
...•||•...
...Happy reading °👄° ...
...#Author#...
...~Dilarang mengumpat!~...
...•||•...
April terbangun dan melihat ruangan yang April rasa adalah kamar hotel. Tangannya memijat keningnya pelan, merasa sedikit pusing. Tiba-tiba dia teringat kenapa dia sampai pingsan begini.
April menatap seisi ruangan yang kosong, tak ada tanda-tanda keberadaan manusia.
"Glen? Aldo? Gabriel, Gabrian?" April menuruni kasur, dan beranjak keluar ruangan.
"Gak mungkin karena malam itu kamu hamil." April dapat mendengar suara Glen yang terdengar kesal dan marah.
"Kamu waktu itu mabuk Glen, waktu itu kamu gak pake pengaman juga. Intinya, aku bakal bawa Jennifer kesini besok. Biar kamu percaya." Suara wanita itu, adalah suara wanita yang tadi siang. April terdiam di pintu kamar, dia tak mengerti dengan pembicara itu.
"Huft, oke aku bakal temuin anak itu, tapi jangan sampai April tau." Ucap Glen.
"Anak kita." Seru wanita itu. Setelah itu hening, April tak mendengar percakapan apapun lagi.
April memilih duduk di sofa, dia mulai mengerti sekarang. Cobaan apalagi ini? Kenapa April susah sekali bahagia.
...><...
April memutuskan berpura-pura tak tahu dan tak perduli. Saat tadi, Glen datang membawa-bawa anak-anak, Glen diam saja, jadi April menyimpulkan jika Glen tak mau menceritakan apa-apa padanya.
"Papa, kita pulang sekarang ya?" Aldo bertanya saat April menyusun pakaian kotor mereka ke dalam tas.
"Iya sayang, kita kan gak liburan. Kapan-kapan deh, papa ajak kalian liburan. Soalnya kita gak ada persiapan sama sekali semalam, rencana cuma foto-foto aja kan?" Jawab Glen sambil mengacak-acak rambut Aldo gemas.
"Oke papa." Jawab Aldo riang.
Glen mengalihkan pandangan menatap April. Sejak tadi, dia merasa April lebih banyak diam, tak mau menyapa Glen duluan.
"Udah siap?" Tanya Glen sambil menatap April yang bangkit dengan mengangkat tas kecil itu.
"Udah." Jawab April singkat, dia langsung keluar meninggalkan empat manusia berjenis yang kelamin sama itu di dalam kamar.
...><...
Pagi hari ini tak seperti biasanya. April sudah tak terlihat di dalam kamar, bajunya belum disiapkan begitu juga dengan air mandi Glen.
__ADS_1
"April." Glen berteriak mencari April disudut ruangan.
"Kenapa?" April datang dari luar kamar, sambil memegang spatula.
"Apa sih?" Tanya April, dan masih dipelototi Glen.
"Kalau gak ada, aku mau lanjut masak." April langsung pergi, tak menghiraukan Glen yang masih terbengong.
"Dia kenapa?" Glen hanya bisa bertanya dalam hati, mungkin pas sarapan nanti dia akan tanyakan lebih lanjut kepada April.
.......
"Sayang, hari ini kok kamu agak aneh ya? Lagi pms?" Glen memeluk perut April dari belakang, saat April sedang mencuci piring bekas memasak tadi.
"Gakpapa." Ucap April cuek, tak peduli dengan tangan Glen yang masih melilit perutnya itu.
"Kayaknya iya nih. Btw, aku mau ketemu sama klien penting nanti, gak bisa di undur. Gakpapa kan, aku gak gitu hari ini, toh waktu cuti aku masih lumayan." Glen mengikuti April yang mulai menghidangkan makanan di meja makan.
"Hm, panggilin anak-anak gih." Glen mengangguk dan mulai beranjak, memanggil anak-anak.
"Sudah selesai mandi ya?" Glen melihat ketiga putranya yang sudah berpakaian rapi. Terlihat segar dan wangi.
"Sudah pa!!" Ketiganya berseru riang,dan mulai eluar dari kamar.
"Nanti mau dibawain apa sama papa?" Glen bertanya sambil mulai duduk.
"Mau kerja, gak lama kok. Makanya, kalian mau apa?"
"Mainan." Seru ketiganya, saat makanan sudah mulai disendokkan ke piring.
