HUJAN DI BULAN APRIL

HUJAN DI BULAN APRIL
HDBA 5 •|Salah paham|•


__ADS_3

...•||•...


...HAPPY READING...


...#AUTHOR#...


...•||•...


April asik mengotak-atik handphonenya. Sedari tadi, teleponnya tidak di angkat sang pacar, yang tak lain adalah Glend.


"Glend kemana sih" Dia menghela nafas, dan menutup handphone. Rencana ingin mengajak Glend untuk pulang bareng hancur sudah, tapi dia baru ingat, setiap hari kan mereka memang pulang bareng.


"Pasti kak Glend udah nunggu di parkiran" Memang, hari ini mereka memliki jam pulang yang sama, sehingga April tak akan menunggu Glend si kursi tunggu lagi.


April berlari, hendak mendekati parkiran.


"April" Tapi, tangannya langsung dicekal, membuat April menoleh dengan kaget.


"Julio" Dia menghempaskan tangannya, dan mengelus pergelangan tangan yang di pegang laki-laki itu.


"Gue minta maaf, tadi pagi itu gue gak sengaja. Gue di dorong sama Anto, lo kan liat." Julio membuka suara, dengan raut wajah memelas.


"Ciuman tadi pagi, gak usah lo inget, cukup jauh-jauh dari gue, gue udah maafin lo." April melenggang pergi, dia tidak suka melihat laki-laki yang menciumnya secara tak sengaja itu.


April juga sudah mulai terbiasa menggunakan lo-gue dengan orang asing, dan dia sudah sangat mudah menyesuaikan diri.


Julio menatap kepergian April dengan wajah datar.


"Gercep banget" seorang perempuan menepuk bahu Julio.


"Lo juga, harus udah bisa ambil start" Mereka berdua tersenyum, sambil menatap punggung April yang semakin menjauh.


...*...


...*...


April terlihat bingung, setelah tadi dia tak menemukan Glend di parkiran. Sekarang dia malah tak mendapat kabar dari sang kekasih hingga malam.


Chat nya tak di balas, teleponnya tak di angkat. April berbaring, sambil menutup mata.


"Dia kenapa sih?" April merasa pusing, dan memilih tidur.


.......


Keesokan harinya, April bangun dengan wajah pucat pasi dan perut mulas.


"Aku kok bisa pusing-pusing begini ya, apa aku sakit" April menempelkan punggung tangannya ke kening, dan tidak merasakan panas.


April memilih beranjak, pagi ini dia ada kuliah. Jadi lebih baik, dia bergegas untuk berangkat. Terlebih dahulu, April mengecek handphone, dan belum ada tanda-tanda dari Glend.


...*...


...*...


April pergi ke kampus seorang diri, tak biasanya Glend tak menjemputnya. Setelah mengikuti perkuliahan, April mendatangi kelas Glendale dan tak menemukan pria itu disana.


"Nyari Glend ya? Glend udah pergi barusan" Ucap seorang pria dengan kemeja biru kotak-kotak. April mengucapkan terimakasih setelah itu berpamitan pada pria jangkung itu.


April bingung, sudah tiga hari dia tak bertemu sapa dengan Glend, dan parahnya lagi, April selalu mendapat jawaban yang sama dari teman-teman sekelas Glend.


Seminggu lagi, April akan UAS, untuk sampai ke semester empat. Dan dia belum bertemu dengan penyemangatnya itu.


April pun sudah mendatangi rumah Glend, tapi kata pembantu pemilik rumah yang tak lain adalah mama Annie dan papa Giedo sedang pergi jalan-jalan, dan Glend sedang kerja kelompok.


April pulang dengan lesu, dia tak menyangka sudah empat hari dia tak ketemu dengan sang kekasih.


...*...


...*...


April sudah selesai UAS, dia melangkah dengan malas ke parkiran. Hatinya sakit saat sudah dua minggu lebih tak bertemu dengan Glend. Dia awalnya yang selalu pergi ke kelas dan ke rumah Glend, pun menghentikan niat itu, karena alasan yang selalu sama dia dapat.


"Glennd" April tersentak kaget dengan suara yang keras itu. Akhirnya, April mengangkat wajah dan mendapati seorang perempuan yang sedang asik berbincang dengan pria yang ada di atas motor hitam itu.

__ADS_1


April dapat melihat, wajah tampan pria yang dia rindukan dua Minggu terakhir ini. Wajah itu masih tetap tampan, meski ada perban di pelipis kirinya. Apa perban??


April tersentak kaget, dan langsung berlari mendekati kedua manusia yang masih asik berbincang itu.


"Muka kamu kenapa?" April berniat menyentuh perban di pelipis kiri Glend, tapi si empu langsung menghindari dan mengalihkan pandangan.


"Naik" April terdiam dan hendak naik.


"Bukan lo, tapi lo" Glend menunjuk perempuan asing di samping April. Perempuan tadi tersenyum senang, sambil menaiki motor. Tanpa sepatah kata, Glend meninggalkan April yang sesak, matanya memanas tak m nyangka Glend akan seperti itu.


'Yes, akhirnya start juga'


April akhirnya pulang, pulang dengan wajah lesu dan lelah.


"Kamu berubah Glend" itulah kalimat yang terus menerus keluar dari mulutnya sedari tadi.


...*...


...*...


"Turun" Glend menghentikan laju motornya di tengah jalan.


"Glend?" perempuan itu tak beranjak, bahkan lilitan tangannya di pinggang Glend masih terasa erat.


"Gue bilang turun, lo budek atau apa?" Glend membuka dengan kasar lilitan tangan perempuan itu.


