
...-o0o-...
...HAPPY READING...
... #April#...
...-o0o-...
Aku tak menyangka dia akan pulang dan mampir ke kost ku lagi. Pertemuan kami dua hari yang lalu, selalu terngiang-ngiang di kepala ku. Kalau boleh jujur, dia sangat-sangat tampan, wajahnya sangat terlihat dewasa dan menggoda tentunya. Aku kembali mengingat beberapa patah kalimat yang pernah aku baca, 'Jika sudah menjadi mantan, mantan pasangan mu itu akan lebih menarik' dan ternyata itu tidak bohongan.
Oke, lupakan pembahasan unfaedah itu. Aku saat ini sedang merasa khawatir, bagaimana jika dia kembali lagi, dan mencuri anak-anak ku? Bagaimana jika dia membawa anak-anak ku kabur ke luar kota atau bahkan ke luar negeri? Atau, bagaimana jika dia menyebarluaskan gosip, mengatai ku perempuan murahan dengan tiga orang anak?
Tapi, tak kan kubiarkan hal itu terjadi. Aku akan melakukan segala cara, demi tetap bersama anak-anak ku.
Sudah berapa lama dia tak datang? Kira-kira setahun lebih, dan aku perkirakan dia pasti sudah punya pacar. Di negeri sana kan sangat banyak perempuan-perempuan cantik dan lebih menarik dari ku. Ah sudahlah April, fokus pada dirimu saat ini, jangan lagi hiraukan dia. Aku menyemangati dari, karena tak mampu jika apa yang ku pikirkan benar-benar terjadi.
Aku saat ini tengah menidurkan anak-anak kesayangan ku di atas kasur yang sudah ke desain senyaman mungkin.
"Semoga mimpi indah sayang" ucapku sebagai kalimat tidur untuk ketiga putra kesayanganku.
...*...
...*...
Aku terbangun, melihat sepasang mata yang berbinar menatap ku penuh makna.
"Mama Ado lapal" Seperti sapaan-sapaan sebelumnya. Aldo akan menggumamkan kalimat itu di tiap pagi aku membuka mata.
Cup...
Aku mencium pipi bulat Aldo. Dan tersenyum tipis.
"Morning baby" Aldo cemberut, mengerucutkan bibirnya membuatku gemas dan mencuri ciuman disana. Aldo tak suka dipanggil baby.
Aldo langsung menghambur, memelukku erat, dan tak lupa tangan nakalnya mulai menggelitiki ku.
"Mama akal" (nakal) ucapnya dengan suara penuh. Pipinya memerah karena lelah sehabis menggelitiki ku.
"Hahahaha, udah-udah... mama mau masak" Aku langsung mengangkat tubuh Aldo pelan, karena baru sadar si duo kembar belum bangun juga.
Kami berdua turun dari atas kasur dan mulai mendekati dapur untuk memasak. Tak sengaja mataku menatap kalender yang tergantung di dinding.
Deg...
__ADS_1
Aku terdiam membisu, tubuhku gemetar, tanganku otomatis terlepas dari genggaman tangan mungil Aldo. Aku berjongkok dan menutup telinga.
"Mama?" Aldo yang bingung ikut-ikutan berjongkok, dan menatapku penuh tanya.
"Napa?" Tanyanya lagi, aku hanya diam. Mata ku memerah dengan sekelebat bayangan melayang-layang di otakku.
"Hiks...hiks...hiks" Aku menangis pelan, menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.
Aldo diam, dan langsung memelukku erat, dia ikut-ikutan menangis kencang.
"Huaaaaa.... mama... hiks... hiks" Aldo mengusap ingusnya di bajuku. Air matanya masih terus mengalir deras.
"Ngan nais" (jangan nangis) ucapnya dengan nada serak, karena menangis kuat walaupun hanya sebentar.
Jika kalian tanya drama apalagi ini? Aku juga tidak tau, tapi setiap melihat tanggal itu, dan bulan ini... Aku selalu merasa lemah, aku benci tanggal dan bulan ini. Tanggal yang seharusnya selalu ketunggu-tunggu karena usiaku bertambah satu tahun. Tapi, sekarang aku tak menyukai tanggal itu lagi, aku merasa menjadi manusia termalang jika tanggal ini datang.
Ulangtahun ku, aku membencimu... Maafkan aku, tapi itu semua karena situasi ini... Aku merasa, aku akan trauma dengan tanggal - di bulan April itu.
...*...
...*...
