HUNTER "Pembalasan Kris"

HUNTER "Pembalasan Kris"
Eps. 2


__ADS_3

Kris terbangun di dalam kamarnya, namun semua tampak berbeda dari biasanya, semua ruangan yang dia lihat tampak berwarna putih. Dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Seseorang laki laki tua dengan seluruh rambut yang sudah memutih duduk dedepan TV.


"Anakku kemarilah,"


Orang tua itu menoleh kearahnya memintanya untuk duduk di sebelahnya. Kris pun berjalan mendekatinya tanpa ragu.


"Kakek, apakah ini sungguh kakek?" Ucap kris sambil memeluk kakeknya


"Kamu masih sama seperti saat pertama kali terlahir didunia ini, kamu duduk di pangkuan kakek, senyuman pertama mu, tawa pertama kamu, haha anakku kamu sudah besar sekarang"


"Kakek, aku masih kecil dan umurku masih 5 tahun, aku belum setinggi kakek" ucap Kris sambil memeluk kakeknya. Dia duduk di atas pangkuan sang kakek


"Kris, kakek kemari karena rindu pada cucu kakek, dan ada hal yang ingin kakek sampaikan, dengarkan kakek, dunia ini ada 2 hal yang berbeda. Ada orang Baik dan ada orang yang Jahat, Ada Laki laki dan perempuan, Ada Cinta ada penderitaan, Ada kaya ada miskin, ada orang yang kuat dan ada juga yang lemah. Kamu pasti akan mengalami dan melalui hal itu, namun kamu akan berada dimana, kamulah yang memilihnya, kakek rasa kamu mengerti apa yang kakek ucapkan?"


"Ayah juga pernah bicara tentang itu, ayah bilang kita harus menjadi orang yang baik suka membantu dan menjadi orang yang berguna untuk semua manusia, ayah bilang cinta itu seperti kasih sayang dari Ayah dan Ibu kepadaku, dan ada rasa kehilangan seperti aku yang merindukan kakek, kata Ayah aku harus menjadi kuat agar bisa membantu yang lemah"


"Cucu kakek memang pintar" Kakek mencium keningnya


"Dan ingatlah anakku sayang, jika nanti kamu bersedih menangislah, namun kamu harus bangkit, sama seperti halnya kamu yang pernah memanjat pohon apel, dan terjatuh, kamu berlari lalu menangis dipelukan kakek, tapi apakah kamu takut untuk memanjat pohon itu lagi?" tanya kakek


"Tidak, meski aku terluka, aku tetap mau mengambil buah apel itu, kan aku suka apel kakek, aku pasti akan memanjat pohon itu lagi dan lagi, meski aku terjatuh aku tinggal menangis, dan memanjat lagi hehehe " ucap Kris sambil tertawa


"Ini baru cucu kakek, kamu jangan merasa sendiri, kakek berada di sampingmu, kakek akan selalu menjagamu, Ayah Ibumu juga akan melakukan hal yang sama, ingatlah sayang, apapun yang akan terjadi itu akan tetap terjadi, namun kakek kenal sifatmu, kamu pemberani, kamu kuat maka tetaplah berdiri meski luka mu sangat dalam"


Kakek memeluk erat cucunya, dan menghilang dari pandangan Kris


"Kakek, kakek dimana? Kenapa kakek pergi? " teriak Kris


"Kakek selalu bersamamu cucuku, kakek ada dihatimu, oh ya kakek hampir lupa, jangan bilang Ayah dan Ibumu kalau kita bertemu, biarkan ini menjadi rahasia kita berdua, kamu bisa berjanji?" ucap sang kakek meski hanya suaranya yang terdengar


"Aku berjanji kakek" Kris meneteskan air matanya.


Sebuah belaian membangunkannya, dia melihat ayah dan Ibunya yang sedang duduk disampingnya.


