I Became The Seconde Wife For Of A Emperor

I Became The Seconde Wife For Of A Emperor
AERIS MEMINUM RACUN


__ADS_3


...11...


...❤----------------🖤...


"Kau nampak baik Luan!" ucap Aeris.


"Yah saya kan sudah sembuh yang mulia ratu," jawabnya sambil tersenyum.


Kini Aeris tengah mengajari hal-hal tentang kerajaan pada Luan.


"Ratu aku ingin bicara sebentar..."


"Yah ada apa..."


Beberapa hari ini dia terlihat banyak pikiran, apa dia baik-baik saja???


"Bolehkah aku pergi ke akademi kesatria???"


"Ahk!" kaget Aeris.


Apa dia memikirkan ini???


"Jika itu keinginan Luan, kenapa tidak!"


Aeris memberikan senyuman yakin kalau Aeris mengizinkan apa saja yang Luan mau asal itu adalah hal yang baik.


"Tapi bagaimana dengan yang mulia ratu," ucap Luan.


Raut wajah Luan menjadi masam.


"Saya berjanji pada yang mulia raja untuk melindungi Ratu, tapi ini seperti sebaliknya,"


Aku tahu sumpah yang di lakukan Luan atas perintah Alaric, tapi aku tak menyangka di mengkhawatirkan itu.


"Kau sekarang masih kecil, kau menuruti perintahku saja itu sudah termasuk melindungi ku kok,"


"Dan aku tidak mau kau me nomor duakan masa depan mu hanya untuk aku, aku baik-baik saja, meskipun tidak ada Luan ada banyak orang yang ada di pihak ku..." tegas Aeris sambil tersenyum menyeringai.


Luan pun jadi yakin dan tidak ragu lagi.


"Aku akan menjadi lebih kuat untuk melindungi yang mulia ratu, saya akan menjadi kesatria terhebat nanti..." ucap Luan dengan bangga.


"Aku menanti ini Luan..."


Kalau di pikir-pikir akhir-akhir ini berjalan terasa lebih mudah, pangeran Elvern tidak mengganggu ku, Edana juga seperti diam saja.


Aku juga masih tidak mengerti maksud dari 'Hati yang tulus' yang di katakan Duke Altair.


Aeris pun menghentikan pikirannya saat dayang nya datang menyampaikan sesuatu.


"Yang mulia saya ingin menyampaikan sesuatu!" ujar Sofia.


"Yah apa itu Sofia???"


"Ratu Diana memanggil anda ke istana!" ujar Sofia.


"Ahk.."


Aku diam mematung sekejap saking kagetnya.


Aku memang akan kesana tapi aku memikirkan waktunya, tak sangka ratu sendiri yang memanggilku.


"Sofia tolong siapkan gaun untuk pergi ke istana Ratu!"


"Baik yang mulia..."


"Hmmm dan Luan, kau belajar dulu sendiri, nanti akan ku tes, oke?"

__ADS_1


"Siap yang mulia ratu!" jawab Luan.


Aeris pun bersiap untuk pergi ke istana ratu Diana atau ibunya Alaric.


"Seperti biasa, yang mulia selalu cantik," puji Sofia.


"Benar sekali, yang mulia berbeda dengan bangsawan lainya, kecantikan yang mulia sangat unik," puji Lili.


"Ahk terimakasih, entah sudah berapa kali kalian memujiku,"


"Hehe..."


Aeris pun pergi ke istana ratu Diana segera.


🌻🌻🌻


"Pangeran Serulin, apa anda lelah, sampai kapan anda ingin mengelilingi istana besar ini,"


"Ahk kau istirahat saja, aku masih ingin melihat tumbuh-tumbuhan obat ini, ini kan bisnis antar kerajaan, aku akan meminta tumbuhan-tumbuhan ini nantinya,"


Pangeran Serulin di gambarkan memiliki rambut dan mata biru terang seperti langit, memiliki sifat seperti anak-anak namun punya sisi dewasa tersendiri.


Pangeran Serulin berasal dari wilayah timur dari Shenawen.


Ahk siapa wanita itu...


Cantik... Tidak dia sangat lucu, rambut pendeknya, mata nya yang merah tajam...


Oh tidak jantung ku berdebar, apa ini yang di namakan cinta pada pandangan pertama.


"Ahk Robert siapakah wanita itu, dia sangat cantik, aku kan sedang butuh ratu karena aku putra mahkota!!!"


