HUNTER "Pembalasan Kris"

HUNTER "Pembalasan Kris"
Eps. 3


__ADS_3


Kris yang malang , diumur nya saat ini dia harus menghadapi kenyataan yang pahit.


Kematian Ayah dan Ibunya sangat menyayat dan melukai hatinya.


"Ayah.... "


"Ibu.... "


"Kenapa kalian meninggalkan aku sendirian"


Rintih Kris duduk di bawah derasnya hujan, sambil memandangi rumahnya yang hangus terbakar, asap mengepul dari rumah itu, api besar yang melahap habis setiap bangunan tiada sisa, saat api itu meredup, hujanpun ikut berhenti.


"Kris"


Renjo yang berada tepat dibelakang Kris menarik tangannya. Kris berbalik menatap Renjo, terlihat matanya yang memerah akibat menangis, dia tersenyum ke arah Renjo


"Terimakasih Renjo, sebanyak orang yang ada disini hanya kau dan keluargamu yang membantuku, aku akan mengingatnya, aku ingin melihat Ayah dan Ibuku disana"


"Aku akan menemanimu Kris, kemanapun kau mau, aku akan bersamamu" Ucap Renjo


"Tidak ! Tak ada yang boleh masuk kesana selain aku, sudah cukup ! kalian cukup diam disini seperti saat ayah dan ibuku mati, berdirilah disini dan jangan mengikutiku, aku hanya pergi kedalam, untuk melihat mereka"


Kris berjalan perlahan, langkahnya yang berat dan tertatih menuntunya maju ke arah rumahnya.


"Maafkan aku Kris, padahal aku pernah berjanji untuk menjagamu, bagaimana aku bisa menjaga semua orang yang ada di kota ini, sedangkan menjagamu aku tak bisa, aku memang payah, aku benci tubuh kecil ini, andai aku sudah dewasa aku pasti akan maju membela orang tuamu" isak tangis Renjo pecah


Renjo dan semua orang yang ada disana diam tak berkutik sedikitpun, terlihat jelas penyesalan mereka ditambah dengan ocehan Renjo yang mengutuk dirinya sendiri.


Kris sampai didepan pintu rumahnya yang sudah menjadi hitam, dia memberanikan dirinya untuk masuk kedalam.


Jasad Ayah dan Ibunya telah menjadi abu tidak berbekas, Kris duduk tepat di mana ayah dan ibunya dibunuh, dia menangis untuk kesekian kalinya. Tetesan air matanya membasahi lantai yang penuh dengan abu.


Hari mulai gelap, Kris masih duduk menangis disana.


Tiba - tiba terdengar suara datang dari pintu belakang rumahnya, dia berdiri dengan sebuah tongkat ditangannya, seorang laki laki remaja dengan postur tubuh tinggi dan kekar.


Laki - laki itu mengenakan jubah berwarna hitam, rambutnya yang berwarna putih keseluruhan, matanya yang bengkak karena air matanya yang terus jatuh saat melihat Kris, laki laki itu berdiri cukup lama disana.


"Kris, tinggalkan tempat ini, aku akan membawamu kesebuah tempat dimana disana kau akan mendapatkan kekuatan untuk membalaskan semua dendammu ini"


Mendengar ucapan laki laki itu , Kris langsung melihat kearah laki laki itu, meski yang dia lihat hanya bayangan hitam, dia berdiri tanpa rasa takut.


"Ayah Ibu, aku tau kalian masih ada disini, aku akan pergi, aku pamit, berkatilah aku. Kelak aku akan kembali membalaskan dendam kalian kepadanya" Kris mengepalkan kedua tangannya, dan menghapus air matanya.


Kris berjalan menghampiri laki - laki itu, tak sadar air matanya jatuh kembali kelantai, Krispun segera menghapus air matanya kembali dan berjalan keluar mengikuti laki - laki itu.