"Anakku apa kamu baik baik saja?" Ucap Halemos


"Ayah, Ibu" Kris memeluk keduanya


"Apa yang terjadi anakku? bisa - bisanya anak ayah pingsan, bukankah kamu anak yang kuat? "


"Aku hanya pusing Ayah, mungkin karena teriknya matahari" ucapnya sambil tersenyum


"Teman temanmu masih menunggu didepan, mereka dari tadi menunggu kamu, sepertinya mereka merasa bersalah, mau kah kamu menemui mereka?" Ucap Helena


"Baik Ibu, aku akan menemui mereka" ucap Kris sambil berjalan keluar rumah.


Dia melihat sahabatnya duduk berdiam diri tanpa suara,


"Itu Kris" ucap salah satunya


Mereka bertiga berlari kearah Kris


"Kris apakah kamu baik - baik saja? " Ucap Mafu


"Aku baik baik saja, kenapa kalian belum pulang kerumah, disini sangat panas, mau masuk ke rumah ku?" Ucap Kris,


"Kenapa semua penduduk ada didepan rumahmu Kris? " Prades menunjuk ke arah kerumunan penduduk yang berkumpul di depan halaman rumah Kris,


"Sepertinya Ayahmu sedang marah Kris" Ucap Renjo


Kris berlari menuju ayahnya, tak sulit tubuh kecilnya itu menyelinap di tengah kerumunan, ketiga temannya pun mengikuti.


"Ayah"


"Oh Kris, anakku masuklah kedalam rumah, sudah waktunya kamu tidur siang kan? Helena ajak Kris ke kamarnya

__ADS_1


Helena memanggil Kris, dengan tatapan cemas dia mengajak Kris untuk kembali ke kamarnya.


" Ibu, apa yang terjadi kenapa Ayah terlihat marah? " tanya Kris


"Ayahmu marah tapi bukan kepada para penduduk, penduduk khawatir terhadap ayah, karena beberapa minggu lalu Ayahmu menolak memberikan tanah yang kita miliki kepada pemerintah ILOS, penduduk khawatir jika nanti terjadi sesuatu, saat ini Ayahmu sedang meyakinkan mereka bahwa tanah itu tidak akan bisa dimiliki siapapun" ucap ibunya sambil menidurkan Kris


"Kenapa mereka mau mengambil tanah orang lain bu?"


"Anakku, di dunia ini ada banyak orang yang haus akan kekayaan, tanah dari leluhur ayahmu menyimpan harta yang tak terbilang nilainya. Sehingga orang yang haus akan kekayaan itu menginginkannya, bagaimanapun caranya mereka akan mengambilnya, keluarga kita menjaga warisan itu turun temurun, dan meskipun hal buruk terjadi tanah itu tidak akan bisa jatuh ketangan siapapun"


Suara kegaduhan terdengar dari luar, Helena segera berdiri membuka pintu kamar,


"Helena tutup pintunya" Ucap Halemos


Beberapa orang yang mengenakan Jas hitam berdiri dihadapan Halemos, Helena tetap terpaku dan terdiam, Kris memeluk erat ibunya,


"Ibu mereka siapa? Aku takut"


"Mereka adalah Mafia dari ILOS, yang saat ini sedang berdiri dihadapan ayahmu adalah Ponca ketua dari geng Mafia itu, dia musuh besar ayahmu"


Helena memegang anaknya dengan erat sambil memancarkan ke khawatiran kepada Suaminya,


"Pak Halemos, bukankah anda terkenal sangat bijaksana, kenapa anda tidak menyuruh tamu anda untuk duduk terlebih dahulu, tidak baik jika kita berdebat di hadapan Istri dan anakmu"


Seseorang dari mereka berbicara sambil menatap Helena dan Anaknya.