"Glend" perempuan itu turun, dan menatap sedih wajah Glend.


"Bilang sama abang lo, kalau dia itu ba ji ngan, sukanya sama bekas orang" Glend melajukan kembali motornya, tanpa peduli dengan teriakan perempuan itu.


...*...


Glend sampai di rumah dengan wajah lelah, harinya sedih dan wajahnya terlihat murung.


"Sayang, tumben pulangnya cepet" Annie mendekat, dan menatap putranya dengan wajah prihatin.


"Temen kamu itu masih ganggu kamu" Annie menyentuh perban Glend.


"Nggaklah ma, mana berani dia sama Glend" Glend memeluk ibunya dengan erat.


"Glend mau, lanjutin S2 di London" Annie terkejut, tak menyangka, Glend yang awalnya menolak, langsung menerima secepat ini.


"Trus... April?"


"Gak papa, kami udah bicarain hal ini kok ma" Annie terlihat ragu, dan menganggukkan kepalanya.


.......


Glend memeluk guling, matanya memandang langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca.


"Tega banget sih-" Glend kembali teringat pertemuannya dengan si brengsek Julio dua setengah Minggu lalu.


flashback on:


"Apa-apaan lo deketin pacar gue ha??" Glend datang dan langsung menarik kerah kemeja pria yang sedari tadi asik merokok di rooftop gedung fakultas.


"Cih" pria itu membuang puntung rokoknya asal.


"Harusnya lo yang nanya ke pacar lo itu. Kenapa dia mu*ahan banget, main nyosor aja cium gue!!" pria yang tak lain adalah Julio itu berseru sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


"Br*ngsek" Akhirnya, keduanya saling beradu tinju, tidak ada yang mau mengalah, meski sudah luka di berbagai sisi.


"Asal lo tau, pacar lo itu udah gue tidurin sampe puas... Hahaha" Julio tertawa puas, sambil terus melayangkan tinjunya.


"Baj*ngan, ba*gsat, mati lo" Glend terus meninju dengan membabi buta. Dia tak terima dengan ucapan Julio.


"Hahahaha" Julio semakin tertawa, meski rasanya gigi depannya terasa akan copot.


"Bang,,, Glend." Perempuan dengan rambut sebahu berlari, memisahkan keduanya.


"Julia, lepasin gue" Julio memberontak, mencoba melepaskan cekalan tangan adik kembarnya, Julia.


"Udah bang, nanti kalau dia mati gimana" Akhirnya, Julio dan Julia pergi, meninggalkan Glendale yang terkapar penuh darah di atas rooftop.

__ADS_1


Glend pulang dengan tertatih, dia memberi alasan kepada orangtuanya, ada orang yang mengganggunya.


Akhirnya, sejak saat itu, Glend tak mau bertemu dengan April, hatinya sedih mengingat ucapan Julio, dia percaya dengan hasutan iblis itu.


flashback off.


...*...


Glend mulai melakukan aktivitasnya seperti semula, dia meminta ayahnya untuk mempercepat studi. Dia ingin lulus dua bulan ini juga, dan ingin langsung pergi, pergi ke London.


"Kayaknya kamu antusias banget" Dosen pembimbing Glendale terkejut, saat dia melihat Glendale mengantarkan revisi skripsi bab 3 nya.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin pak, mohon bantuannya" Glend beranjak, pergi setelah si dosen menerima revisinya tadi.


"Kak Glend, kita perlu bicara" Glend terkejut, saat tangannya di seret ke belakang gedung dosen.


Glend menarik tangannya sambil mengalihkan pandangan.


"Kak, aku salah apa sih. Kenapa akhir-akhir ini kakak menghindar?" April tak kuat dan mulai menangis, dia heran bahkan liburan akhir semester yang berlangsung selama dua Minggu itu mereka tak ketemu.


Glend hanya diam, sambil terus menatap sekitar.


"Aku mau bicara, sepulang dari kampus tunggu aku, aku mau nanya banyak hal sama kakak" Akhirnya April pergi, karena memang dia masih ada kelas.


...*...


...*...


Dan, Glend tak menunggu, dia tetap pulang. Dia tak ada niatan berbicara dengan April.


Hampir tiga bulan hubungan mereka renggang. Glend sudah menyelesaikan studinya, dia akan ikut wisuda dengan beberapa mahasiswa semester delapan dan dengan beberapa mahasiswa yang mengulang.


Glend asik berfoto ria dengan kedua orangtuanya, tak lupa dia juga berfoto dengan teman-temannya.


"Glend bisa foto gak?" Julia datang, sembari memegang handphonenya.


"Hm" Glend berdehem, dan mereka pun berfoto bersama.


Dari kejauhan, orangtua Glend tampak mengamati itu semua, mereka heran, kenapa anaknya tidak bersama sang kekasih.


.......


Glend masih memakai toga, dia duduk di bawah pohon sambil menatap sekitar dengan wajah lesu.


Suara handphonenya kembali berbunyi, dia melihat pesan dari April.


^^^MY LUV<3^^^


^^^HAPPY GRADUATION kak, semoga sukses,^^^


^^^sehat selalu dan panjang umur.^^^


^^^Aku sayang kak Glend. Kalau boleh,^^^


^^^aku pengen nanti kita bicara di^^^


^^^belakang gedung fakultas, dan kakak^^^


^^^juga harus make toga, soalnya aku^^^


^^^pengen foto bareng♥️^^^


Glend mengusap wajah kasar, tak terasa setetes air mata mengalir di pipinya.


Glendale


Hm


.......


...-0o0-...


...Like, Vote dan komen...

__ADS_1


...-0o0-...


.......


__ADS_2