
...-o0o-...
...HAPPY READING ...
...#Author#...
...-o0o-...
April sudah pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu. Hari ini dia masih sibuk memandikan kedua anak kembarnya. April menyeka keringat yang membasahi keningnya. Ternyata mengurus dua bayi itu tidaklah mudah.
Gabriel dan Gabrian adalah nama yang diberikan April untuk kedua bayi kembar itu. Wajah kedua anaknya sangat tampan, dan iris mata Gabriel sangat mirip dengan ayah kedua bayi itu, tapi Gabrian yang merupakan anak bungsu memiliki iris mata yang sama dengan April.
"Mama, Ado lapal" Aldo berlari ke dalam kamar mandi, memegangi perutnya sambil menatap wajah April penuh harap.
April tersenyum, dia sudah selesai memandikan Gabriel dan Gabrian dan akan memakaikan keduanya baju.
"Bentar ya sayang, nanti mama buatkan makanan, kamu duduk dulu di kasur, nanti mama panggil" April sudah selesai memakaikan baju kepada anaknya.
Setelah itu, April meletakkan kedua putranya diatas kasur, membuat bantal sebagai pembatas, supaya anak kecil itu tidak terjatuh.
"Aldo jaga adek ya, mama mau buat makanan buat kita" Aldo langsung mengangguk antusias, dia mulai memperhatikan kedua adiknya dengan senyum mengembang.
April pun pergi ke dapur untuk membuat makan malam untuknya dan Aldo.
...*...
...*...
Sudah terhitung lima bulan lebih April cuti kuliah, dan perkiraannya dia hanya memiliki enam setengah bulan cuti lagi.
"Aku harus cari kerja apalagi? Mana bisa aku kuliah sambil kerja nanti, atau aku gak usah kuliah lagi?" April masih menggendong baby Gabrian karena si tarik ulur itu belum mau tidur.
April masih belum tau, bagaimana nasibnya nanti setelah jadwal cutinya habis
"Mama, Ado dak bisa tidul" Aldo terbangun dan langsung memeluk perut April. April yang tadinya duduk di kasur sambil membelakangi kedua putranya yang lain, membuatnya tersentak kaget.
"Sini mama usap punggung Aldo" April meletakkan tubuh Gabrian yang sudah terlelap. Tangannya beralih mengusap punggung Aldo yang tidur menyamping menghadapnya.
"Mama, papa Ado sama dedek mana?" Di tengah-tengah rasa kantuknya, Aldo bertanya dengan mata sayu.
"Cici unya Doni papanya, Doni uga unya papa. Ado, ian, iel unya papa?" |Cici punya Doni sebagai papanya, Doni juga punya pala. Aldo, Ian, Iel punya papa?| April tersentak kaget, secepat itukah anak sulungnya ini tau.
"Aldo tidur aja dulu, besok-besok mama cerita" April mengusap punggung Aldo dengan lembut, berharap anaknya langsung terlelap.
"Mama gak tau nak, papa kalian orang jahat... kayaknya!" Ucapnya sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
...*...
...*...
"Glend, lo cuti kuliah mau balik ke Indonesia atau disini aja?" salah seorang laki-laki bernama Jonathan yang menjadi teman Glend selama kuliah di London, bertanya sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ngomong-ngomong, Jonathan adalah salah satu mahasiswa yang juga berasal dari Indonesia.
"Gue mau jenguk makam Kakek sama nenek gue di Glendale" ucap Glend dengan wajah datar, dia masih asik mengotak-atik layar iPad nya.
"Weishhh, enak bener lo. Mau ke California, bisa ikut kagak? Tapi, Lo yang bayar ongkosnya" Jonathan langsung duduk di samping Glend, dan menatap teman batunya dengan serius.
"Oh iya, gue baru sadar!!! Nama lo kan Glendale, bisa gue tebak, pasti lo lahir di Glendale, California, nah nyokap lo pasti buat nama lo karena itu kan" Jonathan berseru, dia menebak-nebak hal yang sudah pasti.
"Hm, nyokap gue suka banget sama kota itu. Tapi pas gue umur delapan bulan di kandungan, bokap minta tinggal di Indonesia aja, dan akhirnya biar keren gitu, gue di kasih nama Glendale"
Jonathan mengangguk-angguk aja, sudah tau pasti dari tadi.
