HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 25 •|CaMer|•


__ADS_3

...•||•...


...HAPPY READING...


...•||•...


Glen membawa April ke rumahnya. Dengan bujukan rayu pria itu, akhirnya April dengan pasrah mau ikut, asalkan ketiga anaknya juga dibawa. Glen mengiyakan saja, toh memang anak-anaknya juga harus ikut, mana tega Glen meninggalkan mereka di kontrakan April.


"Selamat datang di rumah kita!" Glen saat ini menggendong Gabrian, sedangkan Gabriel dan Aldo digandeng April.


Gabriel terlihat cemberut, dia merasa iri dengan Gabrian yang sejak tadi lengket dengan Glen.


"Wah, lumah kita bagus." Gabrian bertepuk tangan dengan hebohnya.


"Mama, gendong!!" Gabriel menggoyangkan tangannya, merengek pada April.


"Sini-sini, mama gendong." Akhirnya April melepaskan tangan kanannya dari Aldo, demi mengangkat tubuh Gabriel.


Aldo terdiam, dia menatap Glen yang menggendong Gabrian dan April yang menggendong Gabriel.


Aldo menunduk, memilin jari-jarinya. Rasanya Aldo ingin menangis saja, tapi Aldo merasa itu tak usah.


"Sini, naik ke punggung papa." Aldo yang awalnya menunduk, mulai mengangkat wajah. Matanya langsung menangkap tubuh Glen yang sudah berjongkok di depannya.


Aldo tersenyum ceria, dan melompat memanjat punggung tegap Glen.


"Oke, ayo kita masuk!!" Glen berseru. Tangan kanannya masih menggendong Gabrian, dan tangan kirinya menahan tubuh Aldo di belakang, supaya tidak jatuh.


Glen berlarian, membuat Aldo dan Gabrian tertawa senang.


April ikut tertawa, dia tiba-tiba melihat kearah Gabriel yang diam, seakan ingin ikut digendong Glen.


"Kita balapan, ayo kejar papa!!" April akhirnya ikut berlari, meski pelan, tapi hal itu sudah membuat Gabriel ikut tertawa, sambil memeluk leher April.


"Mama.... Hahahaha!!" Gabriel tertawa kencang saat April hampir saja terjatuh, bukannya takut anak itu malah menyemangati April untuk terus berlari.


Akhirnya mereka malah mengelilingi taman depan, seakan lupa untuk menoleh ke pintu utama.


...><...


Setelah kelima manusia itu lelah, mereka pun menyadari maksud kedatangan mereka ke tempat itu. Dengan cepat, Glen mengajak April untuk memasuki rumah.


Ternyata rumah sepi, hanya ada beberapa pelayan dan penjaga yang berjaga.


"Mama sama papa dimana bi?" Glen bertanya saat melihat salah satu art disana sedang membersihkan ruang tamu.


"Oh, selamat siang tuan muda. Nyonya dan tuan besar sedang pergi jalan-jalan, mereka sudah berangkat pagi-pagi sekali" Glen mengangguk saja, Glen membawa April untuk duduk di sofa.


"Sini, pasti kamu cape karena gendong Gabriel yang semoknya luar biasa."


April terkekeh, dia duduk dengan masih memangku Gabriel yang malah memeluknya semakin erat.


"Mau duduk di samping mama juga!" Aldo beranjak dari dekat Glen, mendekati April dan bergelayut manja di tangannya.

__ADS_1


"Jangan ganggu!!" Gabriel melepaskan tangan Aldo dari lengan April.


"Jangan gitu sama abang." April berucap lembut kepada Gabriel saat Aldo menampakkan wajah murungnya.


"Ya udah, peyuk aja." Gabriel kembali menarik tangan Aldo dan mengembalikannya ke tempat semula.


Mereka berbincang-bincang sebentar, setelah tak lama terdengar suara mobil yang membuat salah satu art berlari ke pintu utama, untuk membukakan pintu.


"Eh, ada tamu ya? Ini ada banyak sepatu." Suara mama Annie sudah dapat April dengar, hal itu membuat April menelan ludah kasar, entah kenapa dia sangat gugup, lebih gugup daripada saat pertama kalinya Glen mengenakkan pada kedua pasang orangtua itu.


"Mama minum.." Aldo merengek kecil, saat tenggorokannya terasa kering.


"Bentar ya, mama ambilin." April beranjak, mendekati dapur yang sudah dia hapal letaknya, karena dulu pernah berkunjung beberapa kali ke rumah itu.


"Glen??" Annie mendekat, dan menatap dua bocil yang sedang duduk di sofa, tepatnya di depan Glen. Annie memutar mata, dan mendapati satu bocah lagi sedang memeluk perut Glen erat. Posisinya berada di pangkuan Glen, dan berhadapan dengan Glen tentunya.


Ketiga bocil itu menatap Annie dan Giedo dengan wajah terlihat bingung.


