HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 3 •|Berkunjung|•


__ADS_3

...•||•...


...HAPPY READING...


...#GLEN#...


...•||•...


Aku sangat menyukai senyumannya. Setiap dia tersenyum, hati ku terasa tenang. Pertama kali bertemu, otak ku langsung memerintah tubuh ku untuk bereaksi, sebelum ada orang lain yang mendekatinya.


Aku langsung tertarik padanya, saat pandangan pertama. Wajahnya yang terlihat cantik, tubuhnya juga berisi, tak kurus dan tak gemuk.


Tingginya kira-kira 160 cm. Saat aku memeluknya, aku dapat merasakan dadanya yang empuk, mungkin akan pas di genggaman ku, pikir ku kala itu. Tapi, jangan salah, jangan berpikir aku menyukainya karena kemolekan tubuhnya, bukan karena itu. Aku memang menyukainya pada pandangan pertama, entahlah karena apa.


Intinya, aku sangat bangga pada diri sendiri, baru kali ini aku melakukan pendekatan pada perempuan dan langsung gol. Ternyata, ketampanan ku, berguna juga.


Aku tak pernah bosan menatap wajahnya, bahkan aku tak memperdulikan lagi orang-orang yang mengatakan ku bodoh dalam memilih pasangan. Menurut ku, April adalah segalanya. Aku sangat menyukainya, aku sangat mencintainya. SANGAT.


Aku sedikit tak suka, saat tau dia tinggal di kost sempit itu. Aku yakin, kost itu tak aman, tapi aku emang bisa melarang? Kurasa aku tidak bisa apa-apa?


...*...


...*...


Hubungan kami berjalan dengan baik, dia terbuka kepada ku. Begitu juga sebaliknya. Sebenarnya alasan aku tak pernah berpacaran dan tidak pernah dekat dengan perempuan adalah patah hati. Ya, meski aku laki-laki, aku takut patah hati.


Bukannya cemen atau apa, tapi aku takut akan kedua kata itu. Aku sering melihat teman-teman ku malah lari jalur saat sedang patah hati. Minum alkohol, merokok, berjudi dan bahkan s e k s bebas. Aku tidak mau seperti itu, meski kadang kala aku pernah tergoda dengan salah satunya. Yaitu s e k s.


Tapi, demi masa depan ku, aku harus bisa mengontrol n a f s u bukan? Jika ada yang bertanya, apa aku sudah pernah merokok, minum alkohol? Ya, aku sudah pernah, tapi itu pas SMA, dan hanya sekali. Itu semua atas dorongan dan paksaan teman-teman ku saat itu.


Tapi, setelah hari itu. Aku memutuskan sedikit membatasi pertemanan, dan lebih memilah teman yang mendekatiku. Karena jujur, aku orangnya mudah tergoda, iman ku belum kuat.


Aku sudah mulai gila lagi, setiap berboncengan dengan April, aku merasakan keempukan benda kenyal itu. Dan itu membuat n a f s u bi ra hi ku memuncak. Sungguh, aku sangat ingin memukul *GJ. Kenapa dia sulit sekali terkontrol.

__ADS_1


Aku bersyukur, saat aku dapat mengatasi hal itu. Aku, hanya bisa bermain solo di kamar mandi kamar ku, menutup pintu rapat supaya mama dan papa tak curiga. Dengan bermodalkan bayang-bayang tubuh molek April, aku selalu bisa menuntaskan hasrat.


Apakah itu dosa? Aku hanya selalu merapalkan kata maaf dalam setiap doa ku, berharap itu bisa sedikit mengurangi dosa ku.


...*...


...*...


Terhitung empat bulan hubungan kami, semuanya lancar, aku semakin bersikap manja padanya. Aku sering memintanya datang ke kelas. Berharap dia membuat penat di otakku berkurang, dan yups, setelah dia sering mampir ke kelas ku, beban pikiran ku sedikit terangkat.


Dia sering ditatap sinis beberapa perempuan yang pernah mendekati ku, membuat ku menjadi OVER POSSESSIVE.


