
...-0o0-...
...HAPPY READING...
...#Glendale#...
...-0o0-...
Hari itu, aku yang tengah kehujanan sehabis latihan basket bersama teman-teman ku. Akhirnya aku memilih berteduh ke kost April karena lebih dekat dari kampus, aku sudah sangat basah kuyup. Aku mengetuk pintu kost nya, dan tak lama April keluar, dengan gaya khasnya sebelum tidur, yaitu rambut terurai dan memakai piyama bunga-bunga.
"Kamu kok basah?" Dia menarik tangan ku, dan pergi mencari handuk setelah aku duduk di kursi.
Dia datang dengan sebuah handuk kecil. Tangannya asik mengeringkan rambut ku dengan handuk. Aku diam saja, sembari menatap wajahnya yang sedang fokus.
Tiba-tiba, tatapan ku tertuju pada kancing bajunya yang terbuka, menunjukkan d a d a nya yang hanya tertutupi b r a. Aku menelan ludah kasar, sungguh pemandangan macam apa ini. Aku malah tetap fokus menatap pemandangan indah dan gratis itu.
April menyodorkan handuk membuat aku sadar.
"Mandi gih, nanti aku siapin Hoodie sama celana aku yang longgar"
Aku mengangguk sedikit kecewa karena merasa terganggu.
Setelah selesai mandi, aku menatap April yang sedang asik duduk di ranjang sambil memainkan handphonenya. Aku juga melihat ada Hoodie putih waktu itu. Aku tersenyum senang, dan langsung memakainya. Aku juga melihat celana bergambar Pororo.
Dengan berat hati aku mengambil celana itu, dan juga memakainya di depan April. Aku seprti tak tahu malu, tapi aku dapat melihat April yang masih fokus ke handphonenya.
Aku naik ke atas kasur, dan langsung merebahkan kepala ku di atas pahanya.
Aku melihat kembali ke arah celana ku yang menggembung, aku memang tak memakai dalaman, padahal tadi sudah sempat tuntas, tapi karna bau April yang sangat wangi, 'dia' kembali bangun.
Aku duduk, dan menarik wajah April, tak berselang lama, aku langsung mencium bibirnya, m e l u m a t nya dengan kasar, aku sudah tidak tahan.
Aku asik mencium bibirnya, mengeksplor isi mulutnya dengan rakus.
"Mmmh, kak Glend jangan" April berseru saat tangan ku sudah me re mas da da nya yang bulat itu.
Aku menghentikan ciuman, dan menatapnya penuh g a i r a h.
"Aku gak tahan lagi sayang" Aku mencium dahinya lembut.
"Aku bakal pelan-pelan, percaya sama aku" Aku meyakinkannya membuatnya yang sedang mengatur nafas menatap lekat mataku.
"Ta-tap-i, ini salah" Dia menunduk, malu dan sedih.
"Gak papa, toh juga kita bakal nikah nanti, kita gak akan pisah, kita tetap sama-sama" Dia menatap ku penuh harap, dan menganggukkan kepalanya. Hal itu, membuat senyum ku terbit.
Aku memang tidak mungkin meninggalkan perempuan ini, dia adalah cinta pertama dan cinta terakhir ku.
__ADS_1
Aku kembali melanjutkan aksi, membuka seluruh pakaiannya begitu juga dengan pakaian ku. Kami sudah n a k e d.
Aku mulai menciumi seluruh wajah dan setiap inci tubuhnya. Dia hanya me n de sah, dan menjambak rambutku. Ah, aku suka ini.
Aku mulai menyatukan tubuh kami, membuat dia berteriak dan menangis. Dia menyuruh ku melepaskannya, dan menghentikan permainan ini, tapi aku tak mau, itu tak mungkin.
Aku malah memberinya pengalihan, supaya mulai merasakan n i k m a t, yang diidam-idamkan semua orang.
Setelah hampir tiga puluh menit berkelana di alam kenikmatan itu, akhirnya kami mencapai puncak. Aku terengah-engah, dan menatap ke bawah. Seprai milik April yang awalnya berwarna putih, telah ternodai warna merah itu.
Aku tersenyum, aku bahagia aku menjadi yang pertama untuknya, begitupun dia yang menjadi pertama untuk ku.
Kami kembali melanjutkan ronde-ronde berikutnya. Membuat dia sudah mulai terbiasa, kami melakukannya hingga subuh, dan baru tertidur kala itu.
...*...
...*...
Aku terbangun dan menatap wajah cantik April yang masih terlelap. Aku tersenyum dan mengecup keningnya sayang.
"Sayang, bangun" Aku geli sendiri mendengar ucapan sayang ku, tapi tak apa, toh hanya kami berdua disini.
Aku melihat dia mengerjap, dan mulai membuka matanya. Dan akhirnya, yang ku tunggu terlihat juga, yaitu senyuman manisnya yang mengawali pagi hari ini.
