
Sebuah pedang melayang dengan cepatnya ke arah Xiosi, untungnya dia mengelak dengan cepat, jika tidak pedang yang sangat tajam itu bisa menyayat kulitnya.
"Guru" ucap Xiosi menunduk mengepalkan kedua tangannya kedepan dan memberi hormat.
Kris menatap orang tua yang baru saja melayangkan pedangnya kearah Xiosi dengan heran dan bercampur takut.
Orang tua itu berjalan mendekat ke arah Kris dan Xiosi.
"Ah untung saja kamu bergerak cepat, jika tidak aku pastikan pedangku itu bisa melukai wajahmu" ucap pria itu
Dia menatap Kris yang berdiri dengan tatapannya yang penuh dengan pertanyaan
"Apa kabar Kris? Oh maafkan aku, seharusnya aku tidak bertanya akan hal itu, apa kau mengenaliku?" Ucapnya pada Kris
Kris menggelengkan kepalanya, tubuhnya yang gemetar tak henti, karena menyaksikan seorang pria yang baru saja melemparkan pedang yang sangat tajam kearah Xiosi
"Tentu saja kamu pasti tidak mengingatku, dulu aku bertemu denganmu saat kamu masih didalam kandungan Helena, hahaha" Ucapnya sambil tertawa terbahak bahak
"Guru, maafkan aku, aku terlambat. Semua telah terjadi saat aku tiba disana" ucap Xiosi sambil menatap pria itu dengan kesedihan
"Xiosi, itu semua sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa. Tugasmu sudah selesai, beristirahatlah" Pria itu menepuk pundak Xiosi.
Xiosi berjalan meninggalkan Kris, Kris ingin memanggilnya namun bibirnya terkunci rapat.
"Mari Kris ikut paman , sebaiknya kita berbincang di ruang utama" ucapnya sambil merangkul Kris dan mengajaknya berjalan ke sebuah ruangan yang cukup besar, dia mempersilahkan Kris untuk duduk dan menyediakan beberapa potong roti gandum serta teh hangat
"Makanlah nak dan habiskan teh mu" Ucap pria itu
Kris yang belum makan sama sekali segera mengambil potongan roti dan memakannya dengan lahap, perutnya yang kosong akhirnya terisi juga.
"Aku Cheng, kamu cukup memanggilku Paman Cheng, dan Xiosi dia itu adalah muridku"
"Apakah paman kenal dengan Ayahku atau Ibuku atau paman kenal dengan keluargaku?" Ucap Kris sambil meminum teh hangatnya
"Aku? Aku kenal kedua orang tuamu, dengan baik. Karena aku sahabat keduanya. Maafkan aku anakku, paman tak bisa membantu mereka, seandainya paman mengetahui itu lebih dulu, mungkin semuanya takkan terjadi"
Cheng duduk di sebuah kursi tepat dihadapan Kris dan terlihat di raut wajahnya yang begitu sedih dia menatap Kris dengan mata yang berkaca kaca.
Kris pun terdiam, air matanya sudah habis, sehingga dia tak dapat menangis lagi.
"Tenanglah nak, kamu akan aman disini, tempat ini bernama Dubalo, tempat ini tak bisa ditemukan oleh siapapun kecuali seseorang yang lahir dari garis keturunan Raja Gonsu dan Ratu Destara,"
Dari luar sebuah langkah yang sangat cepat mendekat , dan mendobrak pintu ruang utama dengan sangat keras.
Dubraaaakkkk
"Kris" teriak seseorang yang melangkah dengan tergesah gesah
"Oh anakku, apa kamu baik - baik saja" Ucapnya cemas
__ADS_1
"Tenanglah Li , dia terlihat baik baik saja" Cheng menenangkannya.
"Syukurlah, Cheng aku bertemu Xiosi saat dia berjalan menuju kamarnya, dia memberitahu ku bahwa Kris ada disini"
Cheng berdiri di samping Kris
"Kris beri salam kepadanya, dia Li dan kamu juga boleh memanggilnya paman, dia salah satu sahabat karib Ayahmu" ucap Cheng
Kris meundukkan kepalanya.
Li kembali duduk di hadapan Kris, dia menatap kedua mata Kris, dan memegang kepala Kris dengan tangan kananya, terlihat cahaya putih keluar dari telapak tangan Li. tiba tiba Li berteriak sangat kencang.
"Halemoooosss.... "
"oh tidaaaaakkk Helenaaaaa"
Li menangis tersedu sedu dihadapan Kris
Cheng yang diam menatap temannya yang sedang menundukkan kepalanya,
Kris yang menyadari itu segera memegang pipi Li dengan kedua tangannya dengan lembut
"Paman, seharusnya paman tak melihatnya. Seharusnya kepedihan itu biar aku saja yang mengetahuinya, aku tidak ingin paman tersiksa" ucap Kris
Cheng yang mendengar ucapan Kris tecengang dan dia pun duduk di Samping Kris
"Oh Halemos, anakmu sungguh bijaksana, dan kesadarannya sama sepertimu Helena" ucap cheng dalam hati
Suasana tiba tiba hening semua yang ada diruangan itu terdiam tak dapat berbicara apapun lagi.