"Helena, apa kabarmu?" Ucap laki laki itu


"Ponca ada urusan apa kau dengan suamiku? " Teriak Helena


"Masuklah Helena" teriak Halemos


"Langsung ke intinya saja Halemos, Aku kemari ingin membicarakan tentang tanah emas itu, kau sudah menolak mentah - mentah permintaan dari ILOS, kini mereka memintaku untuk mendiskusikan kembali kepadamu" Ucap laki laki itu


"Dengarkan aku Ponca, Aku tidak akan memberikan meski hanya sebidang tanahku kepada ILOS, lebih baik kau pulang sebelum aku membunuhmu" Ucap Halemos


"Halemos !! Itu pedang shadow" teriak Helena yang berlari kencang kearah Halemos


"Craaaakkkkkk"


Suara dari pedang itu terdengar jelas, Helena berteriak sangat kencang, karena telah melihat kepala Halemos yang terpisah dari tubuhnya , kepala Halemos terjatuh hingga mengelinding tepat di hadapan Helena dan anaknya.


Kris berteriak ketakutan


"Ayaaaaahhhhhhh" Teriak Kris.


Helena terduduk, lemas dan tak berdaya dia berteriak mengerang sangat hebat.


Sang Mafia berjalan membawa seuntai rantai yang terbalut oleh lapisan emas, dan melilitkannya ke leher Helena, Helena memberontak namun cekikan itu sangat kuat dan nafasnya pun terhenti.


Mata Kris terbelak lebar, menatap hal yang terjadi begitu cepat, air matanya bercucuran tak kunjung henti, dia semakin berteriak sekencang kencangnya.


"Tidaakk !!! Ibuuu"


Kris berlari mencoba membantu ibunya, tiba tiba dia di tendang tepat di bagian perutnya dan terpental jauh ke arah pintu kamarnya.


"Gantung wanita ini" Teriak sang Mafia sambil melemparkan rantai besi itu kelantai, dia menambil pedang yang telah berlumuran darah dan berjalan mendekati Kris yang sedang menggerang kesakitan menahan perutnya.


"Kau !! Hei bocah dari pada kau menangis lebih baik kau ikut dengan mereka"


Seketika pedang yang berlumuran darah itu dilayangkan ke arah kris


"Traaannnggg"


Sebuah pedang lainnya menangkis pedang itu.

__ADS_1


Bunyi pedang yang saling berbenturan terdengar jelas di telinga Kris.


"Hentikan Ponca, sudah cukup, target kita adalah mereka, ayo kita pergi" ucap seorang pria yang sebaya dengan Halemos berdiri tepat didepan Kris.


"Lihatlah dirimu, kenapa baru keluar sekarang? Kau tak kuat melihat sahabat mu itu mati? itulah kenapa misi yang diberikan kepadamu selalu gagal, sampai detik ini pun kau masih ingin melindungi putrinya" ucap Ponca


"kau lupa, tugas kita hanyalah membunuh Halemos dan Helena, bukan anak ini, jika kau ingin meneruskannya terpaksa pedangku ini akan mengambil nyawamu" jawabnya.


" Hei Bocah, apakah kau bahagia? Berkat dia kau bisa selamat, berterima kasihlah kepada Sahabat Ayahmu ini," Ponca duduk menatap mata Kris yang sedang terbaring kesakitan,


"Lihatlah tatapan itu, yah ! begitu lebih baik, dendamlah kepadaku, tapi jangan lupa untuk berterimakasih karena kau masih aku izinkan untuk hidup, jika nanti kau ingin bertemu denganku cari aku Ponca" Mafia itu berdiri meninggalkan Kris


Laki laki yang membantunya menoleh kearahnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


"Paman Kai, apakah benar itu kamu paman Kai? paman kai kenapa? Kenapa Paman tidak membantu Ayah dan ibu? Paman Kai?" Teriak kris sambil menangis


"Dengarkan aku, hiduplah dengan rasa sakit itu, bangkitlah dengan rasa sakit itu, kuatlah dengan rasa pedih itu, kelak kau akan mengerti arti kehidupan ini" Kai berjalan meninggalkan Kris sendirian.


