HUNTER "Pembalasan Kris"

HUNTER "Pembalasan Kris"
Eps. 6


__ADS_3

Kris berjalan menyusuri kuil, dia mengikuti arah yang telah ditunjukan oleh Raykudo.


Hingga tibalah dia di taman buah apel.


"Wah, ternyata kakek tua bodoh itu tidak membodohiku, ini bukan taman apel, tapi surganya apel, hahaha aku boleh memetik sesukaku"


Kris berlari menuju pohon apel yang rimbun, dengan senangnya dia memetik cukup banyak buah apel yang sudah memerah dan melahapnya satu persatu


"Apel disini sangat manis, berbeda dari buah apel yang di tanam oleh kakek dirumahku, aku tidak boleh membiarkan cacing didalam perutku ini kelaparan"


Satu demi satu buah apel yang dia petik habis dimakan olehnya.


"Kakak, coba lihat ! Dia mencuri buah apel" teriak seseorang yang seumuran dengannya dari kejauhan


Kris yang mendengar teriakan itu sama sekali tidak memperdulikan, dia tetap saja melahap habis buah apel yang dia petik


"Errgghhhhh, kenyangnya ! Sepertinya aku telah menghabiskan puluhan buah apel" ucap Kris


"Hey Bocah tengik, beraninya kau mencuri disini"


Seorang laki laki dewasa menegurnya, Kris hanya melihat laki laki itu dan dia berjalan melaluinya.


"Hei, apa kau tuli?" Laki laki itu menarik tangannya


"Kakak , lihat dia memakan apel cukup banyak, dan dia membuang sisanya di sembarang tempat" ucap seorang anak laki laki kecil


"Apa aku mengenal kalian?" Tanya Kris


"Kau bocah ingusan, kenapa kau mencuri disini, tanganmu harus dipotong" laki laki itu menggenggam tangan kris dengan keras


Kris yang marah menendang dua butir telur yang menyantol di laki laki itu,


"Arggghhhtt !!!" Laki laki itu berteriak kencang, karena kesal laki laki itu melayangkan pukulan ke arah kris


"Apa yang terjadi disini"


Tiba - tiba Xiosi datang dengan menahan tangan laki laki itu


"Ini bukan urusanmu Xiosi, sebaiknya kau tidak ikut campur" ucapnya


"Maafkan aku Nepa, namun anak ini kenalanku" Ucap Xiosi sambil menatap Kris


"Kakak, dia mencuri apel disini, itu buktinya" ucap adik Nepa sambil menunjuk sisa buah apel yang di makan oleh Kris


Xiosi menatap tajam Kris dengan marah


"Hey ! Jangan marah kepadaku, aku tidak mencurinya, aku sudah mendapatkan izin dari Kakek tua bodoh,"


"Bocah, siapa yang kau sebut kakek tua bodoh disini?" Ucap Xiosi


"Emh, apa aku harus memberi tahumu?" Jawab Kris


"Xiosi, jangan banyak bicara lagi, jika kau tidak bertindak biarkan aku yang menghukumnya" Ucap Nepa kesal


Nepa menarik baju Kris sehingga ia terjatuh. Kris yang kesal mencoba untuk berkelahi


"Ada apa ini"


Cheng yang bertugas untuk mengawasi Kris datang


"Guru Kris telah mencuri buah apel yang ada di kebun ini" ucap Xiosi


"Dia tidak mencurinya, Master Raykudo yang mengizinkan dia untuk memetik buah apel disini" Ucap Cheng meredakan suasana


"Master Raykudo? Tapi anak ini bilang yang memberi izin adalah Kakek tua bodoh, apakah yang kau maksud itu adalah Master Raykudo Kris?" Tanya Xiosi sambil menatap Kris


"Aku tak perlu menjawabnya" ucapnya


Nepa yang sangat kesal kembali menarik baju Kris


"Nepa ! Turunkan tanganmu" Bentak Cheng


"Tapi Guru, dia berlaku tidak sopan" ucapnya


"Kris, sebaiknya jaga ucapanmu, Master sangat dihormati disini" Cheng menatap Kris


"Aku tidak melakukan hal yang salah, bukankah Paman tau kenapa aku memanggilnya Kakek tua bodoh" ucap Kris


Cheng menghela nafas yang panjang.


"Sebaiknya kalian bubar, Nepa kembali ke tugasmu dan Xiosi temani Kris untuk melihat lihat Kuil ini, bukankah tadi siang kamu hendak menghampirinya?" ucap Cheng


"Apa? Tadi kau ingin mengajakku berkeliling Xiosi?" Tanya Kris


"Diamlah, ayo jalan" ucap Xiosi


Cheng tersenyum.


"Xiosi, jawab pertanyaanku, apakah benar kamu kekamarku tadi?" Tanya Kris

__ADS_1


Xiosi memukul kepala Kris,


"Apakah kau tidak bisa diam?"