"Paman, apakah aku akan tinggal disini?" Tanya Kris
Li yang mendengar suara Kris mengusap air matanya dan menarik nafas yang sangat dalam.
"Iya anakku, kamu akan berada disini sampai kapanpun kamu mau" ucap Li
"Apakah kamu ingin beristirahat Kris?" Cheng berdiri dari duduknya
"Iya paman, aku sangat lelah. Rasanya aku ingin tidur sebentar"
"Baiklah anakku, aku akan mengantarmu, kami sudah menyiapkan sebuah kamar untukmu" Cheng mengajak Kris untuk berjalan menuju kamarnya, Kris merasakan tenang karena dia akan tinggal dengan sahabat Ayah dan Ibunya.
Sebuah kamar yang sangat rapih, bersih dan terawat berada tepat di samping ruang utama.
Kris berjalan masuk kekamarnya, dia terhenti saat menatap sebuah foto yang berukuran sangat besar berada di kamar itu,
"Paman bukankah ini Ayah dan Ibuku?" Tanya Kris
Cheng yang berada diluar pintu tersenyum. Dia menjawab pertanyaan Kris hanya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Kris menatap gambar kedua orang tuanya. Kemudian Kris meminta Cheng untuk meninggalkan dia sendirian, Chengpun beranjak pergi dan menutup pintu kamar Kris.
Kris menatap foto Ayah Ibunya, dia meneteskan air matanya.
"Ayaahh....."
"Ibu......"
"Aku merindukan kalian"
Kris menangis tersedu sedu, Cheng yang berada di balik pintu ikut menangis dia terduduk di balik pintu kamar Kris, air matanya yang dia tahan di ruang utama tumpah begitu saja.
Beberapa menit kemudian, isak tangis Kris tak terdengar lagi dari balik pintu, cheng mengusap air matanya dan kembali masuk ke kamar Kris, dia melihat seorang anak kecil tertidur dengan lelapnya sambil meringkuk, Cheng membenarkan posisi tidur Kris dan menyelimutinya, Kris terlihat sangat lelah, karena perjalanan panjang yang dia lalui.
Cheng berjalan keluar dan menutup pintu kamar, dia dikagetkan oleh Xiosi yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Apakah dia tertidur guru?" Tanya Xiosi
"Kenapa kamu tidak beristirahat Xiosi? Apakah kamu tidak lelah? dan kamu menghawatirkan Kris? Tidak seperti dirimu yang biasanya Xiosi," ucap Cheng
"Aku ingin mengajaknya keliling tempat ini, mumpung cuaca saat ini cerah" Jawab Xiosi
Cheng tersenyum menatap Xiosi
"Kini kamu menjadi orang yang perduli kepada orang lain Xiosi, apa karena kamu menyukai Kris kecilku?" ucap Cheng
"Guru aku akan kembali kekamarku" Xiosi meninggalkan cheng dengan wajahnya yang merona merah
"Dasar bocah" gumam Cheng
Cheng berjalan masuk kembali ke ruang utama, sahabatnya Li masih menangis tersedu sedu.
"Li , aku kira kau sudah berhenti menangis? Kenapa kau masih meneteskan air matamu?" Tanya Cheng berdiri di depan Li yang duduk dan menangis pilu.
"Dalam ingatan Kris, aku melihat Ponca memotong kepalanya, dan helena ! lehernya di jerat dengan rantai emas, Cheng ! Kenapa pedang Shadow ada di tangan Ponca? Kejadian itu sangat menyiksa mentalku, dan rasanya semakin pedih saat aku melihat anak perempuan kecil dan lugu itu harus menyaksikan kematian orang tuanya tepat dihadapannya" Isak tangis Li menjadi
"Li seharusnya kau tak membaca pikiran Kris, dengarkan aku Li, hanya ada satu cara untuk membalas semua kebaikan Halemos dan Helena yaitu membesarkan anaknya dengan penuh kasih, dan membuatnya kuat, karena hanya dia yang mampu membalaskan dendam orang tuanya, Ponca terlalu kuat untuk kita"
"Cheng ! Ada satu lagi yang belum aku sampaikan kepadamu, disana saat eksekusi telah selesai, orang yang kita anggap telah Mati, orang yang sudah kita anggap sebagai saudara sendiri, menyaksikan semuanya dan dia juga bagian dari Ponca" Ucap Li
"Siapa dia Li? Katakanlah ! "
"Kai"
Begitu terkejutnya Cheng saat mendengar nama Kai disebut.
"Kau yakin Li? Bukankah dia telah dibunuh oleh seseorang, dan kita melihat tubuhnya yang sudah hancur? "
"Aku tak mungkin salah orang Cheng, meski berat menerima kenyataan itu, namun kita harus percaya bahwa Kai masih hidup, dan pedang shadow serta rantai besi itulah jawabanya, Kai pasti membantu Ponca untuk mendapatkan senjata itu" Ucap Li
__ADS_1
Li berdiri dan berjalan keluar dari ruang utama, meninggalkan Cheng yang masih belum percaya bahwa salah satu sahabat terbaiknya berkhianat.
******