HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 26 •|Lamaran|•


__ADS_3

...•||•...


...HAPPY READING...


...•||•...


Akhirnya Annie menyuruh Glen dan April untuk beristirahat. Untuk urusan pernikahan, akan Annie dan Giedo yang urus.


"Kamu sama anak-anak nginap dulu ya, toh juga bentar lagi kalian akan tinggal disini." Annie membuka suara saat April terlihat bergerak gusar, seakan ingin pulang.


"Gak ada penolakan!" Itulah ultimatum terakhir Annie, yang pastinya tidak bisa ditolak April.


"Gakpapa program lagi, supaya rumah rame!" Annie berucap sambil mengerlingkan matanya. Saat Glen dan April beranjak menaiki tangga ke lantai atas.


April hanya tersenyum malu, sedangkan Glen diam saja. Hatinya gelisah.


"Kita tidur satu kamar?" Glen membuka suara, sambil menatap April yang asik melangkah. April hanya menatap lurus ke depan, mengabaikan Glen yang berjalan di sampingnya.


"Aku tidur di kamar tamu aja." Ucap April tanpa menatap Glen. Glen menghirup udara banyak-banyak, sebenarnya sebelum tidur dia ingin berbincang dulu dengan April, membicarakan banyak hal.


"Kenapa?" Glen menghentikan langkah kaki April.


"Apanya?" April berbalik bertanya.


"Kenapa gak mau satu kamar sama aku?" Glen menatap April sendu.


"Kita kan belum nikah!" April memutar bola mata.


"T-tapi, pas kita buat Gabriel sama Gabrian kita gak nikah waktu itu." Glen terlihat seperti anak kecil, yang merengek minta dibelikan permen.


"Aku waktu itu dirasukin iblis, makanya sampe gitu." Glen hanya mampu menghela nafas.


"Ya udah, aku yang tidur di kamar tamu, kamu tidur di kamar kita aja." Glen memasuki kamarnya, dan mengangkat tubuh semok Gabrian.


"Buat guling, enak di peluk." Ucap Glen saat April menatapnya penuh tanya. Akhirnya April hanya bisa menganggukkan kepalanya, sambil mengantarkan Glen ke pintu.


Glen tidur di kamar tamu bersama Gabrian. Sedangkan April tidur di kamar Glen dengan Gabriel dan Aldo.


...><...


Esok paginya, keluarga Glen sudah berkumpul di ruang tamu. Papa Giedo memangku Gabrian, mama Annie memangku Gabriel, dan Aldo duduk diapit oleh April dan Glen.


Sudah terlihat jelas, kalau papa Giedo akan membentuk kubu dengan Gabrian yang lebih akrab dengannya, daripada Gabriel yang selalu membuat pria paruh baya itu kesal.


"Papa sama mama sudah memutuskan, kalau dua minggu lagi kalian akan menikah."


Glen dan April sama-sama terkejut, saling menatap penuh tanya.

__ADS_1


"Kok cepet banget ma?"


"Lebih cepat lebih baik Glen. Supaya kalian bisa kasih mama sama papa cucu yang banyak." Annie berseru antusias.


"Gimana kalau kita kasih adik yang banyak buat Glen?" Giedo mengerlingkan matanya jahil ke arah Annie.


"Udah tua juga." Annie memutar mata, membuat April dan Glen terkekeh geli.


"Oh iya, soal orangtua April. Mama udah cari tau, dan udah undang keluarga April untuk datang dua hari lagi. Mereka menyanggupi, dan maaf ya April, mama bertindak tanpa minta izin dari kamu." Annie menatap April merasa bersalah.


"Gakpapa ma!" April tersenyum, dia bertanya-tanya, bagaimana caranya keluarga Glen bisa tau orangtua April?


Dan, bagaimana reaksi keluarga April tentang pernikahan mendadak ini?


"Mama belum bilang kalau kamu mau nikah, mama cuma minta tolong, kalau April mau dilamar."


"Soal anak-anak yang sebenarnya adalah anak Glen udah mereka tau ma?" Giedo membuka suara, karena memang dia tak ikut campur disini.


"Belum, makanya mama undang mereka, untuk meluruskan masalah ini. Dan bermaaf-maafan." Glen hanya diam saja, ikut saja dengan seluruh perintah orangtuanya.