"Sakit" ucap Kris


Xiosi mengajak Kris mengelililingi kuil dan berhenti di sebuah pohon besar yang sangat rindang.


Mereka duduk dibawahnya, sambil menatap kota Dubalo yang berada dibawah kuil.


"Xiosi, apakah kau sudah cukup lama disini" tanya Kris


"Ya"


"Berapa lama?"


"Sejak aku kecil, aku sudah ada disini"


"Itu artinya ibu dan ayahmu ada disini?"


"Kris, aku tidak punya orang tua"


"Kemana mereka?" Tanya Kris


"Entahlah"


"Apa kau tidak mencari mereka? Atau mereka tidak mencarimu?"


"Aku tidak perduli"


"Xiosi, berapa umurmu?"


"Aku 10 tahun"


"Wah, ternyata kau lebih tua dariku"


"Ya,! sebaiknya kau panggil aku kakak"


"Menggelikan"


"Hahahah" Xiosi tertawa,


Mereka berdua menatap matahari yang mulai terbenam..


Xiosi mengajak Kris untuk kembali ke Kuil,


"Apa kau lapar Kris?" Tanya Xiosi


"Bukankah kau tadi telah menghabiskan puluhan buah apel" ucap Xiosi


"Itu hanya hidangan pembuka untuk cacing di perutku, kini mereka meminta aku memakan sesuatu yang bisa membuat mereka kenyang" jawab Kris


"Hahaha, baiklah ayo kita kedapur, disana ada banyak makanan lezat" ucap Xiosi


Mereka berjalan kearah dapur dan mengambil beberapa makanan dan segera melahapnya. Setelah itu Xiosi mengantar Kris kembali ke kamarnya..


"Kris selamat malam" ucap Xiosi


"Selamat malam, terimakasih Xiosi" ucap Kris sambil menutup pintunya..


"Ah hari ini aku sungguh lelah, aku harus mandi tubuhku rasanya mengeluarkan aroma tidak sedap, coba kita buka lemari ibu, apakah dia punya baju untuk seumuranku?" Ucap Kris sambil membuka lemari pakaian


"Ini cukup kecil, baiklah aku akan memakainya"


Dia segera pergi untuk mandi


setelah itu dia kembali tertidur dengan lelap...


******


" Huuu.. haaa .. huuu .. haaaa"


Kris menutupi telinganya dengan bantal dan mencoba kembali untuk tidur.


" Huuu.. haaa .. huuu .. haaaa"


"Kenapa berisik sekali" Kris bangun dari tidurnya, dia membuka jendela kamar


Dia menatap kearah sumber suara, dan melihat beberapa orang yang sedang berlatih.


"Bukankah ini masih pagi, bahkan matahari saja belum tiba, mereka terlalu pagi untuk latihan"


Kris mengambil kursi dan meletakkannya di dekat jendela, dia duduk dan memperhatikan gerak gerik dari mereka yang sedang berlatih.


"Apakah itu yang disebut bela diri, ha? Bukankah itu Xiosi, ternyata dia sudah bangun sepagi ini"


"Bukankah gerakan itu terlalu lambat? Dan kenapa tidak ada wanita di barisan itu? Tunggu, apakah disini memang tidak ada wanita?" Kris bergumam sendiri


"tok tok tok"

__ADS_1


"Kris apakah kamu sudah bangun?" Teriak seseorang dari luar kamar Kris


Kris berjalan membuka pintu kamarnya.


"Paman Li" ucap Kris


"Ah tenyata kamu sudah bangun, segeralah mandi, Master menunggumu di Bukit Sora" ucapnya


"Bukit Sora? Dimana itu?"


"Segeralah mandi, dan ini pakaianmu. Nanti paman yang akan mengantarmu kesana" ucap Li


"Baiklah paman, aku akan mandi" Kris menutup pintunya, sementara Li menunggunya diluar


Beberapa menit kemudian \~


"Paman, aku sudah siap"


"Ayo kita segera ke sana" ucap Li


"Paman, apakah harus aku mengenakan baju ini? Aku terlihat seperti anak laki laki, dan baju ini terlihat kuno"


"Hahaha.. jika kamu menggunakan pakaian wanita, kamu akan susah untuk bergerak, baju ini memang di buat untukmu, bukankah kamu tidak membawa baju?"


"Bajuku sudah habis terbakar, Paman apakah aku boleh meminta sesuatu?"


"Katakanlah, jika itu tidak sulit aku akan membantu"


"Paman, jika paman membuatkan aku baju, bisakah yang berwarna hitam? Karena aku tidak suka dengan warna ini"


"Baiklah, apa tidak masalah bajumu semuanya berwarna hitam?"


"Tidak , aku pasti lebih suka"


"Oke nanti paman pastikan semua bajumu berwarna hitam"


Kris berjalan mengikuti Li dia menggunakan baju jubah berwarna biru dan di lapisi dengan warna putih di pinggangnya terdapat kain hitam yang terikat.


