HUNTER "Pembalasan Kris"

HUNTER "Pembalasan Kris"
Eps.13


__ADS_3

DI KUIL DUBALO \~


"Cheng bangunlah"


Sebuah suara tedengar di depan kamar Cheng.


Cheng yang mendengarnya segera keluar,


"Ah, master ada apa? Bukankah ini sudah larut"


"Cheng, kemasilah barangmu, aku rasa Kris akan segera pergi"


"Maksud nya Kris akan Kabur?" Tanyanya


"Benar, aku terpaksa mengatakan ini kepadanya, jika bukan karena Soka yang datang dalam mimpiku, mungkin kalimat itu tidak akan pernah keluar dari mulutku, aku menyayangi anak itu sama seperti aku menyayangi Helena"


"Aku mengerti master, aku akan berkemas"


"Aku percayakan dia kepadamu, jagalah dia, aku akan mengunjungi kalian"


"Tenanglah Master, aku mengerti."


Cheng bergegas mengemasi pakaiannya.


"Cheng dia sudah melangkah keluar kamarnya" ucap Raykudo


"Baik Master , aku akan mengikutinya, aku pamit"


"Berhati-hatilah Cheng, apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan dia seorang diri"


"Baik Master"


Cheng bergegas pergi keluar dan menyusul Kris yang telah pergi lebih dulu.


"Ah, anak itu ! Bagaimana langkahnya bisa secepat kilat"


Cheng berjalan dalam kegelapan,bermodalkan cahaya rembulan malam yang menemani langkahnya


"Sudah satu jam lebih aku berjalan turun, tapi kenapa aku tidak bertemu dengannya, sebaiknya aku harus bergegas, sebelum Kris semakin jauh"


Cheng berlari secepat mungkin, meski kakinya sering tersayat ranting pohon dia tetap berlari.


Cheng yang tidak menghiraukan kakinya terluka, meski darah bercucuran dari kakinya dia tetap berjalan mengejar Kris.


"Akhirnya , itu dia" ucap Cheng lega


Cheng mendekati Kris yang berhenti di depan sebuah tumpukan batu-batu besar.


"Kau benar - benar ingin meninggalkan pamanmu ini?" Ucap Cheng


"Paman Cheng? Apa yang sedang paman lakukan?" Ucap Kris kaget


"Aku sudah katakan sebelumnya, bahwa akulah yang akan menemanimu kemanapun kau akan pergi, dan kini kau ingin pergi sendirian dan meninggalkan pamanmu ini?"


Kris tertunduk sedih, dia melihat kaki pamannya yang penuh dengan luka,


"Maafkan aku paman, paman mengejarku sampai terluka" Kris menatap Pamannya


"Luka ini tidak terasa sakit, yang lebih menyakitkan jika aku membiarkanmu sendirian di tempat asing"


"Terima kasih Paman"


"Ayo, kita lanjutkan perjalan kita"


"Baik"


Cheng dan Kris menerobos batasan yang ada dan mereka telah tiba di pinggir pantai, Cheng yang mengerti rasa ragu Kris untuk menyebrangi lautan, karena jika mereka sampai di pantai yang berada di seberang sana , maka rasa sakit Krispun akan kembali, Cheng mengenggam tangan Kris dengan erat, menuntunnya untuk segera menaiki perahu. Merekapun menyebrangi lautan.


"Apa kau takut Kris?" Tanya Cheng


"Tidak Paman, namun rasa sakit itu kembali menghampiriku"


"Aku yakin kau pasti mampu menahannya"


"Iya"


Cheng dan Kris akhirnya tiba di pantai Soka.


"Paman, aku ingin kembali kerumah" Ucap Kris Rintih


"Ayo nak , kita kunjungi rumahmu"


Mereka berjalan kerumah Kris, hati Kris teriris pedih, dan sakit yang luar biasa menghantam jiwanya.


Tatapan matanya yang kosong menatap rumah yang dulu menjadi tempatnya berteduh dari semua badai, tempat dimana kasih sayang tercurahkan tanpa adanya tipuan, rumah yang dia tinggalkan dan kini dia berada di depan puing-puing kenangan akan hangatnya suasana rumah, namun tak ada yang berubah dari itu.