Aku tak masalah, intinya setelah aku terlalu posesif, dia juga semakin menunjukkan sikap manjanya, dan aku suka itu.


Setelah di akhir semester, kami mulai sibuk dengan ujian akhir semester, dan hanya sedikit waktu kami bertemu. Aku yang lumayan fokus pada UAS dan beberapa keperluan eskul olahraga, membuat ku lupa kalau aku punya pacar. Bodoh emang.


Akhirnya, hal itu membuat April merajuk, dan mendiami ku selama seminggu. Sungguh, aku sangat sedih, dan rindu dengannya. Dan dengan sejuta bujuk rayu dan pelet maniak ku, dia luluh dan kami kembali baikan.


...*...


...*...


Kami liburan ke kampung, orangtuaku juga mengijinkan. Orang tua April sedikit terkejut saat April membawa ku ke rumahnya di kampung. Apalagi ayahnya, dia terlihat marah, tapi masih bisa menutupi ekspresi.


Akhirnya, aku bisa tinggal di rumahnya. Rumahnya luas, tapi tak seluas rumah ku. Aku tidur bersama adik laki-lakinya yang masih kelas satu SMA. Kamar mereka tak ada kamar mandinya. Kamar mandi ada di dapur, itu membuat ku sedikit tak nyaman. Aku melihat sekitar yang terlihat tak ada AC atau kipas angin. OMG, bagaimana bisa aku tidur dengan tenang nanti.


Setelah malam, aku naik ke atas kasur. Menatap adik April yang masih asik bermain game. Dia tak memperdulikan aku. Aku mengedikkan bahu, dan mulai berbaring.


Hawa dingin merasuki tubuh ku. Ya ampun, kenapa bisa sedingin ini. Aku kira, hawa di sini sama dengan di kota, ternyata tidak, ini jauh lebih dingin dari pada di kota walaupun dengan AC menyala.


Aku bergerak gusar, sambil menarik selimut tebal itu. Menutup diri sampai ke leher. Aku mencium aroma April di dalam selimut ini, sangat wangi.


"Kak April sering beli parfum, pewangi pakaian dan pewangi ruangan. Jadi, kami pakai itu sampai sekarang. Meski kak April gak di rumah"

__ADS_1


Dasar bocah sialan, dari mana dia tahu aku sedang menghirup wangi selimut ini coba. Aku menetralkan mimik wajah, dan terduduk.


"Lo, punya jaket gak? Gue boleh pinjem?" Akhirnya aku buka suara, entah kenapa aku kesal melihat adik April ini.


Dia bergerak, dan mendekati lemari yang terletak di sudut ruangan. Dan mengambil Hoodie berwarna putih dari dalam.


"Ini punya kak April, aku sering make kalau tidur. Jadi pake aja" Dia melemparkan Hoodie tadi, membuat ku segera menangkapnya.


Aku tak suka, saat ada orang lain memakai barang-barang April seperti adiknya ini, padahal aku juga adalah orang lain.


Aku akhirnya memakai jaket itu. Pas sekali, membuat aku nyaman dan mulai tertidur.


...*...


...*...


Singkat cerita, aku dan April sudah menempuh perjalanan cinta selama setahun. Aku sangat senang, di dalam hubungan kami selalu lancar, dan meski ada masalah kecil, selalu terselesaikan dengan kepala dingin.


Tapi, semua itu sirna. Saat masalah besar itu datang. Aku yang saat itu masih semester lima, dan dia semester tiga, melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan, yaitu s e k s. Aku sangat menikmati waktu itu, begitupun April. Meski awalnya dia menolak, tapi karena bujukan ku, dia mau.


Aku menjadi yang pertama begitupun sebaliknya. Kami mulai sering melakukannya. Setelah beberapa kali, aku mulai membatasi diri. Karena kami masih kuliah, dan belum sepantasnya.


Aku akan tetap menceritakan hari itu. Secara singkat. Aku harap kalian tidak mengikuti apa yang kulakukan dan ku perbuat ini.


.......


...•||•...


...Like, Vote, Komen...


...•||•...


.......

__ADS_1


__ADS_2