"Kalau gue sih mau balik ke Indonesia, soalnya bokap gue lagi kurang sehat"
"Gak nanya!!" Glend memasukkan iPad nya ke dalam tas, dan mulai beranjak pergi menjauhi kelas.
"B a n g k e" Jonathan berteriak kesal.
...*...
"Glend, kamu mau pulang ke Indonesia atau gimana nak?" Annie yang sedang melipat baju sambil video call dengan Glend, bertanya.
"Glen, kemarin mama ketemuan sama temen-temen mama di cafe. Dan, mama gak sengaja liat April lagi kerja sebagai pelayan disana, mama awalnya mau nyapa, tapi dia kayak menghindar gitu pas liat mama. Kamu sebenarnya ada masalah apa sih nak sama dia?"
Glen diam, tak tau harus berucap apa-apa. Dia juga sedikit tak mengerti. Kenapa April bekerja sebagai pelayan.
'Apa dia masih mempertahankan bayi Julio?' Gumam Glen sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kami putus secara baik-baik kok ma, mama tenang aja" Glen berusaha tersenyum, meski banyak tanya di hatinya.
...*...
...*...
April akhirnya memutuskan sebuah hal besar. Dia tidak akan melanjutkan kuliahnya lagi, dengan rasa sedih yang besar, dan hati yang berat, dia memutuskan hal itu. April sangat takut dengan keluarganya di kampung, bagaimana jadinya mereka yang selalu membangga-banggakan anaknya ini malah menjadi aib nanti ketika pulang.
"Gakpapa April, coba usaha kecil-kecilan dulu, nanti kalau udah kaya, kita pulang ke kampung dan pasti keluarga bangga lagi" Ucapnya menyemangati diri, dia sangat ingin membuka usaha kecil-kecilan saat ini.
April saat ini sedang duduk di atas kursi tunggu terminal, dia baru saja pulang dari pasar. Si kembar sedang dia tinggalkan di rumah, dengan di jaga oleh Aldo.
Rencananya, April akan pergi ke kampus besok, memutuskan kuliahnya itu.
__ADS_1
"Eh? April?" April yang tadi asik melamun, mengalihkan pandangan dan menatap sosok tubuh pria jangkung yang baru saja menepuk bahunya.
"Wah, bener ternyata!!! Kabar lo gimana?" pria itu duduk di samping April. Sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajah merasa panas.
"Baik" April menyahut santai, dia kurang tertarik dengan pria di sampingnya itu.
"Cuek banget sih neng, kayak cewek lagi pms aja lo" Pria itu berucap santai, sambil terkekeh menyebalkan.
"Tuan Julio yang terhormat, apakah anda bisa pergi dari hadapan saya sekarang juga?" April merasa tak suka akan kehadiran pria itu.
"Heleh, jangan jual mahal deh, gue udah tau kalau lo sama Glend udah gak punya hubungan apa-apa lagi" Julio mengeluarkan sebuah kantong kecil dari dalam saku hoodienya.
"Gue punya tawaran menarik, ini akan menjadi jalan terbaik buat lo"
...*...
...*...
Sudah terhitung satu tahun Glen tinggal di London, memilih tak pernah pulang ke Indonesia dan melakukan jalan hidupnya di negeri orang itu.
Glend sudah sangat rindu kedua orangtuanya. Akhir-akhir ini, Annie tak pernah lagi memberi kabar, bahkan Glend tak bisa mendapat kabar apapun dari berbagai telepon yang dia tuju ke beberapa nomor terdekat keluarga mereka.
Ting...ting...
Glen yang saat itu asik merevisi proposal, tersentak kaget saat mendengar suara notifikasi.
Dia mengucek matanya yang ber-air.
"Mama!!!" Glend melotot saat membaca pesan itu.
'Papa durhaka♡'
Glen, papa udah ajuin cuti kuliah kamu selama seminggu, tiket pesawat juga udah papa pesan lewat online, nanti minta dari penjaga depan gedung apartemen. Mama lagi dirawat di RS, cepet pulang, jangan jadi anak durhaka.
Glend langsung berlari ke arah lemari, tangannya mengacak-acak isi lemari dengan brutal.
Dia hanya membawa sebuah tas ransel, berisikan sepasang baju, laptop, iPad, dompet, charger dan ponsel.
Dia merasa sangat khawatir, entahlah seakan ada hal yang lebih besar akan terjadi.
...-o0o-...
...Bacaaaaaa.......
...Makasih banyak 😅...
__ADS_1
...-o0o-...