
...-o0o-...
...HAPPY READING...
... #Glendale#...
...-o0o-...
Siapa anak itu? Kenapa aku merasa dekat dengannya. Aku sangat cemas saat pulang kantor tak sengaja menabrak anak kecil. Aku meringis saatat melihat anak itu tergeletak lemas di atas asal. Dengan hati yang gundah, aku mengangkat tubuh mungil anak itu, menggoyang-goyangkan tubuhnya berharap anak kecil itu sadar.
Aku pun membawanya masuk ke mobil, dan langsung melesatkan mobil itu membelah jalan raya ibukota. Setelah beberapa menit, kami sampai di depan rumah sakit papa. Aku tak mau membawa anak ini ke rumah sakit lain, melihat lukanya yang lumayan serius.
Setelah mengurus administrasi dan segala keperluan, aku kembali ke ruangan anak itu. Menatapnya dari luar saja, sebelum waktu yang ditentukan datang untuk memperbolehkan aku masuk.
Aku merasa familiar dengan wajahnya. Tapi, setauku belum pernah aku bertemu dengan anak itu, setelah aku pulang dan mulai bekerja di negara ini lima bulan yang lalu.
"Akhh... semoga dia tidak apa-apa" Aku takut, entahlah kenapa bisa aku secemas ini. Aku sudah menyuruh David -tangan kananku- untuk mencari keluarga anak ini. Was-was juga jika benar anak ini amnesia.
Setelah waktu sudah terpenuhi akhirnya aku masuk. Duduk di samping kasur rumah sakit. Aku menatap wajah anak itu, tampan sangat tampan.
Tanganku tergerak, menggenggam tangan mungilnya yang terdapat sedikit goresan akibat jatuh di atas aspal tadi. Aku mengusap tangan itu dengan lembut, kulit anak ini sangat halus, putih dan bersih.
Aku menciumnya, menempelkan tangan mungil itu ke pipi kiri ku, sembari menatap wajah anak yang masih asik menutup mata.
"Ba-bangunlah!!" Aku sedikit gugup, saat aku merasakan tangan itu lumayan dingin. Aku merasa, aku seperti seorang ayah yang sedang menemani anaknya yang sakit.
"Umh..." Anak itu mengeluarkan sedikit suara, membuat aku tersentak dan menatapnya lekat. Tapi, kembali tak ada pergerakan. Aku menghela nafas panjang, kembali menggenggam tangan mungil itu, menyalurkan rasa hangatnya.
...*...
Terhitung sudah dua hari anak itu tidur, belum bangun juga setelah dilakukannya perawatan. Aku merasa sedih menelungkupi hatiku.
Saat sedang menyusun beberapa macam bunga di dalam vas, untuk membuat ruangan ini terlihat hidup. Tiba-tiba aku mendengar suara lagi.
"Emmm..." Sudah sangat sering anak kecil ini menggumamkan suara-suara kecil, tapi tak kunjung bangun. Aku langsung meletakkan vas bunga tadi ke atas nakas. Kemudian duduk di kursi dekat kasur.
Mataku terbelalak, anak itu mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Tangannya tergerak menyentuh keningnya yang terdapat plester coklat kecil.
"Hey boy?" Aku mendekatkan wajahku, menatap wajah bingung bocah kecil itu.
__ADS_1
"Pusing" Dia memegang kepalanya, maniknya menatap ku penuh tanya. Jantung ku terpacu makin cepat, ada apa ini? Kenapa wajahnya sangat mirip denganku saat masih kecil. Apalagi tatapan matanya, seperti kembaran ku yang hilang saja.
"Sini p-papa usap keningnya, biar gak pusing lagi" Aku sedikit tertegun, saat dengan beraninya mengaku sebagai papa dari anak ini.
"Papa?" Dia terlihat bingung, kemudian dia mengangkat tangannya, tangannya yang mungil itu seakan ingin menggapai ku.
Aku mendekat, dan yang tak terduga bocah ini langsung memelukku erat, sambil terisak pelan.
"Kenapa boy?" Aku mengusap kepalanya, otakku dipenuhi banyak pertanyaan.
"Lindu" Bocah itu menggumamkan kata rindu. Aku terkekeh, kenapa bisa dia rindu saat kami baru pertama kali ini ketemu.
"Boy... baik-baik aja kan? Masih ingat papa? Ayo, nama kamu siapa?" Aku berpura-pura mengetest ingatannya. Manatau benar kata dokter, jika anak ini amnesia.