Setidaknya, satu harapan Glen. Semoga keluarga April memaafkannya dan memberikannya restu untuk mengikat anaknya.


...><...


Glen memandang taman belakang yang sedang diacak-acaki oleh tiga bocil.


Glen sudah mengambil cuti, begitu juga dengan April. Manager April sempat marah-marah, karena April sudah memakai waktu cutinya dulu.


Akhirnya, Glen'lah yang menangani cuti April. Bahkan, tanpa sepengetahuan April, Glen sudah menarik berkas April dari kantor. Lebih tepatnya, April sudah resign dari kantor itu. Menurut Glen, lebih baik April di rumah saja, mengurus anak-anaknya dan juga Glen sendiri.


Glen mendekati April yang sedang duduk di kursi taman, juga menonton tingkah ajaib ketiga putranya.


"Ikut aku sebentar." Glen menggenggam tangan April, membuat si empu terkejut.


"Kemana?" April menatap Glen penuh tanya.


"Hm, itu!!" Glen malah menggaruk kepalanya, sepertinya akan sangat susah mengajak April untuk beranjak dari tempat itu.


Dengan gerakan pelan, Glen berjongkok di depan April, dan menggenggam kedua tangan April.


"Mungkin, lamaran ini tak romantis, karena aku tak pernah tau bagaimana cara melamar yang baik dan benar." Glen menggenggam tangan April, dan berlutut di depannya.


"Aku Glendale melamar kamu April, untuk menjadi pasangan hidupku, menemaniku kala susah dan senang. Menjadi ibu dari anak-anak ku. Dan bersamaku membangun cinta sampai tua." Glen mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sakunya.


"Will you marry me?" April berkaca-kaca saat melihat gulungan rumput membentuk cincin itu.


"A-aku belum sempat beli yang asli." Glen terkekeh kaku, dia merasa malu saat ini.

__ADS_1


"A-AKU MAU!!" April langsung memanjat tubuh besar Glen. Mereka berpelukan untuk waktu yang lama.


"Love you sayangku!?" Glen mencium seluruh wajah April, membuat si empu terkekeh dan membalas mencium pipi Glen.


Tiba-tiba sebuah benda terlempar kearah Glen, membuat pria itu sadar, bahwa sedari tadi, dia hanya melamun.


Glen mengalihkan pandangan, dan melihat Gabrian yang tertawa terbahak-bahak. Ternyata, bulatan tanah yang Gabrian lempar tadi.


"Papa jelek!!" Gabrian dan Gabriel menertawakan Glen yang masih shock.


Glen akhirnya bangkit dan mengejar dua bocah nakal itu.


"Kalau papa tangkap, papa gelitikin!!" Seru Glen, membuat kedua bocil itu tertawa dan berlari. Glen mengejar dengan langkah yang dia buat kecil.


Glen mengusap peluh, saat dia tak mampu menangkap kedua bocil pengganggu lamunan indahnya tadi.


"Ini!!" April datang, dan menyodorkan segelas air putih.


"Makasih." Glen tersenyum manis, tiba-tiba dia teringat lamunannya.


"April, will you marry me?" April mengangkat alis, saat Glen terengah-engah mengucapkan kalimat itu.


"Kenapa masih nanya? Toh juga kita bakal nikah dua minggu lagi!" Ucap April tanpa beban.


Glen terkekeh miris, padahal dia ingin membuat lamaran. Eh malah digagalkan oleh April yang malah tak cocok dengan keinginannya.


"Seenggaknya jawab 'Yes i Will baby!' Gitu kek!!" Glen menatap April penuh harap.


"Iye-iye, i will!!" April memutar bola mata, hal itu malah membuat Glen tambah melotot. April tak menghargai usaha romantisnya sama sekali.


"Wlee.... papa kejalll!" Gabriel memeletkan lidahnya, sambil berlari.


Glen mengusap kepala, saat sendal mungil itu mendarat tepat di kepalanya.


"Au ah!!" Glen mendesah frustasi, memilih mengecup kilat bibir April. Setelah itu, langsung lari ke dalam rumah.


"Glen!!!" Glen terkekeh mendengar teriakan itu.


...•...


...•...


'Biarkan mereka bersenang-senang dulu:v'


...•||•...


...NAH •👄•...

__ADS_1


...•||•...


__ADS_2