Reruntuhan rumah masih dalam posisinya, Kris menangis mengingat semua kejadian yang tiba - tiba muncul dikepalanya itu. Cheng yang melihat keadaan itu tak tahan membendung air matanya, semuanya tumpah begitu saja.


Hingga Seorang pemuda menghampiri mereka berdua, mereka segera menghapus air mata dipipi. Pemuda itu sebaya dengan Kris, kulitnya yang hitam, hidungnya yang mancung, rambutnya yang ikal, menyapa mereka tanpa rasa takut.

__ADS_1


"Kalian siapa? Kenapa kalian berdua menangis disini? Dan , apakah kalian orang desa? Pakaian kalian seperti seseorang yang hidup dari masa kerajaan" ucapnya dengan lantang


Kris menatap laki-laki itu, dia melihat nya dengan sangat teliti, dan benar saja dia mengenali pemuda itu.


"Apakah kau Prades?" Ucap Kris


"Ha ? Bagaimana kau tau namaku?"


"Bagaimana kabarmu? Dimana yang lain?"


"Yang lain? Maksudmu penduduk kota ini?" Jawab Prades


Cheng memperhatikan sekitar, kota itu nampak sepi, seperti sebuah kuburan, tak ada satupun orang yang berlalu,


"Kris sepertinya kota ini telah tertinggal" ucap Cheng


"Anda menyadarinya paman?" Ucap Prades


"Apa yang terjadi?" Tanya Kris pada Prades


"Dulu kota ini sangat ramai, tenang dan damai, namun sesuatu hal telah terjadi, kota ini dipimpin oleh Pemimpin yang sangat bijaksana, namanya Halemos, paman Halemos dan bibi Helena adalah orang yang sangat dihormati namun mereka telah tiada, seseorang membunuh mereka, dan temanku Kris dia anak nya paman Halemos juga ikut meninggal karena tertimpa reruntuhan, saat rumah ini runtuh kami mencoba menyelamatkan Kris , namun sepertinya jasadnya telah hancur karena sebuah ledakan yang tiba-tiba muncul begitu saja, saat semuanya kembali kondusif kami mencoba memindahkan reruntuhan yang ada, namun sayangnya tak ada satu wargapun yang berhasil mengangkat reruntuhan itu,  dan setiap hari kami hanya menaburkan beberapa bunga untuk mengenang mereka, kesedihan menyelimuti semua penduduk kota, hingga beberapa tahun yang lalu kami sering mendengar aungan keras dari dasar tanah yang dulunya menjadi tambang emas Paman Halemos, karena takut akan hal itu, perlahan - lahan mereka meninggalkan kota ini, kini hanya tersisa aku dan nenekku,"


"Kenapa kau tidak ikut pergi?" Tanya Kris


"Jika aku juga pergi, maka tidak akan ada yang menaburkan bunga ke rumah ini, itu artinya Paman Halemos dan keluarganya akan terlupakan, dan temanku Kris, aku ingin mengingat dia selamanya" Prades menangis tersedu sedu


"Bagaimana Renjo dan Mafu?"


"Kau juga mengenal Mereka? Hah.. mereka dipaksa pergi oleh orang tuanya" ucap Prades sambil menghapus air matanya


"Bagaimana tambang emasnya?"


"Tambang emas itu terkubur oleh tanah, meski dulu para mafia yang membunuh Paman Halemos menggali tanah itu, tetap tak bisa, semua alat yang mereka bawa semuanya patah"


"Aku ingat ! Tambang itu tidak bisa dibuka oleh siapapun!" Ucap Kris


"Bagaimana kau tau lebih banyak dari aku, dan sahabat sahabatku ? Bagaimana kau mengenali mereka? Siapa kah kalian ini?" Teriak Prades


"Buka matamu Prades, lihatlah aku dengan baik"


Prades menatap Kris tanpa mengedipkan matanya, keningnya mengkerut sorot matanya yang tajam tiada henti melihat Kris dari ujung rambut hingga kakinya.


