HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 22 •|Terungkap sudah|•


__ADS_3

...-o0o-...


...HAPPY READING...


...#AUTHOR#...


...-o0o-...


Glen masih bisa mendengar bisikan-bisikan beberapa karyawan saat ini. Meski para karyawan itu terlihat masa bodoh, tapi otak pintar Glen sudah pasti bisa mengetahui apa yang mereka pikirkan, karena tatapan mata mereka itu.


Saat ini, Glen dan Dylan sudah melangkah di dalam lobi gedung perusahaan, mereka hendak memasuki lift khusus untuk lantai 5, dan 6 yaitu tempat ruangannya.


Glen akhirnya mengangkat tubuh Dylan, mempercepat langkahnya memasuki lift.


"Eh, ternyata direktur baru itu udah punya anak! Gak nyangka ya, padahal aku mikir dia itu baru lulus kuliah!" April dapat mendengar perbincangan beberapa teman satu divisinya, April belum kenal dengan direktur baru itu.


Saat pengenalan itu, April hanya bisa menunduk karena perutnya sudah sangat sakit, wajahnya terlihat menahan sesuatu yang perlu dibuang, setelah acara berakhir dia langsung ke kamar mandi untuk membuang.


April mengedikkan bahu acuh, dia tak terlalu perduli dengan atasannya yang sedang dibicarakan itu. April juga yakin, dia tak akan berurusan dengan atasannya, karena untuk pengantaran berkas, hanya manager mereka yang akan berurusan kesana.


"April, bisa tolong antarkan ini ke ruangan pak Wairde. Saya ada janji temu dengan manager divisi Humas." Baru saja April bilang tidak akan ketemu dengan direktur itu, eh si Burhan botak sudah langsung membombardirnya dengan tatapan tajam penuh paksaan.


"Baik pak!" April langsung mengambil map coklat dari tangan tersangka pembuat moodnya memburuk, dan bergegas menuju lift khusus ruangan direktur. April sedikit bingung, dia merasa familiar dengan nama Wairde.


April tak henti-hentinya menghela nafas, matanya memandang pintu coklat itu dengan lesu, dia malas dan takut secara bersamaan.


"Mama?" April terkejut, dia mendengar suara familiar. April menoleh ke samping, dan mendapati seorang anak yang sedang duduk memunggunginya.


"Mama Dylan cantik, makanya mama cici cantik!" April terdiam, matanya masih menatap lekat punggung mungil itu, anak itu sedang memainkan boneka pinguin kecil dan induknya.


"Gabriel?" April mendekat dan memutar tubuh anak itu. Dylan tersentak kaget, akhirnya Dylan menangis karena terkejut.


"Anak mama, mama disini sayang!" April menangis histeris, memeluk tubuh mungil Gabriel erat, penuh kasih sayang. April merasa rindunya seakan meledak kuat.


April masih memeluk tubuh Gabriel erat, meski tangis Gabriel semakin kencang pun, April tak mengurangi erat pelukannya.


"Mama kangen banget sama Gabriel. Huhuhu." April semakin terisak sambil mengusap-usap punggung putranya itu.


"Hiks... e-pasin, Dylan cecek." * lepasin, Dylan Sesek. Suara Gabriel/Dylan terdengar parau. Hal itu membuat April melepaskan pelukannya, dan menatap lekat wajah anaknya.


"Ci-ciapa? Mama Dylan?" Dylan mengusap pipinya, tadi dia menangis karena terkejut saja, tapi setelah melihat wajah April membuat bocah kecil itu terdiam, karena merasakan perasaan familiar.

__ADS_1


April mengangguk dalam diamnya, dia terlihat bingung. Kenapa anaknya terlihat tidak mengenalnya sama sekali?


"Ini mama sayang, kamu gak inget sama mama? Ini mama Gabriel." April menangkup kedua pipi bulat Gabriel.


"Mama?" Gabriel mendekat, dan memeluk tubuh April. Gabriel mengikuti instingnya saja, tak ada keraguan dalam hati anak itu.


"Ehem." Suara deheman itu membuat April mendongak, dan langsung bertemu tatap dengan seorang pria yang terasa familiar.


"April?"


"Glen?" Keduanya serempak berucap, dan saling menatap dengan durasi yang cukup lama. Sebelum akhirnya April mengalihkan pandangannya dan mengusap pipinya yang basah.


"Dylan? Ternyata kamu disini, masuk dulu ya, papa mau bicara dulu sama tantenya." Glen menuntun Dylan memasuki ruangannya.


"Tunggu, ba-bagaimana bisa Gabriel jadi Dylan?" April menatap Glen penuh tanya.


Glen mengerjit bingung.


"Gabriel? Maksudnya?" Glen membalas tatapan April dengan raut bingung juga.


"Itu, kita harus bicara, tapi jangan membawa Gabriel pergi." Glen mengangguk, dan membawa April dan Gabriel ke dalam ruangannya.


