
...•||•...
...HAPPY READING...
...#Author#...
...•||•...
Glen dan April sudah berada di depan apartemen. Dengan telaten Glen menekan beberapa angka untuk akses masuk ke dalam
"Wah, sudah tau pin apartemennya. Jangan-jangan kamu sering kesini untuk menenangkan adik mu?" April melotot marah, Glen hanya diam pasrah.
"Tidak ada." Ucapnya pada akhir, karena April masih saja mengoceh. April hanya mendelik sebal, tak percaya dengan bantahan sang suami.
Glen mengintip satu persatu kamar. Dan dia menemukan Jennifer yang tertidur di kamar utama, berarti kedua manusia itu sedang tidur di kamar yang satu yang lagi.
Glen mengetuk pintu kamar. Tak berselang lama, terdengar suara benda jatuh, dan di barengi pintu yang terbuka. Terlihat disana wajah tampan pria yang masih mengantuk.
"Wah?" April malah melotot, sedikit terpesona.
"Heh." Glen segera menutup mata April. Glen menatap tajam wajah mengantuk si pembuka pintu. Berani-beraninya dia keluar dengan keadaan telanjang begitu.
"Apasih? Ganggu banget." Ucap Brandon yang masih belum sadar. Mulutnya masih asik menguap.
__ADS_1
"Adeknya lebih besar dari punya kamu." Bisik April pelan, meski matanya sudah di tutup, tapi bayangan benda menggantung tadi masih berputar di otaknya.
"Huft, mata mu sudah tak suci lagi." Rengek Glen, dia sudah gregetan menatap pria yang masih terpaku di depan pintu.
"Cepat pakai pakaian anda, saya mau bicara." Ucap Glen pelan dan berwibawa. Setelah itu, dia pergi dari depan pintu kamar, tak lupa menarik istrinya yang masih terpesona.
"Harusnya dia tutup mata!!!" Umpat Glen dalam hati.
Glen duduk di ruang tamu bersama April yang masih terbengong. Glen hanya bisa menghela nafas, sambil mengelus dadanya untuk bersabar.
...><...
Glen, April, Brandon dan Jeny sudah duduk di dalam ruang tamu. Keadaan masih hening setelah dua menit mereka duduk
"Saya sudah tahu semuanya, jadi lebih baik anda membawa tunangan dan anak anda dari apartemen saya, jangan malah asik mengganggu rumah tangga orang." Ucap Glen dengan tegas, matanya menatap tajam Jeny yang menunduk.
"Lagian apa motif kamu Jeny? Kenapa kamu melakukan ini kepada saya?"
Jeny masih diam, hingga akhirnya Brandon buka suara.
"Aku mengeluarkan sangat banyak tadi malam, mungkin saja akan jadi lagi. Jadi ayo pulang Jen, apa kau tidak merindukan daddy dan mommy mu?" Ucap Brandon lembut. April mendadak mual, ucapan Brandon terlalu frontal.
"Ta-tapi aku mencintaimu Glen." Ucap Jeny dengan pelan. Tak menanggapi ucapan Brandon. Pasti pria itu sakit hati.
__ADS_1
"Cih lon*e." April berdecih sambil memeluk lengan Glen posesif.
"Jangan harap bisa merusak rumah tangga kami lagi, saya permisi. Urusi hubungan kalian." Glen merangkul pinggang April posesif. Keduanya pergi dari sana.
"Eh, jangan lupa untuk membersihkan apartemen saya sebelum kalian pergi." Glen menyempatkan berteriak sebelum pintu apartemen tertutup.
"Kalau kamu memang mencintai dia, aku akan melepaskan mu. Tapi tidak dengan anakku." Brandon marah, dengan segera dia pergi ke kamar putrinya. Menggendongnya dan membawanya keluar.
"Nggak, aku gak mau. Brandon, jangan bawa Jennifer." Jeny berteriak histeris.
"Iya-iya, aku mau ikut kamu." Ucap Jeny dengan kuat, dan memeluk perut Brandon dari belakang.
"Jangan pisahin aku sama Jennifer." Ucapnya pelan, tangisnya pecah diikuti sesunggukan.
Brandon tersenyum lega, akhirnya dia bisa mendapatkan Jeny lagi, calon istrinya sekaligus pemuas nafsunya.
"Bagus, pilihan yang tepat." Ucapnya dengan smirk andalannya. Jeny, perempuan itu hanya pasrah.
Caranya memang salah karena melibatkan rumah tangga orang, tapi dia mau lepas dari pria ini. Rasanya menyesakkan.
...•||•...
...🙄...
__ADS_1
...•||•...