"Kau? apakah benar itu kau Kris?"


Kris menganggukkan kepalanya.


"Kau tidak mati Kris, ahahaha aku senang melihatmu lagi, Ahahahah Kris , aku sangat bahagia bisa melihatmu" Prades melompat kegirangan sehingga ingin memeluk Kris , namun dihalang oleh Cheng


"Maafkan aku paman, aku sangat gembira bisa bertemu dengan Kris kembali, jika Renjo dan Mafu tau mereka pasti bahagia, tapi bagaimana ini bisa terjadi Kris? beritahu aku" Mata Prades berkaca-kaca sangking gembiranya dia.


"Ceritanya sangat panjang, nanti akan aku ceritakan padamu Prades"


"Baiklah, aku akan mendengarkan ceritamu nanti, namun Kris siapa paman yang berada di sampingmu itu?" Bisik Prades


" Prades, dia Pamanku namanya Cheng, dia sahabat ayah dan ibuku" Ucap Kris sambil mengenalkan Cheng


"Kris, aku benar sangat bahagia ternyata selama ini kau baik-baik saja, bahkan kau sangat cantik" Ucap Prades


Kris tersenyum lebar mendengar ucapan Prades, dan diapun berterima kasih kepada Prades karena masih bertahan menjaga dan menghormati keluarganya meski mereka sudah tiada.


"Prades, terimakasih kau masih menghormati orang tuaku meski mereka sudah tiada, apa yang harus aku perbuat kepadamu untuk membalas kebaikanmu?" Ucap Kris


"Ah sudahlah Kris, sudah sewajarnya aku melakukan itu, lagi pula Ayah dan Ibumu adalah orang yang sangat baik, sehingga mereka berhak menerima penghormatan hingga akhir hayat mereka" ucap Prades


"Prades maukah kau menemani aku ke tambang Ayahku dulu, ada yang harus aku lakukan disana"


"Apa yang akan kau cari disana Kris?"


" Aku igin mengambil emas yang ada ditambang itu"


"Bukankah tambang itu sudah tertimbun tanah, dan bagaimana suara aungan yang mengerikan didalamnya, bukankah akan berbahaya jika kau kesana?


"Bocah, kau seharusnya cukup menjawab pertanyaan darinya, kau mau menemani dia atau tidak" Ucap Cheng yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka berdua dengan baik.


"Paman, aku akan menemani kalian kesana, ayo !" Ajak Prades


Mereka berjalan meninggalkan rumah Kris dan menuju tambang emas.


"Prades bukankah ini tempat tambang emas itu terkubur?" Tanya Kris


"Iya namun pintu masuknya bukan disini, pintu masuknya ada disana di tengah tanah ini" prades menunjukkan arahnya


Kris berjalan menuju pintu masuk tambang yang sudah tertutup oleh tanah.


Kini Kris telah berdiri tepat dimana pintu itu harusnya ada, namun ada sesuatu hal yang terdengar oleh telinganya..


"Aaaaauuuuuuunnnngggg"


Sebuah aungan dari dalam tanah terdengar oleh mereka.

__ADS_1


"Aungan itu sama seperti belasan tahun yang lalu, kenapa sekarang terdengar lagi?" Teriak Prades


Cheng menatap Kris, mata mereka saling memandang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu di bawah sana.


"Aku Kris putri dari Halemos, dan Helena, aku cucu dari Soka, aku datang kembali untuk mengambil apa yang seharusnya milikku, Bukalah apa yang seharusnya terbuka, dan tutuplah jika pemilik tiada"


Kris berteriak kencang, namun tidak ada tanda tanda dari dalam tanah. Kris mencobanya kembali, namun hasilnya tetap sama, untuk yang ketiga kalinya Kris mencobanya kembali, namun mantra yang seharusnya dia ucapkan kini telah dia rubah.


"Aku Kris putri dari Halemos, dan Helena, aku cucu dari Soka, aku datang kembali untuk mengambil apa yang seharusnya milikku, Bukalah apa yang seharusnya terbuka, dan tutuplah saat aku memintanya"


Tiba tiba tanah bergetar hebat, sebuah pintu terbuka dari bawah kakinya.