...><...


"Iya, waktu itu kami terpisah karena aku lalai saat belanja di pasar." April menceritakan semuanya, dia juga sangat ingin mendengar penjelasan Glen. Mengapa pria itu bisa bersama anaknya, atau anak mereka kah?


"Jadi, sekarang ceritakan, bagaimana kamu bisa menemukan Gabriel, dan tinggal bersamanya?"


"Huft, waktu itu aku tak sengaja menabrak Dy- eh Gabriel di jalan raya dekat pintu utama pasar itu. Akhirnya aku membawa Gabriel ke rumah sakit, merawatnya selama beberapa hari, hingga Gabriel siuman dan-" Glen menggantungkan ceritanya.


"Dan?" Meski shock karena mendengar anaknya kecelakaan, April masih sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Glen.


"Dan, Gabriel lupa ingatan, aku tak tau harus berbuat apa, akhirnya aku menamainya Dylan. Aku sudah membuat laporan anak ditemukan di kantor polisi, tapi belum ada orangtua yang mengambil Gabriel."


Belum sempat menyelesaikan ceritanya, April langsung memotong.


"Tapi, aku sudah membuat laporan anak hilang, kenapa tidak ada laporan anak ditemukan? Aku tidak berbohong!!" April sedikit emosi, dia merasa ada permainan disini.


"Hah? Aku bersumpah sudah membuat laporan, tapi tidak ada kabar dari pihak kepolisian." Glen sama-sama bingung, dia tak tau apa sebenarnya yang terjadi disini?


Karena pembicaraan itu, Glen lupa akan keinginannya ingin menceritakan tentang hasil tes DNA yang dilakukan oleh kedua orangtuanya itu.

__ADS_1


"Huft, sudahlah intinya Gabriel sudah ditemukan, terimakasih. Bisakah aku membawanya pulang?" April harus segera pergi, dia tak mau Gabriel pisah lagi darinya.


Glen menelan ludahnya susah payah, seperti ada paku yang tersangkut disana.


"Apakah memang benar,,, anak itu, anak kita?" Meski Glen sudah memastikan, tapi dia ingin mendengar pengakuan langsung dari mulut April. LAGI!!!


"Cih, sudah sedari dulu aku mengatakan mereka adalah anakmu, tapi apa? Kau mengatakan jika itu adalah A-N-A-K J-U-L-I-O!" April menekankan dua kata terakhir. April merasa, Glen sudah tau akan kebenaran bahwa Gabriel adalah anak kandungnya.


"Jadi, aku anggap bahwa mereka tak punya ayah. Kenapa juga anak-anak ku harus punya ayah bodoh seperti mu. Dan, waktu itu kamu terlalu pengecut, hanya untuk tes DNA saja tak peduli, tapi tak apa aku juga muak dengan mu." April hendak bangkit mendekati Gabriel.


"Mereka? Apa maksud mu? Bukankah hanya Gabriel?" Glen malah terfokus pada kata mereka. Dia tak memperdulikan kalimat-kalimat menyakitkan itu, Glen hanya ingin memastikan sesuatu lagi.


"Gabriel mempunyai adik kembar, namanya Gabrian." April tersenyum miris, sebelum melangkahkan kakinya mendekati Gabriel yang sedang duduk di sofa lain tak jauh dari tempat mereka tadi.


"Sayang, pulang yuk sama mama!" April hendak mengangkat tubuh Gabriel, tapi anak itu langsung berdiri, berlari ke arah Glen.


"Cama papa uga ma?" Tanyanya dengan mata berbinar.


April terdiam, dia sangat ingin berkumpul dengan keluarganya, lengkap tanpa kurang satu apapun. Tapi,


"Kamu bohong!!" Glen malah kembali memunculkan masalah baru.


"I-ini gak mungkin!" Glen berucap, sebenarnya dia lebih ke merasa bersalah, telah memfitnah April waktu itu. Glen bukannya sedih karena ternyata anak-anak itu adalah anak-anaknya, tapi dia khawatir dan ragu... Entahlah, Glen pusing.


"Memang, mereka bukan ANAKMU!!! Makanya, gak usah tunjukin muka kamu lagi di depan kami!" April berlari, mengangkat paksa tubuh Gabriel yang meronta-ronta ingin memeluk Glen.


"Selamat tinggal!!" April keluar dari ruangan Glen, diiringi tangisan Gabriel yang semakin kencang.


...•||•...


...CUIH... DRAMA!!...


...Kok bisa yah, papa Aldo°_°, Gabriel sama Gabrian...


...itu plin-plan. Btw, Entar author buat...


...jadi sad boy, baru tau rasa....


...Glen : (Bilek) ada reader yg bakal...


...dukung gue-_- *muka bangga...

__ADS_1


...To be continued...


...•||•...


__ADS_2