Aku kembali teringat, dulu aku pernah terbayang, bagaimana saat aku menikah, dan disuguhi pemandangan wajah cantik istri ku, setiap paginya. Tapi, aku meringis kami kan belum menikah!!
Setelah itu, dia memasak dan kami makan bersama, yg rasanya aku tak sabar untuk cepat-cepat menikah...
Setelah sarapan, aku pamit, mengingat nanti siang aku ada kelas satu mata kuliah.
"Aku pamit ya, kamu baik-baik di kost" Aku mencium keningnya, membuat pipinya memerah, dan jantungku berdetak kencang.
Setelah berpamitan layaknya suami istri, aku pergi dengan senyum lebar yang menghiasi wajah ku.
...*...
...*...
Sesampainya aku di rumah, aku terkejut melihat ayah ku yang dengan gaya kepemimpinannya duduk di sofa ruang tamu.
"Tumben pulang cepet, biasanya dua minggu, gak jalan-jalan bisnis lagi nih?" Sindir ku, saat mama datang membawa secangkir kopi.
"Duduk" perintahnya, membuat memutar bola mata malas, dan memilih duduk.
"Glend, hubungan kamu sama April masih baik??" Papa menyesap kopinya sembari bersandar ke sofa. Memang, papa jarang bertemu April, hanya sekali dua kali, karena dia asik mengurus pekerjaannya.
"Baik pa, papa kok tumben perhatian gini? Padahal biasanya gak perduli, asik aja sama kehidupan papa, lagian hubungan kami udah setahun lebih" Aku bersikap cuek, sembari mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Terserah lah, ngomong-ngomong papa hanya mengingatkan. Bentar lagi kamu wisuda S1, papa pengen kamu lanjut S2 di luar negeri, supaya bisa urus bisnis, soalnya papa mau manja-manja sama mama di hari tua" Papa menduselkan kepalanya ke leher mama, membuat aku mendelik tak suka.
Baru seminggu lalu dia tak membuat ku iri karena pergi, tapi ini, papa kembali berulah.
"Di sini kan bisa pa, kenapa harus luar, sekolah dalam negeri juga bagus-bagus" Aku sangat tidak mau, pokoknya tidak akan mau.
"Dalam negeri udah S1, S2 luar negeri kan gakpapa, manatau beda pelajaran sama yang disini"
Aku bersandar ke sofa, baju ku terasa bau asam, karena ini baju semalam yang hanya di keringkan April, saat dia memasak tadi.
"Terserah deh" Aku memilih beranjak, mendekati kamar, aku sudah tidak tahan dengan bau baju ini.
'Apa April mau LDR?' Aku bingung, sungguh jika papa memaksa ku ke sana, pasti aku tak boleh membantah, tapi di satu sisi bagaimana dengan April?
Aku memilih mandi, mendinginkan otak, sebelum mengambil keputusan.
...*...
...*...
Sudah tiga bulan sejak pembicaraan tentang S2 itu, dan aku belum mengatakan hal itu ke April. Aku masih belum menemukan kata-kata yang pas. Sebentar lagi, aku akan memasuki semester enam.
Dan, aku sudah mengajukan judul skripsi, dan sudah di acc. Aku memang memiliki keistimewaan disini, karena papa adalah salah satu penyandang dana terbesar di kampus, aku mempunyai keistimewaan untuk menyusun KRS sesuka hati tapi jangan lupakan karena IPK ku juga mencukupi untuk mengambil matkul atas. Akhirnya aku memborong semua pelajaran dari semester tujuh dan delapan, untuk ku pelajari di semester tiga, empat dan lima yang lalu.
Oh, ngomong-ngomong, setelah kejadian aku dan April bercocok tanam, aku dan April jadi lumayan sering melakukan itu, entah dorongan darimana. Tapi, minimal dua kali seminggu, kami bercocok tanam dengan panas. Hm, baru semalam kami bercocok tanam dengan sangat lama, kira-kira setengah hari, karena semalam hari Minggu. Kami melakukan mulai dari sore hingga subuh.
"Glend" laki-laki dengan kemeja putih itu menepuk bahu ku, yang sedang asik melamun, membayangkan April saat bercocok tanam.
"Apa?" Aku memutar mata, saat Berman teman ku itu adalah pelaku yang membuyarkan lamunan indah ku tadi.
"Ini, bukannya pacar lo?" Dia menyodorkan handphonenya ke depan wajahku, membuat aku dapat melihat foto dimana April yang sedang berciuman dengan pria berambut hitam gelap, siapa dia?
Aku tercekat, dan tangan ku gemetar, tidak mungkin April melakukan itu?
.
.
*KRS : Kartu Rencana Studi
.......
...-0o0-...
...vote sayang♡...
...-0o0-...
__ADS_1
.......