"Tumben, Gabriel gak cemberut?" Glen bertanya, saat melihat Gabriel malah berbinar.
"Kan macih ada mama, jadi papa pelgi aja." Usirnya sambil mulai makan.
"Tap-"
"Udahlah, makan dulu aja. Jangan ada yang ngomong pas makan." Seru April saat semua sudah kedapatan nasi dan lauk.
Glen hanya bisa mencebikkan bibir, tak terima dengan Gabriel yang mulai terlihat lebih sayang dengan ibunya.
...><...
"Pahh!!" Bocah yang terlihat masih berumur satu tahun itu, langsung berjingkrak didalam gendongan seorang wanita.
"Iya sayang, itu papa." Wanita itu berucap sambil menggoyang-goyangkan tubuh mungil bayi itu.
__ADS_1
"Pah... lala uu.." Bayi itu tak henti-hentinya mengoceh dengan kata-kata tak jelasnya. Glen yang memang penyayang anak kecil itu, hanya diam seperti tak menunjukkan rasa gemasnya kepada anak berkulit putih bersih itu, wajah bayi itu sangat mirip dengan ibunya.
"Dia Jennifer, anak kita. Kamu tau, waktu itu aku udah cari kamu. Pas aku hamil, aku frustasi Glen. Aku pikir gak bisa lagi ketemu kamu." Wanita itu berucap dengan sedih.
"Please, Jangan kekgini Jeny. Jangan pura-pura, gak mungkin waktu itu-" Glen tak sanggup berucap.
"Terserah kamu Glen, kalau gak percaya ayo kita test DNA."
Glen mengusap rambutnya kasar, dia tak tau lagi harus bagaimana. Apalagi Jeny sudah meyakinkan dengan mengatakan test DNA.
"Oke, aku bakal tanggung jawab, tapi gak lebih dari kata nafkahin kamu sama dia." Glen menunjuk Jennifer yang sedang mengemut empengnya.
"Maksudnya?" Jeny membelalakkan mata.
"Kamu tau kan, aku sudah punya istri. Dan aku gak bakal pernah nikah lagi, karena itu bertentangan dengan agama. Jadi, aku bakal kasih kamu sama dia uang bulanan, sesuai apa yang kamu butuhkan." Ucap Glen dengan menghela nafasnya.
"Gak mau... Pokoknya kamu harus nikahin aku." Jeny terlihat keras kepala, dia kekeuh dengan kemauannya.
"Kamu nikahin aja dia." Glen dan Jeny tersentak kaget, dan langsung menatap perempuan yang baru datang menghampiri meja mereka itu.
"April." Glen terlihat protes, dan juga dengan rasa bersalahnya.
"Tapi, di agama-" Belum juga Glen menyelesaikan ucapannya, sudah langsung dipotong April.
"Lepasin aku kalau gitu." Ucap April santai, tanpa beban.
"Tapi, di kepercayaan kita itu perceraian dilarang April." Glen membentak April, tak tahan lagi untuk mengeluarkan emosinya yang tiba-tiba naik.
"Kamu kenapa menyepelekan pernikahan kita hah? Kenapa asal ambil keputusan seperti itu." Glen menggenggam tangan April erat.
"Harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri, kenapa kamu gak jujur? Kenapa kamu bohong, bilang mau ketemu klien, padahal mau ketemu calon istrimu. Bahkan kamu sudah punya anak sebesar ini. Tapi, kamu masih dengan percaya dirinya ngajak aku nikah waktu itu." April meneteskan air matanya.
"Ini gak seperti yang kamu bayangkan. Trust me, aku bakal jelasin semuanya." Glen menatap April penuh harap.
"Aku bakal urus mereka, tapi gak lebih dari kasih mereka nafkah." Lanjutnya dengan mengelus punggung tangan April lembut.
"Terserahlah, intinya urus masalah kamu sama dia dulu, setelah beres baru temui aku." Ucap April, dan langsung menghempaskan tangan Glen, kemudian pergi dari sana.
...•||•...
...**Btw, kalian masih ingat kan,...
...Glen tidur sama cewek lain, pas mabuk itu. Yang dia ceritain ke papa Giedo dulu**....
.......
__ADS_1
...Bentar lagi end 💚💋😭...
...•||•...