HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 12 •|Tuyul Ucul|•


__ADS_3

...-o0o-...


...HAPPY READING...


... #Author#...


...-o0o-...


Glen mengetuk pintu kost April dengan takut-takut. Saat ini, dia dengan segala kegugupannya mencoba mendatangi kost-kostan April.


Sebenarnya, Glen tak pernah berpikir untuk datang ke kost itu. Tapi, dengan paksaan sang ibu, dia akhirnya mendatangi kost-kostan sang mantan.


"Glen, mama masih gak yakin. Soalnya salah satu anak yang di foto itu udah kayak umur tiga tahun, sedangkan April waktu itu gak hamil, gimana bisa dia punya nak sebanyak itu"


Itu kata Annie terakhir kali. Dan langsung memaksa Glen untuk meminta penjelasan langsung dari yang bersangkutan.


Tok...tok...tok


Untuk yang ketiga kalinya, Glen mengetuk pintu dan belum ada tanda-tanda manusia akan membuka pintu itu.


Glen menghela nafas panjang. Kepalanya yang pusing tak sebanding dengan jantungnya yang sesak entah karena apa.


Tok...tok...tok


Sungguh, Glen tak menginginkan hal ini, berdiri lama panas-panasan di tempat sepi.


Kriek...


Pintu terbuka, Glen yang awalnya menunduk memainkan kukunya, mulai mengangkat kepala. Matanya tak mendapati apa-apa di depan, jadi siapa yang membuka pintu? Glen yang awalnya gugup malah jadi takut, dia mengusap lengannya yang tiba-tiba merasa dingin.


"Eihhh" Glen yang mendengar suara itu melarikan matanya ke segala arah. Matanya masih belum menemukan sesosok manusia.


"Emmmm" Lagi Glen mendengar suara itu. Glen perlahan melangkah mundur, tekatnya sudah bulat, dia akan kabur dari setan pengganggu itu.


Plak...


Glen yang ingin berlari terhenti seketika, dia merasa kakinya kaku, seperti ada yang memeluk ditambah suara tamparan pada betisnya.


'Tuyul?' Gumamnya sambil mulai menoleh dengan raut takut. Mata Glen menemukan bongkahan bulat bergerak-gerak memeluk kakinya.


"Papa?" Bongkahan bulat tadi mendongak, menunjukkan wajah seperti bakpao.


"Aaaa,,,, tuyul ucul" Glen langsung berjongkok, mengangkat tubuh mungil itu. Rasa takutnya tadi berubah menjadi gemas, saat matanya memandang wajah tampan nan lucu itu. Glen sangat suka anak-anak. Dia selalu berharap orangtuanya membuat adik untuknya, tapi sayang. Kedua orangtuanya itu sudah tidak bisa lagi memproduksi adik untuk Glen.


Glen mencium pipi bulat bak bakpao itu. Glen masih fokus pada tuyul ucul nya, dia lupa untuk apa dia datang kesini tadi.


"Papa?" Kembali menggumamkan kata papa dengan lucu, Glen yang baru sadar langsung menatap wajah bulat berisi itu.

__ADS_1


"Papa? Papa kamu dimana?" Glen menatap kanan kiri, mencari dimana keberadaan papa makhluk lucu itu.


"Ni papa... Papa Ado...!" Bayi mungil itu menunjuk wajah Glen dengan mata berbinar.


"Eh?" Glen ikut-ikutan menunjuk dirinya sendiri. Bayi yang masih duduk di atas pangkuan Glen itu mengangguk, matanya berbinar dan air liurnya merembes dari mulutnya yang menganga sedari tadi.


"Aldo!!!!" seorang wanita berlari dengan tergesa-gesa. Rambutnya masih berantakan, kaosnya sedikit tersingkap, dan celana pendeknya naik sebelah.


"Huft..." Wanita itu langsung bernafas lega saat matanya mendapat bocah yang dicarinya ketemu. Tapi, tak sampai lima detik mengambil nafas, dia kembali tercekat, bahkan ini lebih menyesakkan dari tadi.


Glen yang awalnya jongkok langsung berdiri, dia kembali sadar tujuan utamanya setelah melihat perempuan di depannya itu.


April langsung mengatur nafas dan membetulkan pakaiannya. Segera tangannya menarik tubuh gembul Aldo dari pelukan Glen.


Tapi naas, Aldo mengunci tangannya di leher Glen. Kaki mungilnya juga melingkar di pinggang laki-laki itu.


"Na mau!!" (gak mau) Glen berteriak seakan tak suka tubuhnya ditarik.


"Sini sama mama!!" Kembali April menarik sekuat tenaga, hingga membuat pelukan Aldo melonggar.


"Huaaaa.... papa.... huaaaa..... hiks... hiks..." Aldo langsung menangis keras. Hal itu membuat April spontan melonggarkan tarikannya, Aldo yang awalnya sudah tertarik karena pelukannya longgar langsung limbung. Glen refleks menarik tubuh Aldo, dan tak sengaja tangan April terikut. Ketiganya berpelukan di depan kost, dengan suasana sepi.