Serulin bertanya pada bawahannya dengan semangat tanpa tahu status wanita itu.


"Ahk, itu saya tidak tahu,"


"Cari tahu tentang wanita itu, dia akan menjadi calon ratu kerajaan timur!" Pinta Serulin blak-blakan.


Serulin tidak tahu kalau wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu adalah, ratu dari wilayah utara kerajaan Euthoria, wilayah yang tengah di kunjungi oleh nya.


Aeris akhirnya sampai di istana ratu Diana, Aeris langsung menuju tempat pertemuan yang di siapa kan ratu Diana.


"Salam kepada yang mulia ratu," ucap Aeris.


"Ahk Ratu silakan duduk," ucap ratu Diana.


"Terima kasih,"


Ahk jantung ku berdebar.


"Panggil saya ibu, ratu kan anak saya juga sekarang," Pintar Diana.


"Tidak adil, kalau begitu apa ibu bisa memanggil saya dengan nama saja..." pintar balik Aeris.


"Itu yang saya mau..."


Rasanya canggung, tapi melihat cara bicara ibu Alaric rasanya aku jadi kagum, dia seperti orang yang lembut.


"Terima kasih karena sudah bersedia menjadi bagian dari keluarga kami," tutur Diana.


Aeris hanya terdiam dan tidak tahu apa yang harus di bicara kan.


"Aku tahu itu sulit, tapi aku yakin Aeris akan menjadi ratu yang hebat, karena Aeris sangat hebat!"


"Haha jangan memujiku berlebihan ibu,"


"Aku belum sempurna, tapi aku mulai bisa beradaptasi, aku juga punya hubungan yang baik dengan yang mulia raja," ucap Aeris.


"Syukurlah, Alaric adalah orang yang pendiam," kemah Diana.

__ADS_1


Pendiam dari mana! Dia jadi sedikit posesif...


"Sangat kaget melihat raut wajah anak ku itu,"


"Ahk apa terjadi sesuatu pada Alaric???"


Kurasa mereka memang sudah akrab.


"Aku kemarin mampir ke ruangan nya, dan dia tidak berhenti membicarakan mu Aeris..."


Aeris melebarkan matanya dan sedikit tersipu.


"Dia terus membicarakan kebaikan mu, dia bilang kalau Aeris sudah berjuang tanpa meminta bantuan padanya, dan dia merasa bersalah,"


"Dia berusaha melawan sifat pemalu nya agar bisa lebih dekat dengan Aeris itulah katanya,"


Diana melihat Aeris yang terdiam melamun.


Tiba-tiba Aeris tertawa kecil.


"Haha Alaric sangat dekat ya dengan ibunya, entah kenapa mendengar cerita dari anda, di bayangan ku Alaric seperti anak kecil!" kekah Aeris.


"Hmmm..."


"Tapi ibu, aku ingin bertanya, kenapa yang mulia raja menginginkan saya sebagai ratu, jujur saya merasa menyedihkan karena tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku sudah pasrah dan menikmati nya sekarang..."


"Hmmm... Untuk itu Aeris bisa tanyakan langsung pada Raja Hesperos, aku akan menyampaikan nya..."


Pelayan pun datang dan menghidangkan teh juga kue-kue manis.


"Silakan di nikmati," ujar pelayan.


"Coba di minum, aku sangat menyukai teh ini," pintar Diana.


"Woah tehnya sangat harum.."


Aeris pun meminumnya.


"Woah ini sangat enak,"


"Hmmm senang jika Aeris menyukai nya juga."


Tak selang lama dari itu tiba-tiba Aeris merasa pusing.


"Uuokkk... Uokkkkk... uhuk... uhuk..."


"Ahk Aeris," Diana panik.


"Pelayan, pelayan, kemana pelayan yang tadi,"


"Iya nyonya bagaimana," panik pelayan.


"Kenapa Aeris tiba-tiba begini, apa kau mencampurkan sesuatu,"


"Tidak nyonya, tidak!!!"


Diana bingung, kini ia fokus pada Aeris yang kondisi nya sudah parah.


Aku muntah darah...


Kepala ku pusing...


Apa yang tengah mereka katakan*.


"Aeris! Aeris! oh tidak panggilkan tabib, dan pengawal bantu aku membawa yang mulia ratu!" perintah Diana histeris.


"Fufufufu akhirnya misi ku tercapai, tinggal menunggu waktu, aku akan segera naik tahta," kekah Edana.


"Ratu yang malang..."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2