
...-o0o-...
...HAPPY READING ...
...#Author#...
...-o0o-...
45 menit sebelum Glen bertemu April di halte:
"Apa gue harus temuin April lagi?" Glen duduk di sofa kamarnya dengan gusar. Sedari tadi, dia memikirkan banyak hal yang berkecamuk di otaknya.
Belum lagi, notifikasi pesan yang mengatakan waktu cutinya tinggal 5 hari lagi.
Glen menatap beberapa notifikasi pesan dari beberapa teman kuliahnya. Dan, matanya tak sengaja melihat sebuah pesan berada paling bawah. Kemudian, tangannya menekan kolom pesan itu.
Berman 'faat':
Bro hari ini, ulangtahun ex lo bukan?
^^^Kemarin, 12:28^^^
Eh, sorry gue gak tau, kalau lo sama dia udah end... Maap bro
^^^Kemarin, 12:30^^^
Glen menelan salivanya kasar, dia kembali teringat ulangtahun April terakhir kali itu. Glen melihat kalender, dan memang benar, tanggal itu adalah hari dimana umur April bertambah satu tahun.
"Pas gue ulang tahun, gue gak pernah kepikiran... kenapa ulangtahun dia, gue jadi kepikiran ya?"
Glen mengambil jaketnya, dia akan berusaha bertanya pada April. Tentang kegusaran hati Annie, dan kebenaran yang sebenarnya. Glen merasa banyak kejanggalan di hatinya.
Apalagi saat melihat anak kecil semalam. Tidak mungkin anak yang dikandung April sudah sebesar itu.
Glen mengendarai motornya dengan kecepatan standar. Dia menatap langit yang mendung.
Tak sengaja, matanya yang sedang menatap sekeliling jalan menangkap sosok tubuh yang dikenalnya sedang duduk diam di atas kursi tunggu halte.
Dengan cepat, Glen membawa motornya ke pinggiran. Memarkirkannya di samping trotoar tanpa mengganggu pengemudi lain.
Glen turun dari atas motor, menatap April yang sedang diam dengan pandangan menerawang, entah apa yang perempuan itu pikirkan.
"Happy birthday!" Belum sampai di dekat April, Glen sudah mengucapkan kalimat itu dengan suara pelan, meski masih bisa di dengarnya si empu.
__ADS_1
Glen bukannya mau mengucapkan itu, tapi mulut dan otaknya seakan bekerja sama untuk mengucapkan kalimat ucapan itu.
April terlihat menoleh kanan-kiri, tak melihat ada sosok manusia yang sedang mendekatinya.
Glen yang bingung berjongkok di depan April.
"Kenapa?" tanyanya dengan bingung, dia tak tau saja April mengumpat dalam hati saking terkejutnya melihat wajah tampan iblis itu.
April membuang muka, dan membuat jarak seaman mungkin. Hingga perbincangan itu terjadi.
...*...
...*...
Glen duduk diam di dalam kamarnya. Sejak pertemuannya dengan April 4 hari lalu. Dia sudah enggan menunjukkan wajahnya di depan mantan kekasihnya itu.
Glen melihat Annie yang membawa kotak ke dalam kamar. Matanya terus memandangi tingkat laku ibunya yang terlihat sibuk itu.
"Glen, ini ada teh hijau. Dari teman mama, katanya cocok untuk orang yang sedang belajar, biar kamu rileks belajarnya" Annie meletakkan kotak tadi di atas meja belajar. Dia membalikkan badan dan menatap putranya bingung.
"Kok belum siap-siap? Besok kamu udah harus berangkat loh, cuti gak bisa di perpanjang lagi, biar bisa lulus cepat, trus pulang kesini" Annie bersedekap, dia menatap Glen yang masih tengkurap di atas kasur.
"Glendale!!" Annie berseru, membuat Glen mau tak mau harus bangkit, dan menanggapi ibunya yang masih asik berceloteh itu.
"Masalah kamu udah siap?" Glen menghembuskan nafasnya pelan, da sudah tau maksud Annie yang berlama-lama di kamarnya.
"Biarin aja ma, jodoh siapa yang atur! Kalaupun ada kesalahpahaman, pasti nanti akan terungkap" Glen kembali tengkurap, dia tak terlalu suka dengan sikap mamanya yang ngotot ingin dia balikan dengan April.
