
...-o0o-...
...HAPPY READING...
... #Author#...
...-o0o-...
April mengusap matanya yang sembab. Sudah dua Minggu lebih dia belum juga menemukan Gabriel.
April beranjak dari tempat tidurnya, menatap wajah lelap Aldo dan Gabrian yang masih asik berkelana di alam mimpi.
April akhirnya memilih pergi ke kamar mandi, hari ini dia akan cuti lagi. Dan mencari Gabriel yang entah ada dimana.
...><...
"Mama, Yel kapan pulang?" Aldo yang saat ini sedang memakai sepatunya bertanya. Sudah seringkali pertanyaan itu terlontar dari mulut mungil pria kecil itu.
"Ian juga mau libulan, maca Yel doang yang libulan!" Gabrian ikut-ikutan merengek. Memang April mengatakan Gabriel pergi ke tempat yang indah dan nyaman, dan akan pulang.
Oleh karena itu, Aldo dan Gabrian malah menyimpulkan sebagai liburan.
"Bentar lagi Gabriel juga pulang sayang. Kalian yang sabar ya" April hanya menjawab seadanya, meski dia juga bingung berat mencari keberadaan Gabriel.
Aldo hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah kaki April yang menggandeng tangan Gabrian keluar kontrakan.
"Aldo baik-baik belajarnya ya!" April mengusap kepala Aldo yang akan memasuki TK itu.
"Iya mama!" Aldo akhirnya berlari riang memasuki kelasnya.
...><...
April mengangkat tubuh mungil Gabrian saat keduanya akan memasuki sebuah angkot berwarna merah, yang tujuannya ke pasar tradisional di kota itu.
"Mama... Yel!!" Gabrian menunjuk-nunjuk jalan, sambil memperhatikan sebuah mobil.
"Iya sayang, kita mau ke Gabriel." April malah berpikir bahwa maksud dari Gabrian adalah dia ingin bertemu Gabriel, padahal sebenarnya Gabrian melihat mobil lewat, berisikan Gabriel.
Gabrian terdiam, tak tahu lagi harus menanggapi bagaimana. Otaknya yang masih baru belajar itu hanya bisa menyuruhnya diam, dan ikuti alurnya.
Mereka sampai lagi ke pasar itu. Tempat dimana Gabriel hilang.
__ADS_1
"Pak, izin nanya pak... Apakah bapak pernah lihat anak ini?" April menyodorkan handphonenya berisikan foto Gabriel. Pedagang itu menggeleng, dan dilanjut April yang mengucapkan terimakasih dan mulai menanyakan pedagang-pedagang yang lain.
"Harusnya mbak lapor polisi, biasanya kalau ada anak yang hilang, orangtua akan kasih laporan, dan biasanya yang nemuin anak ilang, anaknya bakal diserahkan ke polisi sih. Kalau sampe satu bulan orangtua anak gak ketemu, baru dah dikasih ke panti atau diangkat anak sama orang!" Salah seorang ibu-ibu penjual martabak menyahut, membuat April akhirnya tersadar.
April tak kepikiran kesana, April malah fokus mencari Gabriel di pasar ini, bukan langsung ambil tindakan.
"Ya ampun, makasih banyak Bu atas sarannya. Saya permisi dulu!" April bergegas, tangannya memeluk erat tubuh Gabrian yang menggantung di gendongannya. April tak mau membiarkan Gabrian berjalan kaki, meski anak itu merengek minta turun.
...><...
April sudah sampai di kantor polisi terdekat, dia menanyakan perihal laporan anak hilang disana.
"Mohon maaf Bu, sejauh ini memang ada satu laporan anak hilang dan satu anak ditemukan. Satu laporan sudah kedaluwarsa, yaitu anaknya sudah ditemukan dan ditempatkan di salah satu panti. Anak kecil itu berjenis kelamin laki-laki. Satu bulan yang lalu dia dibawa kesini." Polisi itu membolak-balikkan kertas, sembari membaca laporan yang dipertanyakan April.
"Untuk laporan yang kedua, ada anak perempuan. Anak ini masih tiga hari dilaporkan hilang, dan juga belum ditemukan. Tapi, untuk anak yang anda maksud mungkin tidak ada laporan hilang dan ditemukan." April menghela nafas panjang, dia akhirnya mengajukan laporan anak hilang, sudah empat hari hilang.
Setelah menyelesaikan pengisian berkas, April akhirnya pergi dari tempat itu.