Dia melepaskan pelukannya, dan mulai menatapku satu. "Nama? Papa?" Dia malah mengulangi kata tadi, kenapa ini.. apa jangan-jangan dia benar-benar amnesia?
"I-iya!" Aku kembali gugup, saat mata bulatnya itu menatapku terpaku.
Anak itu menggeleng pelan, mulai memegang kepalanya yang mungkin kembali pusing. Aku mengusap keningnya lagi, tak akan memaksa jika memang dia tak ingat.
Aku mengingat kata-kata dokter beberapa waktu yang lalu.
"Tidak apa-apa Dylan, papa disini!" Aku memutuskan, akan merawat anak ini, hingga keluarganya ditemukan.
...*...
...*...
Sudah satu minggu aku merawat Dylan. Akhirnya kami diperbolehkan pulang juga. David belum juga menemukan info tentang keluarga anak ini, dia juga sudah menanyakan beberapa kantor polisi, dan tak ada orangtua yang mengeluh kehilangan anak.
Apakah Dylan memang ditakdirkan untuk menemaniku? Menjadi penghibur duniaku yang datar ini? Aku bersyukur, jika Tuhan mendengar doa-doa ku selama ini. Aku selalu berdoa agar diberikan teman, dan terwujud akhirnya aku memiliki Dylan. Jika dalam waktu satu bulan orangtua Dylan tak kunjung datang, aku akan mengangkat Dylan sebagai anak.
Aku menggenggam tangan Dylan dengan hati-hati. Tadi aku sangat ingin menggendongnya. Tapi, dengan sifat keras kepalanya, dia menolak untuk digendong, dan bersikeras untuk jalan saja. Dan aku hanya pasrah, membiarkan Dylan jalan kaki.
Kami sudah sampai di depan rumah Ayah. Sebenarnya aku punya apartemen, tapi demi kenyamanan nusa dan bangsa, aku akan menjelaskan kejadian satu Minggu ini dulu kepada mereka. Supaya tidak ada kesalahpahaman jika mereka mendengar berita ini dari orang lain.
Aku dan Dylan berjalan beriringan memasuki rumah. Memang aku tak perlu lagi mengetuk pintu, karena sudah terbiasa masuk langsung seperti ini.
Genggaman tangan Dylan semakin mengerat, seakan dia merasakan lingkungan baru yang perlu adaptasi.
__ADS_1
"Eh... Glen?" Mama yang mendengar suara langkah kaki berbalik dari kesibukannya menyeduh teh.
"Siapa?" Mama mendekat saat penglihatannya menangkap sosok asing di sampingku ini. Mama terlihat tersentak, dan matanya menatapku tajam.
"Papa!" Dylan meringsut, menggenggam tangan ku semakin erat. Dylan takut dengan tatapan mama.
"M-mama jangan salah paham dulu!" Aku langsung menutup mata Dylan, tak mau Dylan melihat tatapan marah mama.
"Jelasin!" Mama beranjak pergi, mendekati teh tadi dan membawanya naik ke atas. Pasti itu untuk papa yang mungkin sedang sibuk di ruang kerjanya.
Biasanya mama akan sangat antusias pada anak kecil, tapi tidak dengan saat ini. Mungkin Mama sedang kecewa, padahal kan mama tak tau hal yang sebenarnya.
Setiap orang juga pasti akan salah paham, melihat aku dan Dylan. Karena memang wajah kami terlihat mirip, dari sudut manapun. Kurasa, Dylan akan berwajah sama dengan ku jika sudah dewasa nanti.
Aku mengajak Dylan ke kamarku. Untuk saat ini, biarkan dia disini dulu. Setelah menyuruh pelayan membuatkan susu, dan Dylan sudah meminumnya, aku pun menyuruh Dylan untuk tidur.
...*...
...*...
Aku berjalan mendekati ruang kerja ayah. Setelah mengetuk dan mendapat sahutan dari dalam, aku pun masuk.
"Jelaskan... Apa bener apa yang mama kamu bilang?" Belum juga duduk, papa sudah to the point.
"Sebenarnya-" Aku pun menjelaskan semua hal yang terjadi dalam Minggu ini. Keduanya menyimak tak memotong cerita yang berjalan.
"Mama gak percaya! Mukanya mirip banget sama kamu!" Aku menghela nafas. Bagaimana ini? Bagaimana cara menjelaskannya, supaya mereka percaya?
.......
...-o0o-...
...Mwehehehe.....
...Ada Dylan......
...Gimana nih sama part kali ini?...
...-o0o-...
__ADS_1
.......