HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 19 •|Siapa ibunya?|•


__ADS_3

...•|•...


...HAPPY READING ...


...#Author pov#...


...•|•...


"Dylan mau mainan?" Glen saat ini duduk di atas kasur kamarnya, dengan Dylan yang sudah berbaring disana.


"Mainan? lobot-lobot?" Mata Dylan berbinar, saat dia teringat kartun robot-robot tadi siang.


"Iya!!! Mau nggak? Nanti papa ajak Dylan beli mainan!" Glen berseru senang, saat wajah Dylan mulai kembali cerah.


"Mauuu... yeeee!" Dylan langsung melompat, memanjat tubuh Glen, kemudian menciumi pipi Glen hingga basah karena air liur. Glen hanya bisa terkekeh, kemudian mengacak-acak rambut lebat nan lembut milik Dylan.


...><...


Glen memacu mobilnya dengan pelan menuju mall terdekat disana. Setelah sampai, mereka berkeliling mencari mainan.


Dylan hanya menginginkan satu robot-robot seukuran lengan manusia dewasa, dan setelahnya dia merengek minta pulang.


"Papa pulang!" Glen hanya bisa menuruti keinginan Dylan saja. Meski tadi dia berniat membeli beberapa kemeja, tapi ya sudahlah mungkin lain kali pikirnya.


"Eskim?!!" Dylan bersorak senang saat mereka melewati penjual es krim berjalan.


"Hahahaha.... Ya ampun, Dylan mau esklim ya?" Glen mencubit pipi chubby Dylan, kemudian memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket.


Keduanya turun, dan membeli es krim. Setelah itu, mereka kembali ke dalam mobil untuk pulang.


"Kapan-kapan kita kesini lagi ya!" Glen tersenyum saat Dylan terlihat cemberut setelah diajak pulang, padahal Dylan masih ingin melihat-lihat es krim tadi.


Dylan mengangguk antusias, kemudian bocah kecil itu meliuk-liukkan tubuhnya saat musik dinyalakan Glen.


Glen hanya bisa tertawa saat pipi Dylan ikut terguncang dengan tubuhnya yang sedang bergoyang.


...><...


Satu setengah minggu kemudian :


Khris melangkahkan kakinya dengan cepat, dia tak sabar untuk membombardirkan banyak pertanyaan untuk ayah Glen, si Giedo itu.


"Glen kapan nikahnya?"

__ADS_1


"Istrinya yang mana sih?"


"Besan lu orang mana ngab?"


Belum juga duduk, Khris sudah menanyakan banyak hal, membuat Giedo memijat pelipis karena pusing.


"Jadi bener?" Giedo akhirnya bertanya sambil menatap Khris jengah. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu sedang melorotkan kaca matanya dan menatap Giedo dengan tatapan jahil.


"Bener dong, no rekayasa, no tipu-tipu. Ini barang bukan sembarang barang, bukan oplosan!" Khris malah berteriak seperti penjual jamu keliling.


"Siniin dah, sumpek ni telinga denger lu ngomong!" Giedo menarik map coklat besar dari tangan Khris dan membukanya. Kemudian matanya terfokus membaca kertas-kertas itu.


"What the ...!" Giedo menutup mulut, saat matanya melihat angka 99% cocok itu.


"Lo gak berniat buat jatuhin gue kan?" Giedo menatap Khris dengan tatapan menyelidik.


"Ya elah anjir, mana mau gue berurusan sama om bule kesepian kayak lu!" Khris mengusap tengkuknya ngeri, jangan sampai rumah sakitnya kena imbas akibat ini.


"Aku gak kesepian ya!" Giedo memutar mata, dan melotot saat telinganya mendengar Khris tertawa kencang.


"Ya elah, sok-sokan 'aku' lu, makanya belajar yang bener dulu sana, sama Annie buat ngomong lo-gue!" Khris memang seperti itu, hal kecil saja akan dia ungkit-ungkit.


"Serah deh, udah tua juga masih ngomong lu gue."


"Ye, si bapak.... Siapa suruh ikut-ikutan pak?"