"Eh, untuk laporan itu bagaimana?" Polisi tadi bertanya pada teman-temannya.
"Sepertinya sudah tidak dibutuhkan lagi, kita tak usah mengganggu keluarga itu. Mereka terlalu mempunyai pengaruh besar." Semuanya akhirnya mengangguk setuju, memilih diam tak ikut campur.
...><...
"Papa akan lakukan tes DNA. Papa harap mama mau diajak kerja sama" Giedo menyodorkan plastik kecil kearah sang istri.
"Nanti mama gunting sedikit rambut Dylan. Trus nanti papa akan pura-pura kesal sama Glen, dan Jambak rambutnya kuat buat ambil rambutnya." Annie hanya bisa geleng-geleng kepala melihat wajah geram suaminya, meski tangannya bergerak juga mengambil plastik kecil itu.
"Jangan sampai Glen tau?" Keduanya mengangguk, kemudian beranjak hendak melakukan misi masing-masing.
...><...
"Sayang, ini di kepala Dylan ada cinta!" Annie mengelus kepala Dylan pelan. Tangannya langsung cekatan menggunting beberapa helai rambut lebat bocah itu.
"Nah, ini dia." Annie menyodorkan jarinya yang berbentuk hati.
Dylan terdiam, dan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Glanma luyu!" Gabriel masih asik tertawa, hal itu membuat Annie ikut tertular tawa anak itu.
"Ya udah, Grandma pergi dulu ya, ambil susu buat Dylan." Annie beranjak, tersenyum bahagia saat misinya selesai.
__ADS_1
"Kok pala ilan dingin yak?" Dylan mengusap kepalanya, saat angin tiba-tiba masuk dari jendela berhembus memasuki kamar. Dylan tak sadar, kepalanya sudah seperti digigit tikus, terlihat botak di sisi belakang. Annie mengguntingnya tanpa memperhatikan tadi, hingga segenggam rambut itu malah berserakan di lantai.
...><...
"Akkkk... Dady!!!" Glen meronta, berusaha melepaskan jambakan ayahnya, yang tiba-tiba muncul dan langsung menyerangnya begitu saja.
"Huft..." Giedo langsung memasukkan rambut yang berhasil dia cabut ke dalam saku.
"Ashhh..." Glen mengusap kepalanya yang tiba-tiba berdenyut, dunia seakan berputar.
"Oke, Dady pergi dulu... Bay" Giedo langsung keluar dari kamar Glen. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
"Kayaknya dady pms, datang-datang langsung Jambak anak monyet. Eh, anak Giedo maksudnya, masa ganteng-ganteng gini anak monyet!" Glen melupakan denyutan di kepalanya, karena rasa narsis yang tiba-tiba datang menggerogoti pria itu.
...><...
"Hasilnya akan keluar dua minggu lagi!" Dokter itu berucap dengan tegas, dia menatap Giedo dengan hormat.
"Aku mempercayaimu Khirs, lakukan yang terbaik untuk itu." Giedo menepuk-nepuk pundak Khris.
"Terimakasih Giedo, tapi bisakah kau jangan sok formal seperti itu. Apalagi tepukan tangan mu itu, bahu suciku ternodai!" Khris berpura-pura histeris, sambil mengibaskan kemeja putihnya.
"Ck, dasar... kenapa Angeline bisa kepincut sama dokter bodoh ini?" Giedo memijat pelipis, matanya menatap dua manusia yang duduk berbincang di sofa.
"Bagaimana kabar George?" Giedo membuka suara, sambil menatap istrinya lekat.
"Baik, tapi sayangnya Morgan belum ditemukan." Khris menghela nafas, tangannya bergerak membuka kacamatanya.
"Semoga saja Morgan baik, supaya George tak lagi frustasi dan malah terus menambah anak." Giedo tertawa mengejek.
"Anaknya masih lima, kenapa kau sudah menghujat seperti itu?" Khris memutar bola matanya, rencananya Khris ingin membuat dua belas anak, eh melihat reaksi Giedo membuatnya mengurungkan niat.
"Hentikan rencana mu itu, mending kau jual ****** mu, dan dapatkan uang yang banyak!" Giedo beranjak, dengan tawa khasnya yang mengalun di ruangan Khirs. Hal itu membuat dokter mesum itu kesal bukan kepalang.
"Sia*an!"
...•|•...
...Author ngemis vote...
...Besok kan Senin, jangan lupa vote cerita ini....
__ADS_1
...•|•...