Saat Kris melangkah keluar dari rumahnya, tiba - tiba angin yang sangat kencang merobohkan Rumahnya.


Dia tersentak kaget dan segera menoleh kebelakang, tatapannya kosong.


Rumah dimana tempat dia dibesarkan, diberikan kasih sayang dan rumah yang dulunya penuh dengan cinta kini telah hancur dan rata dengan tanah.


"Krisssssssss"


Terdengar teriakan Renjo cukup keras,

__ADS_1


"Krissssss, jangan tinggalkan aku Krisssss" Renjo berteriak tak hentinya


Kris ingin berlari kearah suara, namun tangannya di tahan oleh laki - laki itu.


"Jika kau pergi kesana, kau tidak akan berjumpa denganku lagi, dan dendammu itu, kau tak akan pernah membalasnya" Ucapnya


Kris terdiam tertunduk.


Laki laki itu melangkah menjauh, Kris diam sejenak dan segera berlari mengikuti langkah laki laki itu.


Mereka pergi dari sana, dan berjalan ke arah pesisir pantai, disana ada sebuah perahu yang terbuat dari kayu perahu itu cukup besar, mereka menaiki perahu itu dan segera menyebrangi lautan menuju ke suatu tempat yang entah dimana.


Hening malam dan kegelapan menyertai perjalan mereka, hanya ada satu penerang yang membantu mereka untuk melihat satu sama lain yaitu sinar rembulan.


"Aku Xiosi"


Laki laki itu mencoba berbicara terlebih dahulu untuk mencairkan suasana.


"Aku Kris"


Jawab Kris yang hanya menunduk menahan tangisnya


"Aku tau, tanpa kau katakan aku sudah tau, aku tau apa yang terjadi, meski aku tidak ada disana, aku tau hatimu penuh dengan amarah dan aku tau kau menahan tangismu"


Xiosi menatap rembulan yang mengiringi perjalan mereka


Kris mengangkat wajahnya, dia menatap laki - laki itu.


"Kau siapa? Apakah kau kenal Ayahku, atau Ibuku, atau kau kerabat dari keluargaku? " Tanya Kris


"Aku seseorang utusan yang akan membantumu, aku tidak bisa mengatakan apapun, sampai waktunya tiba" Jawab Xiosi


"Berhenti menatapku, jika kau ingin menangis, menangislah jangan sekali - kali kau tahan" Ucap Xiosi


Kris kembali menundukkan kepalanya.


"Apa yang harus aku lakukan saat umurku masih 5 tahun, apa yang harus aku lakukan tanpa Ayah dan Ibuku," Kris akhirnya menangis tersedu sedu.


Xiosi yang menatapnya diam tanpa bicara sepatah katapun.


Isak tangis Kris menjadi, bahkan ia sampai berteriak sekencang kencangnya.


Xiosi tetap diam dan tak bersuara sedikitpun.


Perjalanan yang mereka lalui cukup panjang, sehingga Kris yang tadinya hanya menangis telah tertidur pulas, kepalanya menyender di tiang yang terbuat dari kayu. Xiosi hanya duduk diam menatap Kris, tak terasa air matanya jatuh dipipinya.


Pagi pun menyambutnya, sinar rembulan yang menemani perjalanan mereka sepanjang jalan menjadi hangatnya sinar mentari pagi.


Perahu mereka pun akhirnya berhenti disebuah daratan.


Xiosi yang tak tega membangunkan Kris masih tetap duduk terdiam sambil menunggunya bangun, padahal perahu yang mereka naiki sudah berada di atas pasir pantai.


"Ayah, Ibu aku merindukan kalian" Kris mengigau,


Diapun terbangun dari tidurnya, dia menatap kiri dan kanan tempat itu.


"Kita ada dimana? " Tanya Kris

__ADS_1


"Apakah hatimu sudah mulai tenang?" Jawab Xiosi


" Kenapa kau malah balik bertanya? Apakah pertanyaanku kurang kau pahami? "


Xiosi pun tertawa, mendengar ucapan Kris, Xiosi turun dari perahu itu dan mulai berjalan meninggalkan Kris, Kris yang takut tertinggal segera turun dan berlari mengejarnya.


