
Sebuah benua diujung barat daya terdapat beberapa negara yang terkenal akan kekayaanya, Negara Sky Up, Negara Tontora, Negara Foska, Bindona, dan Markopolo.
Markopolo adalah negara terbawah dari keempat negara lainnya. Ibu kotanya bernama ILOS. Meski terbawah, Markopolo adalah salah satu Negara modern yang memiliki kemewahan di setiap sudut kotanya. Markopolo dipimpin oleh seorang perdana menteri bernama Dokisan. Dokisan dikenal oleh rakyatnya sebagai perdana Menteri yang baik, dermawan , bijaksana dan sangat mencintai rakyatnya, Terutama rakyatnya yang miskin.
Markopolo juga terkenal akan puluhan pulau yang menawan, kota yang indah, dan lautanya yang bening sebening kaca.
Disebuah Kota di Negara Markopolo terdapat sebuah Kota yang kaya akan alam, tanah yang subur dan terdapat gunung emas bersemayam di bawah tanah. Kota itu dikenal dengan nama Soka.
Dari sekian banyak penduduk disana, Ada Satu keluarga yang dimana setiap harinya selalu memancarkan tawa, canda dan kasih sayang.
Keluarga itu dikepalai oleh seorang laki - laki yang sangat bijaksana bernama Halemos.
Halemos juga seorang Pemimpin di kota Soka.
Halemos sangat menyayangi Istri dan anak perempuan satu - satunya. Tubuhnya kekar, tinggi dan tegap, kulitnya yang berwarna kecokelatan membuat dia semakin elegan, sikapnya yang berwibawa, penuh dengan keramahan membuat dia sangat dihormati serta di segani oleh para penduduk disana.
Istrinya laksana bidadari yang turun dari langit, anak perempuannya sungguh anggun dan menawan, sama seperti ayahnya diapun penuh dengan kehangatan, meski saat ini dia masih berumur 5 tahun, namun dia sangatlah pintar.
Halemos memiliki sebidang tanah yang cukup luas, disetiap tanahnya memiliki harta emas yang terpendam, tanah itu adalah warisan dari para leluhurnya yang dahulu, Halemos mengelola tanah itu dan membuat tambang emasnya sendiri, pegawainya adalah para penduduk yang ada di Kota Soka.
Berkat Halemos, kejahatan dikota Soka sangatlah minim, karena dia selalu membantu penduduk yang sedang kekurangan dan membantu memecahkan masalah yang dialami oleh para penduduk. Itulah salah satunya alasan kenapa para penduduk di kota Soka sangat menghormatinya.
Tak diragukan lagi kekayaan Halemos, dia dan keluarganya tinggal di rumah yang sangat megah, halamanya yang luas, terdapat beberapa pohon apel disana.
-Dikediaman Halemos-
"Krishan, bangunlah Ayahmu akan segera pergi" Teriak Helena membangunkan anaknya.
Meski terdengar samar, Kris segera bangun dengan semangat karena mendengar Ayahnya akan pergi.
"Ibu panggil aku Kris, aku lebih suka nama itu, dan Ayah tunggu aku, aku akan segera mandi, aku akan ikut Ayah pergi hari ini" Teriak Kris yang sudah berada didalam kamar mandinya.
"Lihat putri kecilmu sayang, mendengar kamu akan pergi dia segera mandi"
Ucap Helena sambil menyiapkan sarapan pagi , Suaminya yang telah duduk di meja makan tersenyum
" Bukankah dia mirip seperti kamu, apakah kamu lupa bagaimana bahagianya kamu saat mendengar kita akan pergi ke ladang gandum?" jawab Halemos
"Itu berbeda, ladang gandum tidak berbahaya, sedangkan tambang dibawah tanah itu sangat bahaya" Ucap Helena
Mereka berdebat serius mengenai itu, tanpa sadar anaknya Kris sudah ada dimeja makan dan menghabiskan roti bakar yang sudah disiapkan oleh Ibunya.
"Ayah Ibu apakah kalian sudah selesai? Ayah apakah kita bisa pergi sekarang? " Ucap Kris memotong pembicaraan kedua orang tuanya
__ADS_1
"Oh putriku, sejak kapan kamu sudah ada disana? Dan, coba lihat kemana perginya roti bakarmu?" Ucap Helena menoleh kearah Kris begitu juga Halemos yang menatap putrinya heran.
"Saat kalian berbincang, aku sudah duduk disini Ibu, dan mengenai roti bakar, dia tadi berlari masuk keperutku tepat saat aku membuka mulut" Ucap Kris sambil tertawa
Mendengar itu Ayah dan ibunya menahan tawa.
"Ayah apakah rotimu tidak punya kaki? Kenapa dia belum pergi kedalam perut ayah? Coba ayah buka mulut ayah maka dia akan berlari dan segera menghilang dari piring itu" Tambah Kris
Halemos segera menghabiskan rotinya dengan cepat, dan mendorongnya dengan air mineral.
"Lihat dia sudah berjalan kemulut Ayah, bahkan dia tidak hanya berlari tapi juga menyelam" Ucap Ayahnya sambil tertawa
"Anak dan Ayah sama saja" ucap Helena
"Ayo Ayah, hari ini kita akan ketambang kan? " Ucap Kris
"Baiklah tuan putri, kita akan kesana"
Halemos bergegas memakai jaket kulit berwarna hitam, dan mencium istrinya serta berpamitan pergi.
Begitu terlihat bahagianya Kris, terlihat dari senyumannya yang lebar kepada sang Ibu, diapun mencium pipi Ibunya dengan hangat.
