepala, matanya bertemu pandang dengan mata April yang menatapnya lekat.
"Hati aku masih sama, sama seperti dulu saat kamu deketin aku."
Glen akhirnya kembali menitikkan air mata, dengan sigap Glen menarik pergelangan tangan April, membawanya ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Makasih, makasih karena masih mau membuka pintu untukku. Aku juga masih sama." Glen dan April tenggelam dalam pelukan hangat masing-masing.
...><...
"Apa sih sebenarnya yang buat kamu waktu itu berubah?" April masih berpelukan dengan Glen. Mereka masih duduk di dalam ruang tamu.
"Yang mana?" Glen memainkan rambut April, seperti kebiasaannya dulu.
"Waktu kamu langsung cuek ke aku, kamu juga malah nuduh aku selingkuh sama Julio." Glen terdiam, dia kembali mengingat masalah awal mereka. Yaitu, foto April yang berciuman dengan laki-laki berambut hitam, yang Glen rasa adalah Julio. Makanya Glen langsung mendatangi Julio waktu itu.
"Kamu inget gak sama Berman? Teman aku waktu kuliah itu?" April mengangguk, karena memang dia pernah dikenalkan dengan Berman. Jangan lupa, kalau Glen hanya dekat dengan Berman saja.
"Waktu itu, dia tiba-tiba dateng trus tunjukin foto-"
"Foto? Foto apa?" April mendongakkan kepala, dan bertemu tatap dengan Glen.
Cup...
Glen malah mengecup singkat bibir April. Hal itu membuat April tersenyum malu.
"Foto kamu ciuman sama laki-laki lain selain aku. Trus, aku datengin tuh cowok, aku mukul dia. Aku tanya, kenapa dia deketin kamu. Dan dia bilang, kalau kalian udah pernah tidur bareng." April membulatkan matanya, seingatnya belum pernah dia ciuman atau tidur dengan laki-laki lain selain Glen.
"Gak, aku gak pernah ciuman ataupun tidur sama cowok lain, aku cuma pernah ciuman sama kamu!" April mencoba membuat Glen percaya.
"I trust you." Glen kembali mencium, serta memberi lu*atan-lum*tan kecil pada bibir April, bahkan ciuman panjang mereka itu baru berakhir setelah April kehabisan nafas.
"Aku merasa bodoh, malah percaya sama foto yang dikasih Berman, dan percaya sama ucapan cowok itu. Kayaknya ada yang gak beres." Glen tak mengatakan kalau laki-laki yang dijumpainya waktu itu adalah Julio. Glen tersenyum singkat, karena matanya menatap April yang terengah-engah terlihat lucu dan menggemaskan.
"T-tapi, memang waktu itu aku pernah ciuman sama Julio." April menunduk, sambil memilin jari-jarinya. Glen tersentak kaget, sambil menatap April.
"Tapi jangan curiga dulu, aku ciuman sama dia karena Julio didorong sama Anto, bahkan aku marah waktu itu, meski Julio udah minta maaf."
Glen mengangguk dan tersenyum.
"Aku akan cari tau." Lanjut Glen dalam hati. Dia merasa, dia sudah lengah selama ini, hingga menyebabkan masalah berkepanjangan.
...•||•...
...Hayoloh, malah kisseu... kisseu......
...•||•...
__ADS_1