
...15...
...❤----------------🖤...
"Kumohon percayalah padaku!"
Alaric semakin mendekap pelukan nya.
"Huhu hiks... Huhu hiks... hiks..."
Sebenarnya apa yang membuat Aeris begini??? Dia tahu aku tidak tahu tentang ramalan itu tapi kenapa dia berpikiran begitu padaku...
"Aeris tenang lah..."
"Aku tidak akan pernah memanfaat kan mu, karena aku tidak peduli dengan ramalan itu!" bantah Alaric.
"Aku mencintaimu apa adanya..."
"Hah..."
Aeris menghentikan tangisannya dan diam melamun.
"Apa itu benar???"
Pertanyaan Aeris hampir tidak terdengar karena Aeris berada di pelukan Alaric.
"Yah, aku akan buktikan itu..."
Aeris pun melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
"Aku jujur tidak percaya, tapi aku pegang kata-kata mu yang mulia," ujar Aeris.
"Yah akan ku pastikan itu..."
Masalah selesai tapi suasana menjadi canggung.
"Maaf, maafkan aku karena sangat sensitif." ujar Aeris sambil memalingkan wajah.
"Tidak apa," lirih Alaric sambil tersenyum.
"Ratu, apa ratu punya trauma di manfaatkan,"
Alaric sangat peka.
Kurasa perkiraan ku benar, dia tampak diam saja, kurasa ada sesuatu yang ratu sembunyikan.
"Sedikit," jawab Aeris.
"Boleh lah aku tahu itu kenapa, trauma adalah hal yang serius, saya begini karena mengkhawatirkan ratu,"
Apa aku harus menceritakan ini, tapi aku akan ingat hal itu lagi.
"Apa aku bisa percaya pada mu!" tanya Aeris dengan siluet mata yang tajam.
"Yah ratu bisa percaya padaku,"
Sebenarnya...
Aku tahu tentang ramalan tentang aku itu, dan jujur aku tidak peduli dan tidak keberatan tentang melahirkan raja-raja besar, asal aku bisa mendapatkan cinta sejati ku dan tidak ada paksaan menikah, karena aku juga tidak ingin terburu-buru menikah.
Aku tidak tahu akan banyak orang-orang jahat yang mengincar ku, saat umurku berumur 17 tahun aku di culik oleh seorang bangsawan kelas rendah yang mengetahui ramalan itu.
Aku sangat ketakutan, aku di kurung di gudang yang sangat gelap, dia terus berbicara padaku, kalau aku akan menikah dengannya dan akan melecehkan ku dan dia ingin menginginkan melahirkan anaknya.
Aku hampir saja di lecehkan dan untungnya rombongan kakak ku datang. Aku masih belum melupakan dimana saat bajuku hampir sobek dan hampir menyentuh tubuhku dengan mesum, itu menjijikan.
__ADS_1
Bangsawan itu akhirnya di hukum mati atas perintah ayahku, dan aku harus menyembuhkan luka itu sangat lama.
Aku jadi orang yang tertutup di masa-masa itu, aku jadi suka pakaian yang gelap dan tertutup, aku juga belajar pedang dan gulat untuk melindungi diri jika sesuatu hal yang sama terjadi.
Tapi aku mulai melupakan itu dan memperbaiki sikap ku, berusaha ceria dan sedikit mengubah penampilanku yang seperti butung gagal yang menyukai pakaian gelap dan seperti biarawati yang selalu tertutup.
Aku sudah melupakan itu, tapi saat raja Hesperos mengatakan itu aku jadi teringat dengan sosok pria itu, pria yang menakutkan dan mengerikan.
"Maaf kan aku, seharusnya aku tak terlalu sensitif,"
"Itu wajar ratu, tidak ada trauma yang sepele semuanya serius," bantah Alaric.
"Terimakasih sudah mengerti," ujar Aeris sambil tersenyum.
Akhirnya dia tersenyum...
Dan suasana kembali canggung meskipun masalah sudah selesai.
Alaric dan Aeris saling bertatapan malu-malu lalu entah karena apa merek tertawa.
"Hahahah kenapa jadi tatap-tatap pan begini!" kekah Aeris.
"Ini canggung tapi melihat wajah ratu yang lucu aku jadi ingin tertawa,"
"Hahah aku lucu???" kekah Aeris. "Yah," jujur Alaric.