Aku sudah mengajukan judul skripsi. Dan syukur-sukur, akhirnya di accept juga... Aku akan berusaha mencari pekerjaan yang layak nanti, agar bisa membayar semua bantuan Julio.
Untunglah Julio sudah membantu ku merawat anak-anak. Untung juga aku langsung bisa mengejar ketertinggalan tanpa menambah waktu kuliah ku setengah tahun lagi.
Saat ini, aku sedang duduk diam di ruang tunggu. Sangat gugup saat akan sidang skripsi... Semoga saja aku bisa menguasai materi itu.
Setelah melewati neraka presentasi skripsi selama satu setengah jam, aku akhirnya bisa bebas dari mata tajam para dosen. Sungguh, aku tak menyangka sidang skripsi semendebarkan ini, aku bahkan lebih gugup daripada saat kak Glen mengungkapkan perasaannya kepada ku. Kenapa jadi membawa-bawa nama pria itu sih?
Aku menyadarkan pikiran, mungkin pikiranku sedang berkelana akibat rumitnya presentasi skripsi tadi... Oke... sekarang kita tinggal menunggu tanggal wisuda... aku sudah tak sabar... Fokus bekerja, dan mengurus anak...
...*...
...*...
"Happy birthday..." Aku duduk di halte bus seorang diri. Telingaku berdengung mendengar kalimat itu. Aku menatap kanan dan kiri, tak menemukan satu orang manusia pun. Aku menggenggam tas selempang ku dengan erat.
Aku menutup mata, berdoa di dalam hati, semoga Tuhan menjauhkan segala makhluk halus maupun kasar dari dekat ku.
"Kenapa?" Lagi... aku mendengar suara itu, bahkan sangat dekat dengan ku. Dengan tangan gemetar, dan mulut komat-kamit merapalkan doa, aku membuka mata. Dan hap...
Wajah tampan bak dewa Yunani, kumis tipis yang sudah mulai muncul. Rahang yang tegas, bibir merah, mata tajam, hidung mancung, dengan kulit putih langsung terpampang jelas di depan mataku.
__ADS_1
Sedang tersenyum tipis, sambil menggaruk tengkuknya.
Aku menjauhkan diri, baru sadar ternyata ada orang disini. Tepatnya di depanku, menatap ku dengan wajah bingung.
Glen mendudukkan dirinya di samping, membuat ku menjaga jarak seaman mungkin.
"Gue gak nyangka-" Dia mulai berbicara dengan sedikit menghela nafas.
"-Kalau lo bakal pertahanin anak Julio!". Kan, seperti dugaan ku, dia pasti akan mengatakan hal-hal menyakitkan lagi, dan membuat ku hanya sakit hati dan bertambah membencinya.
"Andaikan waktu itu, lo gak pertahanin-"
Plak...
Tangan ku yang gatal langsung menampar wajah tampan bak dewa itu, tapi dengan hati iblis.
"Jaga bicara anda!!! Mereka anak-anak saya, jangan karena saya diam, anda jadi sesuka hati anda mengatakan hal-hal yang membuat saya sakit hati" Aku berucap dengan nada tinggi. Sungguh, hati ku sakit mendengar penuturannya.
Aku terbayang, bagaimana jadinya aku jika membunuh Gabriel dan Gabrian dulu? Apa tidur ku akan tenang? Meski ada Aldo yang tetap di sampingku? Intinya, aku menyayangimu ketiga anakku itu. Huft, kenapa anak-anak ku harus memiliki ayah sebodoh ini?
"Me-mereka?" Pria si*lan itu kembali bertanya membuat ku muak dan sangat ingin pergi dari sana.
"L-lo punya berapa anak dengan Julio?". Aku menghela nafas mendengar pertanyaan pria sialan di samping ku ini.
"Saya tidak punya anak dengan Julio. Saya memiliki anak dari seorang pria br*ngsek, ba*ingan, tak tahu diri... Dan, saya membencinya!! Tapi, hal itu tak melunturkan kasih sayang saya kepada anak-anak saya" Setelah mengucapkan itu, aku beranjak, memilih mencari angkot atau ojek terdekat.
'Aku muak!!'
.
.
.
...-o0o-...
...MAAF, KALAU AUTHOR LAMA UPDATE. AKU ADA UAS DAN HARUS BELAJAR KERAS😳😭🙏...
...KALAU LUPA SAMA ALUR, BISA BACA ULANG😭🙏...
...MAAP BANGET 😭🙏...
...-o0o-...
__ADS_1