'Mana mungkin aku mau balikan sama April, dia aja udah punya anak sama Julio' Glen mengusap wajahnya, berharap segera masuk ke alam mimpi. Dia ingin cepat-cepat tidur supaya bisa pergi dengan kondisi segar besok.
Annie diam, tak tau lagi harus mengucapkan apa. Dia juga membenarkan ucapan Glen yang memang benar adanya. Annie langsung mematikan lampu, mengusap kepala Glen, sebelum meninggalkan kamar sang putra.
...*...
...*...
Halo?" Terdengar suara merdu seorang wanita paruh baya di seberang sana, membuat April mengulas senyum penuh rindu.
"Halo ma, ini April?" Sahut April dengan suara bergetar.
"Ma, Minggu depan April wisuda. Kalian datang gak?" Lanjutnya, menahan diri untuk tak menangis. April menghubungi orangtuanya, setelah sekian lama tak berhubungan dengan mereka.
"Astaga, bagaimana kabar mu nak? Kenapa kamu tidak pernah memberi kabar ke rumah?" Terdengar suara yang sarat akan kecemasan, ibu April mendesah lega, mendengar suara putrinya itu. Dia tak menanggapi kalimat terakhir putrinya.
__ADS_1
"April baik-baik aja?" April mengulas senyum, dia tak mau memberitahukan keadaan yang sebenarnya terjadi.
"Syukurlah, mama sama papa dan adik-adik kamu sudah rindu. Untunglah kamu memberitahu kabar lagi"
"Tapi nak, mungkin kami tidak bisa ikut di acara wisuda mu, karena kami belum menyiapkan apapun, uang untuk ongkos, dan keperluan lainnya" Ibunya menghela nafas, dia juga sebenarnya sangat ingin pergi ke acara wisuda putrinya itu. Tapi, lagi-lagi keadaan tak mendukung, sebab uang mereka belum terkumpul jua.
"Gimana kalau April wisuda bareng teman-teman yang lain, supaya uang yang akan jadi ongkos kami akan mama kirim buat kebutuhan April!" April mendesah kecewa, dia pun memilih mengiyakan saja perkataan ibunya. Setelah lama berbincang dan melepas rindu bersama ibu, ayah dan saudara-saudaranya, April pun memutuskan panggilan itu.
...*...
...*...
April sudah melewati acara wisuda dengan baik, dia dapat melihat anak-anak lain yang terlihat sangat senang mengikuti pesta ini. Berbeda dengannya yang hanya duduk diam seorang diri, tanpa ada yang mendampinginya.
Sedari tadi, dia hanya duduk diam. Sesekali berfoto ria bersama teman-teman seangkatan, dan ada juga yang meminta foto bersamanya.
"Huft, kenapa lama sekali!" April sungguh malas, dan sangat ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Dia sudah merindukan anak-anak kecilnya itu.
"Untung ada Asti, kalau tidak, aku mungkin tidak bisa mengikuti acara wisuda ini" April memang dibantu oleh Asti untuk menjaga ketiga anaknya, sebab dia harus ke acara wisuda dulu. Asti adalah salah seorang mahasiswa semester 4 tetangga kostnya.
Setelah lama diam, dia pun memilih beranjak. Karena memang, acara itu sudah hampir selesai, April akan langsung pulang untuk saat ini.
...
...
...
Btw... Jangan bingung ya...
Kenapa Aldo belum bisa bilang r dengan benar, padahal udah dua tahun?
Kenapa Aldo belum lancar ngomong, anak dua tahun tujuh bulan, kan harusnya udah lancar ngomong thor!?
Jadi, jika ada dari hati para readers yg bertanya² ttg itu... Jawabannya adalah... Kan umur Aldo belum tentu segitu!!! Umur Aldo April yg buat, bukan realitanya dia umur 2,7 tahun....
So lanjut baca aja.... ♡
...-o0o-...
...Voteeeee......
...Btw, maapin Jen (aku sendiri, mulai sekarang panggil Jen aja♡) ya, Jen tiga hari ini sakit, badan rasanya berat banget... Jen gak mood lakuin apapun...
__ADS_1
...-o0o-...