
...-o0o-...
...HAPPY READING...
...-o0o-...
Glend terduduk di atas kloset. Tangan kanannya masih asik memijat pelipisnya yang terasa sakit.
Dia merogoh saku celana jeans-nya. Mengambil permen jahe dan memakannya dengan tenang.
Ting...
Glend membuka handphone, dan masuk ke dalam kolom chat dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah temannya. Berman mengirimkan chat panjang.
BERMAN 'FAAT
Bro, gue denger², cewek lo ajuin cuti ke rektor. Lo sama dia knp dah, pake ngilang segala. Lo siap wisuda langsung ngilang, gue bahkan tau kabar lu cuma dari chat doang. Btw, tadi gue gak sengaja ketemu sama cewek lo di terminal, dia gendong baby dong. Jangan², lo sama dia udah 'ehem' duluan ya, makanya pengen fokus ke situ. Wah, pantesan lu percepat studi, pura² kuliah di London lah,,, apalah -_-
Glend terdiam setelah membaca chat itu. Otaknya fokus pada kata cuti dan baby. Dia sangat ingin bertanya, tapi dia yakin Berman tak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan yang punya hanya perempuan yang mereka bicarakan saat ini.
Glend mengirim sebaris kalimat, untuk membuat Berman bungkam dan tak mengusiknya lagu dengan berita-berita tentang perempuan itu.
^^^Glendale^^^
^^^Makasih bro atas beritanya,^^^
^^^tapi gue tegaskan, dia bukan cewek^^^
^^^gue lagi. Dia udh jdi masa lalu gue,^^^
^^^so jangan lagi lo kabarin^^^
^^^gue tentang dia.^^^
Glend kembali memasukkan handphonenya ke saku celana. Sebelum bangkit, beranjak keluar kamar mandi. Glend memilih tiduran di kasur empuk apartemennya daripada pusing memikirkan perempuan itu
...*...
...*...
April asik memilah sayur di pasar, di dalam gendongannya terlihat baby Aldo asik minum susu dari botol. Baby Aldo berada di gendongan bagian depan tetapi menyamping untuk tidak menghimpit perut buncit April. April tak nyaman menggendong baby Aldo di belakang. Meski perut April sudah membesar, dia lebih nyaman akan hal itu, meski agak sesak.
Setelah April selesai belanja untuk kebutuhan tiga hari ini, April pun pulang ke kost, dengan keringat bercucuran sebab panas matahari hari ini sangat menyengat, untung saja dia selalu membawa payung, karena dia tak mau membuat baby Aldo kepanasan atau kehujanan.
April menjalani hidup pas-pasan nya di kost sempit itu, dia perlahan-lahan sudah mulai melupakan cinta pertamanya. April juga sering memberi kabar ke kampung, meski dia tak memberitahukan keadaannya, dan tak memberitahukan tentang dia yang sudah berhenti kuliah, atau lebih tepatnya cuti.
April sudah tak pernah lagi merenung, mengingat kebersamaannya dengan sang kekasih, atau lebih tepatnya mantan kekasih kah?
April memilih fokus bekerja, dan mengurus kandungannya dan baby Aldo.
...*...
...*...
April duduk di kursi tunggu bidan kandungan, hari ini dia merasa perutnya sakit, dan memang sudah sembilan bulan kandungan ini dia bawa kemana-mana, jadi untuk jaga-jaga, dia pergi ke bidan jika sewaktu-waktu dia lahiran.
__ADS_1
April meringis saat ada tendangan kuat di dalam perutnya, dia menutup mata sambil mengepalkan tangannya menahan sakit.
April merasakan ada tangan yang mengusap perutnya yang buncit itu. April membuka mata, dan langsung menatap manusia kecil di sampingnya.
"Atit mama?" Baby Aldo masih mengusap-usap perut buncit April, hal itu membuat hati April menghangat dan langsung menggenggam tangan mungil putranya. *Sakit mama?
"Gak sayang, gak sakit" April memeluk baby Aldo, sambil menciumi puncak kepala putranya.
Aldo turun dari kursi, dan langsung memeluk perut buncit Caitlin.
"Adek jan nakal, ental mama atit"
April terharu, dua ikut-ikutan memeluk tubuh Aldo yang masih memeluk perutnya. Baby Aldo'nya sudah besar.
"Aldo pengen baby perempuan atau laki-laki?" April iseng bertanya, karena dia memang belum tau jenis kelamin anaknya, sebab dia tidak punya uang untuk periksa kandungan atau lebih tepatnya USG.
"Adek luan ama laki-yaki yang anyak ma" Aldo merentangkan tangannya, seakan mengatakan dia ingin memiliki adek perempuan dan laki-laki yang banyak. *Adek perempuan sama laki-laki yang banyak ma.
April terkekeh, bagaimana bisa dia membuat adik yang banyak untuk Aldo, siapa petani yang mau menanam ladang bekas sepertinya, dan memang April tak berharap sedikit pun akan hal itu.
"Eh, mbak kenapa gak masuk?" Seorang perawat yang lewat menyapa April dengan ramah.
"Bidannya udah kosong kah mbak? Saya mau liat apakah pembukaannya udah mulai?" Perawat itu mengangguk mengerti dan menuntun April ke dalam ruangan bidan.
