HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 23 •|Kesempatan kedua|•


__ADS_3

...-o0o-...


...HAPPY READING...


...#AUTHOR#...


...-o0o-...


Glen menatap pintu dengan tatapan kosong, dia belum sepenuhnya sadar akan kesalahannya.


"April?!" Glen akhirnya berdiri dengan nafas memburu.


"Maafin aku." Glen menatap pintu dengan tatapan sendu. Glen akhirnya beranjak, ingin mengejar kedua orang yang mungkin berarti dalam hidupnya. MUNGKIN??


"Bodoh sekali kamu Glen, kenapa kamu malah memperumit masalah?!" Glen merutuki diri, sembari mempercepat langkahnya.


"April, maaf-maaf!!" Glen berteriak saat melihat April sudah sampai di lobi. Dari lift transparan ini, Glen melihat semuanya. Glen tak perduli dengan karyawan yang melihatnya penuh tanya itu.


Glen mempercepat larinya, mengabaikan tatapan kepo beberapa karyawan disana. Matanya dapat melihat April yang masih menunggu angkutan umum di pinggir jalan raya.


Glen berlari dan memeluk tubuh April, tangannya bergerak mengusap kepala Gabriel yang masih sesunggukan.


"Makasih sayang, makasih karena gak pernah bohongin aku, makasih karena gak selingkuh sama Julio. Hiks, makasih karena udah melahirkan anak-anak kita kedunia ini. Aku mohon, aku mohon kasih aku kesempatan kedua. Aku tau, kamu pasti muak dengan sikap ku yang plin-plan, kamu pasti kesal kan? Hiks... Hiks." Glen menangis terisak, telinganya sudah tak mendengar suara sesunggukan dari Gabriel lagi.


Glen tersenyum dan ingin mencium puncak kepala Gabriel. Eh? Glen membuka mata dan mendapati April yang masih menatapnya bingung.


"Enteng banget ya ngomongnya!" Sudah cukup, sudah cukup selama ini April pasrah akan keadaan. Kali ini, dia akan benar-benar membuat otak beku Glen mencair, dan sadar akan kesalahannya.


"M-maaf, a-aku-" Glen menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia jadi canggung sendiri saat ini.


"Kayaknya bagus kalau aku kasih kesempatan kedua buat kamu, tapi..." April tersenyum tipis, bukan terlihat manis bagi Glen. Glen malah bergidik ngeri, merasa ada sebuah rencana yang telah April susun.


"Kamu harus benar-benar sadar, bahwa kesalahan kamu itu fatal. Dan, kamu gak akan mengulanginya lagi." Batin April penuh tekad.


"Oke thanks baby, jadi sekarang mending kita pulang, aku gak sabar ketemu Gabrian." Glen mengabaikan kecemasannya tentang maksud tujuan April yang akan memberikannya kesempatan kedua itu.


April mengangguk saja, keduanya akhirnya berjalan beriringan mendekati parkiran. April harus membuat semuanya berjalan lancar, April tak mau lagi memenangkan egonya.


Awalnya April ingin membalas Glen, dengan acuh tak acuh padanya, dan membawa Gabriel dan Gabrian pergi dari Glen. Tapi, April sadar, hal itu tak sepenuhnya benar, kebahagiaan anak-anaknya adalah nomor satu.


"Kapan kamu siap ketemu mama sama papa lagi?" Glen membuka suara saat mobil sudah melaju.


"Tunggu hati aku tenang dulu, aku masih ngerasa ini kayak mimpi. Dalam satu hari, permasalahan kita bisa terungkap, padahal kita buang-buang waktu selama beberapa tahun." Glen mengangguk saja, toh dia juga masih merasa shock dengan semua ini.


Ini diluar ekspektasinya, belum pernah Glen berpikir bahwa Dylan adalah anak April, anak mereka.


...><...

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama duapuluh lima menit, mereka akhirnya sampai di depan kontrakan kecil.


"Eh, aku lupa!!! Aku belum jemput Aldo!" April bergegas memasuki kontrakan, membuka kuncinya untuk meletakkan tas ke dalam rumah.


"Aldo siapa?" Glen terlihat bingung, tangannya masih asik menepuk-nepuk punggung Gabriel yang tertidur di gendongannya.


"Kakak Gabriel sama Gabrian." April menjawab sekenanya.


"Lah, kembar tiga lagi?" Glen membulatkan mata tak percaya.


"Aish, panjang ceritanya. Pokoknya, kamu jemput Gabrian dulu di rumah tetangga. Rumahnya yang itu, biar aku jemput Aldo ke sekolah!" Glen terdiam, otaknya memikirkan kata sekolah.


"Sudah sekolah?" Glen ingin bertanya lebih, tapi matanya tak melihat keberadaan April disana.


...><...


"Maaf bu, Gabriannya ada?" Glen menyapa seorang wanita setengah baya itu dengan ramah.