Glen merasakan lembutnya kulit pergelangan tangan April. Dia kembali teringat kenangan-kenangan dulu, otaknya asik bernostalgia, melupakan April yang saat ini terdiam kaku di dalam pelukan mantan.


"Hihihi" Aldo terkikik geli saat lehernya bergesekan dengan rambut April. Suara kikikannya berhasil membuat kedua sepasang manusia itu tersadar.


"Ngapain lo kesini?" April bertanya dengan nada sinis, tak lupa putaran bola matanya yang tajam.


'Lo?' Glen tak menyangka, April mengatakan kata lo dengan nada sinis padanya.


"Mmmm, aku-" Glen merutuki diri, kenapa juga dia mengatakan 'aku', mungkin karena kebiasaan berbicara bahasa formal di kampusnya, membuatnya sedikit sulit mengucapkan kata-kata informal di Indonesia.


"-maksudnya... gue mau ngomong sesuatu sama lo!" Akhirnya, Glen bernafas lega setelah bisa mengucapkan sederet kalimat itu.


"Ohhh... maaf, gue gak ada waktu" April langsung menarik tubuh mungil Aldo. Dia membawa batita itu masuk ke dalam kost.


"Hua... papa... hiks... hiks... papaaaaa" Aldo berteriak kesetanan, dia tak mau lepas dari Glen.


"Na mau!!!" Aldo menggerak-gerakkan tangannya, bermaksud menjangkau tubuh Glen yang semakin tak terlihat, Karena pintu sudah ditutup April.


"Udah diam, mama disini" April mencoba menenangkan sang anak, dia tak mau berlama-lama dengan pria itu. Rindu yang besar, membuatnya bisa saja tak berpikir panjang, dan langsung luluh nanti. Pria itu harus diberi pelajaran, April geram jika sikapnya masih egois seperti dulu.


Aldo masih menangis sesenggukan, batita itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang mama.


"APRIL... APRIL, BUKA PINTUNYA ATAU GUE DOBRAK" Glen berteriak kesetanan di depan sana, tak lupa tangannya menggedor-gedor pintu.


"Pergi gak lo, gue muak liat muka lo tau gak? Gue benci sama lo" Seketika April langsung menutup telinga Aldo, dia baru ingat, tak baik berbicara kasar di depan bayi.

__ADS_1


"Akhhhh... anj--" Glen mengumpat, dia langsung menendang pintu kost dengan kuat.


April tak kalah kaget, dia tak menyangka laki-laki itu bisa berbicara kasar seperti itu.


"Dasar muka dua" Ucap April pelan, dia tak mau Glen mendengar.


"Besok... besok gue bakal dateng, kita harus bicara... Harus..." Setelah itu, tak terdengar lagi suara dari luar. April bernafas lega, tapi dia kembali takut untuk hari esok, bagaimana ini?


April langsung mengangkat tubuh Aldo yang terlelap di pelukannya. Batita itu memang sangat mudah tertidur di berbagai tempat.


Matanya menatap, dua anaknya yang lain masih asik tidur, tak terganggu dengan kerusuhan yang baru terjadi.


"Maafin mama sayang" Ucapnya sendu, dia mencium kening dan bibir Aldo, setelah batita itu ditidurkan di samping adik-adiknya. Tak lupa, April mencium kening dan bibir Gabriel dan Gabrian.


"Selamat tidur"


...*...


...*...


"Lo mau jujur?" Julio bertanya dengan nada serius.


"Iya, gue gak mau numpuk dosa. Cukup sampai sini aja... kali ini gue yang tanggung, untuk masalah kedepannya, kayaknya harus gue yang perbaiki semua. Harusnya, gue gak libatin lo" Ucap April dengan sungguh-sungguh. Julio memijat keningnya yang berdenyut.


"Terserah lo deh, kayaknya gue gak pernah lo anggap" Julio berlalu, dia tak mau lagi mendengarkan penjelasan wanita itu.


Setelah pembicaraan itu, malamnya mereka langsung mengatakan hal yang sejujurnya kepada keluarga Julio. Kalian tau apa yang terjadi? Evi langsung pingsan, ayah Julio terlihat kecewa, dia sudah sangat sayang dengan sang cucu.


Akhirnya mereka izin pamit pulang. Dan ayah Julio masih menyuruh April untuk melanjutkan hubungan itu, tapi April menolak dengan halus. Dia tak yakin Evi masih mau. April juga berjanji akan menyicil uang yang dipinjamkan Julio.


Di perjalanan, kembali April dikejutkan dengan pertanyaan Aldo.


"Ma... papa io, papa Ado?" (Ma papa Julio papanya Aldo?)


Akhirnya April memutar otaknya, dia membuka handphone dan tiba-tiba matanya melihat foto lamanya dengan Glen. Tanpa pikir panjang, April menunjuk foto itu.


"Ini papa Aldo, Papa Iel sama Ian juga" ucap April dengan terpaksa. April malah berpikir, Aldo akan melupakan hal itu, diikuti Glen yang tak mungkin pulang dan lancar sudah semuanya. Tapi apa tadi?


...*...


...*...


...Mingdep apa?...


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2