Kris menangis menatap kedua orang tuanya, dia menatap kepala ayahnya yang jatuh di hadapannya, dia melihat ibunya yang telah tergantung, dia menangis tiada henti sambil meremas perutnya yang sakit, rasa sesak terasa didadanya, rasa dendam lahir dari hatinya.


"Halemos dan Helena telah mati, jika ada yang membantu anak itu untuk keluar dari sana selangkah kalian maju, Aku pastikan kalian akan mati" Ucap Ponca sambil berjalan keluar,


Anak buah Ponca menyiramkan bensin di setiap sudut rumah Halemos dan membakarnya, kini api besar telah melahap habis rumah itu.


"Ayo Ponca kita kembali ke ILOS" ucap Kai, mereka berjalan meninggalkan kobaran api yang kian membesar.


"Ayah, Lakukan sesuatu Kris masih ada didalam, ayah aku mohon tolonglah" Renjo berteriak kepada Ayahnya yang hanya diam tak bergerak menatap Api yang menyala begitu besar


"Apa yang terjadi pada kalian, bukankah Paman Halemos dan bibi Helena selalu membantu kalian, kenapa saat seperti ini kalian diam, Andai... Andaikan aku sudah sebesar kalian, aku pasti akan membantu mereka meskipun aku tau aku akan mati" Renjo mengepal kedua tangannya, dia memberanikan diri dan dia berlari kearah kobaran api itu


"Renjo" Kris bergumam,


Ia mendengar teriakan Renjo dari luar, namun Kris tak mampu berdiri, peluh dari tubuhnya mengalir bersamaan dengan air matanya


"Renjo" Ayahnya menariknya,


"Kamu tunggu disini, biar ayah yang menolongnya, dan terimakasih nak".


Ayah renjo berlari kearah drum yang berisikan air, dia menyiramkan air keseluruh tubuhnya, kemudian bergegas berlari secepat mungkin dan melompat masuk kedalam kobaran Api yang sedang menyalak.


Saat berada didalam, dia berhenti sejenak menatap pedih yang ada di hadapannya, air matanya menetes melihat kepala pemimpinnya yang tergeletak, dan tubuh Helena yang telah tergantung, dia mengusap air matanya dan bergegas berlari menuju Kris lalu membawany keluar.


"Paman, Ayah dan Ibuku" Bisik Kris lemah


Ayah Renjo tetap bergegas , dia tidak menghiraukan ucapan Kris, dia terus berlari hingga keluar dari kobaran api itu.


"Kris??? apa yang terjadi padanya Ayah"


Renjo menghampiri sang Ayah yang berhasil keluar bersama Kris.


Ayah Renjo memberikan Kris kepada Ibunya.


"Oh anakku" Nenek Renjo yang sudah tua renta mengendongnya dan memeluknya sambil menangis


Kris terbangun, dia duduk menghadap kobaran api yang melahap habis rumahnya.


"Ayah, Ibu" teriaknya


"Ayah"


"Ibu"


Kris selalu berteriak sekencang kencangnya, teriakannya itu disaksikan oleh kerumunan orang yang begitu ramai.


Angin mulai membawa awan hitam, dan berhenti di atas mereka, angin dingin pun mulai berhembus menyelimuti mereka yang ada disana, gemuruh di langit telah terdengar, tiba - tiba hujan lebat datang, hujan itu pun menghentikan kobaran api yang membara dengan cepatnya, Kris tetap duduk di bawah rintik hujan, air matanya menyatu dengan turunnya air hujan, tangisnya pecah, penduduk yang ada disana tidak ada yang bergerak sedikitpun, kepedihan Kris sampai ke hati mereka, terdengar isak tangis dari para penduduk, berat bagi mereka untuk beranjak dari sana sehingga tak ada satupun yang meninggalkan Kris.

__ADS_1


"Ayah, Ibu kenapa kalian meninggalkan aku" ucap Kris pilu


******


__ADS_2