"Pa, itu siapa?" Gabrian membuka suara, saat Gabriel turun dari sofa dan berlari kecil ke arah Annie.


"Oppung, Dylan kangen." Tubuh Dylan langsung diangkat, dipeluk Annie penuh sayang.


Gabrian ikut-ikutan melepas pelukannya dan berlari ke arah Annie. Hanya berniat meniru kakak kembarannya itu.


"Oppung, Gablian kangen." Giedo yang awalnya diam, langsung bergerak mengangkat tubuh mungil Gabrian.


"Mirip? Dylan jadi dua?" Kedua pasangan paruh baya itu bergumam.


Keduanya akhirnya menatap Glen yang sedang menggaruk tengkuknya.


"Nanti Glen jelasin." Ucap Glen dengan cengirannya.


April akhirnya datang, Annie dan Giedo sama-sama terkejut.


"April??" Annie mendekat, dengan Gabriel yang masih ada di gendongannya.


"Kamu apa kabar nak?" Annie akhirnya meletakkan Gabriel di sofa, dan memeluk April.


"Ini sebenarnya ada apa?" Akhirnya Giedo buka suara.


"Huft, oke Glen bakal jelasin."


...><...


Saat ini, April, Glen, Annie dan Giedo sudah berkumpul di ruang tamu. Anak-anak diajak main oleh salah satu art di sana.


"Oke, sekarang jelasin." Annie berseru, tak sabar dengan penjelasan anak dan mantu idamannya.


Glen akhirnya buka bicara, dia mengatakan seluruhnya dengan jujur. Tentang hubungan mereka, yang seperti suami-istri. Tentang, Glen yang akhirnya meninggalkan April karena kesalahpahaman, dan tentang April yang mengandung dan melahirkan anak-anaknya. Tak lupa, Glen juga menjelaskan tentang Aldo.


Kedua orangtua itu menghela nafas. Memang, keduanya tak terlalu mempermasalahkan hubungan itu, tapi masalah Glen sangat ribet.


"Jadi, mau kamu apa sekarang?" Giedo menatap Glen dengan serius.

__ADS_1


"Ya nikah lah, pokoknya harus!!" Bukan Glen yang jawab, tapi Annie yang terlihat bahagia.


"Ternyata impian mama terwujud juga!!" Annie kembali berdiri dan memeluk April.


"Mau ya? Nikah sama Glen!" Annie menatap April penuh atap.


"Hm, A-April mau ma, tapi April punya lima syarat." April belum sepenuhnya percaya dengan Glen. Meski April sudah melihat ketulusan di mata Glen, tapi masih ada peringatan yang terus berputar-putar di otaknya.


"Syarat?" Ketiganya membeo, yang langsung dijawab anggukan oleh April.


"Ini." April menyodorkan kertas yang dia rogoh dari saku celananya, dan terlihat beberapa poin yang diketik.


...SYARAT NIKAH...


...1. Jika Glen tertangkap selingkuh, 50 % harta Glen akan jatuh kepada April dan anak-anaknya....


...2. Jika Glen meminta cerai, maka seluruh harta Glen, akan menjadi milik anak-anak mereka....


...3. Jika Glen ingin poligami, maka hak asuh anak jatuh pada April....


...4. Orangtua Glen harus menjadi pihak April, yaitu mendukung segala keputusan April tentang pernikahan mereka....


...5. April harus mematuhi perintah Glen, melayani Glen, sepenuh hati....


Glen terdiam, kenapa rasanya hati kecilnya tercubit? Glen tak menyangka, April securiga itu dengannya. Sampai membuat perjanjian seperti itu.


"Mama setuju sih!!! Kalau papa gimana?" Annie menatap Giedo yang masih menatap kertas itu lekat.


"Apa alasan kamu buat syarat-syarat ini?" Giedo malah bertanya kepada April.


"Apa kamu itu sebenarnya adalah ular matre?" Tambahnya membuat April menelan ludah.


"Papa gimana sih? Jelas-jelas April kasih peringatan supaya Glen setia sama keluarganya, dan sebaliknya juga gitu, April setia sama Glen!" Annie malah memutar bola matanya. Pusing melihat Giedo yang terlihat bodoh.


Giedo mulai mengangguk mengerti, setuju saja akan perkataan istri. Daripada tak dapat jatah satu minggu?


"Gimana Glen? Kamu setuju juga kan?"


Glen diam, menatap April lekat.


"Glen setuju ma!" Jawabnya tak terlalu antusias. Glen bukannya tak mau memberikan hartanya. Bahkan Glen pikir, toh juga anak-anaknya yang akan mewarisi hartanya.


Tapi, Glen merasa April sedang mempermainkannya saat ini.


"Glen mau menjalani tantangan ini." Lanjutnya dalam hati.



...•||•...


...SELAMAT HARI KEMERDEKAAN INDONESIA 🇮🇩🇮🇩🇮🇩...


...•||•...

__ADS_1


__ADS_2