Alaric mendekatkan wajahnya ke Aeris dan kening mereka saling bersentuhan.
Ahk jantungku berdebar
Alaric ternyata sangat pandai menggoda.
"Ratu..." lirih Alaric dengan tatapan seperti orang mabuk.
"Ratu... Ratu sangat cantik," ujar Alaric. "Haha terimakasih!"
Apa Alaric ingin mencium ku, yang kemarin itu hanya kecupan.
Aeris mendekatkan wajahnya ke Alaric. Tapi Alaric tiba-tiba menjauh.
Ahk apa ini, apa dia sedang bercanda...
Memalukan...
Wajah Aeris memerah menahan malu.
"Wajah Ratu memerah apa baik-baik saja???" tanya Alaric polos.
Apa yang dia katakan??? Dia kan yang membuatku begini???
"Haha kurasa karena di sini panas hehe???"
"Yah sangat panas!" ucap Alaric.
Menyebalkan padahal aku menantikan ciuman pertamaku.
"Kalau begitu ratu..."
"Woahhhh apa yang yang mulia lakukan, aku bisa berjalan sendiri," rengek Aeris.
Aeris di gendong Alaric untuk pergi ke kamarnya.
"Diam saja, aku akan mengistirahatkan Ratu, ratu harus banyak istirahat!!!"
"..."
__ADS_1
"Pfttt haha,"
"Kenapa ratu tertawa???" Alaric menaikan alisnya bingung dengan Aeris.
Karena tiba-tiba Aeris tertawa kecil.
"Akun teringat saat kita pertama kali bertengkar karena salah paham lagi, anda menggendong ku itu membuatku panik,"
"Haha saya suka menggendong ratu yang seringan kapas ini," goda Alaric.
"Huptt gini-gini aku punya Sixspeak loh," ujar Aeris dengan angkuh.
"Woah benarkah, apa aku bisa melihatnya," goda Alaric.
"Ihk idih, sejak kapan raja ku ini nakal!!!" geram Aeris mencubit pipit Alaric.
Sejak kapan Alaric bisa menggoda begini, dia sangat blak-blak kan.
Tapi itu memang hal yang wajar, suatu saat nanti kita akan melakukan itu, tapi...
Ahk kenapa pikiranku sangat kotor, dan kenapa hanya aku disini yang salah tingkah sendiri. Memalukan...
Dua sejoli yang tengah menikmati musim panas nya tidak menyadari ada orang ketiga yang tengah melihat kemesraan ya.
"Yang mulia Alaric, aku akan segera membawa ratu tercinta mu itu,"
"Fufufu karena ratu masih perawan, saat aku berhasil mendapatkan nya, aku akan menghabiskan malam ku dengan menyenangkan!!!" Girang Elvern yang sedari tadi mengintip kemesraan Alaric dan Aeris.
🍁🍁🍁
"Nah istirahat yah, kalau ada apa-apa, ratu bilang saja, aku akan bekerja di sini sambil mengawasi ratu," ucap Alaric.
Alaric menidurkan Aeris di ranjang.
"Hah apa, itu tidak perlu, yang mulia tidak perlu berlebihan begitu, yang mulia bisa pergi ke istana yang mulia," bantah Aeris.
"Tapi aku akan khawatir jika aku jauh dari ratu," rengek Alaric.
"Haha dasar, banyak yang menjagaku disini, ada dayang-dayang ku, nanti mereka juga canggung saat bekerja ketika melihat anda," tutur Aeris.
Alaric mengerucut kan bibirnya tidak terima.
"Baiklah, istirahat yang benar, aku akan menjenguk mu setelah selesai bekerja," ucap Alaric.
"Terima kasih, fokuslah bekerja!" pinta Aeris.
"Siap istriku," ucap Alaric.
Sontak perkataan itu membuat Aeris salah tingkah fd an wajahnya untuk ke dua kalinya memerah seperti tomat rebut.
Alaric pun membiarkan Aeris beristirahat.
***
"Oh tidak! Oh tidak aku harus kabur, kalau tidak aku akan di bunuh,"
"AAAAAAAAAAAAA,"
"Gila ini semua karena ratu dadakan itu, Si Elvern juga mengkhianati ku karena ratu dadakan itu,"
"Dasar penyihir penggoda, aku akan membunuhmu suatu saat nanti,"
"Yah akan ku bunuh, bunuh, bunuh..."
...----------------...
__ADS_1