Mereka berjalan memasuki hutan yang sangat lebat, begitu gelap gulitanya tempat itu karena ditutupi oleh pohon pohon yang tumbuh dengan rapat.


Perjalanan mereka cukup jauh, medan yang mereka tempuh adalah medan yang curam dan penuh dengan jurang.


Kris mulai kelelahan, kakinya mulai terasa keram.


"Apakah kita masih lama untuk berjalan, butuh berapa jam lagi? Kita sudah berjalan tiga jam lebih lamanya, kakiku mulai letih" Ucap Kris


"Kuatkan kakimu mulai sekarang ! apakah kau akan menyerah begitu saja dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuamu? " Ucap Xiosi


Ucapan itu seperti sayatan pisau yang menghampiri kulit Kris, namun berkat kata - kata itu juga, Kris mendapatkan dorongan untuk tetap bertahan apapun yang terjadi padanya.


Sesampainya di atas bukit Xiosi menatap sebuah pulau, dan menunjuknya.


"Lihatlah ! itu Kotamu ! " ucap Xiosi


Kris menatapnya, meski dari kejauhan kris merasakan sakit karena meninggalkan tempat itu, namun dia tersentak.


"Bukankah ini tempat yang di bicarakan kakek" ucapnya dalam hati, Kris menoleh kearahnya


"Apakah disini ada hewan buas?" ucap Kris ke arah Xiosi, mengingat perkataan Renjo kepadanya tentang pulau di seberang Kota.


Xiosi tertawa, tanpa menjawabnya, dia tetap berjalan hingga mereka akhirnya berhenti tepat di depan bebatuan besar yang menumpuk seperti sebuah pintu.


Xiosi berjalan melalui tumpukan batu itu, tanpa pikir panjang Kris mengikutinya dari belakang..


Dalam sekejap mereka sudah berada di tempat keramaian , di pusat kota.


Kris terdiam membisu, rasa kaget nya bercampur dengan rasa kagumnya akan kehebatan yang barusan ia lalui.


"Kenapa tiba tiba bisa ada disini" ucapnya dalam hati


Xiosi berjalan dengan sangat santainya, tak terasa mereka telah sampai di tujuan, mereka berhenti didepan pintu sebuah Kuil kuno yang berdiri jauh dari kerumunan kota.


Seseorang yang berbadan kekar membuka pintu kuil mempersilahkan mereka masuk.


Terlihat tak ada bangunan lain di balik pintu itu, untuk mencapai pusat kuil mereka kembali berjalan meniti ratusan anak tangga.


"Dari tadi Kita berjalan tiada henti, tapi kenapa aku tidak diberi tau sama sekali kita sebenarnya mau kemana?" Ucap Kris kesal


Xiosi hanya diam, dia terus berjalan. Semakin sering Kris bertanya semakin cepat Xiosi berjalan.


"Dari tadi kau hanya menggerutu, lihat kebawah," Xiosi menunjukkan jalan yang mereka tempuh.


Kris kaget, karena begitu tingginya tempat itu, jarak dari pintu awal saat dia masuk sampai ditempat dia berdiri tak bisa ia perkirakan.


Pintu lain berada tepat didepan mata mereka, Xiosi mengetuk pintu dan disambut oleh seseorang pria yang bungkuk dan jenggotnya sangat panjang hingga menyentuh tanah.


Dia mempersilahkan mereka masuk, Kris dan Xiosi berjalan masuk kedalam kuil. Ada banyak orang yang sedang berlatih beladiri disana semua orang yang ada disana sangat mahir mengayunkan pedang.


"Tempat apa ini" gumam Kris

__ADS_1


Sebuah pedang melayang kearah Xiosi


******


__ADS_2