"Gabrian? Kayaknya main di depan deh mas, mas'nya siapa ya?" Wanita itu meneliti pakaian Glen, dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Saya papanya bu." Glen menjawab dengan ramah, Glen pun memilih beranjak mendekati depan rumah yang di tunjuk ibu tadi.


"Kasep pisan eu." Glen mengerjit bingung, tapi dia memilih terus beranjak ke depan rumah, daripada menanyakan arti kasep pisan itu.


Glen masih menggendong Gabriel yang masih asik terlelap, matanya menjelajahi seluruh halaman depan rumah itu.


"Kalian semua namanya Gabrian yah?" Glen menggaruk tengkuk sambil terkekeh melihat wajah-wajah penuh tinta itu, Glen tak mampu mengenali wajah mana yang jadi adik kembar Gabriel.


"Itu apa yang di mukanya?" Glen bertanya pelan, dan meringis saat melihat seorang bocah yang terkikik, terdengar jahil.


"MALI BEAH LUMAHNYA, BEAH LUMAH MELEKA, JAIKAN LAH ISANA, UAT EKA BAAGIA!!" (Mari bedah rumahnya, bedah rumah mereka, jadikanlah istana, buat mereka bahagia.) Anak itu berdiri sambil menyengir kuda, dia berjalan berkeliling menyanyikan lagu bedah rumah.


Teman-temannya yang lain ikut-ikutan, dengan wajah belepotan penuh tinta, arang atau apa? Glen tak tau, intinya wajah para bocil itu mengkilap hitam seperti tukang bengkel yang tidak cuci muka dua minggu.


"Astagahhh... Gabrian!!!" Dari belakang Glen, dia bisa mendengar suara teriakan April.


"Ya ampun, muka kamu kenapa belepotan gini hah?" April menarik tangan Gabrian. Glen terdiam, ternyata si jahil yang tadi adalah Gabrian.


"Perasaan aku gak sejahil ini deh pas kecil, atau sifatnya nurun dari April ya?" Glen cekikikan, menatap April yang sudah menarik paksa Gabrian untuk pulang.


Glen mengekori April, hingga mereka sampai di depan pintu kontrakan.


"Papa?" Glen menurunkan pandangan, dan bertemu tatap dengan bocah berkaos orange dengan celana putih.


"Masuk dulu, baru aku jelasin!" Ucap April pelan, Glen menurut saja, kakinya sudah dipeluk bocah yang mengucapkan papa tadi.


"Papa gak ingat Aldo?" Aldo menatap Glen dengan binar matanya.

__ADS_1


"Papa ingat kok?" Glen tersenyum kaku, dia meletakkan Gabriel di atas karpet, dan ikut duduk disana.


"Ya ampun, muka kamu kok bisa sesusah ini bersihinnya!" April menggerutu dari arah dapur.


"Kalian pake apasih hah?" Glen yang awalnya ingin duduk malah tak jadi. Glen berdiri dan mendekati kamar mandi yang terletak di dekat dapur.


"Idol." Gabrian tertunduk saat mendengar kemarahan ibunya.


"Odol?" April menggaruk kepalanya pertanda bingung.


"Idol ma, idol!!" Gabrian kembali lagi dengan sikapnya, tak menunduk takut seperti tadi.


"Spidol, aku punya hand sanitizer, itu bisa kok bersihin bekas coretan spidol." Glen membuka suara saat April dan Gabrian sibuk berdebat.


"Ya udah ambilin gih." April menyuruh dengan nada kesal, April masih belum terbiasa dengan keberadaan Glen lagi.


Glen akhirnya pergi, mengambilnya Hand sanitizer. Setelahnya, Glen membantu April mengusapkan hand sanitizer ke wajah Gabrian.


Setelah pertempuran yang menghabiskan waktu sepuluh menit, dengan ditonton Aldo dan Gabriel yang sudah terbangun, akhirnya pembersihan itu selesai.


Glen terpana, wajah anaknya ternyata sangat tampan, Glen lebih terpesona dengan wajah ini, karena wajah Gabriel yang sangat mirip dengan Glen membuat Glen merasa hal itu biasa saja, dan lebih terpana dengan Gabrian karena itu perpaduan wajahnya dan April.


"Wah, anak papa ganteng banget!" Glen berseru tanpa sadar, hal itu membuat keempat makhluk hidup itu menatap Glen dengan tatapan penuh tanya masing-masing.


"Siapa? Papa Glen kan papa Al." Gabrian malah menyebutkan nama salah satu tokoh di sinetron kesukaannya. Otak Gabrian memang sudah tercemar setelah berteman dengan anak-anak tetangganya.


"Papa Al ndasmu!" April malah menoyor kepala Gabrian membuat bocil itu mendesis, tapi memilih diam lagi, tak mau protes.


...•||•...


...Gimana? Apa terlalu cepat buat papa Glen? Mau kita buat dulu dia nangis darah?...


.......


.......


...Visual Glen :...



...IG : @rafaelmiller...


.......


.......


...Jangan lupa follow IG author : @jerni_as...

__ADS_1


...•||•...


__ADS_2