April di periksa, dan di katakan sudah memasuki pembukaan keempat.
"Wah, anda kuat sekali, tidak langsung oleng pas sudah mulai pembukaan" ucap sang bidan dengan wajah ramah.
April hanya tersenyum menanggapi hal itu, dia mengelus perutnya, anaknya memang sangat mudah berkompromi.
'Bagaimana aku menafkahi mereka nanti' April hampir meneteskan air mata, dia berada dalam masa yang sangat sulit.
Bidan itu pergi, dan menyuruh April untuk melakukan beberapa pergerakan supaya pembukaannya cepat berlangsung.
April naik turun ke kasur, dan bahkan dia memilih duduk di sofa ruangan itu, sembari mengajak baby Aldo mengobrol.
"Ado kan dah besal ma, napa anggil aby agi?"
|Aldo kan udah besar ma, kenapa dipanggil baby lagi?|
Aldo mengerucutkan bibirnya, tak suka di panggil baby lagi, karena dia sudah lumayan lancar berbicara dan berjalan.
April terkekeh, sangat gemas dengan sikap sok dewasa anaknya.
"Ya udah, mama panggil abang Aldo aja ya? Kan, bentar lagi abang bakal punya adik!!"
Aldo mengangguk senang, dan mulai berceloteh tentang 'cici' anak ayam tetangga mereka.
"Cici nakal ma, cici atuk Ado tadi" Aldo menunjukkan tangan putihnya yang memang ada sedikit bekas berwarna biru di sana.
"Kok patukan cici kuat, bukannya Cici masih kecil?" April mengelus kulit lengan putranya sayang.
"Cici uangtaun kemalin, Cici uah ima buan, ak kecik agi."
|Cici ulangtahun kemarin, Cici udah lima bulan. Jadi gak kecil lagi.|
__ADS_1
Aldo mulai menceritakan tentang ulangtahun Cici, yang di rayakan Doni pemilik ayam seumuran Aldo.
"Ado apan uangtaun ma?" April terkejut, tak menyangka Aldo akan menanyakan ulangtahunnya.
April memutar otak, saat melihat raut wajah Aldo yang sangat ingin tahu.
"Oh itu... Aldo ulangtahun... hari ini, iya hari ini, hari ini Aldo udah umur dua tahun" April menghela nafas saat Aldo tiba-tiba ceria.
"Ado uangtaun.... yey" Aldo mengitari tubuh April dan asik menyanyikan lagu 'selamat ulangtahun'
"Ma gak eli kue buat Ado?" Aldo menatap April penuh harap, Aldo terbayang dengan Cici yang memiliki kue di ulangtahunnya kemarin.
"Hm, tunggu adek lahir ya nak, nanti kita beli kue" April mulai berpikir, ternyata Aldo akan ulangtahun bersama anaknya jika anaknya lahir hari ini.
"Okay ma" Aldo duduk di sofa, dan menatap mamanya yang mulai menaiki brankar dan berbaring sebab perutnya tambah sakit.
Bidan pun datang, dan segera memeriksa pembukaan April.
"Sudah pembukaan kesembilan" Bidan menyuruh beberapa perawat bersiap-siap, untuk segera membantu April lahiran.
"Oke sudah pembukaan kesepuluh" Bidan dan beberapa perawat mulai menuntun April untuk melakukan proses lahiran. April menggigit pergelangan tangannya kuat, dia tak mau berteriak dan membuat Aldo yang sedang menunggu di luar sana cemas.
"Baik bu, kepalanya sudah terlihat" April mengambil nafas dan menghembuskannya kasar. Begitulah berulang-ulang, sampai sesosok bayi mungil keluar.
Oekkk... oekkk
"Bayinya laki-laki Bu. Selamat" April tersenyum, dia menatap tubuh putranya yang sangat memerah.
"Cepat bersihkan Wi" Bidan menyuruh salah satu perawat membersihkan bayi.
"Baik bu, kita lanjut" April kembali mengatur nafas, dia sudah tau kalau di dalam masih ada, sebab perutnya masih buncit.
April kembali melakukan hal-hal yang di suruh bidan.
"Ya, semangat Bu. Kepalanya sudah keluar" Bidan itu masih terus membantu, entah kenapa anak kedua ini sangat sulit keluar, sudah lima menit berlalu sejak anak pertama lahir, dan yang kedua ini masih asik tarik ulur.
Setelah hampir sepuluh menit, bayi yang sudah di cap sebagai si tarik ulur itu pun keluar.
"Huh, selamat ya Bu. Anaknya laki-laki" April mengatur nafas, sedikit rasa asing di hatinya, tapi segera dia tepis, dia akan bahagia dengan anak-anaknya.
April pun hanya bisa meringis, merasakan sakitnya jarum jahit yang masih asik bekerja itu. Tiba-tiba, otaknya kembali teringat dengan Glend.
.......
...-o0o-...
...Wah-wah, udah ada tiga anak tuh....
...Cokgan semua kah? Gak sabar...
...nunggu bapaknya lanjut bercocok tanam,...
...cetak adek buat si kembar...
...-o0o-...
__ADS_1
.......