"Master, Muridmu sudah membawa Kris" Ucap Li sambil memberi hormat kepada Raykudo


"Salam kakek, kenapa pagi ini kakek tidak membawa arak? Hehehe" ucap Kris sambil tertawa


"Bocah nakal, kemarilah duduk bersama kakek" Ucap Raykudo


Kris kemudian mendekat dan duduk tepat disebelah Raykudo


"Master, saya izin untuk turun dan kembali melatih murid yang lain" ucap Li


"Ya"


Li berjalan menjauh dari mereka.


"Kris, apakah kau senang berada disini?" Tanya Raykudo


"Kakek, aku tidak tau kemana akan pulang, Ayah Ibuku tiada, Kakekku hilang entah kemana, Aku tidak memiliki siapa - siapa lagi. Jadi biarkan aku berada disini" jawab Kris


Raykudo menatap Kris,


"Kris, apa kau tau, dulu ibumu dibesarkan disini, begitu juga dengan ayahmu, mereka sangat berbakat dalam ilmu bela diri, tempat ini adalah kuil kuno yang didirikan oleh anak dari Raja Gunso, Raja Gunso memiliki 3 anak dari Ratu Destara , salah satunya adalah Kakek buyutmu, kakek buyutmu bernama Pramana memiliki 2 anak laki laki yaitu Soka dan Hasa, Soka dipercayakan untuk mengurus kuil ini dia mendirikan praktik beladiri yang dimana nanti akan tersebar diseluruh penjuru dunia. Hasa adiknya telah meninggal dunia begitu juga dengan istrinya, namun semenjak kematian dari saudaranya itu, kakekmu tidak mengetahui dimana anak dari Hasa tinggal. Kakekmu memiliki dua putra yaitu Halemos dan Jodi , Jodi telah memilih tinggal di negara yang sangat jauh. Sejak kecil Halemos dikirim kakekmu untuk belajar disini sedangkan Jodi, dia tidak mengetahui dimana kakaknya menuntut ilmu. Helena dibuang oleh keluarganya aku menemukannya tepat di sungai Warna tepat dibawah sana (Raykudo menunjuk kearah sungai yang terbentang di kota Dubalo). Kakekmu membuka sebuah kota , awalnya kota tempat kamu tinggal bukan bernama Soka, dia tidak menyetujui namanya digunakan untuk sebuah kota, setelah aku membujuknya akhirnya dia setuju, Kota ini sengaja dihilangkan dari semua pandangan orang diluar sana, karena kakekmu tidak ingin semua orang didunia tau bahwa masih ada tempat untuk belajar tentang beladiri, ilmu pedang, dan Sihir"


"Sihir? Apakah sihir masih ada?" Tanya Kris


"Ya , kota soka terlindungi oleh sebuah sihir, makanya setiap orang yang bukan asli dari kota Soka akan mati jika berdiam cukup lama disana, namun sayangnya ilmu sihir itu telah lenyap, tidak ada yang bisa menggunakan sihir kecuali Kakekmu"


"Apakah Kakekku menggunakan tongkat sihir?" Tanya Kris


"Hahahah .. sihir yang di ajarkan disini hanyalah sihir kekuatan, contohnya sihir yang dapat mengeluarkan api dari tangannya, sihir yang dapat mengangkat sebuah benda dan sebagainya, dan itu hanya dilakukan oleh kedua tangannya. Kakekmu sungguh orang yang hebat, namun sayangnya tak ada satu orangpun yang tau dimana dia, apakah dia masih hidup atau telah mati" Raykudo menundukkan kepalanya


"Kakek, apakah disini tidak ada murid wanita?" Ucap Kris


"Tidak anakku, orang yang berada dikuil ini hanyalah orang yang di takdirkan untuk berada disini, termasuk kamu" jawab Raykudo


"Kakek, apakah kakek tau tentang dasar dari sihir?"


"Apakah kamu tertarik dengan sihir?"


"Sepertinya itu keren hehe"


"Anakku, sayangnya aku tidak tau sama sekali mengenai sihir, aku hanya ahli berpedang" jawab Raykudo


"Baiklah kakek, bagaimana jika kakek melatih aku untuk berpedang"


"Baiklah jika itu yang kamu mau, mulai hari ini aku akan melatihmu, kau lihat gubuk itu, kamu akan tinggal disana sementara waktu, akan butuh beberapa tahun agar kamu bisa menguasai semua jurus yang aku punya, bagaimana?"


"Kakek, meski bertahun tahun aku akan melakukannya"


"Baiklah ambil ini, kita mulai sekarang" Raykudo melemparkan sebuah tongkat panjang sebagai permulaan untuk kris.


Krispun mulai berlatih mengayunkan pedangnya....

__ADS_1


******


__ADS_2