"Paman ini terbuka"


Teriak Kris , saat pintunya terbuka dia segera masuk kedalamnya tanpa pikir panjang.


"Kris apa kau yakin akan masuk kedalam?" Teriak Prades melihat Kris yang sudah turun meniti anak tangga dan masuk ke dalam tambang.


"Ayolah Prades, dan Paman, mari masuk"


Kris berjalan duluan hingga dia tiba di dalam tambanh nan gelap gulita.


"Aku merindukan tempat ini, terakhir kali aku kesini dengan Ayah" gumamnya


"Paman Cheng cepatlah kemari !" Teriak Kris


"Tunggu Kris aku akan kesana" jawab Cheng


Kris berjalan mengikuti lorong, meski gelap tak ada rasa takut sedikitpun yang dia rasakan, kini dia telah melangkah terlalu jauh"


Cheng yang berlari ingin menyusul Kris, terhenti di depan pintu.


"Kenapa aku tidak bisa masuk? Baiklah akan aku coba sekali lagi"


Cheng mencoba untuk masuk ke pintu tambang.


Swiiiiinnngggg ... Dubraaakkkkk !!!


Tiba-tiba tubuh Cheng terpental jauh dari pintu.


"Paman apa kau baik baik saja?" Teriak Prades


"Aw pinggangku , ini sudah kesekian kalinya aku mencoba masuk, apakah disana telah dipasang barrier?" Gumam Cheng


Cheng berjalan mendekati pintu tambang lagi, dan kembali mencoba masuk, namun sayang satu anak tanggapun tidak bisa dia pijak karena tubuhnya kembali terlempar dari sana.


"Kriiiissss hati hati , aku tidak bisa masuk kedalam, sepertinya seseorang telah memasang barrier yang kokoh disini" teriak Cheng kencang


"Apakah dia tidak mendengarku? apakah akan baik-baik saja didalam sana? Ah sudahla" Gumam Cheng


"hey bocah ! Siapa namamu tadi?" Tanya Cheng


"Prades paman"


"Apakah kau temannya Kris?"


"Benar Paman, Kami berteman sejak kami kecil, dia salah satu sahabat baikku"


"Begitukah? Prades, Mari kita duduk disini dan menunggu Kris sampai dia keluar dari sana, sepertinya kita berdua tidak akan bisa masuk kedalam tambang"


Mereka duduk dan berbincang -bincang.


Sementara di dalam Tambang ....


"Lorong ini sangat panjang, dan gelap, namun beruntungnya mataku masih bisa melihat dengan jelas jalan lorong ini" gumam Kris


"Mungkinkah itu ujung tempat ini?" Kris berjalan dan berhenti di sebuah ruangan.


"Hei bocah, siapa kau? Dan sedang apa kau kemari?"


Tiba - tiba suara yang sangat berat terdengar, suara itu sedikit mengerikan, Kris kaget, jantungya berdetak kencang, nafasnya kini tak beraturan.


"Apakah kau tidak mendengarkanku? Sepertinya tubuhmu itu bisa menjadi santapan yang sangat lezat untukku ! "


Kris menoleh kesana kemari mencari sumber suara, jantungnya semakin berdetak kencang,


Saat Kris melihat kearah kirinya dia melihat bayangan hitam yang sangat besar, dan sebuah bayangan dengan taring yang besar dan tajam.


"Mahluk apakah itu, apakah aungan itu darinya?" ucap Kris dalam hati,


Kakinya ingin melangkah berlari dari tempat itu, namun Kris ingat bahwa dia harus mengambil beberapa emas untuk dia hidup dan sekolah.


Kris menghela nafasnya, dia mengumpulkan keberaniannya, dan mencoba untuk mendekati bayangan itu.


"Ggggggrrrrrrr !"


Suara geraman kembali terdengar jelas dan kini semakin besar, jantung Kris semakin cepat nafasnya tidak teratur


, hingga tubuhnya bergetar hebat.

__ADS_1


"Monster????"


*****


__ADS_2