"Jadi udah pas nih, Dylan beneran anak Glen?" Giedo bertanya sekali lagi, kan manatau tadi si Khris iseng doang.


"Ya benerlah, malas banget ngerekayasa itu." Khris memukulkan tinjunya ke udara, berharap anginnya dapat melayangkan sakit tinjuan itu ke wajah sok berwibawa Giedo.


"Oke, thanks Khris!"


"Eh, lu belum bayar anjir." Khris mendekat dan menarik kembali amplop tadi.


"Anggap aja bantuan sebagai teman, pelit banget sih." Giedo kembali menarik, tak terima dengan sikap Khris.


"Dasar orang kaya sekarang, susah keluarin duit, nanti rezekinya mumpet baru tau rasa."


...><...


"Glen, papa mau bicara." Giedo menatap wajah Glen yang sedang asik menyantap puding di meja makan itu


"Lah, kan udah bicara pa." Glen menatap papanya dengan raut bingung.

__ADS_1


"Antar dulu Dylan buat tidur, nanti datang ke perpustakaan!" Glen mengangguk diikuti Giedo yang berlalu pergi.


Glen langsung membantu Dylan memakan pudingnya, dan langsung menggendongnya ke kamar.


"Tidur ya boy, papa mau bicara sama kakek tua dulu!" Glen terkekeh saat mulutnya lolos mengejek Giedo.


...><...


"Apa pa?" Glen  duduk di sofa dekat dengan ayahnya yang sedang membaca koran.


"Baca!" Giedo melemparkan map coklat ke wajah Glen.


Glen yang sedikit kaget hampir terjungkal. Kemudian tangannya membuka map, dan membaca isinya.


"Ha? A-apa maksudnya pa?" Glen mencoba mendalami kata demi kata dalam kertas itu.


"Siapa ibunya?" Giedo menatap Glen dengan tajam.


"Glen gak ngerti, pasti ini kerjaan papa kan?" Glen masih shock, tidak mungkin berkas di tangannya adalah asli.


"Heh, buat apa papa memalsukan dokumen seperti itu?"


"T-tapi-" Glen menelan ludah, otaknya menanyakan kemungkinan-kemungkinan.


"Makanya, papa tanya sekali lagi Glen, siapa ibu Dylan? Settingan kamu gak bisa menipu kami, kamu malah menceritakan kejadian yang mengada-ada. Pura-pura bilang Dylan kecelakaan lah, amnesia lah, padahal itu semua cuma dalih kamu aja!" Giedo memijat pelipisnya, bingung juga dengan semua ini.


"Glen serius pa. Lagian, Glen gak pernah tidur sama cewek manapun pas kuliah!"


Giedo tampak tak percaya, jadi darimana munculnya Dylan? Tak mungkinkan jatuh dari langit?


"Makanya jangan gonta-ganti teman tidur atau pacar, udah kayak baju aja, sampe lupa yang mana ibu Dylan, makanya pake pengaman kalau mau mencoblos!" Giedo memukulkan gulungan koran di tangannya ke kepala Glen.


"Gak percayaan amat jadi orangtua!" Glen mengusap dadanya bersabar, dan mulai mengingat-ingat kejadian pas dia kuliah dulu.


"Pokoknya, mulai besok kamu harus cari ibu Dylan, jangan lepas tanggung jawab." Glen hanya mengangguk lemah, dia akan memikirkan hal ini nanti.


Lagian, Glen masih shock, di umurnya sekarang dia sudah punya anak? Luar biasa bukan? Anaknya juga bertemu dengannya secara tak sengaja.


Meski Glen masih ragu, Glen harus berusaha percaya. Rasa sayang dan rasa nyamannya kepada Dylan sudah membuatnya menerima hal ini dengan baik. Bahkan Glen bersyukur, dia dipertemukan dengan anaknya. Glen tak tau, apa yang terjadi pada Dylan sebelum mereka bertemu.


"Akan Glen usahakan pa!" Giedo mengangguk, kemudian Glen pamit, untuk pergi dari sana.


...•|•...

__ADS_1


...Beb? Tau cara vote kan? Ini hari Senin. beb, gak ada niat vote gitu?🐸...


...•|•...


__ADS_2