"Hati - hati di jalan sayangku" ucap Helena yang mengantar mereka kedepan gerbang rumah, dan melihat kedua orang yang mereka sayang berlalu pergi.
Setibanya di tambang,
"Ayah, apakah emas yang ada disini akan habis?" tanya Kris
"Emas disini tidak akan habis anakku, karena ini gunungnya emas, emas disini sudah terbenam ribuan tahun, sehingga membuat dia menggunung" jawab Halemos
"Ayah, apakah kakek tau akan tambang ini? " ucap Kris sambil berjalan menggandeng tangan ayahnya dengan erat
"Kakekmu pasti tau, dengarkan ayah sayang" Halemos terhenti dari langkahnnya dan duduk sejajar dengan Kris yang sedang berdiri,
"Ayah hanya akan mengatakannya sekali saja, tambang ini diwariskan turun temurun dari keluarga ayah, namun tidak ada yang menggalinya, suatu ketika ayah bermimpi Kakek mengatakan ada gunung emas di bawah tanah lahan kita, kakek meminta ayah membuka jalan serta mengelola tambang itu, ketika ayah mati tambang itu akan tertutup , hingga penerus selanjutnya yang membukanya, penerus satu satunya adalah kamu, jika kamu ingin membukanya kembali, maka kamu harus berdiri tepat di tengah lahan, dan katakan Bukalah apa yang seharusnya terbuka dan tutuplah jika Pemilik tiada. kata kata itu seperti sebuah mantra, yang hanya bisa terhubung dengan keturunan darah dari leluhur sebelumnya. Kamu mengerti?"
"Aku mengerti Ayah, aku akan mengingatnya dengan baik, tapi Ayah di dalam sini ada sesuatu yang memperhatikan kita di sebuah tempat yang sangat dalam, tapi aku tak tahu itu" ucap Kris
"Kamu merasakannya? Tenanglah itu bukan apa - apa, ayo kita harus menyapa para pekerja" ucap Halemos yang segera berdiri menuntun dan perlahan berjalan dengan putrinya.
Halemos dan Kris menyapa para pekerja tambang, mereka berbincang bincang cukup lama. Halemos dan putrinya memutuskan untuk keluar dari tambang dan menghampiri para nelayan yang berada dipesisir pantai.
"Anakku, pergilah bermain dengan teman temanmu, ayah akan melihat tangkapan para nelayan dulu"
__ADS_1
Halemos meminta putrinya untuk ikut bermain dengan beberapa anak seumuranya di tepi pantai
"Hai Kris, ayo ikut kami bermain, kami mencari beberapa keong laut dan bintang laut" Ucap Renjo
"Aku cukup disini saja dan melihat kalian, Apakah Kalian sudah menemukan bintang laut? " jawab Kris yang duduk dipinggir pantai sambil melihat teman-temannya mencari keong dan bintang laut.
Renjo keluar dari air , dan duduk disamping Kris.
"Kris kenapa tidak mau main ke air? " tanya Renjo
"Aku sedang tidak ingin," Kris diam
Renjo dan Kris hanya duduk diam dipinggir pantai , sambil menatap karang yang digulung ombak.
"Renjo, apakah kamu melihat pulau yang ada disana? " Kris menunjuk kearah sebuah pulau yang sangat jauh dari pandangan mereka
"Itu pulau yang cukup jauh" jawab Renjo
"Kakekku pernah bilang bahwa di kota itu ada orang - orang seperti kita, katanya orang disana sangat baik, dan hebat" ucap Kris
"Ayahku bilang tidak ada orang disana, dan itu tempat terlarang karena katanya ada beberapa hewan buas jika kita kesana bisa bisa pulang tinggal nama" Renjo bergidik gemetar
"Kau takut jika kesana Renjo? Bukankah kamu ingin menjadi orang yang akan membasmi penjahat? " ucap Kris sambil mengejek Renjo
"Kelak jika aku besar nanti, aku pasti tak akan takut, aku akan melindungi kota ini dan aku akan menjaga kalian" ucap Renjo sambil berdiri mengepalkan tangannya.
Kris menatap kesebuah batu cukup besar di pinggir pantai, seolah melihat sesuatu, dia berjalan mendekati batu itu dan meninggalkan Renjo yang sedang berbicara sendirian.
"Hai ibu ikan, apakah kamu terjebak diantara batu besar ini?" Kris berbicara dengan seekor Ikan besar yang terjebak disana sambil berteriak kepada Renjo
"Renjo lihat lah kemari, ada ibu ikan yang tersangkut disini ! "
Renjo berjalan mengarah ke Kris, Kris duduk dan membantu ikan itu untuk melepaskan dirinya dari himpitan batu besar, meski sebagian bajunya basah karena terendam di air laut dia tetap mencoba membantunya.
"Tenanglah Ibu ikan aku akan membantumu, maaf jika ini sedikit sakit aku terpaksa menyentuh tubuhmu, agar kamu bisa berenang kembali kekeluargamu" Ucap Kris
Kris bergegas mengangkat tubuh sang ikan, dengan bantuannya ikan itu terlepas dari himpitan batu, Kris tersenyum dan terlihat dari nafasnya yang begitu legah.
Ikan yang sudah terbebas tenyata tidak langsung berenang ketengah lautan, dia berhenti tepat didepan Kris dan menatap mata Kris seakan akan ingin mengatakan "Terima Kasih telah membantuku"
Mata ikan itu memancarkan sinar yang sangat terang, sehingga Kris tak kuat dan menutup matanya diapun pingsan dan mengapung di air"
*****
__ADS_1